LOGINSuasana di ruang kerja Lachlan Vladimir yang tadinya tegang kini berubah menjadi mencekam, seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis. Rahasia yang selama ini terkunci di dasar memori paling gelap klan Vladimir akhirnya terkuak, dan pelakunya adalah orang yang paling tidak disangka. Lachlan menatap nanar ke arah putra-putranya. Ia menarik napas berat, asap cerutunya menggantung statis di udara yang membeku. "Kalian ingin tahu kebenarannya?" suara Lachlan parau, menyimpan luka yang sudah mengerak selama hampir dua dekade. "Bayi itu... gadis yang kubilang aman di suatu tempat itu... dia bukan sekadar darah dagingku. Dia adalah saudara kembar Emilia." Petir seolah menyambar di tengah musim panas Moskow. Stewart terhuyung mundur, tangannya mencengkeram sandaran kursi kulit hingga buku jarinya memutih. "Kembar? Emilia punya kembar? Tapi Ibu bilang bayi satunya meninggal saat persalinan!" Lachlan tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan pisau di atas
Suasana di ruang kerja Lachlan Vladimir semakin menyesakkan. Uap kemarahan dari Stewart dan Dashiell perlahan mendingin, berganti dengan ketegangan yang lebih berat saat Lachlan kembali bersuara dengan nada yang tak terbantahkan. Ia berdiri tegak, bayangannya jatuh memanjang di atas karpet Persia merah tua, memberikan kesan raksasa yang tak tergoyahkan. "Dengar baik-baik," ujar Lachlan, suaranya kini tenang namun mengandung ancaman. "Emilia tidak bersalah sedikit pun atas asal-usulnya. Dia tidak berhak menanggung satu inci pun dosa yang dilakukan ibunya, Eavi. Eavi boleh saja memiliki rencana busuk, tapi Emilia? Dia adalah anak yang patuh. Selama dia tetap berada di jalurnya, tidak berkhianat, dan tetap menjadi putri yang manis, aku akan terus memanjakannya. Siapa pun di antara kalian yang mencoba menyentuh atau menyakitinya secara verbal maupun fisik, akan berhadapan langsung denganku." Lachlan menatap Stewart dengan tatapan yang membuat sang putra mahkota itu terpaksa membuang
Suasana di ruang kerja pribadi Lachlan Vladimir sebuah ruangan luas dengan dinding kayu ek gelap yang meredam suara dari luar mendadak menjadi medan pertempuran verbal yang panas. Setelah jamuan makan malam yang tampak harmonis di permukaan, kenyataan pahit yang selama puluhan tahun terkunci rapat akhirnya meledak. Lachlan duduk di kursi kebesarannya, wajahnya sedingin es, tangannya menumpu dagu dengan mata yang menatap tajam ke arah putra-putranya. Di hadapannya, empat pilar Vladimir sedang berada di ambang perpecahan. Stewart, sebagai putra tertua dan calon pewaris, adalah yang paling vokal. Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah karena amarah yang tertahan. Ia melemparkan map berisi data hasil penyelidikan mandirinya ke atas meja ulin milik Lachlan. "Ayah, cukup sudah sandiwara ini!" bentak Stewart, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Data ini tidak berbohong. Emilia tidak memiliki satu tetes pun darah Vladimir dalam tubuhnya! Bagaimana bisa Ayah membiarkan seorang ga
Ruang makan utama di kediaman Vladimir malam itu terasa begitu dingin, meski perapian besar di sudut ruangan menyala dengan api yang menari-nari. Meja kayu ulin panjang yang mengilat tertutup oleh taplak linen putih dan jajaran alat makan perak yang diletakkan dengan presisi militer. Di sana duduk Lachlan di ujung meja, dengan Stewart, Thane, Dashiell, Callum, dan Emilia yang duduk berhadapan dengan Eavi Li. Suasana yang seharusnya hangat karena kepulangan Emilia justru terasa seperti medan perang yang senyap. Hanya denting garpu dan pisau yang sesekali beradu dengan piring porselen. Eavi Li, yang duduk dengan anggun di samping Lachlan, menyesap anggur merahnya perlahan. Matanya yang tajam melirik ke arah Emilia yang sedang memotong daging steaknya dengan tenang. "Lachlan," panggil Eavi dengan suara lembut yang bisa membelah keheningan. "Tidakkah kau merasa Emilia tampak jauh lebih kurus? Perjalanan sejauh itu tanpa pengawalan yang memadai benar-benar menguras energinya."
