Share

Part 6: Palung Mariana

Author: Titi Chu
last update Last Updated: 2025-11-13 18:00:34

"Kamu di belakang."

Daripada semakin julid, aku nurut saja dan pindah posisi, Ghozali yang juga adalah gitaris pindah ke samping Bas.

Sepanjang perjalanan posisi kami tidak pernah berubah, di mobil pun begitu, seakan aku memiliki penyakit menular jika dekat-dekat dengan Bas. Tapi wajar mungkin dia memang berpikir demikian setelah mengetahui Gumi selingkuh.

Sementara Mas Pj adalah tipikal muka tembok yang tidak ada segan-segannya, wajahnya tetap santai seolah tidak terjadi apa-apa bahkan kendarannya mengikuti kami di belakang selama ke Legolas.

"Tolong nadanya jangan lari-larian."

Kini selagi sibuk menghibur di atas panggung, Mas Pj duduk di salah satu sudut kafe mengawasi kami dengan beberapa orang yang kukenal sebagai pencipta lagu. Matanya tidak lepas menatapku, membuat jengkel. Seandainya saja ada yang bisa kulakukan untuk mencolok mata itu, maka—

"Sialan," bisik Bas disela-sela jeda, dia melirikku sadis. "Ketinggian, kamu sengaja mau bikin saya kehabisan napas?"

Astaga.

Saking murkanya aku sampai tidak sadar telah salah memainkan kunci. Aku baru paham saat suara Bas melengking, urat-urat di lehernya tampak kebetot.

"Maaf, Kak."

"Gue pikir memang dirubah." Rigen yang menandaskan air minum, menimpali.

Aku meringis. "Tadi—"

"Inilah efek sampingnya kalau kamu absen latihan. Nggak ada yang bisa kamu lakukan selain main asal-asalan."

"Nadanya udah aku turunin, Kak."

"Sekarang apa gunanya lagi? Kenapa kamu selalu bikin saya darah tinggi?"

Bas dongkol dan menaruh mikrofonnya, kuembuskan napas berat saat menyaksikan dia turun dari panggung.

"Istirahat dulu aja, lo pasti capek karena ini baru pertama kali," hibur Rigen seraya menyela dirinya bangkit dari drum. Lalu merangkul leherku untuk menyusul Bas turun. "Wajar kalau masih berantakan, namanya juga pemula. Gue aja kadang masih berantakan karena ada beberapa lagu yang nggak hafal, manusiawi."

Mohon maaf, aku senang dengan afirmasi positifnya tapi lengannya yang berada di leherku terasa mencekik. Kuhela lemak itu untuk menjauh. "Makasih, tapi kamu bisa dengan cepat menyesuikan diri. Kalau aku, berkali-kali cuma kena bentak."

"Pakai gue-lo aja, Gum. Geli gue dengernya lo sok manis gini, bukan Gumi banget."

Bibirku mengatup rapat.

"Gimana sebat dulu, makan dulu?"

"Cuci muka dulu."

Kubiarkan dia melenggang ke arah belakang kafe bersama Ghozali, sedangkan aku melipir ke backstage, ruangan yang disediakan pemilik kafe untuk personil The Blues istirahat.

Bertepatan dengan asisten Bas, Jefri yang keluar dari tempat itu, meninggalkan Bas sendirian. Dia sedang rebahan di sofa, tangannya terlipat dan bertumpu di atas kening menutupi sebagian wajahnya.

Melihatnya begini, entah kenapa aku merasa bersalah. "Maaf Kak, aku nggak bermaksud mengacau, seharian kemarin aku udah latihan sendiri di rumah, yah walaupun itu nggak bisa dianggap sebagai latihan, tapi aku udah berusaha lebih baik, Kakak nggak akan mendepak aku, kan?"

Aku agak ngeri kalau tiba-tiba mereka menggantikan posisiku dengan personil lain. Meskipun Rigen berkata kalau mengganti anggota itu membutuhkan banyak tahapan dan repot. Tapi siapa yang bisa menjamin Bas tidak akan menendangku dari The Blues? Terlebih aku pun telah menghina Mas Pj.

"Aku yakin Kakak orang yang murah hati, selama ini aku memang banyak salah. Tapi bukannya hubungan profesional nggak seharusnya dicampur-adukkan dengan masalah pribadi?"

Bas belum merespon.

