로그인Pagi itu, kamar Casy bagai medan perang. Koper-koper terbuka lebar, pakaian berserakan, dan wajah Casy yang penuh tekad.
"Putriku, kamu yakin mau pindah ke apartemen sendiri?" Marry berdiri di ambang pintu, mata berkaca-kaca tapi senyumnya hangat.
"Harus, Ma! Aku sudah dewasa. Aku butuh kehidupan sendiri, aku ingin belajar mandiri! " jawab Casy sambil melemparkan sepatu hak tingginya ke dalam koper.
Tiba-tiba, tiga badai menerpa kamarnya.
Edward, sang ayah, langsung memeluknya erat. "Sisy sayang, jangan tinggalkan Ayah! Di sini kan, ada segala yang kamu butuhkan!"
Marcus, sang kakek, mengetukkan tongkatnya. "Cucuku, mansion ini sudah cukup luas. Kenapa harus cari tempat lain?"
Darren, sang kakak, langsung mengeluarkan solusi ekstrem. "Tinggal saja di mansionku! Ada 5 kamar kosong, dan aku akan pasang CCTV di setiap sudut untuk jaga keamananmu!"
Casy menghela napas panjang. "Kakak! Aku sudah besar, aku ingin hidup mandiri!"
Alesha mencoba menenangkan situasi. "Sudah, biarkan Sisy mencoba hidup mandiri. Dia sudah cukup umur."
Tapi Edward sudah mengangkat telepon. "Aku akan tugaskan 40 bodyguard untuk mengawal putriku. Empat shift, sepuluh orang per shift, dengan armor lengkap dan---"
"Ayah!" teriak Casy memotong. "Aku cuma pindah ke apartemen, bukan ke medan perang!"
"Tapi---"
"Tidak ada tapi! Tidak ada bodyguard, tidak ada CCTV, tidak ada pelayan yang menguntitku!" tegas Casy sambil menutup kopernya dengan keras.
Pemandangan dramatis pun tercipta di depan mansion. Tiga pria dewasa berdiri bergandengan tangan, wajah mereka muram seperti akan melepas putrinya pergi jauh.
Edward meratap. "Anakku akan hidup tanpa pengawalan memadai."
Marcus berkaca-kaca. "Dia tidak akan tahan tanpa kakeknya."
Darren menatap kosong. "Siapa yang akan melindunginya di malam hari?"
Sementara itu, Marry hanya memeluk putrinya erat. "Selamat menempuh perjalanan hidupmu, Nak. Ingat selalu kabari Mama jika ada sesuatu."
Casy tersenyum lega. "Iya, Ma. Terima kasih sudah mengerti."
Tapi tepat saat dia akan masuk ke mobil, Edward berlari mendekat dengan setumpuk kartu kredit. "Ini untuk berjaga-jaga! Platinum, black card, visa infinite..."
"Ayah!" Casy menggeleng, tapi tetap menerimanya. "Oke, ini akan kubutuhkan untuk beli furnitur."
"Sudah ayah pesankan interior designer terbaik."
"Ayah! Biarkan aku yang urus!"
Setelah perjuangan 30 menit melepaskan diri dari pelukan dan kekhawatiran yang berlebihan, akhirnya Casy berhasil meluncur ke apartemen barunya. Dia menarik napas dalam-dalam saat pintu apartemen tertutup. Kebebasan! Akhirnya!
Tapi kemudian... Ding dong. Suara bell pintu apartemennya berbunyi.
Dia membuka pintu. Di luar berdiri Darren dengan sepuluh kardus besar.
"Ini makanan beku buatan chef, air mineral impor, obat-obatan lengkap, dan... perlengkapan bertahan hidup untuk keadaan darurat." kata Darren cepat.
Casy memandangnya lelah. "Kakak..."
"Jangan bilang Ayah." bisik Darren sebelum berlari pergi.
Sambil menutup pintu, Casy menghela napas. Ini akan menjadi perjalanan mandiri yang... penuh tantangan. Tapi setidaknya, dia sudah melangkah. Langkah pertama menuju kebebasan dari para Titan!
*****
Setelah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman tiga Titan, hal pertama yang dilakukan Casy di hari pertamanya sebagai wanita mandiri adalah, menyetir sendiri menuju kompleks perumahan mewah Ryan Callister.
