Home / Mafia / Velvet Bloodline / Part 96 : Pedang vs Bantal

Share

Part 96 : Pedang vs Bantal

Author: Cloudberry
last update publish date: 2026-04-20 19:13:19

Baru saja Emilia hendak memutar gagang pintu untuk turun ke ruang makan, pintu kamarnya lebih dulu terbuka pelan. Di ambang pintu, berdirilah sosok wanita yang kecantikannya seolah menolak untuk menua. Eavi Li. Dengan balutan gaun rumah berbahan sutra merah yang elegan, ia melangkah masuk dengan keanggunan seorang permaisuri yang tak pernah kehilangan wibawa.

​"Putriku," suara Eavi lembut, namun ada nada dingin yang selalu terselip di sana, seperti salju yang menyembunyikan duri.

​Emilia te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Velvet Bloodline   Part 102 : Dua puluh lima tahun lalu

    Cahaya matahari sore di Surabaya tahun 2011 itu terasa begitu hangat, namun entah mengapa, warnanya tampak sedikit lebih jingga dari biasanya seolah langit sedang memberikan peringatan yang tak terbaca oleh bocah sepuluh tahun itu. ​Thom sedang tertawa terbahak-bahak di halaman belakang. Di sana, Nalacy pria yang selama sepuluh tahun ia panggil 'Papa' sedang berlutut di tanah, kemejanya tersingsing hingga siku, sibuk memperbaiki rantai sepeda kecil milik Thom. Kehangatan yang terpancar dari senyum Nalacy selalu terasa tulus, tipe kehangatan yang membuat Thom merasa bahwa dunia adalah tempat yang paling aman. ​"Nah, sudah selesai. Sekarang sepedamu bisa lari secepat angin," ujar Nalacy sambil mengacak rambut Thom dengan tangan yang sedikit terkena oli. ​Tiba-tiba, pintu belakang mansion terbuka. Abelia, sang Mama, melangkah keluar dengan raut wajah yang tenang namun sedikit terburu-buru. Ia membawa sebuah tas kain berisi beberapa botol susu segar. ​"Thom, sayang," panggil Abeli

  • Velvet Bloodline   Part 101 : Nalacy

    Suasana di ruang makan utama "Istana Teratai" begitu orang-orang menyebut kediaman megah Opa Mingzhe yang berdiri kokoh di tepian Waduk Jatiluhur siang itu terasa begitu formal namun sarat akan ketegangan yang halus. Aroma masakan otentik Kanton bercampur dengan aroma angin air tawar yang masuk lewat jendela-jendela besar setinggi langit-langit. ​Kesia duduk dengan postur sempurna, ekspresi wajahnya tenang seperti permukaan waduk di luar sana. Di sampingnya, Theodor Soertja tampak gelisah sejak mereka baru saja duduk. ​"Kamu tahu, Kesia," Opa Mingzhe memulai pembicaraan, jemarinya yang keriput namun kokoh memainkan sumpit gadingnya. "Memilih partner bisnis atau pendamping itu seperti memilih teh. Harus yang benar-benar diproses dengan tekun. Tidak bisa yang sukanya membolos saat proses fermentasi." ​Theo menghela napas panjang, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Opa, ini makan siang. Bisakah kita tidak membahas soal masa lalu?" ​"Masa lalu?" Opa Mingzhe terkekeh sinis, matanya

  • Velvet Bloodline   Part 100 : Putri Kembar

    Suasana di ruang kerja Lachlan Vladimir yang tadinya tegang kini berubah menjadi mencekam, seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis. Rahasia yang selama ini terkunci di dasar memori paling gelap klan Vladimir akhirnya terkuak, dan pelakunya adalah orang yang paling tidak disangka. ​Lachlan menatap nanar ke arah putra-putranya. Ia menarik napas berat, asap cerutunya menggantung statis di udara yang membeku. ​"Kalian ingin tahu kebenarannya?" suara Lachlan parau, menyimpan luka yang sudah mengerak selama hampir dua dekade. "Bayi itu... gadis yang kubilang aman di suatu tempat itu... dia bukan sekadar darah dagingku. Dia adalah saudara kembar Emilia." ​Petir seolah menyambar di tengah musim panas Moskow. Stewart terhuyung mundur, tangannya mencengkeram sandaran kursi kulit hingga buku jarinya memutih. "Kembar? Emilia punya kembar? Tapi Ibu bilang bayi satunya meninggal saat persalinan!" ​Lachlan tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan pisau di atas

