MasukRyan berjalan menuju kamarnya dengan langkah lelah, tapi Casy tak mau ketinggalan. Layaknya anak kecil mengejar permen, dia terus mengikuti dari belakang, sampai-sampai saat Ryan tiba-tiba berhenti di depan pintu kamar, Casy yang tak waspada menabrak punggungnya yang kekar.
Brukk!
Ryan menghela napas panjang, menoleh setengah kesal. "Ngapain?"
"Ikut Om!" jawab Casy polos, matanya berbinar penuh rencana.
"Ikut kemana?" tanya Ryan, sudah bisa menebak arah percakapan ini.
"Kamar." ucap Casy singkat, seolah itu hal yang wajar.
Ryan memejamkan mata, menekan pelipisnya yang mulai berdenyut. "Aku akan berganti baju."
"Ya, terus kenapa?" Casy menyeringai, sengaja bermain bodoh.
"Ya kamu jangan ikut!" Ryan mencoba bersikap tegas, tapi Casy sudah seperti karet yang tak bisa diputus.
"Nggak mau! Aku kan mau liat!" tanpa sengaja Casy melontarkan kalimat jujurnya, lalu spontan menepuk mulutnya sendiri. "Eh."
Ryan menggeleng, mencoba menutup pintu. "Gak! Diam di sini!"
Tapi Casy lebih cepat. Dengan lincah dia menerobos masuk sebelum pintu tertutup, lalu langsung melompat dan merebahkan diri di atas kasur besar Ryan dengan wajah penuh kemenangan. "Yah, udah masuk!" katanya santai, seolah itu haknya.
Ryan hanya bisa mendengus kesal, lalu memutuskan untuk berjalan ke kamar mandi tanpa berkata lagi. Tak lama, suara air mandi mulai terdengar gemericik dari balik pintu.
Di dalam kamar, Casy yang mendengar suara air itu merasa jantungnya berdegup kencang. Pikirannya melayang ke kejadian beberapa waktu lalu, saat tanpa sengaja melihat "sesuatu" yang membuatnya tak bisa tidur semalaman. Dipikir-pikir, bukannya itu sangat besar? Astagaaaa...
Dengan wajah memerah, Casy menutup mukanya menggunakan bantal yang masih menyimpan aroma khas Ryan wanginya yang maskulin dan menggoda iman. Dalam hati, dia berteriak: mission almost accomplished!
Selang beberapa menit, suara air mandi berhenti. Ryan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit longgar di pinggangnya, sambil mengelap rambut basahnya yang masih meneteskan air. Seperti kebiasaannya, ia memang tidak pernah memakai baju setelah mandi ia akan berganti di walk-in closet-nya.
Casy yang sedang bersandar di kasur sambil pura-pura membaca buku yang ia ambil dari meja samping, mengintip dari balik ujung buku dengan senyum nakal. Matanya membelalak takjub melihat pemandangan di hadapannya.
Astaga! Tubuhnya sangat menggoda! batinnya, hampir tak percaya dengan otot-otot Ryan yang basah dan berkilau terkena lampu kamar.
"Om sengaja banget nggak pakai baju!" ujarnya dengan suara tengil, matanya berbinar penuh arti. "Kode ya? Pengen di-lepas handuknya lagi kayak waktu itu?"
Ryan berhenti mengelap rambutnya, wajahnya menunjukkan ekspresi tak habis pikir. "Harusnya kamu sadar diri, ini kamar saya," ucapnya dengan suara datar, meski matanya sedikit menyipit menatap Casy yang tak tahu malu.
Tapi Casy justru semakin bersemangat. Dengan lincah ia berguling di kasur, lalu berdiri dan mendekati Ryan. "Justru karena ini kamar Om, jadi harus ada yang nemenin biar nggak sepi!" katanya sambil mendekatkan wajahnya.
Dengan langkah penuh keyakinan, Casy mendekati Ryan yang masih berdiri dengan handuk melilit di pinggang. Tangannya yang mungil menempel di dada bidang Ryan, jari-jemarinya dengan berani mengelus perlahan.
"Kenapa, Om... mau dibantuin berganti baju?" goda Casy, suaranya sengaja dibuat berat dan menggoda.
