LOGINBau antiseptik yang tajam dan bunyi ritmis dari monitor detak jantung menjadi latar belakang di ruang VIP Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Cahaya lampu neon yang temaram memberikan kesan sunyi yang kontras dengan hiruk-pikuk pertempuran di lantai 56 beberapa jam sebelumnya. Theo terbaring kaku di atas ranjang putih. Bahu kirinya dibalut perban tebal, sementara beberapa plester kecil menghiasi pelipis dan lengannya yang lecet. Meskipun tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam truk kontainer, ia masih tetaplah Theo pria dengan nyawa sembilan yang selalu punya cara untuk tersenyum di tengah bencana. Di samping ranjangnya, Opa Mingzhe duduk di kursi kulit yang empuk. Pria tua itu tidak lagi mengenakan jas rapi ia hanya memakai kemeja putih dengan lengan yang digulung, memperlihatkan gurat-gurat usia yang tampak lebih nyata malam ini. Wajahnya yang biasanya tegar dan penuh wibawa kini tampak lelah. Matanya yang tajam menatap kosong ke arah cairan infus yang menetes perlahan. "Opa.
Thom tertawa, sebuah tawa kering yang membuat suasana ruangan menjadi semakin mencekam. "Alasan klasik. Semua orang yang mengkhianati Percy selalu punya keluarga yang perlu dilindungi. Tapi kau lupa satu hal, Miller. Akulah yang memberi makan keluargamu selama dua puluh tahun. Kau memilih perlindungan dari hantu Ivan Li daripada perlindungan dari putra mahkota Northumberland?" Thom mengambil sebuah bolpoin perak dari meja Miller, memutarnya di antara jari-jarinya seperti instrumen bedah. "Di mana barang aslinya?" "Di... di gudang bawah tanah Mercusuar Bamburgh," isak Miller. "Mereka akan mengangkutnya malam ini." berharap dengan bersikap kooperatif keluarganya masih bisa selamat. Thom berdiri tegak, merapikan mantelnya. Ia menoleh ke arah Alex. "Urus Miller. Pastikan dia tidak bisa bicara dengan siapa pun sampai kita mendapatkan kembali teknologi itu. Dan panggil tim taktis. Kita akan menjemput 'keju' kita di Bamburgh." Saat mereka keluar dari kantor, salju tipis mulai t
Diskusi itu pun berubah menjadi sesi interogasi privat. Selama hampir satu jam, mereka terjebak dalam perdebatan strategi. Bryer menggali informasi tentang koneksi lama Ivan Li yang mungkin masih aktif, sementara Bara dengan bangganya membeberkan setiap "bisikan" yang ia dengar dari kakatua-kakatua senior di Kremlin tentang siapa saja pengkhianat yang masih setia pada panji keluarga Li. "Ada seorang pria... sering terlihat di dermaga dengan tato naga yang terpotong di lengan bawahnya. Itu tanda kesetiaan pada keluarga Li tingkat bawah," celetuk Bara. Waktu terus bergulir. Bryer terlalu fokus memetakan pergerakan antek Li hingga ia melupakan satu variabel penting Waktu. Begitu diskusi selesai, Bryer segera memerintahkan pengawalnya untuk melesat ke dermaga selatan. Mobil SUV hitam itu membelah jalanan pesisir dengan kecepatan gila. Bara terbang di atas, memandu arah dengan pekikan nyaring. Namun, sesampainya di dermaga nomor 12, jantung Bryer seolah merosot ke perut. Der
Bryer meremas tangannya kuat-kuat. Kedatangannya ke Hawaii yang niatnya untuk menenangkan diri, kini berubah menjadi misi perburuan kembali. Ia melirik Emilia, merasa bersalah karena liburan mereka akan terganggu lagi. "Naiklah ke helikopter dulu, Bryer," ujar Emilia tenang, meskipun hatinya ikut bergejolak. "Kita bicarakan ini di resort. Hawaii memang panas, tapi sepertinya bara api yang kau bawa dari Rusia akan membuat tempat ini meledak." "Tepat sekali! Dan aku akan menjadi komentator utamanya!" teriak Bara saat mereka semua masuk ke dalam helikopter. Di dalam helikopter yang melaju membelah langit Honolulu, Bryer hanya bisa duduk bersandar, memijat keningnya sementara Bara mulai menagih "pajak gosip" tentang rahasia-rahasia di Gedung Putih. Di bawah langit Hawaii yang indah, Bryer menyadari bahwa ketenangan adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia miliki selama ia masih terlibat dengan keluarga Vladimir dan burung kakatua hitam yang jauh lebih pintar daripada agen CIA
Namun, sifat aslinya kembali dalam sekejap. Burung itu kembali berteriak, "Sekarang, beri aku lebih banyak macadamia! Gosip tadi sangat menguras tenaga! Dan jangan lupa, nanti sore kita harus ke dermaga. Aku ingin melihat ekspresi wajah Bryer saat aku menagih bayaran atas informasi ini. Aku ingin apel Honeycrisp dari Washington, bukan apel lokal yang rasanya seperti air tawar ini!" Emilia hanya bisa terduduk diam, menatap cakrawala di mana ia tahu, sebuah badai besar sedang bergerak menuju pesisir Hawaii yang tenang. Badai yang dibawa oleh seorang pria pemarah bernama Bryer, dan rahasia yang disimpan rapat oleh seorang jurnalis bernama Nona Berry. Sambil mendengarkan ocehan Bara yang kini mulai beralih menggosip tentang pengawal Emilia yang katanya punya pacar rahasia di Rusia, Emilia menyadari satu hal Liburannya di Hawaii sudah berakhir, bahkan sebelum benar-benar dimulai. Di bawah langit Hawaii yang biru cerah, aspal di landasan pacu Bandara Internasional Honolulu tampak be
Matahari musim panas di Hawaii membasuh pesisir Waikiki dengan cahaya emas yang menyilaukan, sangat kontras dengan kemuraman abu-abu yang biasanya menyelimuti dinding-dinding batu Kremlin. Di balkon sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik, Emilia duduk terdiam. Di tangannya, segelas Mai Tai dingin dengan hiasan payung kecil tampak berkeringat, namun pikirannya masih membeku pada kejadian sebulan lalu. Kejadian di mana Kesia menelan racun tanpa mengedipkan mata. Namun, lamunan melankolis Emilia tidak pernah bisa bertahan lama. Keheningan adalah kemewahan yang mustahil didapatkan selama burung kakatua hitam Papua bernama Bara ada di radius satu kilometer darinya. Hari itu dimulai dengan keributan. Belum juga jam menunjukkan pukul delapan pagi, kepakan sayap legam Bara sudah menghantam teralis balkon dengan bar-bar. "Emilia! Bangun, Tuan Putri Malas! Kau melewatkan pertunjukan komedi terbaik di kolam renang bawah!" teriak Bara, suaranya melengking







