LOGINPerjalanan kembali dari gudang arsip menuju kantor Alvaro terasa jauh lebih lama daripada biasanya. Keheningan di dalam mobil sedan hitam itu begitu pekat, seolah oksigen di dalamnya telah habis terserap oleh debaran jantung yang belum juga melambat.
Arini terus menatap ke luar jendela, memperhatikan deretan pohon yang melesat cepat, namun pikirannya tertinggal di lantai gudang yang berdebu. Sentuhan singkat di bibirnya tadi, meski hanya sepersekian detik dan sama sekali tidak sengaja,
Arini memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan bagaimana ciuman Alvaro menelan seluruh keraguannya dan menggantinya dengan rasa aman yang luar biasa. Tangannya yang tadi berada di pipi Alvaro kini berpindah ke pundak pria itu, meremas kain jas mahalnya sembari membalas tautan bibir mereka dengan intensitas yang sama.Di bawah bayangan pohon rindang dan saksi bisu jernihnya air danau, mereka berdua seolah larut dalam dunia yang hanya milik mereka sendiri."Mmhh ...." Sebuah desahan halus lolos dari bibir Arini saat lidah mereka saling bertautan, menciptakan simfoni gairah yang memabukkan di tengah kesunyian danau.Tidak ada lagi ketakutan akan Sofia atau bayang-bayang perceraian dengan Adrian, yang ada hanyalah dua jiwa yang saling mengikatkan janji di antara lumatan bibir yang kian dalam. Alvaro mempererat dekapannya, membawa tubuh Arini semakin merapat hingga tidak ada lagi celah udara yang memisahkan mereka.Ciuman itu terus berlanjut, semakin intens dan menuntut, seolah mereka ber
Deru mesin mobil yang dikendarai Alvaro perlahan melambat, membelah keheningan jalanan setapak yang jarang dilalui kendaraan umum. Di ujung jalan tersebut, sebuah bentangan danau dengan air yang masih jernih memantulkan cahaya langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan.Tanpa banyak bicara, Alvaro menepikan kendaraannya tepat di bawah pohon rindang yang dahan-dahannya menjuntai hampir menyentuh permukaan air. Suasana tenang itu seolah menjadi tirai pelindung bagi mereka, menjauhkan hiruk-pikuk ancaman Sofia dan intrik keluarga Wijaya yang baru saja mereka tinggalkan di gedung restoran.Di dalam kabin mobil, kesunyian sempat meraja selama beberapa menit, hanya menyisakan suara detak jam di dasbor yang terdengar begitu ritmis. Alvaro tidak segera mematikan mesin, ia justru membiarkan tangannya tetap berada di lingkar kemudi sembari menatap lurus ke arah riak air yang tenang di hadapan mereka.Tanpa mengalihkan pandangan, Arini bisa merasakan aura kegelisahan yang masih
Langkah kaki Alvaro yang panjang dan tergesa menyeret Arini menyusuri lorong restoran, menciptakan gema yang beradu dengan detak jantung Arini yang tidak keruan. Di balik punggung tegap itu, Arini cuma bisa pasrah mengikuti tarikan yang terasa begitu kaku dan penuh amarah yang tertahan.Lantaran emosi yang meluap, wajah Alvaro terlihat sangat tegas dengan rahang yang mengunci rapat. Ia seolah merasa satu tarikan napas saja bisa meledakkan segala amarah yang sejak tadi ia bendung. Ketegangan yang memancar dari tubuh pria itu begitu pekat sampai Arini tidak berani sekadar buka mulut untuk menginterupsi langkah mereka.Sama halnya dengan kemarahan di wajahnya, tanpa disadari Alvaro, cengkeraman jemarinya di lengan atas Arini makin menguat seiring deru amarah yang berkecamuk di dalam kepalanya. Rasa panas dan perih mulai menjalar di kulit Arini yang sensitif.Karena tekanan itu, Arini refleks meringis pelan saat cengkeraman Alvaro terasa mulai menyentuh tulang. Ia ingin bicara, tapi aura
Serangan balik itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik yang ia terima tadi, karena Arini tepat membidik titik terlemah dalam ego seorang Sofia Wijaya. Sofia mundur selangkah, napasnya mulai tidak beraturan karena ia tidak menyangka wanita yang dianggapnya lemah ini memiliki taring yang begitu tajam."Satu hal lagi, Tante. Saya datang ke sini bukan karena saya takut Alvaro akan hancur jika saya nggak muncul," ucap Arini sembari merapikan pakaiannya dengan gerakan yang sangat anggun.Arini menatap Sofia dengan sorot mata penuh belas kasihan, sebuah tatapan yang benar-benar menjatuhkan martabat Sofia ke titik terendah pagi ini. "Saya datang karena saya ingin melihat seberapa jauh Tante rela jatuh hanya untuk mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah lama hilang dari genggaman Tante."Lalu, Arini mengambil tasnya yang tergeletak di meja, bersiap untuk meninggalkan ruangan yang kini terasa sangat sempit bagi seorang Sofia Wijaya. Ia tidak lagi merasa kecil atau tidak p
Getar ponsel di atas nakas apartemennya terasa seperti lonceng kematian bagi Arini. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenalyang ia yakini adalah Sofia Wijaya, membuat napasnya tercekat seketika."Datanglah jika kamu tidak ingin melihat Alvaro benar-benar hancur tidak bersisa," begitu bunyi teks yang terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan.Di dalam taksi menuju pusat kota, Arini menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang mulai dibasahi rintik gerimis.‘Apa aku benar-benar pembawa sial, seperti yang mereka katakan?’ batinnya sembari meremas jemari yang terasa sedingin es.Ia teringat bagaimana Alvaro mengorbankan segalanya, memutus akses dari keluarganya, dan berdiri di depan hukum hanya untuk melindunginya.Ketakutan terbesar Arini bukanlah pada ancaman Sofia, melainkan pada kemungkinan bahwa keberadaannya memang merusak masa depan pria yang ia cintai.‘Jika harga kebebasanku adalah kehancuran karir dan hidup Kak Alvaro, apakah aku sanggup menanggung rasa bersalah itu
Suasana di kediaman utama keluarga Wijaya pagi itu terasa mencekam, seolah oksigen di dalam ruangan luas itu telah tersedot habis oleh kemarahan yang membara. Di atas meja marmer yang dingin, sang ayah membanting koran pagi dengan tenaga yang cukup kuat hingga menciptakan suara debuman yang menggema ke seluruh penjuru aula.Berita di halaman utama menampilkan foto Alvaro yang sedang melangkah keluar dari pengadilan dengan wajah tenang. Di bawah tajuk berita itu, terpampang kemenangan gemilang kasus komersial dan progres gugatannya yang mematikan."Dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya! Berani-beraninya dia memamerkan kemenangan di saat kita sedang mencoba memberinya pelajaran!" geram pria paruh baya itu dengan napas memburu.Sama halnya dengan kakek Alvaro, pria tua yang duduk di kursi kebesarannya itu hanya terdiam dengan rahang mengeras. Matanya menatap kosong ke arah koran tersebut. Beliau merasa otoritas absolut keluarga Wijaya yang telah dibangun puluhan tahun kini diinj







