MasukRyan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah moody Casy yang bisa berubah dari penggoda menjadi manja dalam hitungan detik. "Tadi baru bangun, sekarang sudah menguap lagi. Kau ini sebenarnya manusia atau koala?"
"Koala yang cantik kan?" Casy menyandarkan kepalanya di bahu Ryan, menghirup aroma tubuh pria itu yang membuatnya merasa sangat nyaman. "Cepat masak sana! Aku tunggu di meja makan. Kalau lama, aku tidur lagi nih!"
Casy turun dari kasur dengan langkah yang sedikit gon
Casy merasa dunianya telah runtuh sepenuhnya sebuah penyerahan jiwa dan raga yang tak lagi memiliki pembatas. Udara dingin menyentuh pusat dari segala kehangatannya, memicu jenggala rasa yang membuatnya menggigil hebat.Ryan tidak terburu-buru. Ia hanya terpaku dalam bisu, namun tatapannya menyapu setiap inci keindahan di hadapannya dengan intensitas yang membakar sebuah pandangan gelap yang membuktikan bahwa ini bukan lagi sekadar keinginan biasa, melainkan sebuah obsesi yang bertahta."Sepertinya kamu kembali nakal, ya?" Ryan akhirnya memecah kesunyian, suaranya berat oleh gejolak yang ia kunci rapat. "Tabiat aslimu yang dulu berani, menggoda, tidak takut. Kembali lagi setelah sekian lama kau sembunyikan."Casy membuka mata, menantang tatapan itu dengan sisa keberaniannya. "Dari awal aku memang seperti ini.""Bagus." gumam Ryan. "Karena aku pun sudah mencapai batas untuk tetap bersikap tenang."Ia mendekatkan wajahnya. Hawa panas dari napasn
Pintu kamar utama tertutup dengan dentuman keras akibat tendangan Ryan, memecah kesunyian malam layaknya guntur. Cahaya lampu nakas yang temaram menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding saat Ryan melangkah mantap menuju peraduan megahnya.Ryan membungkuk, menangkup wajah Casy dengan klaim penuh. "Melihat pria lain menyentuhmu di kampus tadi... itu menyulut sesuatu yang gelap di dalam diriku." bisiknya serak. Casy justru menyambut api itu dengan tatapan provokatif. "Dan sesuatu itu... ingin memilikiku sekarang?" Jawaban itu memicu erangan rendah dari dada Ryan, sebelum ia kembali menenggelamkan Casy dalam dekapan rasa yang lebih dalam.Ryan mengukirkan klaimnya di sana sebuah tanda kepemilikan di ceruk leher yang membuat Casy memekik parau. Tanpa ampun, ia beralih ke bahu, memberikan pemujaan intens pada kulit seputih pualam yang kini merona hebat. "Ryan..." rintih Casy, jemarinya mencengkeram bahu kokoh itu saat pertahanannya luluh totalSetelah meras
Ryan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah moody Casy yang bisa berubah dari penggoda menjadi manja dalam hitungan detik. "Tadi baru bangun, sekarang sudah menguap lagi. Kau ini sebenarnya manusia atau koala?""Koala yang cantik kan?" Casy menyandarkan kepalanya di bahu Ryan, menghirup aroma tubuh pria itu yang membuatnya merasa sangat nyaman. "Cepat masak sana! Aku tunggu di meja makan. Kalau lama, aku tidur lagi nih!"Casy turun dari kasur dengan langkah yang sedikit gontai namun tetap berusaha terlihat anggun meskipun ujung rambutnya berantakan. Ia sempat menoleh ke arah Ryan dan mengedipkan sebelah matanya sebelum keluar kamar.Ryan hanya bisa terpaku di tepi ranjang, menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak di dadanya. Casyena Lexton benar-benar racun. Gadis itu tahu persis bagaimana cara membuat Ryan bertekuk lutut, bahkan dalam kondisi lemas karena mengantuk sekalipun."Sial," umpat Ryan pelan sambil tersenyum tipis. "Kenapa aku bisa jat
Siang itu, perpustakaan kampus terasa begitu nyaman, atau mungkin tubuh Casy saja yang sedang sangat merindukan bantal. Di depannya, buku teks hukum setebal lima ratus halaman terbuka lebar, namun mata Casy sudah terpejam rapat. Tangannya masih memegang pena, tapi garis yang dihasilkan hanya coretan panjang tak beraturan karena ia tertidur di tengah-tengah menulis."Cas... Casyena!" Kelly mengguncang bahunya dengan gemas.Casy tersentak, mengusap setetes liur di sudut bibirnya dengan wajah linglung. "Hah? Sudah selesai kelasnya?""Kelas sudah selesai dari satu jam yang lalu, Cas! Kamu tidur nyenyak sekali sampai-sampai aku harus menolak ajakan Leon untuk makan siang karena tidak tega membangunkanmu," keluh Kelly. "Kamu kenapa sih? Padahal semalam kita tidak begadang, kan?""Entahlah, Kel," gumam Casy sambil menguap lebar, matanya masih merah karena kantuk yang terasa begitu berat. "Badanku rasanya seperti kapas. Lemas sekali. Rasanya kalau disuruh lari
Sinar matahari yang menyeruak masuk dari celah gorden terasa seperti jarum yang menusuk langsung ke bola mata Ryan. Ia mengerang, membalikkan tubuhnya sambil memegang kepala yang terasa sangat berat, seolah baru saja dihantam benda tumpul.Ryan berusaha duduk, bersandar pada kepala ranjang yang terasa asing. Saat itulah ia menyadari ini bukan kamarnya. Interior hotel yang mewah namun kaku menyambut pandangannya. Ingatannya berputar mundur kafe, Vanessa, gelas-gelas alkohol dengan kadar tinggi dan setelah itu, semuanya gelap gulita."Sial, seberapa banyak aku minum semalam?" gumamnya serak.Ia bangkit dengan langkah sempoyongan. Saat melewati cermin besar menuju kamar mandi, ia sempat terhenti. Ada aroma parfum yang tertinggal di udara, aroma yang tajam dan bukan miliknya. Namun karena kepalanya yang berdenyut hebat, ia mengabaikan intuisi itu.Setelah membasuh wajah dengan air dingin, Ryan kembali ke area tempat tidur dan menemukan secarik kertas hotel
Lampu temaram di cafe bar itu berkilauan memantul di gelas-gelas kristal, menciptakan suasana melankolis yang pas untuk sebuah perpisahan. Ryan duduk dengan tenang, kemeja hitamnya yang dibuka dua kancing teratas memberikan kesan maskulin yang dingin. Ia datang bukan karena rindu, namun karena rasa bersalah yang menggerogoti nuraninya memaksa pria itu untuk tetap duduk.sepercik rasa iba. Ia sadar telah menggunakan Vanessa sebagai tameng untuk memicu cemburu Casy. Malam ini, ia ingin menutup buku itu selamanya."Jujur saja, Ryan. Sejak awal, kau memang tidak pernah benar-benar mencintaiku," suara Vanessa terdengar datar, namun tajam menyayat keheningan di antara mereka.Ryan menarik napas panjang, menatap wanita yang pernah ia jadikan tameng untuk memicu kecemburuan Casyena. "Maaf," jawabnya singkat. Sebuah kata yang terdengar begitu dingin dan tidak memadai untuk semua sandiwara yang telah ia mainkan.Vanessa tersenyum kecut, jemarinya mempermainkan pi







