LOGIN‘Pikiran Pakde Broto ekstrem sekali, tapi, masuk akal. Enam bulan itu waktu yang sangat lama untuk menahan rindu dan menjaga jarak kalau status kami sudah lamaran.’
‘Tapi masalahnya, bagaimana dengan Nadia? Dia baru saja ketakutan setengah mati sampai minta pernikahan ini disembunyikan dan diulur setahun, lalu sekarang tiba-tiba disuruh akad hari ini juga?’
‘Aku sangat mau menghalalkan Nadia sekarang juga, demi Alla
‘Pasti Aditya yang minta pintu kamarnya tidak ditutup,’batin Hanum yang kebetulan sedang melangkah ke arah ruang makan untuk mengecek kesiapan makan siang.Dari posisinya di ruang makan, sudut pandangnya memang langsung lurus menghadap ke arah koridor kamar tidur Nadia yang pintunya dibiarkan terbuka lebar.Hanum menghembuskan napas lega, ada rasa hormat dan respek yang semakin besar menjalar di dadanya untuk calon menantunya itu. Aditya benar-benar menjaga etika dan tahu bagaimana cara bersikap di rumah orang lain, memastikan tidak ada ruang bagi fitnah atau kecurigaan sekecil apa pun di tengah situasi yang sedang sensitif ini.Kamar Nadia terletak sejajar dengan area ruang tamu dan ruang makan, sehingga pergerakan mereka berdua masih bisa terpantau samar tanpa harus mengganggu privasi diskusi penting tersebut.Sambil menggelengkan kepala pelan untuk mengusir rasa cemasnya, Hanum kembali fokus pada deretan menu di atas me
Setelah riak batin kedewasaan itu menggema di kepala semua orang, Aditya kembali melunakkan sedikit nada suaranya, namun tetap sarat akan kepastian."Aku tahu fluktuasi kejiwaanmu, Nad. Aku sangat takut saat kamu ’down’,kamu memutuskan kita batal menikah," jelas Aditya, menjabarkan isi kepalanya dengan sangat logis."Coba kamu pikir bila itu terjadi," sambung Aditya, meminta Nadia untuk melihat kenyataan pahit yang mungkin saja menghancurkan mereka berdua jika terus menuruti ketakutan.‘Iya juga sih,’batin Nadia, perlahan membenarkan ucapan Aditya.Logika Aditya barusan menghantam tepat di pusat ketakutannya. Nadia tahu betul bagaimana isi kepalanya sendiri, emosinya sering kali seperti roller coasterjika bayang-bayang trauma itu datang menyerang. Dia menjadi galau sendiri, terjebak di antara benteng pertahanan yang ingin dia pertahankan dan kenyataan bahwa dia juga takut kehilangan pria
‘Pikiran Pakde Broto ekstrem sekali, tapi, masuk akal. Enam bulan itu waktu yang sangat lama untuk menahan rindu dan menjaga jarak kalau status kami sudah lamaran.’‘Tapi masalahnya, bagaimana dengan Nadia? Dia baru saja ketakutan setengah mati sampai minta pernikahan ini disembunyikan dan diulur setahun, lalu sekarang tiba-tiba disuruh akad hari ini juga?’‘Aku sangat mau menghalalkan Nadia sekarang juga, demi Allah aku mau!’‘Tapi aku takut skenario mendadak ini justru membuat traumanya semakin kambuh dan dia merasa semakin tersudut.’ segala pemikiran terbersit di benak Aditya‘Ijab, sekarang?’ Nadia gamang sendiri‘Nikah hari ini?!’‘Tidak, tidak, ini terlalu cepat! Kepalaku rasanya mau pecah.’‘Aku meminta waktu enam bulan justru untuk menata hatiku yang masi
Hati Galih mencelos, rasa bersalah sebagai seorang ayah seketika mencuat ke permukaan begitu mendengar alasan putrinya.‘Ya Allah, Nadia, ternyata ketakutan itu masih mencengkerammu begitu kuat, Nak.’‘Ayah tahu, dikhianati dan gagal dalam pernikahan pertama telah menghancurkan seluruh kepercayaanmu pada laki-laki.’‘Ayah tahu kamu sangat membenci kaum lelaki karena luka masa lalu itu, dan sebenarnya jiwamu belum benar-benar siap untuk berkomitmen lagi dengan siapa pun, termasuk dengan Aditya yang sebaik ini.’‘Meminta pernikahan ini tidak di-publish adalah caramu membuat 'benteng pertahanan' terakhir.’‘Kamu sengaja menutup pintu dari dunia luar karena kamu terlalu takut jika suatu saat nanti Aditya juga mengecewakanmu, kamu tidak perlu menanggung malu dua kali di depan publik.’‘Maafkan Ayah yang belum bisa menyembuhkan trauma
