بيت / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 172. PELABUHAN TERAKHIR

مشاركة

172. PELABUHAN TERAKHIR

مؤلف: vitafajar
last update تاريخ النشر: 2026-04-06 22:49:24

Gedung pencakar langit Vertex Group perlahan menjauh di kaca spion saat mobil mewah Alvaro membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin mobil terasa jauh lebih tenang dan damai jika dibandingkan dengan ketegangan beberapa jam yang lalu.

Ketegangan di lobi apartemen dan gemuruh angka-angka di ruang komando tadi seolah memudar dari ingatan. Semua itu kini digantikan oleh keheningan yang sangat intim di antara sepasang pengantin baru yang baru saja melewati badai besar terse
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   185. PELINDUNG DI BALIK LUKA

    Kegembiraan yang baru saja membuncah di dada Arini seolah ditarik paksa oleh gravitasi, menyisakan rasa sesak yang mendinginkan ujung jemarinya. Di ruang rapat yang masih menyisakan aroma parfum para direksi yang baru saja terusir itu, Arini berdiri terpaku. Gema suara Kael tentang kondisi Darma dan ancaman kedatangan Rudi Wijaya berputar di kepalanya seperti badai.Alvaro yang sedetik lalu tersenyum bangga, kini menegang hebat. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tajam yang mempertegas gurat kecemasan di wajah tampannya. Arini bisa merasakan aura pelindung itu berubah menjadi aura peperangan yang pekat dan menyesakkan."Kak ...," bisik Arini, suaranya bergetar. Ia melangkah mendekat, mencoba menggapai lengan Alvaro yang kini terasa kaku seperti beton.Alvaro menoleh, tatapannya yang tajam perlahan melunak saat bertemu dengan manik mata Arini. "Jangan takut, Rin. Aku nggak akan biarin siapa pun mengacaukan kemenangan kita hari ini. Bahkan ayahku sekalipun," ucapnya dengan nada prote

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   184. SINGGASANA BERDARAH

    Keheningan yang dingin menyergap Arini saat langkah kakinya menggema di lorong menuju ruang rapat utama Mahardika Group. Di sampingnya, Alvaro berjalan dengan langkah yang tetap tenang meski wajahnya masih memancarkan kepucatan yang nyata. Penyangga bahu di balik jas hitamnya seolah menjadi pengingat bisu tentang pengorbanan yang baru saja terjadi di lobi.Kael berjalan di belakang mereka, membawa beberapa map hitam yang nampak seperti dokumen biasa, namun Arini tahu bahwa di dalam sana terdapat "bom" yang siap meratakan kesombongan orang-orang di dalam ruangan itu."Siap, Rin?" bisik Alvaro sesaat sebelum pintu kayu ek raksasa itu terbuka secara otomatis.Arini menarik napas panjang, memperbaiki posisi kerah blazer putihnya, dan menatap lurus ke depan dengan binar mata yang tajam. "Sangat siap, Kak. Mereka pikir aku mangsa empuk cuma karena aku perempuan, tapi mereka lupa kalau di pembuluh darahku mengalir darah seorang pendiri."Begitu pintu terbuka, aroma kopi pahit menyeruak kelua

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   183. PERISAI SANG KAISAR

    Sofia Wijaya mematung di tengah ruangan, wajahnya yang semula sembap karena air mata palsu kini berubah menjadi merah padam karena murka yang mencapai ubun-ubun. Matanya melotot, menatap Arini dengan kebencian yang begitu pekat seolah ingin membakar wanita di depannya itu menjadi abu.Kata-kata Arini yang memintanya keluar bukan hanya sekadar usiran bagi Sofia, itu adalah penghinaan besar terhadap harga diri klan Wijaya yang selama puluhan tahun ia agungkan. Baginya, Arini hanyalah penghalang yang harus segera disingkirkan dari kehidupan putra mahkotanya."Kamu ... kamu bener-bener lancang!" suara Sofia bergetar hebat karena amarah yang meledak. "Dasar janda nggak tahu diri! Kamu pikir siapa kamu bisa bicara kayak gitu padaku di depan putraku sendiri?!"Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Sofia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia tidak lagi memedulikan citra ningratnya sebagai nyonya besar keluarga Wijaya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mendaratkan tamparan keras di wajah Ari