"Aku janji nggak akan mengecewakan, Gumi..." Aku berdeham untuk membersihkan tenggorokan. "Maksudnya Kakak pasti paham kalau ini impian aku. Aku akan berusaha, bukan dengan cara instan seperti yang Kakak tuduhkan."

Bas tidak bergerak.

"Gimana kalau Kakak bantu ajarin aku supaya kita bisa jadi tim yang solid?"

Sama sekali tidak ada tanggapan.

Keningku berkerut, lalu perlahan mendekatinya, membungkuk sedikit untuk munusuk lembut lengannya. "Kak?"

Astaga, apakah dia tidur? Cepat sekali dia terlelap? Sia-sia semua kata-kata manisku, kalau begini lebih baik aku mengikuti Rigen ke smoking area. Alur hidup Gumi memang penuh plot twist.

Kutusuk lengannya sekali lagi karena gemas. "Kenapa harus Gumi?" bisikku rendah. "Harusnya kamu menikah sama perempuan waras. Gumi memang nggak ada tandingnnya soal nyakitin perasaan orang lain. Nanti kalau Gumi udah sadar kamu boleh ngamuk sama dia tapi untuk sekarang aku bukan—" Aku berjengit ketika tiba-tiba pergelangan tanganku dicengkeram kuat, lalu tanpa aba-aba tubuhku ditarik, jatuh di atas perutnya.

Detak jantungku langsung berpacu cepat sedangkan kelopak matanya perlahan terbuka, menatapku fokus dan tajam.

"Apa yang kamu lakukan?" geramnya.

Aku segera melompat bangkit, menyelipkan anak rambut yang berantakan ke daun telinga. "Itu, Rigen, Ghozali udah selesai, maksdunya kita sebentar lagi balik ke panggung."

Sialan, mulutku selalu belepotan kalau merasa terancam.

Alis Bas mengerut suram, dia beringsut bangkit dan perlahan menjatuhkan tungkainya ke lantai. "Did I sleep?"

Kepalaku mengangguk.

"Jam berapa sekarang?"

"Setengah dua siang."

"Baru lima belas menit kamu sudah membangunkan saya?"

"Yahh, tapi Kakak belum makan." Dengan salah tingkah, kutarik semua makanan yang tersedia di atas meja. "Kopi? Chips? Kentang goreng? Nasi goreng? Sate? Ini semua riders yang Kakak minta. Jefri yang mengantarnya ke sini tadi." Aku tertawa canggung, tapi karena dia diam saja, tawaku langsung menguap. "Silakan."

Dia mendengkus, tampak tidak terkesan. "Bukan saya yang request, semua itu makanan kesukaan Rigen."

Oh?

"Saya nggak bisa makan makanan yang berminyak untuk menjaga kualitas suara."

Benar, kenapa aku tidak bisa berpikir ke sana? "Mau aku ambilin air putih Kak?"

Lirikannya yang keji lagi-lagi membuatku ingin nyemplung ke palung Mariana.

"Atau Kakak butuh yang lain?"

"Nggak sekalian kamu tawarkan untuk memijat kepala saya? Itu yang lebih saya butuhkan sekarang."

Aku mingkem, setengah mati berusaha untuk tidak mencuit saat Bas melewati tubuhku begitu saja. Aroma parfumnya yang maskulin, khas mint langsung menusuk indera penciumanku.

"Kalau kamu berusaha bersikap baik hanya karena merasa bersalah atas apa yang terjadi di atas panggung, lupakan, sudah terlambat untuk melakukan itu Gumi," katanya rendah dan santai. Dia menarik mug di salah satu sudut ruangan dan mengambil air dari dispenser sebelum berputar dan menatapku, setengah berdiri setengah bersandar di meja. "Kecuali kalau kamu punya solusi permanen."

"Kakak beneran mau mecat aku?"

"Saya lebih ingin kita cepat bercerai."

Ya ampun, mulutnya memang tidak ada filter sama sekali.

"Kenapa? Kamu keberatan?"

Aku menggeleng, bagaimana akan membantah kalau posisiku terjepit?

"Kalau gitu berhenti mengulur-ulur waktu dengan keributan harta gono-gini. Nggak ada yang bisa dibagi Gumi, kamu selalu hidup sendiri, saya pun demikian. Saya bisa bayar nominal yang kamu mau, tapi setelah itu apa kamu bisa menjamin nggak akan memeras keluarga saya lagi?"

