Share

Bab 2

Author: Potato
Keesokan harinya, saat aku membuka pintu kamar, Arden sedang berdiri di dapur yang desainnya terbuka untuk menggoreng daging asap. Mendengar suara, dia menoleh dan tersenyum, hingga sudut mata di balik kacamata berbingkai emas itu berkerut.

"Kamu sudah bangun? Waktunya pas sekali."

Arden meletakkan sepiring telur mata sapi dan daging asap di meja. Nadanya begitu wajar, seolah-olah pria yang mengucapkan kata-kata kejam di ruang kerja semalam itu bukanlah dirinya. "Layla, selamat ulang tahun pernikahan yang ketujuh."

Aku terpaku di tempat. Selama tujuh tahun terakhir, dia selalu memasak sendiri untuk setiap perayaan ulang tahun pernikahan.

"Ayo minum air hangat dulu." Arden menarik kursi dan dengan santai mendorong dokumen tipis ke arahku. "Tandatangani ini setelah sarapan. Waktunya agak mepet. Sebaiknya kamu posting pernyataannya dari akun pribadimu pagi ini."

Aku menundukkan pandangan. Itu bukanlah hadiah ulang tahun pernikahan ketujuh, melainkan sebuah pernyataan permintaan maaf yang telah disusun dengan sempurna.

Pernyataan itu ditulis dari sudut pandangku. Isinya mengakui bahwa dalam segmen terakhir acara semalam, akibat arahan pembawa acara yang tidak tepat, privasi seorang penelepon telah dilanggar. Pembawa acara bertanggung jawab penuh atas kontroversi di dunia maya dan trauma psikologis yang dialami penelepon tersebut.

"Apa maksudnya ini?"

Aku bisa mendengar suaraku yang begitu tenang.

Arden menarik kursi di hadapanku, lalu duduk. Keningnya sedikit berkerut. "Rekaman panggilan telepon semalam telah dipotong dan diposting di internet. Mahasiswa di jurusan yang sama dengannya mengenali suaranya. Sekarang, forum kampus dan platform video pendek dibanjiri komentar kebencian yang menyebutnya sebagai perusak rumah tangga dan orang yang bermoral buruk."

Arden terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Layla, perundungan siber itu bukanlah hal sepele. Kondisi mental gadis itu sangat rapuh. Semalam, tekanan mentalnya sampai timbulkan gejala fisik yang parah."

"Acara radionya sudah dihentikan sementara. Tapi, kamu itu figur publik yang berpengalaman. Kalau kamu maju dan tanggung semua kesalahan, lalu bilang itu cuma skenario yang sudah diatur, itu akan jadi cara terbaik untuk melindunginya."

Sungguh konyol.

Tujuh tahun lalu, saat aku menjadi sasaran perundungan siber akibat salah membaca naskah, Arden yang bergadang semalaman untuk meninjau berkas-berkas, lalu menggunakan keahlian hukumnya untuk mengirimkan surat peringatan keras dan melindungiku dari segala serangan.

Tujuh tahun kemudian, saat menghadapi perundungan siber yang sama, pria yang begitu menjunjung tinggi hukum dan aturan justru menyusun pernyataan itu sendiri, lalu memaksa istrinya menanggung semua kesalahan demi seorang perusak rumah tangga.

"Gimana kalau aku menolak tanda tangan?" Aku menatap lurus ke matanya. "Aku jalankan tugasku sebagai pembawa acara profesional dan nggak melanggar satu pun peraturan penyiaran. Arden, kamu itu seorang ahli hukum. Kamu tahu betul aku nggak bersalah dalam hal ini."

"Layla, ini bukan ruang sidang. Ini soal penanganan krisis!" Suara Arden merendah. Kilatan kekecewaan melintas di matanya. "Gadis itu yatim piatu yang berjuang sangat keras untuk bisa kuliah. Kalau masalah ini makin besar, masa depannya akan hancur. Selama ini, kamu sangat murah hati. Kenapa kali ini kamu malah jadi begitu perhitungan?"

"Karena nama gadis itu Trisha Syahman?"

Begitu kata-kata itu terucap, suasana di ruang makan seolah membeku.

Tangan Arden yang sedang memegang cangkir kopi mendadak kaku, ekspresinya juga seketika berubah. Untuk pertama kalinya, kepanikan terlihat di wajahnya yang biasanya tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Kamu ... kamu sudah tahu?" Suaranya terdengar parau. "Karena kamu sudah tahu, aku nggak akan sembunyikan hal itu darimu. Layla, hubungan antara aku dan Trisha nggak seperti yang kamu pikirkan. Dia terlalu rapuh dan nggak punya siapa-siapa selain aku."

"Tandatangani ini. Anggap saja aku berutang budi padamu. Kamu akan selalu jadi istriku. Itu nggak akan berubah."