"Dasar cegil!" gumamnya sambil memarkir mobil mungilnya. "Baru merdeka beberapa jam, langsung beraksi."
Tapi ini semua demi strategi! Apartemen barunya sengaja dipilih karena hanya berjarak sepuluh menit dari rumah Ryan.
Venna, ibu Ryan, membuka pintu dengan wajah penuh kejutan. "Casy! Sayang!"
"Halo, Tante!" Casyena memeluknya hangat. "Aku baru pindah ke apartemen dekat sini. Sekalian main ke sini."
"Wah, selamat ya! Masuk, masuk!" Venna menarik tangannya. "Ryan lagi di kantor, tapi sebentar lagi pulang. Kamu harus makan malam sama kami!"
Bingo! Tepat seperti yang diharapkannya.
Sambil menikmati teh hangat buatan Venna di teras belakang, Casy memandang kolam renang yang dulu pernah membuatnya jatuh. "Dulu aku benar-benar ceroboh ya, Tante."
Venna terkekeh. "Ryan sampai selalu waspada setiap kali kamu main ke sini. Dia takut kamu jatuh lagi atau dikejar angsa."
Casy tersipu. Jadi selama ini, meski terlihat cuek, Ryan tetap memperhatikannya?
"Tante, Om Ryan... masih single kan?" tanyanya penuh harap
Venna langsung murung. "Iya! Anakku itu kerja terus, tidak pernah mau kencan! Tante sudah putus asa pingin punya menantu dan menggendong cucu!"
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Ryan masuk dengan setelan jas masih rapi, wajah terlihat lelah. Matanya langsung menyipit melihat kehadiran Casy.
"Ryan! Casy baru pindah ke apartemen dekat sini. Dia mau makan malam sama kita!" seru Venna bersemangat.
Ryan melepas jas dengan gerakan sedikit kasar. "Ibu, jangan ganggu Casy. Dia pasti ada urusan lain."
"Tidak, tidak! Aku memang mau makan malam di sini!" bantah Casy cepat. "Aku sudah kangen masakan Tante Venna."
Ryan mendesah panjang. "Casy, kamu--"
"Ryan," potong Venna dengan suara peringatan. "Jangan kasar pada putriku."
Casy menyembunyikan senyum kemenangannya di balik gelas teh. Satu poin untuknya! Setidaknya Venna ada di pihaknya.
*****
"Ryan! Makan malam sudah siap!" teriak Venna dari dapur sambil mengaduk sup terakhir. "Casy, tolong panggil Ryan di kamarnya, ya!"
Dengan semangat berapi-api, Casy segera melesat menuju lantai dua. Jantungnya berdebar-debar penuh antisipasi. Ini kesempatan emasnya!
Tanpa pikir panjang, dia membuka pintu kamar Ryan tanpa mengetuk. "Om Ryan! Ma-"
Kalimatnya terhenti di tengah jalan. Kamar itu... kosong.
"Lho? Mana sih Om hot-nya?" gumamnya kebingungan, menengok ke kanan kiri dengan ekspresi kecewa.
Tiba-tiba, dari belakangnya terdengar suara dalam yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Apa yang kau lakukan di kamarku?"
Casy berbalik, dan... Astaga!
Ryan berdiri di ambang pintu kamar mandi, tubuhnya masih basah dan hanya mengenakan handuk putih yang melilit longgar di pinggangnya. Rambutnya yang hitam masih meneteskan air, aroma sabun maskulinnya yang segar menyebar memenuhi ruangan. Tapi yang benar-benar membuat Casy terpana adalah...
Sixpack. Perut sixpack yang jelas terpahat sempurna. Otot-otot yang tertata rapi bagaikan pahatan dewa Yunani, masih basah oleh sisa air mandi.
"Casy!" suara Ryan memecah kekagumannya. Matanya menyipit penuh kecurigaan. "Kamu menatap ke mana?"
Casy tersentak, pipinya langsung memerah. "Eh... Iya! Makan malam sudah siap! Tante Venna suruh panggil Om."
Ryan menghela napas panjang, seperti menghadapi anak kecil yang bandel. "Baik. Aku akan menyusul."
Tapi Casy tidak bergerak. Matanya masih mencuri-curi pandang ke tubuh Ryan yang basah, tak mampu melepaskan pandangan dari otot-otot yang membuatnya tergoda.