Gumi melakukan semua itu?

"Saya paham kamu tulang punggung keluarga, ada orang tua dan adik yang menjadi tanggung jawab kamu, tapi kalau kamu memanfaatkan orang lain hanya untuk keuntungan pribadi, saat kamu melakukan kesalahan sedikit saja, orang yang nggak menyukai kamu bisa mengambil kesempatan untuk melawan."

"Kakak juga begitu?" todongku, jantung berdebar tidak keruan. Bagiku meski Gumi bajingan, tapi dari kecil aku selalu mengagumi kepribadiannya yang mandiri. Dan kalau Bas benar, maka selama ini, kemandirian itu hanya mitos.

Seringai Bas terbit, dia berjalan mendekat hanya untuk memastikan bisa menatap tajam mataku. "Apa yang kamu harapkan? Saya melupakan semua yang terjadi? Atau membakar semua bukti-bukti? Kamu terlalu naif kalau berpikir saya akan melepaskan kamu begitu saja—"

"Kalau gitu paparkan bukti-bukitnya di persidangan."

"Apa?"

Dia bisa memotong kata-kataku maka aku pun bisa melakukan hal yang sama.

"Kakak tadi bilang soal bukti-bukti, kalau memang Gumi..." Aku berdeham sebelum melanjutkan lebih pelan. "Selingkuh, tolong jelaskan ke hakim, aku yakin beliau pasti langsung menerima gugatan Kakak."

Alis Bas mengernyit. "Kenapa kamu berkata seolah kamu bukan Gumi?"

"Apa?" Kini gantian aku yang mendelik.

"Atau kamu memang bukan Gumi?"

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 122: Titik Awal

    "Apa hal terbaik yang bisa kamu bagikan untuk orang lain sebagai pelajaran dari pernikahan kalian?" Itu adalah pertanyaan yang pernah diajakun oleh salah seorang podcaster ketika Bas hadir untuk wawancara di sebuah podcast. Bas tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab percaya diri. "Menerima ketidaktahuan dan saling memafkan." Alih-alih kekurangan, dia justru menggunakan kata ketidaktahuan untuk merujuk pada kekurangan-kekurangan yang tanpa sadar kami lakukan. Bagaimana aku tidak semakin mengangumi suamiku? Kami sering bertengkar, bahkan karena masalah sepele seperti kontrol suhu AC. Karena Bas sukanya dingin-dingin biar bisa peluk-peluk, sedangkan aku risi, merasa gerah kalau tidur harus pelukan terus. Atau masalah yang paling krusial seperti ketika dia diam-diam membeli mobil baru tanpa sepengetahuanku sama sekali. Banyak hal yang kami sesuaikan, adaptasi, kadang aku yang mengalah, walaupun lebih banyak Bas yang mengalah. Tapi kalau sedang mesra, tidak perlu ditanya,

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 121: Copy Paste

    "Sepengetahuan aku, dari ceramah yang aku dengar, ari-ari harusnya dicuci bersih dan diurus sama Mama mertua, kalau aku bilang begini sama Mama Bas, menurut kamu dia bakal tersinggung nggak?" Aku meringis dengan penurutan Gumi. "Nggak usah dipikirin itu Gum, Bas yang udah mengurus semuanya." "Oh ya bagus deh, Alhamdulillah. Dia memang cekatan, sih." Beberapa hari sebelum melahirkan, Gumi memang ngotot ingin menemaniku di rumah, khawatir hal-hal seperti ini akan terjadi, tapi karena tidak mungkin kami tinggal serumah bertiga, jadi dia memerhatikan dari jarak jauh. Ketika datang dari luar kota, dialah yang paling heboh dengan Nathan dan tidak berhenti menimang sambil memuji. "Gembul banget sih, asi Mamanya pasti gacor banget ini, calon-calon roti sobek di lengannya ada empat. Mana wangi lagiiii, bau surga banget kamu." Anakku mere