Di usia kehamilan delapan minggu, kondisi tubuhku sudah cukup rentan. Guncangan emosional dari semalam akhirnya membuat tubuhku tidak tahan lagi. Perutku bergolak hebat. Rasa mual yang kuat datang bersamaan dengan nyeri tajam di perut bagian bawahku.

"Arden ... perutku sakit banget ...."

Aku bersandar lemas pada sandaran kursi. Kata-kata itu keluar dengan susah payah melalui sela gigiku yang terkatup rapat.

Saat Arden hendak berdiri, ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering. Layar ponsel menunjukkan nama Frendy.

Dia menjawab panggilan itu tanpa ragu, lalu mendengar suara teriakan cemas Frendy dari ujung telepon, "Arden, cepat datang! Trisha ada di dekat danau buatan kampus. Dia sudah kehilangan kendali dan bilang mau melompat ke danau untuk buktikan dia nggak bersalah! Dia nggak mau dengar bujukan siapa pun dan bersikeras mau bertemu denganmu!"

Mata Arden seketika membelalak. Dia bangkit dengan gerakan cepat. Gerakannya begitu mendadak hingga dia menyenggol cangkir kopi di atas meja. Cairan berwarna cokelat itu menetes dari tepian meja, mengotori surat pernyataan permintaan maaf itu, dan memercik ke ujung gaunku.

"Arden ...."

Aku mengulurkan tangan yang gemetar dan mencengkeram ujung mantelnya. Ujung jariku terasa sedingin es. "Jangan pergi .... Bawa aku ke rumah sakit. Sepertinya ... aku mengalami pendarahan."

Arden menunduk untuk menatapku. Tidak ada jejak kekhawatiran di matanya, hanya rasa kesal yang tak tersembunyikan. "Layla, cukup."

Dia melepaskan jemariku yang mencengkeram mantelnya dengan paksa. "Kamu itu wanita yang rasional. Jangan pakai taktik pura-pura sakit yang begitu murahan untuk paksa aku berkompromi. Itu sangat memalukan. Nyawa Trisha sedang dalam bahaya saat ini. Sedangkan kamu ...."

Dia melirik surat pernyataan di atas meja dan melanjutkan, "Tenangkan dirimu dan tandatangani sendiri surat itu. Kita bicara lagi soal hal lainnya saat aku kembali nanti."

Seusai berbicara, Arden berbalik dan melangkah keluar dari rumah. Aku terkulai lemas di kursi. Kram di perut bagian bawahku terasa makin hebat.

Aku menunduk dan melihat darah merah terang menetes dari paha bagian dalamku ke lantai kayu yang mengilap. Pemandangan itu sangat mencolok dan mengejutkan.

Aku tidak menangis. Dengan tangan gemetar, aku meraih ponselku yang sudah kotor dan berusaha menghubungi ambulans dengan tenang. Arden benar. Aku memang seperti pohon, sebuah pohon yang tidak perlu lagi bergantung pada siapa pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 17

    Tujuh tahun.Selama tujuh tahun ini, aku telah memiliki pengaruh besar di dunia media internasional. Pernikahanku dengan Dennis juga bahagia, bahkan aku telah dikaruniai seorang putri yang menggemaskan.Nama Arden sudah lama tidak ada di dalam hidupku lagi. Sementara itu, Arden, seperti belatung yang hidup di selokan, bertahan hidup dengan susah payah selama tujuh tahun di vila yang telah diputus aliran air dan listrik.Tujuh tahun kemudian, pada malam Hari Raya.Ibu kota dilanda badai salju dahsyat yang belum pernah terjadi selama seratus tahun.Di luar jendela, terlihat gemerlap lampu dari rumah-rumah, sementara kembang api yang meriah menerangi separuh langit malam.Suara petasan dan suara tawa menembus angin serta salju. Namun, kamar bayi di vila itu justru sedingin ruang bawah tanah yang paling dalam.Dalam suhu minus 20 derajat, bahkan embusan napas yang keluar dari mulut seketika berubah menjadi uap dingin.Arden mengenakan kemeja usang, meringkuk di samping ranjang bayi tua ya

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 16

    Setelah itu, aku mendengar kelanjutan cerita Arden dari kepala bagian hukumku.Selama berada di ruang ICU, Arden bertahan hidup selama sebulan penuh dengan bantuan selang pernapasan dan mesin sirkulasi darah.Entah berapa kali jantungnya berhenti berdetak, dan entah berapa kali dokter mengeluarkan surat pemberitahuan kondisi kritis. Bahkan dokter utama menghela napas kagum. Katanya, Arden benar-benar berhasil merebut kembali nyawanya dari tangan maut.Arden berhasil bertahan hidup, tetapi juga benar-benar telah kehilangan segalanya. Hari ketika dia dipindahkan ke kamar rawat biasa kebetulan bertepatan dengan hari resepsi pernikahanku.Belakangan, Frendy dengan mata memerah menggambarkan kepada asistenku betapa mengenaskannya keadaan pada hari itu.Sore hari itu, di sebuah kastel kuno yang telah berdiri selama ratusan tahun, aku mengenakan gaun pengantin haute couture yang dihiasi taburan berlian kecil. Aku menggandeng lengan Dennis sambil berjalan perlahan menuju ujung karpet merah yan