"Kenapa masih disini?" tanya Ryan dengan nada kesal yang semakin dalam.
Dengan keberanian yang datang tiba-tiba, Casy mendekat beberapa langkah. Senyum menggoda muncul di bibirnya. "Om... tawaran aku kemarin gimana? Sekarang juga boleh, kok. Nyicil dikit-dikit..."
Ryan melotot tak percaya, lalu menepuk jidat Casy dengan lembut. "Bocah! Semakin besar pikiranmu semakin mesum ya!"
Dia mencoba menarik Casy keluar, tapi Casy ngotot tidak mau pergi, kedua kakinya seperti tertanam di lantai. Dalam tarik-menarik itu, tanpa sengaja...
Whoosh!
Handuk Ryan terlepas dan jatuh ke lantai.
Casy menganga. Matanya membulat seperti bola pingpong, wajahnya memerah tapi matanya masih tak bergerak. "Wah... Besar ya..." gumamnya polos, masih menatap area bawah Ryan tanpa sedikitpun rasa malu.
"Keluar!!!" raung Ryan sambil berbalik dengan gerakan kasar untuk mengambil handuknya.
Dengan muka merah padam karena kombinasi malu dan marah, Ryan menyeret Casy keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan keras, mengunci dari dalam.
"Dasar Om pelit! Nanggung ih!" gerutu Casy di balik pintu yang terkunci, meski sebenarnya hatinya berdebar kencang seperti drum.
Sementara di dalam kamar, Ryan bersandar di pintu sambil menghela napas panjang. Tangannya mengepal. Bocah itu benar-benar gila! Dan yang membuatnya semakin frustrasi adalah... dia harus segera mandi air dingin lagi untuk meredakan... sesuatu.
Casy merasa dunianya telah runtuh sepenuhnya sebuah penyerahan jiwa dan raga yang tak lagi memiliki pembatas. Udara dingin menyentuh pusat dari segala kehangatannya, memicu jenggala rasa yang membuatnya menggigil hebat.Ryan tidak terburu-buru. Ia hanya terpaku dalam bisu, namun tatapannya menyapu setiap inci keindahan di hadapannya dengan intensitas yang membakar sebuah pandangan gelap yang membuktikan bahwa ini bukan lagi sekadar keinginan biasa, melainkan sebuah obsesi yang bertahta."Sepertinya kamu kembali nakal, ya?" Ryan akhirnya memecah kesunyian, suaranya berat oleh gejolak yang ia kunci rapat. "Tabiat aslimu yang dulu berani, menggoda, tidak takut. Kembali lagi setelah sekian lama kau sembunyikan."Casy membuka mata, menantang tatapan itu dengan sisa keberaniannya. "Dari awal aku memang seperti ini.""Bagus." gumam Ryan. "Karena aku pun sudah mencapai batas untuk tetap bersikap tenang."Ia mendekatkan wajahnya. Hawa panas dari napasn
Pintu kamar utama tertutup dengan dentuman keras akibat tendangan Ryan, memecah kesunyian malam layaknya guntur. Cahaya lampu nakas yang temaram menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding saat Ryan melangkah mantap menuju peraduan megahnya.Ryan membungkuk, menangkup wajah Casy dengan klaim penuh. "Melihat pria lain menyentuhmu di kampus tadi... itu menyulut sesuatu yang gelap di dalam diriku." bisiknya serak. Casy justru menyambut api itu dengan tatapan provokatif. "Dan sesuatu itu... ingin memilikiku sekarang?" Jawaban itu memicu erangan rendah dari dada Ryan, sebelum ia kembali menenggelamkan Casy dalam dekapan rasa yang lebih dalam.Ryan mengukirkan klaimnya di sana sebuah tanda kepemilikan di ceruk leher yang membuat Casy memekik parau. Tanpa ampun, ia beralih ke bahu, memberikan pemujaan intens pada kulit seputih pualam yang kini merona hebat. "Ryan..." rintih Casy, jemarinya mencengkeram bahu kokoh itu saat pertahanannya luluh totalSetelah meras