  • Velvet Bloodline   Part 99 : Menolak Diakui

    Suasana di ruang kerja Lachlan Vladimir semakin menyesakkan. Uap kemarahan dari Stewart dan Dashiell perlahan mendingin, berganti dengan ketegangan yang lebih berat saat Lachlan kembali bersuara dengan nada yang tak terbantahkan. Ia berdiri tegak, bayangannya jatuh memanjang di atas karpet Persia merah tua, memberikan kesan raksasa yang tak tergoyahkan. ​"Dengar baik-baik," ujar Lachlan, suaranya kini tenang namun mengandung ancaman. "Emilia tidak bersalah sedikit pun atas asal-usulnya. Dia tidak berhak menanggung satu inci pun dosa yang dilakukan ibunya, Eavi. Eavi boleh saja memiliki rencana busuk, tapi Emilia? Dia adalah anak yang patuh. Selama dia tetap berada di jalurnya, tidak berkhianat, dan tetap menjadi putri yang manis, aku akan terus memanjakannya. Siapa pun di antara kalian yang mencoba menyentuh atau menyakitinya secara verbal maupun fisik, akan berhadapan langsung denganku." ​Lachlan menatap Stewart dengan tatapan yang membuat sang putra mahkota itu terpaksa membuang

  • Velvet Bloodline   Part 98 : Keluarga Bukan Soal Darah

    Suasana di ruang kerja pribadi Lachlan Vladimir sebuah ruangan luas dengan dinding kayu ek gelap yang meredam suara dari luar mendadak menjadi medan pertempuran verbal yang panas. Setelah jamuan makan malam yang tampak harmonis di permukaan, kenyataan pahit yang selama puluhan tahun terkunci rapat akhirnya meledak. ​Lachlan duduk di kursi kebesarannya, wajahnya sedingin es, tangannya menumpu dagu dengan mata yang menatap tajam ke arah putra-putranya. Di hadapannya, empat pilar Vladimir sedang berada di ambang perpecahan. ​Stewart, sebagai putra tertua dan calon pewaris, adalah yang paling vokal. Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah karena amarah yang tertahan. Ia melemparkan map berisi data hasil penyelidikan mandirinya ke atas meja ulin milik Lachlan. ​"Ayah, cukup sudah sandiwara ini!" bentak Stewart, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Data ini tidak berbohong. Emilia tidak memiliki satu tetes pun darah Vladimir dalam tubuhnya! Bagaimana bisa Ayah membiarkan seorang ga

  • Velvet Bloodline   Part 97 : Berbeda

    Ruang makan utama di kediaman Vladimir malam itu terasa begitu dingin, meski perapian besar di sudut ruangan menyala dengan api yang menari-nari. Meja kayu ulin panjang yang mengilat tertutup oleh taplak linen putih dan jajaran alat makan perak yang diletakkan dengan presisi militer. Di sana duduk Lachlan di ujung meja, dengan Stewart, Thane, Dashiell, Callum, dan Emilia yang duduk berhadapan dengan Eavi Li. ​Suasana yang seharusnya hangat karena kepulangan Emilia justru terasa seperti medan perang yang senyap. Hanya denting garpu dan pisau yang sesekali beradu dengan piring porselen. ​Eavi Li, yang duduk dengan anggun di samping Lachlan, menyesap anggur merahnya perlahan. Matanya yang tajam melirik ke arah Emilia yang sedang memotong daging steaknya dengan tenang. ​"Lachlan," panggil Eavi dengan suara lembut yang bisa membelah keheningan. "Tidakkah kau merasa Emilia tampak jauh lebih kurus? Perjalanan sejauh itu tanpa pengawalan yang memadai benar-benar menguras energinya." ​

  • Velvet Bloodline   Part 43 : Jepit Rambut

    Taman mawar Kremlin pagi itu tampak begitu memukau, embun masih menggelayut di kelopak-kelopak bunga yang sedang mekar sempurna. Kesia, dengan kecerdikan yang tenang, sengaja menarik Callum menjauh. Ia melangkah ringan di antara barisan mawar merah, sesekali memetik satu tangkai dengan gunting per

  • Velvet Bloodline   Part 42 : Sound Horeg

    Pintu ganda ruang makan terbuka dengan dentuman yang sengaja dibuat keras, memutus aliran tawa yang baru saja mencairkan suasana. Eavi Li melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Meskipun semalam ia nyaris pingsan menyaksikan eksekusi Ivan Li, pagi ini ia telah mengenakan topeng kebanggaanny

  • Velvet Bloodline   Part 41 : Ganti Rugi

    "Bara! Hentikan! Ambil kacang-kacang ini lalu pergi!" Perintah Callum mengeluarkan segenggam pine nuts sebagai penyumpal agar keributan tidak semakin menjadi. ​"Tidak! Aku tidak mau kacang darimu, Callum!" Tolak Luna masih setia mengepakkan sayapnya, melayang di hadapan Bryer. "Aku mau dari dia!

  • Velvet Bloodline   Part 40 : Macamadia Amerika?

    Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela besar ruang makan Kremlin, menyinari meja mahoni panjang yang sudah dipenuhi oleh para pria elit Vladimir. Namun, keheningan pagi itu tidak bertahan lama. Suara kepakan sayap yang kuat dan pekikan cempreng yang sangat akrab di telinga mereka mulai me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status