ログインBegitu pelayan itu meletakkan piring-piring tersebut, Aditya langsung mengambil alih keduanya. Tanpa banyak bicara atau menunggu diminta, dia menarik piring steak milik Nadia ke hadapannya terlebih dahulu. Dengan cekatan dan penuh kehati-hatian, Aditya memotong-motong daging steak tersebut hingga menjadi bagian-bagian kecil yang siap santap. Setelah seluruhnya selesai dipotong rapi, barulah dia menyodorkan kembali piring itu ke depan perempuan di hadapannya.Melihat perlakuan sederhana namun begitu sarat akan perhatian nyata itu, dàda Nadia mendadak sesak oleh emosi yang membuncah. Tanpa bisa dibendung lagi, air mata menetes di sudut matanya. Nadia buru-buru mengambil selembar tissue dan mengelap air mata yang lolos begitu saja.Di dalam benaknya, sebuah perbandingan pahit sekaligus manis menyeruak, menegaskan perbedaan kontras antara masa lalu dan masa depannya.'Lelaki masa lalu, yang dulu selalu menghujaniku dengan kata-kata cinta yang manis dan janji-janji setia, berkali-kali mak
'Ya Allah, laki-laki ini benar-benar berbeda,'batin Nadia bergetar, matanya mulai terasa panas namun ia sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak luruh di tempat ini.'Saat dunia luar, bahkan bayang-bayang masa laluku sendiri selalu menyudutkan status yang kusandang, dia dan keluarganya justru meruntuhkan tembok itu tanpa sisa.’‘Analisis Bunda di mobil kemarinsiang terbukti seratus persen nyata.’‘Mas Adit tidak pernah maju dengan kata-kata cinta yang murahan karena dia begitu menghargai lukaku.’‘Perisai yang selama ini kupasang untuk melindungi diri dari rasa takut gagal, mendadak terasa lumpuh di hadapan ketulusannya yang tanpa syarat ini.’‘Bagaimana bisa ada laki-laki selembut dan sekokoh ini setelah semua kehancuran yang pernah kulewati?'Nadia menarik napas panjang, mencoba men
"Baik, nanti aku bicarakan dulu dengan Mas Adit," balas Nadia lirih, akhirnya mengalah pada keputusan mutlak sang ayah yang tidak bisa diganggu gugat.Sepanjang sisa perjalanan, Nadia hanya bisa menatap kosong ke luar jendela mobil. Pikirannya mendadak penuh dan semrawut.'Entah bagaimana aku harus memulai pembicaraan ini nanti. Sebab, sampai detik ini dia bahkan belum pernah menyatakan cinta padaku secara langsung,' batin Nadia bimbang.Namun, di tengah kebingungannya, rentetan ingatan dan analisis dari orang-orang terdekatnya mulai berputar satu per satu di kepala. Nadia merenungkan kembali ucapan Hanum. Analisis sang bunda terasa begitu masuk akal, bahwa Aditya sengaja bersikap sangat hati-hati dan menunda kata-kata cintanya hanya karena takut Nadia akan menarik diri akibat trauma masa lalu.Kepingan teka-teki itu semakin lengkap saat Nadia mengingat kembali obrolan intimnya dengan Ima, ibu kandung Aditya, di dalam mobil tadi siang.'Ibu Ima pernah bilang kalau Mas Adit itu seumur
"Silakan tambah lho, kalau ada yang mau ditambah silakan," ucap Hanum sebagai nyonya rumah yang menggelar acara syukuran keberhasilan Nadia di restoran tersebut.Sambil tersenyum ramah, Hanum beringsut mendekat untuk gantian memegang cucunya agar Nadia dan Aditya bisa bergantian menikmati makan siang mereka.Melihat hal itu, Ima ikut beringsut mendekat, dan ternyata Fitri pun lekas menyusul langkah mereka untuk ikut membantu mengkondisikan si kembar."Om, Tante, Eyang, pakde, Bude, ayo tambah lagi, nemani aku," ajak Nadia hangat kepada para orang tua di sana.Setelah memastikan anak-anaknya aman di bawah pengawasan para nenek, Nadia segera memberikan sebuah piring kosong pada Aditya.‘Sambal!’Satu kata itu seolah menjadi kode rahasia yang paling dipahami oleh keduanya.Ya, sambal adalah pemersatu sejati antara Nadia dan Aditya.Apapun lauk yang tersaji di atas meja, mereka berdua sangat tergantung pada
