Masuk~k~u šøšøšøāMas, siapa perempuan ini?ā Akhirnya kutanyakan langsung foto yang tadi siang dikirim oleh paman.Mas Danu mengerutkan keningnya matanya menatapku penuh selidik.āIni nomor Paman Mas, lihat tuh, WA-nya dari atas,ā jelasku. Mas Danu memang tidak paham jika pakai smartphone.āIni dikirim tadi pagi kenapa enggak bilang langsung, Dik?āāGimana mau bilang kan, Mas sibuk di toko.āāSiapa wanita berbaju orange itu, Mas?ā cecarku.āItu ... em, tapi kamu jangan marah, ya?ā Mendengar jawaban Mas Danu justru aku semakin takut. Takut kalau apa yang aku pikirkan benar.āJawablah, Mas jangan berkelit gitu.āāNamanya Maya, dia teman sekolah Mas waktu SD. Waktu itu tanpa sengaja bertemu di toko. Setelah pertemuan pertama dia sering datang dan banyak bercerita tentang rumah tangganya ....ā Mas Danu menjeda ceritanya.Aku sudah berkeringat panas padahal suhu udara malam ini dingin karena tadi sore hujan sangat deras dan sekarang pun masih gerimis kecil.āKarena Mas kasihan makanya Mas seri
āEnggak bersih berarti tidak ada acara masuk rumah.ā Mamah Atik ikut menimpali.āApa ini sudah cukup, Bu?ā tanya Evi memperlihatkan irik yang berisi pucuk daun singkong.āBelum! Petik yang banyak, di rumah banyak orang jadi banyak juga yang makan kalau cuma segini habis sama kamu aja!ā Mamah Atik pun tidak kalah sengit memarahi Evi.āAku adukan kalian sama Mas Danu biar kapok!ā Ancam Evi.āAdukan saja sana! Danu tidak akan pernah ambil pusing,ā jawab Mamah Atik.āPaman, jangan main HP terus nanti HP-nya masuk parit kami lagi yang disalahin dan suruh ganti,ā kataku agak kuat karena jarak kami lumayan jauh.āEh, iya, Ya. Ini aku hanya kirim pesan pada Danu saja,ā jawab paman.Benar saja setelah kucek ponsel Mas Danu yang ada di saku celanaku ternyata ada pesan masuk lagi dari paman.[Keputusanmu akan menentukan nasib rumah tanggamu, Dan. Cepat katakan iya atau tidak!]Lagi hanya kubaca saja. Aku tidak berminat sama sekali untuk membalas.āSudah ada gledek, tuh! Buruan nanti keburu turun
šøšøšøHidup sejatinya adalah perjalanan. Sekarang tergantung kita mau pilih jalan yang mana. Di depan sana ada banyak sekali rintangannya. Berkelok-kelok, lurus mulus, licin berlumpur atau naik turun.Aku menghela nafas berat saat membaca pesan dari paman Mas Danu. Pesan itu langsung kuteruskan ke ponselku.Paman Mas Danu sebenarnya belum selesai berbicara dengan Mas Danu hanya saja tadi tiba-tiba Joko menelepon ada pelanggan tetap mau belanja bulanan dan jumlahnya sangat banyak. Makanya Mas Danu buru-buru pergi ke toko.Paman dan juga Evi kami persilakan untuk menunggu di rumah. Bagaimana pun juga mereka adalah tamu.ā... Barang siapa beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya .... HR. Bukhari dan Muslim.Aku memang bukan seorang yang mulus tanpa dosa, tapi aku akan selalu berusaha berbuat baik pada siapa pun meski dianggap bodoh.Bapakku selalu berpesan untuk selalu berbuat baik meski kita dimanfaatkan, meski kita tidak dianggap. Karena kebaikan itu aka