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   182. SINGA YANG TERLUKA

    Arini masih mematung di sisi sofa, jemarinya mencengkeram ponsel dengan tenaga yang membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari barisan kalimat yang dikirimkan oleh Rudi Wijaya, sebuah pesan yang dirancang sebagai racun untuk melumpuhkan mentalnya di saat titik terlemah.Rudi, pria yang seharusnya menjadi pelindung bagi Alvaro, justru menggunakan luka putranya sendiri sebagai senjata untuk menyudutkan Arini. Kata-kata 'pembawa sial' seolah berdengung di telinga Arini, mencoba mengoyak pertahanan batin yang baru saja ia bangun dengan susah payah.Selama beberapa detik, rasa bersalah itu mencoba merangkak naik. Namun, saat ia melirik ke arah Alvaro yang sedang bersandar lemah dengan bahu terbebat perban, rasa sedih itu mendadak menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang murni dan sangat dingin."Ada apa, Rin?" suara Alvaro memecah keheningan. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya tetap tajam mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya.Arini tidak menjawab den

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   181. SERANGAN TAK TERDUGA

    "Arini! Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka nggak?" suara Alvaro terdengar parau, sarat akan kepanikan yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia luar.Dekapannya begitu erat, seolah ia ingin menyembunyikan seluruh tubuh Arini di balik dadanya yang bidang.Arini bisa merasakan deru napas Alvaro yang memburu di puncak kepalanya. Getaran hebat yang merambat dari tubuh pria itu akibat lonjakan adrenalin yang luar biasa juga bisa ia rasakan.Wanita itu mengerjap perlahan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat terbang tersapu angin ketakutan. Bau tanah basah dan aroma khas keramik pecah menyeruak masuk ke indra penciumannya, mengingatkannya pada bahaya yang baru saja melintas.Ia mendongak perlahan, menatap wajah Alvaro yang kini berada tepat di depan matanya. Wajah yang biasanya tenang dan terkendali itu kini tampak pucat, dengan rahang yang terkatup rapat menahan sesuatu yang Arini yakini adalah rasa sakit yang sangat hebat."A-aku ... aku nggak apa-apa, Kak," bisik Arini dengan su

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   180. SISI LAIN DARI SANG KAISAR

    Mobil mewah itu meluncur membelah kemacetan Jakarta dengan keanggunan yang mengintimidasi setiap pasang mata yang melihatnya. Di dalam kabin yang kedap suara, ketegangan masih terasa sangat pekat, seolah oksigen di sana ikut menegang mengikuti suasana hati penumpangnya.Arini duduk dengan punggung tegak, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan untuk menahan gemetar halus yang sesekali muncul. Blazer putih tulang yang ia kenakan memberikan kesan bersih dan berwibawa, namun di balik itu, ia masih merasakan sisa-sisa pegal yang luar biasa dari malam panjang mereka.Alvaro duduk di sampingnya, tatapannya lurus ke depan dengan rahang yang mengeras sempurna. Aura predator yang terpancar dari suaminya masih sangat kuat, sisa dari perang yang baru saja ia deklarasikan terhadap klan Wijaya di jalanan tadi.Keheningan itu pecah ketika ponsel Alvaro yang diletakkan di antara mereka bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar. Aditya Wijaya.Alvaro terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangkat pa

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   70. RENCANA PENANGGUHAN

    "Iya, video saat kamu sedang jatuh dan Arini justru asyik masuk ke mobil mewah pengacaranya itu," jawab Lastri sambil mengeluarkan ponsel pintarnya.Ia menyentuh layar ponsel itu beberapa kali dengan jemari yang masih gemetar, lalu memutar sebuah video yang sudah menjadi viral di berbagai platform.

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   69. MENGERAHKAN SELURUH TABUNGAN

    Pak Darmawan menyodorkan dokumen-dokumen itu melalui celah sempit yang ada di bawah pembatas besi antara ruang tunggu dan area tahanan."Langkah pertama adalah membuat narasi bahwa Anda adalah korban dari konspirasi perebutan aset perusahaan oleh istri sendiri," papar Pak Darmawan dengan tenang.Ad

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   68. DI BALIK DINDING PENJARA

    Denting notifikasi pada ponsel rahasia di atas meja dapur apartemen Arini seolah menjadi latar suara yang kontras dengan keheningan mencekam di tempat lain. Jauh dari kemewahan apartemen yang tenang itu, di sebuah lorong sempit dengan sirkulasi udara yang buruk, Adrian duduk membeku di atas bangku

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   67. GERAKAN DI BALIK LAYAR

    Arini masih terpaku di depan jendela besar kamar apartemennya, menatap kerlip lampu kota yang tidak pernah tidur. Setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya sendiri, ia membalikkan badan dan matanya tertuju pada sebuah koper besar yang terletak di sudut ruangan dekat lemari pakaian."Kak Alva

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status