"Dalam perasaan, Nayaka kan mengaku tak membagi cinta. Hanya attensi berlebihan dia yang super gobloq saja membuat dia selingkuh waktu dan atensi!" lanjut Hanum, meluapkan seluruh kekesalan yang selama ini tertahan di dadanya.Nadia yang duduk di bangku belakang hanya bisa terdiam, mendengarkan kegeraman ibunya yang begitu meledak-ledak. Di dalam benaknya, Nadia sangat memaklumi mengapa sang ibu bisa seberangas itu jika nama sang mantan suami disebut.'Ibu mana yang tidak hancur melihat anak perempuannya disia-siakan?’‘Kegeraman bunda adalah sisa rasa sakitnya saat melihatku terpuruk dulu.’‘Bagi bunda, kesalahan Nayaka bukan cuma sekadar khilaf, tapi sebuah kegoblokan nyata yang menghancurkan kebahagiaan rumah tanggaku,'batin Nadia lirih."Aaaah, tetap saja dia selingkuh, apa pun namanya," balas Galih ikut menyahut, menyetujui ucapan istrinya dengan nada suara yang tak kalah berat dan dingin. Tangan
"Papapppppp!" teriak Angga tiba-tiba dengan suara nyaring, seolah tidak mau kalah sedetik pun dari kakak perempuan kembarjnya. Bocah lelaki itu ikut bergerak heboh, menuntut perhatian yang sama dari pria itu."Nah, mulai deh, drama deh," ucap Nadia sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia sudah bisa menebak kelakuan si kembar yang pasti akan selalu rebutan jika sudah melihat sosok Aditya di dekat mereka.Melihat pemandangan di depan mata mereka, seluruh anggota keluarga besar yang duduk di area lesehan itu seketika terdiam.Semua orang tidak memerlukan jawaban atau penjelasan panjang lebar lagi dari mulut Nadia mengenai status hubungan mereka. Kedekatan Aditya dengan si kembar, terlebih panggilan "Papap" yang begitu spesial, sudah berbicara jauh lebih banyak daripada ribuan kata penjelasan .Logika sederhana semua orang di meja itu langsung berjalan. Kalau memang di antara mereka tidak ada hubungan yang spesial, tentu Aditya akan me
Obrolan ringan tentang pisang mengkal itu seketika meruntuhkan sisa-sisa kecanggungan di antara mereka, membuat Aditya merasa selangkah lebih dekat untuk memahami sisi lain dari seorang Nadia."Oke, aku masuk ke ruang bermain Angga dan Anya yang sekarang usia lima bulan," ujar Aditya menga
Suara mesin Honda CRF250 Rally merah metalik milik Aditya meraung halus, membelah ketenangan jalanan sebelum akhirnya mati tepat di depan teras rumah Nadia. Aditya tidak menyadari bahwa Nadia sudah berdiri di sana sejak awal.Meski dia memiliki mobil sport super mahal,sebuah Porsche 911 GT3 berwarn
Enci pemilik laundry itu mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja kaca, menatap Rahma yang masih berdiri menunggu keputusan dengan cemas. Setelah menimbang posisi kosong di kiosnya, sang pemilik akhirnya memberikan keputusannya."Kamu saya terima," ucap Enci, langsung merinci job desk yang aka
Malam, saat kembali ke kamar kost, Nayaka melihat ada tamu, dan ada pemilik rumah kost.“Saya bisa kerjakan Pak,” tak sengaja Nayaka mendengar pemilik kost butuh tenaga untuk mengecat rumah kost. Dan dia langsung menyambar pekerjaan itu.“Beneran nak Yaka?&rd