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 15

    Dorongan kuat itu langsung membuat luka tusukan di paru-paru dan punggung Arden kembali tertarik! Rasa sakit yang luar biasa seketika menyayat seluruh sarafnya. Tubuhnya yang besar terdorong hingga terguling ke samping.Aku bangkit dari lantai dengan sangat tenang. Aku sama sekali tidak memedulikan Arden yang terbaring di lantai dengan tubuhnya mengejang kesakitan.Aku tidak panik dan segera menjerit untuk memanggil ambulans. Aku juga tidak menerjang maju untuk menutupi lukanya.Aku menepuk-nepuk debu yang menodai mantelku, bahkan frekuensi napasku sama sekali tidak berubah."Apa Anda terluka?" Pengawal dan asistenku bergegas menghampiriku dengan wajah penuh ketakutan.Aku sedikit mengangkat tangan, mengisyaratkan mereka untuk mundur. Aku berbalik, lalu menatap Arden yang terbaring di genangan darah sambil terus menatapku."Arden." Suaraku tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas di tengah kekacauan yang terjadi di dalam gedung. Setiap kata yang kuucapkan terasa seperti pisau es, men

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 14

    Jika menyakiti diri sendiri di tengah badai salju sebelumnya hanya menghancurkan harga diri Arden, kejadian tak terduga selanjutnya benar-benar menjatuhkannya ke dalam neraka dan tidak bisa kembali lagi.Satu bulan kemudian, di Pusat Konvensi dan Pameran Internasional Ibu Kota.Aku baru saja menerbitkan buku psikologi perdanaku. Hari ini akan diadakan acara penandatanganan buku yang sangat besar di tempat ini.Luka tusukan pisau di perut Arden bahkan belum sepenuhnya sembuh. Perutnya masih dibalut kain kasa medis yang tebal.Namun, Arden tetap seperti hantu yang tidak berani menampakkan diri. Dia menyogok petugas kebersihan gedung, mengganti pakaiannya dengan seragam kerja yang sederhana, lalu bersembunyi di sudut paling gelap dari sisi belakang meja tempat acara penandatanganan.Arden tidak berani menampakkan diri di hadapanku. Dia takut aku akan kembali meminta satpam untuk mengusirnya. Jadi, dia terpaksa bersembunyi dalam kegelapan.Acara penandatanganan buku sedang berlangsung. Sua

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 13

    Arden gemetar sambil mengulurkan tangan yang berlumuran darah, lalu membukanya dengan lemah ke arahku, seolah-olah sedang menunjukkan ketulusannya dalam menebus kesalahannya."Semua darah yang ada di dalam perutku ... sudah kukembalikan kepadamu …. Layla ... apa amarahmu sudah sedikit mereda?"Arden menatapku dengan penuh harapan. Di matanya berkilauan sorot mata membara yang hanya dimiliki seseorang yang sedang berada di ambang kematian. "Aku sudah membayar dengan setengah nyawaku … Maafkan aku dan pulang bersamaku … ya?"Arden mengira dia sudah berhasil melakukannya.Arden, seorang profesor hukum terhormat, telah melepaskan seluruh harga dirinya, menyakiti dirinya sendiri di tengah jalan, bahkan menusuk perutnya sendiri di hadapanku. Dia bahkan rela menanggung penderitaan fisik paling brutal demi aku. Jadi, meskipun aku adalah bongkahan es yang telah membeku selama ribuan tahun, seharusnya aku sudah luluh oleh darah panas yang mengalir dari tubuhnya, ‘kan? Bukankah meskipun aku me

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 12

    Bulan November di ibu kota menyambut salju pertama pada tahun ini.Tujuh tahun lalu, saat salju pertama turun, Arden memberiku selembar tisu di luar gedung stasiun radio. Itulah awal mula dari hubungan buruk kami.Pada hari ini, tujuh tahun kemudian, salju pertama ini hanya akan menjadi makam yang mengubur sisa harga dirinya yang terakhir.Tepat pukul delapan malam, aku selesai mengikuti rapat video lintas negara. Ketika sepatu hak tinggiku hendak menginjak anak tangga terakhir, terdengar suara seseorang."Layla!"Sesosok bayangan hitam tiba-tiba berlari keluar dengan langkah sempoyongan dari sudut gelap di balik area pepohonan di sebelah kanan gerbang utama. Orang itu tak lain adalah Arden.Dia sudah tidak memiliki sikap dingin, tenang, dan selalu merasa di posisi lebih tinggi sebagai seorang profesor termuda di universitas hukum dan politik waktu itu. Saat ini, dia mengenakan mantel tipis yang sudah kusut. Pipinya tampak cekung akibat tubuhnya yang sangat kurus dalam waktu lama serta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status