Namun kali ini, Ryan tidak serta merta menolak. Sebaliknya, sudut biburnya melengkung membentuk senyum singkat yang membuat Casy terkesiap. Matanya yang biasanya dingin, kini memancarkan cahaya berbeda lebih dalam, lebih berbahaya.
"Tanganmu saja bergetar," ucap Ryan dengan suara rendah yang serak. "Masih berani menggoda orang dewasa?"
Sebelum Casy sempat bereaksi, Ryan tiba-tiba maju mendekat, membuatnya tanpa sadar mundur sampai punggungnya menempel ke dinding. Ryan menempatkan kedua tangannya di dinding, mengurung Casy dalam jarak yang sangat dekat.
Casy mendongak, matanya membesar. Nafasnya tersendat saat menyadari posisinya yang terjepit antara tubuh panas Ryan dan dinding yang dingin. Dadanya naik turun tak beraturan, wajahnya memerah.
"Om...?" suara Casy terdengar kecil, berbeda dengan keberaniannya sebelumnya.
Ryan menunduk, wajahnya hanya berjarak sehelai dari Casy. "Apa? Baru sampai sini saja sudah takut?" desisnya, napas hangatnya menyentuh kulit Casy.
Dengan gerakan perlahan, Ryan mengangkat tangan dan menyentuh pipi Casy yang memanas. "Kamu yang memulai, tapi tidak siap dengan konsekuensinya?"
Casy menelan ludah, matanya tak bisa lepas dari tatapan Ryan yang intens. Jantungnya berdebar kencang, campuran antara gugup dan antisipasi.
Begitu pintu mobil tertutup, suara riuh kampus yang hingar-bingar langsung lenyap. Hanya ada keheningan dan aroma maskulin dari parfum Ryan yang memenuhi indra Casy. Ryan langsung memacu mobilnya, namun pandangannya sempat melirik ke arah Casy yang masih tersenyum bangga."Puas?" tanya Ryan sambil melirik lengannya yang baru saja dilepaskan Casy. "Sepertinya kamu baru saja menandai wilayahmu di depan satu kampus.Casy hanya terkekeh, kepalanya menyandar santai di sandaran jok kulit mobil. "Tentu saja! Biar semua tahu kalau Om Ryan ini sudah ada yang punya. Nanti kalau tidak begitu, Om bisa diterkam mahasiswi genit lain."Ryan mendengus, namun sudut bibirnya terangkat tipis. Ia mulai menjalankan mobilnya perlahan. "Kita ke restoran fine dining yang biasa? Aku sudah pesan tempat."Casy tiba-tiba mengerutkan kening. Entah kenapa, membayangkan aroma daging panggang kelas atas dan saus truffle yang biasanya ia puja malah membuatnya merasa sedikit enek. "Ngga
Suasana kantin siang itu sangat riuh, namun Casy tampak tidak peduli. Di depannya tersaji sepiring mangga muda dengan sambal garam dan semangkuk bakso dengan cuka yang cukup banyak, makanan yang biasanya selalu ia hindari karena perutnya yang sensitif.Kelly meletakkan jus jeruknya dengan bunyi tuk yang keras, matanya membelalak menatap piring sahabatnya. "Casy, serius? Sejak kapan kamu doyan makanan asam dan menyengat begitu? Bukannya dulu mencium baunya saja kamu sudah mual?"Casy mengunyah potongan mangga itu dengan nikmat, seolah itu adalah makanan termewah di dunia. "Entahlah, Kelly. Tiba-tiba saja lidahku ingin sekali makan ini. Rasanya segar," jawabnya santai."Aneh sekali. Kamu seperti orang yang..." Kalimat Kelly menggantung. Saat Casy menunduk untuk mengambil kuah bakso, rambutnya tersibak ke samping. Mata Kelly menangkap bercak kemerahan yang kontras di kulit leher Casy yang putih."Casy! Lehermu kenapa?!" tanya Kelly setengah berteriak, hampir