~k~ušøšøšøāLoh, siapa kamu!ā tegur Mamah Atik saat melihat pria seumuran bapak main nyelonong duduk di teras rumah tanpa permisi.Kami sedang berjemur sekalian menyuapi Kia. Beberapa hari ini hujan terus udara di sini pun sangat dingin.Orang itu bukannya menyahut malah menyalakan rokok.āPaman, ini sarapannya. Nasi uduk aja, ya? Duitku nipis,ā ucap Evi. Kami kaget ternyata itu pamannya Mas Danu.āKamu itu kenapa juga beli beginian. Rumah Mamasmu ini besar gendongan tentunya di dalam banyak makanan. Makan nasi uduk begini Paman mules perutnya.āāKalian ngapain lihat-lihat! Sekarang mana Mas Danu. Aku mau ketemu Mas Danu,ā bentak Evi pada kami.Baru saja aku hendak menyangkal ucapan Evi, Mas Danu sudah ke luar rumah.āMasss ....ā Evi lari menghampiri Mas Danu.āDanu. Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Paman dari kemarin sudah ada di sini, tapi anak buahmu bilang kamu ada urusan keluarga dan enggak pulang.ā Orang yang mengaku Paman Mas Danu pun tergopoh-gopoh menghampiri Mas Danu.Mas Da
Assalamualaikum everyone ....Alhamdulillah bisa up bab baru. Yuk, bantu follow akunku ššøšøšøāSini, Ta, biar Mamah yang telepon, Joko!ā Kuberikan ponselku pada Mamah.Tidak menunggu lama telepon tersambung.āHalo, Mas Joko! Ini Mamah Atik. Tolong itu barang-barang yang mau diangkut sama Susi ambil lagi!āāLoh, aānu, Bu. Itu katanya sudah dapat izin dari Ita,ā jawab Mas Joko terbata pasti Mas Joko kaget Mamah Atik to the poin begitu.āEnggak! Baik Ita ataupun Danu enggak ada yang izinin. Di mana Susi? Apa sudah pulang?āāBeālum, Bu. Maāsih nimbang telur.āāDasar orang tidak tahu malu. Pokoknya aku enggak mau tahu, ya, ambil lagi apa yang mau diangkut Susi kalau enggak gaji kamu bulan ini tidak aku berikan!ā Ancam Mamah Atik.āAduh! Baāik, Bu.āTuuuutt ....Mamah mematikan telepon.āIni, Ta. 10 menit lagi kita telepon Joko. Kamu itu menyek-menyek jadi orang makanya saudara-saudara kamu itu selalu saja meremehkanmu.āāAku hanya tidak ingin hubungan yang sudah tidak baik makin tidak b
Hatiku panas mendengar perempuan lain mengagumi suamiku.āMana anakmu kenapa tidak kamu ajak?ā tanya Mas Danu.āMas aku capek loh, nungguin kamu panas dan haus juga kamu malah tega tanya ini dan itu di sini,ā rengeknya.Kami masuk dan Evi membuntuti kami.āMas, rumahmu bagus banget ya, pantas paman selalu membanggakan kamu.ā Mas Danu diam saja. Dia fokus minum dan menikmati donat yang kusuguhkan.āDanu, kamu makan dulu. Pasti kamu lapar,ā titah Mamah Atik.āIya, Mah. Dik, temani Mas makan, ya?āāAku juga mau makan Mas. Yuk, aku temani.ā Evi gegas berdiri dan menarik tangan Mas Danu.āBukan Dik, kamu. Itu panggilan untuk istriku. Aku memanggilmu dengan namamu saja.ā Mas Danu menampik tangan Evi. Dia seperti menahan malu.āMas meja makanmu bagus banget. Seumur-umur aku baru lihat,ā ucap Evi. Dia langsung duduk dan mengambil makan tanpa kami suruh terlebih dahulu.āEvi, sebentar lagi kami mau pergi sebaiknya kamu pulang dulu. Rumah ini akan kami kosongkan.āāApa? Ya ampun, Mas! Aku jauh-







