Share

4

Author: Liaastory
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-21 15:00:43

"Casy! Tunggu dong!" seru Kelly, terengah-engah menyusul Casyena yang sedang berjalan lesu di koridor kampus. Matanya terbelalak melihat penampilan temannya. "Tunggu... apa yang terjadi dengan penampilanmu? Kamu terlihat... sangat berbeda!"

Kelly memutar tubuh Casyena pelan, tak percaya dengan transformasi di depan matanya. Casy yang biasanya tampil sederhana dengan gaya polos, kini berbalut black bodycon dress yang elegan meskipun tertutup dengan jaketnya namun tidak menutupi kemolekan tubuhnya, rambutnya tergerai natural dengan curls yang sempurna, dan makeup-nya flawless.

"Jangan-jangan karena Nate menghilang, kamu jadi berubah seperti ini?" tanya Kelly penasaran.

Casy menggeleng. "Tidak, aku sudah melupakan pria itu sejak lama."

"Lalu kenapa wajahmu murung sekali? Kamu terlihat cantik tapi sedih," tanya Kelly sambil menyelipkan rambut pendeknya ke belakang telinga.

Casy menghela napas panjang, matanya masih menunjukkan kekecewaan. "Aku berdandan dari subuh untuk menunggu seseorang dan saat dia lewat aku dilewati begitu saja olehnya. Dan dia malah mempercepat mobilnya dan pura-pura tidak melihatku."

"Tunggu Seseorang? Siapa itu? Kenapa kamu tidak memberitahuku!" Kelly mendekatkan wajahnya penuh rasa ingin tahu.

Namun sebelum Casy sempat menjawab, tiba-tiba pandangan mereka tertuju pada pemandangan tak menyenangkan di seberang koridor. Nate pria yang dulu aktif mendekati Casy saat masa MOS sedang berjalan mesra dengan seorang perempuan berkuncir kuda. Tangannya tergandeng erat, dan Nate sesekali mencium kening perempuan itu dengan manisnya.

"Astaga! Itu Nate!" seru Kelly berbisik. "Dia sudah punya pacar? Padahal dulu dia yang mengejarmu setiap hari! Bagaimana bisa dia langsung bersama perempuan lain dalam waktu singkat seperti ini? Dasar pria brengsek!"

Casy menggeleng, wajahnya berkerut menunjukkan ekspresi jijik. "Kakakku benar. Darren bilang Nate tidak akan pernah setara dengan kami, bahkan tidak selevel dengan ujung kakiku. Dasar pria murahan!"

Melihat Casy, Nate langsung pucat dan melepaskan tangan perempuan itu. Dengan panik, ia mendekati Casy. "Casy, tunggu! Aku bisa jelaskan..."

"Jelaskan apa?" sergah Casy memotong. "Baru beberapa hari kamu menghilang tanpa kabar dan sekarang sudah menggandeng wanita lain?"

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa! Keluargamu mengancamku untuk berhenti mendekatimu! Ayahmu menyebutku tidak selevel dan mempermalukanku! Aku harus bagaimana?" Nate membela diri.

"Loh, memang benar kata kakakku! Kita tidak selevel! Kalau memang tulus, seharusnya kamu berjuang, bukan langsung cari pengganti! Dasar murahan!" jawab Casy dengan nada jijik.

"Apa katamu? Aku murahan?" Nate tiba-tiba mencengkram pergelangan tangan Casyena dengan kasar, membuatnya kesakitan.

"Lepas! Atau kamu akan menyesal!" ancam Casy sambil berusaha melepaskan diri.

Kelly berusaha menolong dengan menarik lengan Nate, namun ia di dorong keras tak berdaya menghadapi kekuatan pria itu.

"Hei wanita murahan! Hanya karena keluargamu kaya kamu bisa seenaknya? Perempuan seperti kamu kalau bukan karena keluargamu pasti sudah menjadi wanita penghibur! Lihat dirimu sekarang sok berdandan untuk apa? Merayuku?! Kemarin saat bersamaku sok-sok an polos, ternyata-"

PLAK!

Casy tanpa ragu menampar Nate dengan keras. "Diam kamu brengsek! Apakah kamu tidak punya kaca? Dasar miskin! Memangnya siapa yang membayar uang kuliahmu yang nunggak kemarin? Sudah miskin bertingkah! Harusnya kamu beruntung karena mataku yang rabun kemarin sampai tertarik dengan cowok mokondo dekil kayak kamu!"