Casy merasa dunianya telah runtuh sepenuhnya sebuah penyerahan jiwa dan raga yang tak lagi memiliki pembatas. Udara dingin menyentuh pusat dari segala kehangatannya, memicu jenggala rasa yang membuatnya menggigil hebat.Ryan tidak terburu-buru. Ia hanya terpaku dalam bisu, namun tatapannya menyapu setiap inci keindahan di hadapannya dengan intensitas yang membakar sebuah pandangan gelap yang membuktikan bahwa ini bukan lagi sekadar keinginan biasa, melainkan sebuah obsesi yang bertahta."Sepertinya kamu kembali nakal, ya?" Ryan akhirnya memecah kesunyian, suaranya berat oleh gejolak yang ia kunci rapat. "Tabiat aslimu yang dulu berani, menggoda, tidak takut. Kembali lagi setelah sekian lama kau sembunyikan."Casy membuka mata, menantang tatapan itu dengan sisa keberaniannya. "Dari awal aku memang seperti ini.""Bagus." gumam Ryan. "Karena aku pun sudah mencapai batas untuk tetap bersikap tenang."Ia mendekatkan wajahnya. Hawa panas dari napasn
Pintu kamar utama tertutup dengan dentuman keras akibat tendangan Ryan, memecah kesunyian malam layaknya guntur. Cahaya lampu nakas yang temaram menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding saat Ryan melangkah mantap menuju peraduan megahnya.Ryan membungkuk, menangkup wajah Casy dengan klaim penuh. "Melihat pria lain menyentuhmu di kampus tadi... itu menyulut sesuatu yang gelap di dalam diriku." bisiknya serak. Casy justru menyambut api itu dengan tatapan provokatif. "Dan sesuatu itu... ingin memilikiku sekarang?" Jawaban itu memicu erangan rendah dari dada Ryan, sebelum ia kembali menenggelamkan Casy dalam dekapan rasa yang lebih dalam.Ryan mengukirkan klaimnya di sana sebuah tanda kepemilikan di ceruk leher yang membuat Casy memekik parau. Tanpa ampun, ia beralih ke bahu, memberikan pemujaan intens pada kulit seputih pualam yang kini merona hebat. "Ryan..." rintih Casy, jemarinya mencengkeram bahu kokoh itu saat pertahanannya luluh totalSetelah meras
Ryan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah moody Casy yang bisa berubah dari penggoda menjadi manja dalam hitungan detik. "Tadi baru bangun, sekarang sudah menguap lagi. Kau ini sebenarnya manusia atau koala?""Koala yang cantik kan?" Casy menyandarkan kepalanya di bahu Ryan, menghirup aroma tubuh pria itu yang membuatnya merasa sangat nyaman. "Cepat masak sana! Aku tunggu di meja makan. Kalau lama, aku tidur lagi nih!"Casy turun dari kasur dengan langkah yang sedikit gontai namun tetap berusaha terlihat anggun meskipun ujung rambutnya berantakan. Ia sempat menoleh ke arah Ryan dan mengedipkan sebelah matanya sebelum keluar kamar.Ryan hanya bisa terpaku di tepi ranjang, menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak di dadanya. Casyena Lexton benar-benar racun. Gadis itu tahu persis bagaimana cara membuat Ryan bertekuk lutut, bahkan dalam kondisi lemas karena mengantuk sekalipun."Sial," umpat Ryan pelan sambil tersenyum tipis. "Kenapa aku bisa jat
Siang itu, perpustakaan kampus terasa begitu nyaman, atau mungkin tubuh Casy saja yang sedang sangat merindukan bantal. Di depannya, buku teks hukum setebal lima ratus halaman terbuka lebar, namun mata Casy sudah terpejam rapat. Tangannya masih memegang pena, tapi garis yang dihasilkan hanya coretan panjang tak beraturan karena ia tertidur di tengah-tengah menulis."Cas... Casyena!" Kelly mengguncang bahunya dengan gemas.Casy tersentak, mengusap setetes liur di sudut bibirnya dengan wajah linglung. "Hah? Sudah selesai kelasnya?""Kelas sudah selesai dari satu jam yang lalu, Cas! Kamu tidur nyenyak sekali sampai-sampai aku harus menolak ajakan Leon untuk makan siang karena tidak tega membangunkanmu," keluh Kelly. "Kamu kenapa sih? Padahal semalam kita tidak begadang, kan?""Entahlah, Kel," gumam Casy sambil menguap lebar, matanya masih merah karena kantuk yang terasa begitu berat. "Badanku rasanya seperti kapas. Lemas sekali. Rasanya kalau disuruh lari







