Share

Bab 3

Penulis: Potato
Aku berbaring di atas ranjang rumah sakit. Darah yang terus mengalir telah merembes membasahi ujung gaunku. Cahaya lampu yang menyilaukan di ruang gawat darurat membuatku tak sanggup membuka mata.

Dokter menekan perut bagian bawahku sambil mengernyit. "Di mana keluargamu? Kenapa kamu datang sendirian? Kantung kehamilanmu sudah turun sampai ke leher rahim dan kamu mengalami pendarahan hebat, kami harus segera melakukan kuretase. Panggil anggota keluargamu kemari untuk tandatangani formulir persetujuan!"

"Aku nggak punya keluarga." Aku mendengar suaraku yang begitu lemah, seperti asap yang siap buyar kapan saja. "Dokter, aku bisa tanda tangan sendiri."

Perawat menyodorkan formulir persetujuan tindakan medis sambil menatapku dengan iba. Aku menggenggam pena. Ujung jariku gemetar hebat akibat kehilangan banyak darah dan rasa sakit yang luar biasa.

Sebelum pergi, Arden sempat berpesan agar aku tidak menggunakan taktik pura-pura sakit yang murahan untuk memaksanya berkompromi. Dia adalah seorang profesor hukum yang sangat mementingkan bukti. Namun, saat dihadapkan pada permohonan pertolonganku, dia bahkan tidak memiliki kesabaran untuk sekadar melirik noda darah di gaunku.

Begitu obat bius berefek, aku merasakan kelegaan yang luar biasa.

Saat aku tersadar, hari sudah sore. Ruang rawat inap sunyi senyap, hanya ada suara keluarga pasien di ranjang sebelah yang sedang menonton video di ponsel dengan suara pelan.

"Penyiar radio zaman sekarang benar-benar kejam. Demi naikkan rating, dia tega melakukan perundungan siber terhadap seorang mahasiswi yang nggak bersalah. Kritikan profesor itu benar. Tokoh media yang nggak bermoral seperti itu memang pantas diboikot ...."

Aku menoleh perlahan. Wanita di ranjang sebelah sedang menonton sebuah konferensi pers dadakan melalui ponselnya.

Tepat di tengah meja, duduk seorang pria yang berwibawa dan terlihat dingin. Itu adalah suamiku, Arden. Dia selalu membenci sorotan publik. Program hukum papan atas pernah menawarinya bayaran fantastis untuk menjadi tamu tetap, tetapi dia menolak semuanya. Alasannya adalah "seorang akademisi seharusnya menjaga reputasi, bukan larut di dunia hiburan".

Sekarang, Arden malah duduk di tengah kepungan kilatan lampu kamera. Tatapannya di balik kacamata terasa dingin dan tajam.

"Sebagai kuasa hukum Bu Trisha, aku mau menyatakan dengan tegas. Semalam, seorang penyiar radio bernama Layla yang sepenuhnya mengetahui identitas penelepon, sengaja menggiring percakapan untuk menjebak klien aku. Sekarang, klien aku menjadi sasaran perundungan siber yang serius dan mengalami trauma psikologis yang mendalam."

"Hukum bukanlah alat bagi media tak bermoral untuk mengejar kepopuleran. Kami telah mengajukan pengaduan resmi kepada pihak berwenang dan akan mengajukan gugatan atas pencemaran nama baik kepada penyiar tersebut. Keadilan tidak akan pernah tunduk pada opini publik."

Setiap kata yang diucapkannya terdengar lantang dan tegas. Arden bukan hanya suami yang sempurna, tetapi juga pengacara yang sempurna. Dia telah menemukan cara tercepat untuk mematahkan narasi publik yang sedang berkembang, yaitu dengan melimpahkan semua kesalahan kepadaku, "penyiar tak bermoral" di mulutnya.

Demi melindungi "bunga rumah kaca"-nya yang rapuh, Arden menghancurkan karier yang telah kubangun dengan susah payah selama sepuluh tahun dan menjerumuskanku ke dalam jurang kehancuran tanpa jalan kembali.