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 120: Arse & Ipul

    Sembilan bulan menuju HPL.Kami baru pulang dari lokasi syuting karena jadwal Bas makin hethic ketika tiba-tiba Noah datang ke rumah.Saat itu aku dan Bas sedang mendengarkan demo dari single yang akan dirilis berjudul Dua Dalam Satu. Sebuah lirik yang menceritakan perjalanan pria yang menemukan belahan hatinya.Jadi kami tidak mendengar Noah datang, dia langsung masuk melewati asisten kami di depan, bahkan sampai ke ruang musik Bas, aku lebih dulu melihat kehadirannya dan menyapa."Noah?"Wajah Noah keras, tanpa aba-aba, dia menyambar lengan adiknya, Bas tampak terkejut, sebelum dia mampu beraksi, sebuah bogeman mentah sudah lebih dulu mendarat ke wajahnya dan membuat suamiku tersungkur di lantai.Aku menjerit kaget."Kamu kenapa?!" seruku panik.Bas mengerang, wajahnya kelihatan antara shock, bingung, dan sedikit marah.Noah mengabaikanku, dan membentak. "Bajingan, selama ini lo pura-pura polos, berti

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 119: Kepala Bocor

    Anak kami laki-laki.Hal ini kami ketahui setelah usia kandunganku tiga bulan. Tidak perlu ditanya hebohnya Bas. Dia seperti CR7 ketika melakukan siu. Bahkan saking gembiranya satu obgyn diberikan hadiah.Aku ikut bahagia untuknya, walau sampai trisemester kedua aku mengalami perubahan yang berat, terlebih aku sempat merasakan baby blues. Bedanya, si dede belum lahir, tapi aku tidak merasakan perasaan antusias, semangat, cinta atau apapun. Rasanya flat, hambar.Beruntung aku punya banyak orang di sekelilingku yang mendukung, ada Gumi, yang siap menjadi tante rempong, Mona si tante bawel, Rigen om pelawak, Goz om royal, dan Noah om perhatian."Kalau gitu aku udah bisa bantu dekor-dekor kamarnya dong?" Gumi sampai excited dengan kehadiran si bocil. Tiap weekend, dia akan berkunjung untuk mengajakku belanja atau makan enak, yang semuanya untuk si baby.Dia banyak sekali berubah, kurasa pengalaman yang tidak pernah ia ceritakan selama koma i

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 118: Sekali Tembak

    Noah sudah bangun pagi-pagi sekali, beruntung dia tidak ada jadwal operasi, sebagai dokter spesialis jantung, akhir-akhir ini kabar yang dia berikan selalu sukses bikin jantungan. "Nggak jadi datang?" tanyanya menerima uluran jahe hangat dariku, meminimalisir rasa pusing akibat mabuk semalam. "Mungkin dia repot kalau harus bolak-balik," kataku merujuk ke informasi soal Ruka semalam. Wajah Noah suram, tapi ada kilatan berharap di matanya. "Dia nggak ada hubungin apa-apa sih." Noah mengecek ponselnya sejenak. "Tolong bilangin Bas, kabar ini jangan bocor ke mana-mana dulu, aku nggak pengin Ruka masuk berita gosip." "Kalau udah terlanjur gimana?" "Siapa yang bisikin?" tanya Noah balik. "Sejauh ini baru keluarga yang tahu. Ruka udah cukup sibuk, aku nggak mau dia semakin repot karena masalah ini." Luar biasa peduli, aku menggumamkan persetujuan lalu memintanya sarapan yang segera ditolak, Noah ingin

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 117: Tengah Malam

    "Hadiah untuk kepulangan kamu." Sebuah kalung dilingkarkan di leherku, rasanya dingin. Aku menunduk, menatap benda berkilauan itu dengan mata berbinar."Cantik banget Bas."Dia membungkuk, lalu mencuri satu ciuman di pipiku, aku terkekeh lembut.Dari pantulan cermin, kalung dengan bandul super mini yang berbentuk seperti tetesan air hujan itu kelihatan sangat elegan. Bas mulai mengerti dengan seleraku, jadi alih-alih sesuatu yang mencolok, dia memberikan sesuatu yang terasa ringan saat dikenakan.Aku berbalik, meraih rahangnya untuk gantian memberikan ciuman di bibir, memangutnya manis. "Makasih Kak.""Suka? Are you happy?""Happy!" Hidungku mengerut saat justru dibombardir dengan ciuman basah.Aku cekikikan menggeliat berusaha melepaskan diri. Kami ada acara dinner dengan keluarga Bas, sekadar acara rutin, mungkin sekaligus menyambut kepulangan kami ke Jakarta.Jadi berbekal gaun elevated dress bernuansa nude d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status