تسجيل الدخولIa sudah tahu soal Carl Rodin sejak lama, namun membiarkan burung-burungnya yang menyampaikan adalah cara paling elegan untuk menghancurkan dominasi Eavi Li tanpa harus mengotori tangannya sendiri."Cukup, Bara, Luna. Makan kacang kalian," perintah Kesia tenang, mengeluarkan segenggam kacang dari saku gaunnya.Kedua burung itu berebut makanan di atas meja, sama sekali tidak peduli bahwa mereka baru saja melemparkan granat di tengah rumah tangga penguasa Kremlin.Lachlan berdiri perlahan, suaranya kini terdengar sangat rendah—tanda bahwa badai besar akan segera datang. "Callum, cari Carl Rodin. Bawa dia ke tempat yang sama dengan Ivan Li.""Lalu bagaimana dengan Ibu?" tanya Callum hati-hati.Lachlan melirik Kesia sejenak, lalu kembali menatap ke depan dengan dingin. "Beritahu ibumu... taman kita sedang butuh pemangkasan besar-besaran. Dan dia harus menyaksikan setiap tangkai layu yang akan kupotong malam ini."Kesia tersenyum tipis di balik gelas airnya. Strategi 'kreator' yang i
"Berita___baru___berita baru__" Suara cempereng mengudara di langit-langit Ballroom Kremlin. Kepakan sayap yang memekakkan kembali mengisi kedinginan Kremlin, yang sempat hening sejenak. Sepasang burung berwarna hitam terbang mengitari atap dalam Kremlin, tiga atau empat kali. Sebelum ia mendarat di atas meja makan. Di mana para anggota konferensi baru saja menyelesaikan makam malam mereka. Setelah sebelumnya sempat tertunda sejenak. "Kakak___" panggil satunya, mengamati sekelilingnya mencari seseorang. "Di mana kamu?" sahut satunya lagi, melangkah pelan menolehkan kepalanya ke kanan kiri, membuat orang-orang tertawa pelan melihat tingkah keduanya. "Kok tidak ada___?" Memiringkan kepalanya bingung, menatap Alexander lamat-lamat. "Kamu tidak salah orangkan!?" Tanya satunya lagi, ragu. "Tentu tidak," berjalan miring menggeser tubuhnya perlahan, mengamati wajah setiap orang teliti. "Tidak berbohong?" Ragu satunya lagi, mulai bosan. "Kapan aku berbohong padamu,
"Bukan London, Ayah. London hanya perantara yang disewa untuk mengaburkan jejak," potong Kesia cepat, sebelum Ivan benar-benar di bawa pergi, suaranya tenang namun tajam bak sembilu. "Ivan tidak akan sebodoh itu menjual informasi pada musuh lama kita jika tidak ada imbalan yang jauh lebih besar dari sekadar emas." Kesia menatap Ivan Li yang kini berkeringat dingin di ujung meja. "Ivan tidak bekerja untuk Britania. Dia bekerja untuk Beijing." Kalimat itu meledak seperti bom di tengah ruangan. Tatapan Lachlan yang tadinya membara karena amarah, kini mendingin menjadi es yang mematikan. Geopolitik adalah permainan favoritnya, dan Beijing bukanlah pemain kecil yang bisa diremehkan. "Beijing?" Davis Gerald mengerutkan kening, jemarinya berhenti menari di atas keyboard laptop. "Jika naga dari Timur sudah mulai mencampuri urusan domestik Kremlin, maka ini bukan lagi soal penculikan. Ini soal kedaulatan energi." Kesia mengangguk, ia merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan sebuah
Davis Gerald tidak peduli dengan tatapan menusuk itu. Baginya, kebisingan di ruangan ini mulai melampaui batas toleransi. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kayu jati berukir, melipat tangan di depan dada dengan wibawa seorang menteri yang terbiasa menjinakkan singa-singa politik di parlemen."Kita di sini bukan untuk melihat drama keluarga atau kompetisi harga diri," suara Davis kini merendah, namun setiap oktafnya membawa beban yang berat. "Dunia di luar sana sedang menahan napas. Britania sedang kacau, Blenheim Palace baru saja kehilangan wibawanya karena insiden 'kecelakaan' yang menimpa nona kecil kita, dan kalian masih sibuk saling menghunus telunjuk?"Lachlan menarik napas panjang, berusaha meredam sisa-sisa amarah yang sempat meledak. Ia menatap Kesia yang kini duduk dengan anggun di sampingnya. Gadis itu tampak tenang, seolah badai yang baru saja ia ciptakan hanyalah riak kecil di kolam teh."Davis benar," gumam Lachlan serak. "Kesia, katakan pada mereka. Apa yang sebe
"Kita bisa mencobanya. Aku akan membawanya kalau kami cocok," nadanya datar, berusaha menyembunyikan sesuatu. "Berikan dia padaku," Lanjut Stewart mengulurkan tangannya, menerima Glis di tangannya. "Kakak, kamu banyak sekali berubah?!" Cibir Thane menyindir kakaknya. Entah gerangan apa yang membuat pria sedingin planet neptunus, mau membawa Glis rubah merah. Stewart menoleh pelan, tatapan dinginnya menghunus tajam udara malam langit-langit Ballroom Kremlin. Siap mencincang habis tubuh Thane dari jarak setengah meter. Bisa jadi Stewart telah usai menguliti adiknya, bilamana Kesia tidak berada di antara keduanya. Menyerahkan rubah digendongannya pada Stewart. Glis rubah berjenis kelamin perempuan itu mengeluarkan suara "Wuuu-uuu-uuu!" melengking tinggi, diikuti "Yip-yip-yip!" pendek dan gembira.Suaranya merdu dan nyaring terdengar seperti nyanyian kegembiraan, seolah-olah dia sedang mengatakan "Aku senang! Aku senang! Aku punya tuan baru!". Ekornya yang lebat bergoyang-goyang
Pengaruh Nona Berry pada dunia elit semakin terasa. Konferensi politik suksesi takhta Britania Raya Prince William nyaris terungkap ke publik.Karena melejitnya berita penembakan di Blenheim Palace. Untungnya Theo segera menemukan alasan yang masuk akal. Mengapa mereka melakukan konferensi di Blenheim Palace malam itu. Kewarganegaraan ganda Theo menjadi alibi kuat. Mereka tidak sedang melakukan konferensi politik.Melainkan konferensi bisnis biasa. Status Theo sebagai wakil presdir di perusahaan milik Opa. Cukup menjelaskan jika perkumpulan malam itu hanya pembicaraan bisnis internasional biasa. Bukan hanya aristokrat Britania Raya yang ketakutan. Melihat kesadisan Nona Berry dalam menulis berita. Dunia aristokrat Negeri Beruang ikut bergetar saat mendengarnya. Terlebih tiga berita pertama Nona Berry yang tayang berkaitan erat dengan dunia Aristokrat. Pertama perjudian Nayla Wilson, kedua kasus pelecehan Nathan Wilson, terakhir berita penembakan di bandara Saint Petersburg. Malam
![The Wedding Dress [INDONESIA]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)