Muka Nate merah padam. "Dasar cewek brengsek!" teriaknya, mengangkat tangan akan membalas menampar Casyena.

Tiba-tiba tangannya terhenti, di cengkram oleh pria dengan sigap menahan tangan Nate dari belakang dan langsung menghajarnya sekali di perut, membuat Nate terjengkang.

"Lepas! Brengsek! Jangan ikut campur! " Nate meronta.

"Jaga sikapmu! Atau akan kulaporkan kekerasanmu ke pihak kampus!" ancam cowok itu dengan suara berwibawa.

Pria itu kemudian berpaling ke Casy, wajahnya menunjukkan perhatian. "Kamu tidak apa-apa?"

Casy mengangguk, masih Shock dengan sikap Nate yang ternyata sangat kasar. "Terima kasih," ucapnya singkat.

Dengan gerakan tegas, Pria itu menarik kerah Nate dan membawanya pergi menuju arah gedung rektorat, meninggalkan Casyena dan Kelly yang masih shock.

Kelly segera mendekati Casy yang masih terpana. "Casy, kamu gapapa kan? Udah gila tu cowok!"

"Aku gapapa," jawab Casy sambil memijat pergelangan tangannya yang memerah. "Cuma kesal saja."

"Untung ada yang menolong, pria tadi siapa? "

"Pria tadi Itu Leon Hartono, cowok paling terkenal di kampus kita!" Kelly bersemangat. "Dia bukan cuma tampan, tapi juga atlet basket andalan kampus, ranking satu di jurusan Bisnis, dan juga pintar bahkan dia penerima beasiswa penuh! pria mapan impian banyak cewek di kampus! "

Casy mengamati punggung Leon yang menjauh sambil menarik Nate, sebuah rasa penasaran muncul dalam hatinya.

*****

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   47

    Suasana kantin siang itu sangat riuh, namun Casy tampak tidak peduli. Di depannya tersaji sepiring mangga muda dengan sambal garam dan semangkuk bakso dengan cuka yang cukup banyak, makanan yang biasanya selalu ia hindari karena perutnya yang sensitif.Kelly meletakkan jus jeruknya dengan bunyi tuk yang keras, matanya membelalak menatap piring sahabatnya. "Casy, serius? Sejak kapan kamu doyan makanan asam dan menyengat begitu? Bukannya dulu mencium baunya saja kamu sudah mual?"Casy mengunyah potongan mangga itu dengan nikmat, seolah itu adalah makanan termewah di dunia. "Entahlah, Kelly. Tiba-tiba saja lidahku ingin sekali makan ini. Rasanya segar," jawabnya santai."Aneh sekali. Kamu seperti orang yang..." Kalimat Kelly menggantung. Saat Casy menunduk untuk mengambil kuah bakso, rambutnya tersibak ke samping. Mata Kelly menangkap bercak kemerahan yang kontras di kulit leher Casy yang putih."Casy! Lehermu kenapa?!" tanya Kelly setengah berteriak, hampir

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   46

    Casy merasa dunianya telah runtuh sepenuhnya sebuah penyerahan jiwa dan raga yang tak lagi memiliki pembatas. Udara dingin menyentuh pusat dari segala kehangatannya, memicu jenggala rasa yang membuatnya menggigil hebat.​Ryan tidak terburu-buru. Ia hanya terpaku dalam bisu, namun tatapannya menyapu setiap inci keindahan di hadapannya dengan intensitas yang membakar sebuah pandangan gelap yang membuktikan bahwa ini bukan lagi sekadar keinginan biasa, melainkan sebuah obsesi yang bertahta.​"Sepertinya kamu kembali nakal, ya?" Ryan akhirnya memecah kesunyian, suaranya berat oleh gejolak yang ia kunci rapat. "Tabiat aslimu yang dulu berani, menggoda, tidak takut. Kembali lagi setelah sekian lama kau sembunyikan."​Casy membuka mata, menantang tatapan itu dengan sisa keberaniannya. "Dari awal aku memang seperti ini."​"Bagus." gumam Ryan. "Karena aku pun sudah mencapai batas untuk tetap bersikap tenang."​Ia mendekatkan wajahnya. Hawa panas dari napasn