"Saya tidak berjanji akan memenuhi permintaanmu. Kalau saya sanggup akan saya penuhi, namun bila di luar kemampuan, saya lebih baik mengatakan tidak sanggup," balas Aditya dengan nada yang sangat realistis, jujur, dan tanpa kepura-puraan.Jawaban spontan namun tegas dari Aditya itu seketika langsung mendapat nilai positif dari semua orang yang berada di ruangan tersebut. Termasuk Galih dan Hanum, yang diam-diam memuji calon menantu mereka di dalam hati. Bagi mereka, Aditya menunjukkan kedewasaan yang luar biasa karena menjawab dengan logika dan tanggung jawab, bukan sekadar memberikan angin surga atau obral janji manis demi kelancaran acara lamaran.Suasana yang sempat menegangkan kembali mencair, diikuti oleh riak bisik-bisik positif yang bersahut-sahutan dari kedua belah pihak keluarga.Di barisan keluarga Aditya, Pakde Broto tampak mengangguk-angguk bangga sambil berbisik kepada Byan. "Langkah yang pintar, Yan. Anakmu tidak asal 'iya' karena gengsi di depan c
Beberapa menit kemudian, suasana ruang tamu seolah tersihir. Semua pasang mata terpana menatap ke satu arah. Nadia berjalan pelan keluar dari balik tirai kamar, didampingi oleh Hanum di sisinya.Wanita itu tampil sangat anggun mengenakan kebaya berwarna krem yang dipadukan dengan rok batik panjang bermotif klasik. Begitu serasi dan couple dengan kemeja batik yang melekat di tubuh Aditya hari ini.Senyum manis yang mengembang di bibir Nadia seketika mematangkan pesonanya, menyihir semua orang yang baru pertama kali melihatnya secara langsung.Suasana ruang tamu yang tadinya sunyi langsung diwarnai bisik-bisik halus nan kagum dari barisan bude dan bulek di pihak keluarga Aditya."Aduh, cantiknya, anggun banget ya, Mbak," bisik Bude Lastri pelan, menyenggol lengan Bude Ningsih yang duduk di sebelahnya."Iya, pembawaannya tenang, adem banget dilihatnya. Pinter si Adit nyari calon," balas Bude Ningsih setengah berbisik dengan mata yang tak lepas m
“Apaaaaaa?” “Apakah itu benar?” Yaka kaget saat mendengar info, minggu lalu Nadia baru saja melaksanakan aqiqah, dan kedua orangtuanya hadir. Secara berkala memang Yaka terus mencari info keberadaan Nadia di rumah orang tuanya mau pun di rumah mertuanya. Alasan Yaka terus mencari di rumah orang t
“Hari ini sudah bulan ke empat kamu menghilang Yank,” bisik Yaka lirih. Tubuhnya makin kurus, badan tak terawat, walau pakaian masih tetap rapi, sebab dia laundry. “Ampas kopi yang menumpuk rindu itu sama dengan semut pekerja.” “Sebab, dinding yang kokoh bisa roboh karena lubang semut dibawah pon
"Bantalan bagaimana?" Ikhsan memotong pembicaraan soal panggilan, dia masih penasaran, menghentikan suapannya sejenak demi mendengarkan penjelasan lebih lanjut."Dindingnya, setinggi satu meter, dialas bantalan, agar saat mereka terbentur akan aman," jawab Nadia menerangkan konsep yang tad
Suara mesin Honda CRF250 Rally merah metalik milik Aditya meraung halus, membelah ketenangan jalanan sebelum akhirnya mati tepat di depan teras rumah Nadia. Aditya tidak menyadari bahwa Nadia sudah berdiri di sana sejak awal.Meski dia memiliki mobil sport super mahal,sebuah Porsche 911 GT3 berwarn