Baru saja Emilia hendak memutar gagang pintu untuk turun ke ruang makan, pintu kamarnya lebih dulu terbuka pelan. Di ambang pintu, berdirilah sosok wanita yang kecantikannya seolah menolak untuk menua. Eavi Li. Dengan balutan gaun rumah berbahan sutra merah yang elegan, ia melangkah masuk dengan keanggunan seorang permaisuri yang tak pernah kehilangan wibawa. "Putriku," suara Eavi lembut, namun ada nada dingin yang selalu terselip di sana, seperti salju yang menyembunyikan duri. Emilia tertegun sejenak. "Ibu," sapanya singkat sembari merapikan daster sutranya. Eavi melangkah mendekat, jemarinya yang lentik dan dihiasi permata mahal terangkat untuk mengusap pipi Emilia. Matanya yang tajam memindai wajah putrinya, mencari setiap celah keletihan atau keraguan. "Kau tampak pucat setelah perjalanan itu. Ayahmu dan kakak-kakakmu... mereka benar-benar membiarkanmu menempuh risiko sejauh itu sendirian? Sungguh cara yang kasar untuk memperlakukan satu-satunya permata di keluarga in
Langit Moskow sore itu berwarna abu-abu baja, senada dengan dinding batu kokoh yang memagari kompleks Kremlin. Angin musim panas yang biasanya hangat di sini terasa lebih tajam, membawa aroma debu sejarah dan kekuasaan yang absolut. Sebuah iring-iringan mobil SUV hitam berlapis baja meluncur mulus melewati gerbang Spasskaya, berhenti tepat di depan pelataran megah salah satu istana kediaman keluarga Vladimir. Pintu mobil terbuka, dan Emilia Vladimir melangkah keluar. Wajahnya yang cantik tampak lelah, gurat-guratan keletihan setelah perjalanan panjang 32 jam terlihat jelas. Namun, begitu matanya menangkap sosok pria tinggi berambut perak yang berdiri tegak di undakan tangga istana, kelelahan itu seolah menguap. Lachlan Vladimir berdiri di sana dengan mantel panjangnya, matanya yang tajam melembut saat melihat putri bungsunya. Di belakangnya, berdiri empat pilar kekuatan keluarga Vladimir: Stewart, Thane, Dashiell, dan Callum. "Ayah!" seru Emilia. Tanpa memedulikan martabat
"Kita bisa mencobanya. Aku akan membawanya kalau kami cocok," nadanya datar, berusaha menyembunyikan sesuatu. "Berikan dia padaku," Lanjut Stewart mengulurkan tangannya, menerima Glis di tangannya. "Kakak, kamu banyak sekali berubah?!" Cibir Thane menyindir kakaknya. Entah gerangan apa yang memb
Pengaruh Nona Berry pada dunia elit semakin terasa. Konferensi politik suksesi takhta Britania Raya Prince William nyaris terungkap ke publik.Karena melejitnya berita penembakan di Blenheim Palace. Untungnya Theo segera menemukan alasan yang masuk akal. Mengapa mereka melakukan konferensi di Blen
"Berapa banyak yang kita hasilkan dari menulis berita, akhir-akhir ini?" Mendorong pintu balkonnya pelan, memandang lurus ke depan. Menikmati pemandangan kota Dubai yang memuakkan. "Tidak kurang dari 70 juta dollar, Nona," jawab pria berkebangsaan Uni Emirat Arab bernama Zayn Haddad. Zayn Haddad
Sangat gila. Dua kata yang dapat menggambarkan dunia pers saat ini. Musim semi baru berakhir kemarin hari. Skandal besar menyebar dimana-mana. Jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Skandal besar baru akan naik di akhir tahun. Ini sungguh tidak masuk akal. Jika hal ini terus berlangsung tanpa