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   45

    Pintu kamar utama tertutup dengan dentuman keras akibat tendangan Ryan, memecah kesunyian malam layaknya guntur. Cahaya lampu nakas yang temaram menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding saat Ryan melangkah mantap menuju peraduan megahnya.​Ryan membungkuk, menangkup wajah Casy dengan klaim penuh. "Melihat pria lain menyentuhmu di kampus tadi... itu menyulut sesuatu yang gelap di dalam diriku." bisiknya serak. Casy justru menyambut api itu dengan tatapan provokatif. "Dan sesuatu itu... ingin memilikiku sekarang?" Jawaban itu memicu erangan rendah dari dada Ryan, sebelum ia kembali menenggelamkan Casy dalam dekapan rasa yang lebih dalam.​Ryan mengukirkan klaimnya di sana sebuah tanda kepemilikan di ceruk leher yang membuat Casy memekik parau. Tanpa ampun, ia beralih ke bahu, memberikan pemujaan intens pada kulit seputih pualam yang kini merona hebat. "Ryan..." rintih Casy, jemarinya mencengkeram bahu kokoh itu saat pertahanannya luluh total​Setelah meras

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   44

    Ryan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah moody Casy yang bisa berubah dari penggoda menjadi manja dalam hitungan detik. "Tadi baru bangun, sekarang sudah menguap lagi. Kau ini sebenarnya manusia atau koala?""Koala yang cantik kan?" Casy menyandarkan kepalanya di bahu Ryan, menghirup aroma tubuh pria itu yang membuatnya merasa sangat nyaman. "Cepat masak sana! Aku tunggu di meja makan. Kalau lama, aku tidur lagi nih!"Casy turun dari kasur dengan langkah yang sedikit gontai namun tetap berusaha terlihat anggun meskipun ujung rambutnya berantakan. Ia sempat menoleh ke arah Ryan dan mengedipkan sebelah matanya sebelum keluar kamar.Ryan hanya bisa terpaku di tepi ranjang, menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak di dadanya. Casyena Lexton benar-benar racun. Gadis itu tahu persis bagaimana cara membuat Ryan bertekuk lutut, bahkan dalam kondisi lemas karena mengantuk sekalipun."Sial," umpat Ryan pelan sambil tersenyum tipis. "Kenapa aku bisa jat

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   43

    Siang itu, perpustakaan kampus terasa begitu nyaman, atau mungkin tubuh Casy saja yang sedang sangat merindukan bantal. Di depannya, buku teks hukum setebal lima ratus halaman terbuka lebar, namun mata Casy sudah terpejam rapat. Tangannya masih memegang pena, tapi garis yang dihasilkan hanya coretan panjang tak beraturan karena ia tertidur di tengah-tengah menulis.​"Cas... Casyena!" Kelly mengguncang bahunya dengan gemas.​Casy tersentak, mengusap setetes liur di sudut bibirnya dengan wajah linglung. "Hah? Sudah selesai kelasnya?"​"Kelas sudah selesai dari satu jam yang lalu, Cas! Kamu tidur nyenyak sekali sampai-sampai aku harus menolak ajakan Leon untuk makan siang karena tidak tega membangunkanmu," keluh Kelly. "Kamu kenapa sih? Padahal semalam kita tidak begadang, kan?"​"Entahlah, Kel," gumam Casy sambil menguap lebar, matanya masih merah karena kantuk yang terasa begitu berat. "Badanku rasanya seperti kapas. Lemas sekali. Rasanya kalau disuruh lari

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   42

    Sinar matahari yang menyeruak masuk dari celah gorden terasa seperti jarum yang menusuk langsung ke bola mata Ryan. Ia mengerang, membalikkan tubuhnya sambil memegang kepala yang terasa sangat berat, seolah baru saja dihantam benda tumpul.​Ryan berusaha duduk, bersandar pada kepala ranjang yang terasa asing. Saat itulah ia menyadari ini bukan kamarnya. Interior hotel yang mewah namun kaku menyambut pandangannya. Ingatannya berputar mundur kafe, Vanessa, gelas-gelas alkohol dengan kadar tinggi dan setelah itu, semuanya gelap gulita.​"Sial, seberapa banyak aku minum semalam?" gumamnya serak.​Ia bangkit dengan langkah sempoyongan. Saat melewati cermin besar menuju kamar mandi, ia sempat terhenti. Ada aroma parfum yang tertinggal di udara, aroma yang tajam dan bukan miliknya. Namun karena kepalanya yang berdenyut hebat, ia mengabaikan intuisi itu.Setelah membasuh wajah dengan air dingin, Ryan kembali ke area tempat tidur dan menemukan secarik kertas hotel

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status