LOGINAlvaro menggelengkan kepala perlahan, mencoba mengusir sesak yang sempat mampir di dadanya setelah Arini melangkah pergi. Ia tahu, menjaga jarak adalah satu-satunya cara untuk mematikan amunisi fitnah yang lagi dikumpulkan Adrian, namun membiarkan Arini benar-benar sendirian adalah hal yang mustahil baginya.Di dalam kesunyian kabin mobil, Alvaro mengambil ponsel dan menekan sebuah nomor yang hanya ia hubungi untuk urusan paling krusial. Tak butuh waktu lama sampai suara berat di seberang sana menyahut, menunggu instruksi dengan kesigapan profesional."Pantau apartemen Arini dua puluh empat jam mulai detik ini. Perketat penjagaan, pastikan nggak ada satu pun orang asing, termasuk Lastri atau wartawan, yang bisa melewati lobi tanpa sepengetahuan saya!" perintah Alvaro. Nada suaranya dingin dan tak terbantahkan.Ia terdiam sejenak, menatap menatap foto Arini. "Jangan sampai dia merasa terganggu atau sadar lagi diikuti. Cukup pastikan dia aman, dan lapor ke saya setiap tiga jam."Setelah
Tanpa memedulikan teriakan terakhir Adrian, Alvaro berdiri dengan tenang dan merapikan kancing jasnya. Baginya, suara pria di hadapannya hanyalah kebisingan latar yang tidak berarti. Ia segera memberikan isyarat kepada Arini untuk bangkit, memastikan tubuh tegapnya menjadi penghalang alami agar Adrian tidak bisa mendekati wanita itu lagi."Ayo, Rin. Kita nggak perlu buang energi lebih banyak buat hadapi orang yang lagi kehilangan kendali diri sendiri," bisik Alvaro. Nada suaranya terdengar sangat menenangkan di telinga Arini.Sambil menggenggam erat tali tasnya, Arini melangkah keluar dari ruang mediasi tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Ia meninggalkan Adrian yang masih bersitegang dengan kuasa hukumnya sendiri. Arini merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat karena setidaknya, untuk hari ini, konfrontasi yang menguras batin itu telah berakhir.Tak lama kemudian, pintu jati ruang sidang tertutup rapat. Di dalam sana, Adrian terduduk lesu sembari meratapi kenyataan bahwa semua
Begitu tombol putar ditekan, suara yang muncul dari sana seketika membekukan atmosfer, membuat napas semua orang di ruangan itu tertahan. “Mas ... Mas Adrian, tolong!” suara Arini di rekaman itu terdengar sangat panik dan penuh isak tangis. “Aku kecelakaan, Mas! Ada mobil yang menabrakku dan aku keluar jalur ... tolong aku, Mas. Kepalaku pusing sekali, aku nggak bisa buka pintunya!”Keheningan sesaat terjadi di seberang telepon, sebelum suara Adrian terdengar, sangat jernih namun begitu dingin dan penuh rasa terganggu. “Arini! Berhenti bersandiwara! Aku tahu kamu cuma mau ganggu waktu pribadiku, kan?”“Nggak, Mas! Aku beneran kecelakaan di jalan tol arah rumah kita ... mobilnya kabur ... Mas, perutku sakit sekali ... tolong ...” rintih Arini di dalam rekaman tersebut, suaranya semakin mengecil karena menahan rasa sakit yang luar biasa.Tiba-tiba, suara manja Dewi terdengar di latar belakang telepon Adrian. “Mas, siapa itu? Aku pusing banget, Mas. Nggak bisa tidur kalau denger suara.”
Arini mengangguk pelan. Ia merasa kekuatannya kembali penuh hanya dengan berdiri di samping pria yang rela kehilangan segalanya demi dirinya. "Aku siap, Kak. Apa pun yang terjadi di dalam sana, aku nggak akan mundur lagi."Sama halnya dengan Arini, Alvaro pun langsung memimpin langkah menuju ruang sidang utama untuk memulai agenda mediasi perceraian yang telah lama dinantikan. Ia menempatkan diri sedikit di depan Arini, secara fisik menjadi tameng yang memisahkan wanita itu dari sisa-sisa tatapan penasaran orang-orang di koridor.Begitu pintu ganda dibuka oleh petugas, hawa dingin dari AC langsung menyapu wajah mereka, kontras dengan suasana panas di luar tadi. Di dalam ruangan yang didominasi unsur kayu tersebut, suasana mendadak sunyi, hanya menyisakan gema langkah kaki mereka yang beradu dengan lantai granit.Arini menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantung saat melihat Adrian sudah duduk di kursi pemohon dengan wajah kaku. Di kursi penonton, Lastri duduk dengan gay
Keheningan yang dingin seketika menyelimuti kamar itu setelah sambungan telepon dengan Alvaro terputus. Arini masih terduduk termenung di depan cermin meja rias, menatap dalam-dalam bayangannya sendiri yang tampak tegar namun sebenarnya menyimpan badai kekhawatiran yang luar biasa besar.Ujung jemarinya menyentuh permukaan meja rias dengan ragu, sementara pikirannya masih tertancap pada fakta bahwa karier cemerlang Alvaro kini sedang dipertaruhkan cuma demi membelanya. Rasa bersalah itu merayap seperti kabut tebal, membuat napasnya terasa sedikit berat di tengah persiapan mentalnya menghadapi sidang mediasi yang sudah di depan mata.Suara ketukan pintu yang ritmis tiba-tiba membuyarkan lamunan Arini yang cukup dalam. Sosok Maya muncul dari balik pintu dengan tas kerja yang sudah tersampir di bahu, menatap Arini dengan raut wajah yang campur aduk antara dukungan tulus dan rasa sesal yang tertahan."Rin, aku benar-benar pengin temani kamu sampai ke dalam ruang sidang, tapi ada berkas da
Dering telepon kabel di atas meja jati itu memecah keheningan ruang kerja Alvaro yang kini terasa jauh lebih luas dari biasanya. Dengan gerakan tenang, ia meraih gagang telepon, seolah sudah memprediksi gelombang serangan berikutnya yang akan datang menghantam."Selamat pagi, Pak Alvaro. Saya mewakili jajaran direksi PT Global Investama ingin menyampaikan permohonan pembatalan kontrak kerja sama hukum kita per hari ini," ucap suara di seberang sana dengan nada penuh keraguan.Sambil menyandarkan punggung ke kursi kebesaran, Alvaro menatap tajam ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta di balik jendela."Boleh saya tahu alasan spesifik di balik keputusan mendadak ini, Pak Rudi? Mengingat performa tim kami sejauh ini nggak pernah mengecewakan perusahaan Anda."Terdengar helaan napas berat dari lawan bicaranya, sebuah tanda jelas bahwa keputusan ini bukanlah murni keinginan korporasi tersebut."Jujur saja, kami dapat tekanan dari relasi bisnis utama keluarga Anda. Kami nggak punya p