Ryan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah moody Casy yang bisa berubah dari penggoda menjadi manja dalam hitungan detik. "Tadi baru bangun, sekarang sudah menguap lagi. Kau ini sebenarnya manusia atau koala?""Koala yang cantik kan?" Casy menyandarkan kepalanya di bahu Ryan, menghirup aroma tubuh pria itu yang membuatnya merasa sangat nyaman. "Cepat masak sana! Aku tunggu di meja makan. Kalau lama, aku tidur lagi nih!"Casy turun dari kasur dengan langkah yang sedikit gontai namun tetap berusaha terlihat anggun meskipun ujung rambutnya berantakan. Ia sempat menoleh ke arah Ryan dan mengedipkan sebelah matanya sebelum keluar kamar.Ryan hanya bisa terpaku di tepi ranjang, menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak di dadanya. Casyena Lexton benar-benar racun. Gadis itu tahu persis bagaimana cara membuat Ryan bertekuk lutut, bahkan dalam kondisi lemas karena mengantuk sekalipun."Sial," umpat Ryan pelan sambil tersenyum tipis. "Kenapa aku bisa jat
Siang itu, perpustakaan kampus terasa begitu nyaman, atau mungkin tubuh Casy saja yang sedang sangat merindukan bantal. Di depannya, buku teks hukum setebal lima ratus halaman terbuka lebar, namun mata Casy sudah terpejam rapat. Tangannya masih memegang pena, tapi garis yang dihasilkan hanya coretan panjang tak beraturan karena ia tertidur di tengah-tengah menulis."Cas... Casyena!" Kelly mengguncang bahunya dengan gemas.Casy tersentak, mengusap setetes liur di sudut bibirnya dengan wajah linglung. "Hah? Sudah selesai kelasnya?""Kelas sudah selesai dari satu jam yang lalu, Cas! Kamu tidur nyenyak sekali sampai-sampai aku harus menolak ajakan Leon untuk makan siang karena tidak tega membangunkanmu," keluh Kelly. "Kamu kenapa sih? Padahal semalam kita tidak begadang, kan?""Entahlah, Kel," gumam Casy sambil menguap lebar, matanya masih merah karena kantuk yang terasa begitu berat. "Badanku rasanya seperti kapas. Lemas sekali. Rasanya kalau disuruh lari
Sinar matahari yang menyeruak masuk dari celah gorden terasa seperti jarum yang menusuk langsung ke bola mata Ryan. Ia mengerang, membalikkan tubuhnya sambil memegang kepala yang terasa sangat berat, seolah baru saja dihantam benda tumpul.Ryan berusaha duduk, bersandar pada kepala ranjang yang terasa asing. Saat itulah ia menyadari ini bukan kamarnya. Interior hotel yang mewah namun kaku menyambut pandangannya. Ingatannya berputar mundur kafe, Vanessa, gelas-gelas alkohol dengan kadar tinggi dan setelah itu, semuanya gelap gulita."Sial, seberapa banyak aku minum semalam?" gumamnya serak.Ia bangkit dengan langkah sempoyongan. Saat melewati cermin besar menuju kamar mandi, ia sempat terhenti. Ada aroma parfum yang tertinggal di udara, aroma yang tajam dan bukan miliknya. Namun karena kepalanya yang berdenyut hebat, ia mengabaikan intuisi itu.Setelah membasuh wajah dengan air dingin, Ryan kembali ke area tempat tidur dan menemukan secarik kertas hotel
Lampu temaram di cafe bar itu berkilauan memantul di gelas-gelas kristal, menciptakan suasana melankolis yang pas untuk sebuah perpisahan. Ryan duduk dengan tenang, kemeja hitamnya yang dibuka dua kancing teratas memberikan kesan maskulin yang dingin. Ia datang bukan karena rindu, namun karena rasa bersalah yang menggerogoti nuraninya memaksa pria itu untuk tetap duduk.sepercik rasa iba. Ia sadar telah menggunakan Vanessa sebagai tameng untuk memicu cemburu Casy. Malam ini, ia ingin menutup buku itu selamanya."Jujur saja, Ryan. Sejak awal, kau memang tidak pernah benar-benar mencintaiku," suara Vanessa terdengar datar, namun tajam menyayat keheningan di antara mereka.Ryan menarik napas panjang, menatap wanita yang pernah ia jadikan tameng untuk memicu kecemburuan Casyena. "Maaf," jawabnya singkat. Sebuah kata yang terdengar begitu dingin dan tidak memadai untuk semua sandiwara yang telah ia mainkan.Vanessa tersenyum kecut, jemarinya mempermainkan pi