Wanita di sebelahku masih terus mengumpat dengan geram. Seorang perawat masuk untuk mengganti cairan infusku. Namun, saat melihat wajahku, dia tersentak kaget.

"Kamu ... Layla yang itu, 'kan?"

Perawat itu merendahkan suaranya. Nada bicaranya menyiratkan ejekan yang terang-terangan.

Aku tidak menghindar, malah menatapnya dengan tenang. Seulas senyum tipis samar tersungging di bibir pucatku. "Benar. Boleh tolong perlambat tetesan infusnya? Aku merasa agak kedinginan."

Perawat itu memutar bola matanya, lalu mengatur tetesan infus dengan kasar dan membanting pintu saat pergi.

Cairan dingin yang mengalir di pembuluh darah menuju jantungku tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa dingin yang telah merasuk hingga ke tulang-tulangku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 17

    Tujuh tahun.Selama tujuh tahun ini, aku telah memiliki pengaruh besar di dunia media internasional. Pernikahanku dengan Dennis juga bahagia, bahkan aku telah dikaruniai seorang putri yang menggemaskan.Nama Arden sudah lama tidak ada di dalam hidupku lagi. Sementara itu, Arden, seperti belatung yang hidup di selokan, bertahan hidup dengan susah payah selama tujuh tahun di vila yang telah diputus aliran air dan listrik.Tujuh tahun kemudian, pada malam Hari Raya.Ibu kota dilanda badai salju dahsyat yang belum pernah terjadi selama seratus tahun.Di luar jendela, terlihat gemerlap lampu dari rumah-rumah, sementara kembang api yang meriah menerangi separuh langit malam.Suara petasan dan suara tawa menembus angin serta salju. Namun, kamar bayi di vila itu justru sedingin ruang bawah tanah yang paling dalam.Dalam suhu minus 20 derajat, bahkan embusan napas yang keluar dari mulut seketika berubah menjadi uap dingin.Arden mengenakan kemeja usang, meringkuk di samping ranjang bayi tua ya

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 16

    Setelah itu, aku mendengar kelanjutan cerita Arden dari kepala bagian hukumku.Selama berada di ruang ICU, Arden bertahan hidup selama sebulan penuh dengan bantuan selang pernapasan dan mesin sirkulasi darah.Entah berapa kali jantungnya berhenti berdetak, dan entah berapa kali dokter mengeluarkan surat pemberitahuan kondisi kritis. Bahkan dokter utama menghela napas kagum. Katanya, Arden benar-benar berhasil merebut kembali nyawanya dari tangan maut.Arden berhasil bertahan hidup, tetapi juga benar-benar telah kehilangan segalanya. Hari ketika dia dipindahkan ke kamar rawat biasa kebetulan bertepatan dengan hari resepsi pernikahanku.Belakangan, Frendy dengan mata memerah menggambarkan kepada asistenku betapa mengenaskannya keadaan pada hari itu.Sore hari itu, di sebuah kastel kuno yang telah berdiri selama ratusan tahun, aku mengenakan gaun pengantin haute couture yang dihiasi taburan berlian kecil. Aku menggandeng lengan Dennis sambil berjalan perlahan menuju ujung karpet merah yan

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 15

    Dorongan kuat itu langsung membuat luka tusukan di paru-paru dan punggung Arden kembali tertarik! Rasa sakit yang luar biasa seketika menyayat seluruh sarafnya. Tubuhnya yang besar terdorong hingga terguling ke samping.Aku bangkit dari lantai dengan sangat tenang. Aku sama sekali tidak memedulikan Arden yang terbaring di lantai dengan tubuhnya mengejang kesakitan.Aku tidak panik dan segera menjerit untuk memanggil ambulans. Aku juga tidak menerjang maju untuk menutupi lukanya.Aku menepuk-nepuk debu yang menodai mantelku, bahkan frekuensi napasku sama sekali tidak berubah."Apa Anda terluka?" Pengawal dan asistenku bergegas menghampiriku dengan wajah penuh ketakutan.Aku sedikit mengangkat tangan, mengisyaratkan mereka untuk mundur. Aku berbalik, lalu menatap Arden yang terbaring di genangan darah sambil terus menatapku."Arden." Suaraku tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas di tengah kekacauan yang terjadi di dalam gedung. Setiap kata yang kuucapkan terasa seperti pisau es, men

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 14

    Jika menyakiti diri sendiri di tengah badai salju sebelumnya hanya menghancurkan harga diri Arden, kejadian tak terduga selanjutnya benar-benar menjatuhkannya ke dalam neraka dan tidak bisa kembali lagi.Satu bulan kemudian, di Pusat Konvensi dan Pameran Internasional Ibu Kota.Aku baru saja menerbitkan buku psikologi perdanaku. Hari ini akan diadakan acara penandatanganan buku yang sangat besar di tempat ini.Luka tusukan pisau di perut Arden bahkan belum sepenuhnya sembuh. Perutnya masih dibalut kain kasa medis yang tebal.Namun, Arden tetap seperti hantu yang tidak berani menampakkan diri. Dia menyogok petugas kebersihan gedung, mengganti pakaiannya dengan seragam kerja yang sederhana, lalu bersembunyi di sudut paling gelap dari sisi belakang meja tempat acara penandatanganan.Arden tidak berani menampakkan diri di hadapanku. Dia takut aku akan kembali meminta satpam untuk mengusirnya. Jadi, dia terpaksa bersembunyi dalam kegelapan.Acara penandatanganan buku sedang berlangsung. Sua

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 13

    Arden gemetar sambil mengulurkan tangan yang berlumuran darah, lalu membukanya dengan lemah ke arahku, seolah-olah sedang menunjukkan ketulusannya dalam menebus kesalahannya."Semua darah yang ada di dalam perutku ... sudah kukembalikan kepadamu …. Layla ... apa amarahmu sudah sedikit mereda?"Arden menatapku dengan penuh harapan. Di matanya berkilauan sorot mata membara yang hanya dimiliki seseorang yang sedang berada di ambang kematian. "Aku sudah membayar dengan setengah nyawaku … Maafkan aku dan pulang bersamaku … ya?"Arden mengira dia sudah berhasil melakukannya.Arden, seorang profesor hukum terhormat, telah melepaskan seluruh harga dirinya, menyakiti dirinya sendiri di tengah jalan, bahkan menusuk perutnya sendiri di hadapanku. Dia bahkan rela menanggung penderitaan fisik paling brutal demi aku. Jadi, meskipun aku adalah bongkahan es yang telah membeku selama ribuan tahun, seharusnya aku sudah luluh oleh darah panas yang mengalir dari tubuhnya, ‘kan? Bukankah meskipun aku me

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 12

    Bulan November di ibu kota menyambut salju pertama pada tahun ini.Tujuh tahun lalu, saat salju pertama turun, Arden memberiku selembar tisu di luar gedung stasiun radio. Itulah awal mula dari hubungan buruk kami.Pada hari ini, tujuh tahun kemudian, salju pertama ini hanya akan menjadi makam yang mengubur sisa harga dirinya yang terakhir.Tepat pukul delapan malam, aku selesai mengikuti rapat video lintas negara. Ketika sepatu hak tinggiku hendak menginjak anak tangga terakhir, terdengar suara seseorang."Layla!"Sesosok bayangan hitam tiba-tiba berlari keluar dengan langkah sempoyongan dari sudut gelap di balik area pepohonan di sebelah kanan gerbang utama. Orang itu tak lain adalah Arden.Dia sudah tidak memiliki sikap dingin, tenang, dan selalu merasa di posisi lebih tinggi sebagai seorang profesor termuda di universitas hukum dan politik waktu itu. Saat ini, dia mengenakan mantel tipis yang sudah kusut. Pipinya tampak cekung akibat tubuhnya yang sangat kurus dalam waktu lama serta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status