Compartir

5

Autor: Liaastory
last update Fecha de publicación: 2026-04-21 15:02:05

Casy dengan semangat menekan bel rumah mewah keluarga Callister, tas ranselnya masih tergantung di pundak. Saat pintu terbuka, wajahnya langsung disambut senyum hangat Venna.

"Tante, aku mampir, gapapa kan?" ucap Casy dengan suara riang, matanya berbinar-binar.

"Sayangku! Ayo masuk!" seru Venna sambil memeluknya erat. "Tante justru senang sekali kamu pulang kampus langsung mampir ke sini! Kamu sudah seperti anak sendiri bagiku."

Darius yang sedang turun dari tangga ikut tersenyum melihat kehadiran Casy. "Loh, ada Casy ternyata!"

"Halo, Om!" sapa Casy dengan manis, melambaikan tangannya kecil.

"Kamu mau pergi ya, Tante?" tanya Casy memperhatikan Venna dan Darius yang sudah berdandan rapi.

"Iya, sayang. Kami ada acara charity malam ini," jawab Venna sambil merapikan gaunnya. "Tante tidak bisa menemanimu, gapapa kan? Kamu istirahat saja di sini. Tadi tante masak banyak, nanti kamu makan ya. Sebentar lagi Ryan pasti pulang."

Wajah Casy berubah dari sedikit kecewa menjadi bersinar-sinar. Inilah yang ditunggu-tunggunya! Hatinya berdesir penuh antisipasi.

"Gapapa kok, Tante! Tante dan Om hati-hati di jalan ya!" ucap Casy sambil memeluk Venna erat-erat, tak lupa melambaikan tangan pada Darius yang sudah menunggu di mobil.

Begitu pintu tertutup dan mobil mereka menjauh, Casy tak bisa menahan kegembiraannya. Dia melakukan little happy dance di hall rumah yang megah.

"Yes! Akhirnya bisa berduaan sama Om Ryan!" bisiknya sambil mengepalkan tangan kecilnya, berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang dapat hadiah. Jantungnya berdebar kencang membayangkan kesempatan langka ini.

Dengan penuh keyakinan, Casyena melemparkan jaket kuliahnya ke sofa kulit mewah, lalu melenggak-lenggokkan tubuhnya sambil mengibaskan rambut curly-nya yang sudah didandani khusus. Di depan kaca besar di ruang tamu, ia memeriksa penampilannya sekali lagi black bodycon dress-nya masih sempurna, makeup-nya tetap flawless.

"Kini saatnya Casyena Lexton yang cantik dan aduhai ini beraksi!" gumamnya dengan senyum penuh kemenangan sambil menatap bayangannya sendiri. Matanya berbinar-binar seperti pemburu yang sedang menyiapkan perangkap. "Om Ryan, awas aja! Hari ini kamu gak bakal bisa kabur dari pesonaku!"

*****

Ryan membuka pintu dengan gerakan lesu, wajahnya menunjukkan kelelahan seharian bekerja. Tangannya yang perkasa menarik dasi hitamnya dengan gerakan kasar, membuatnya sedikit longgar, diikuti dengan melepaskan kancing baju teratas yang memperlihatkan lekuk lehernya yang maskulin. Saat matanya yang tajam memandang ke ruang tamu, alisnya langsung naik.

Di sofa kulit putih, Casy terbaring dengan pose yang sengaja dibuat sensual. Tubuhnya meliuk bak kucing, satu tangan menopang kepala, sementara kaki mulusnya disilangkan dengan anggun. Gaun hitamnya naik sedikit ke paha, memperlihatkan kulitnya yang mulus.

"Halo, Om... Sudah pulang?" suara Casy terdengar berat dan berisi, berbeda dari biasanya. Dia bangkit dengan gerakan lambat, seperti panther yang bangun dari tidurnya.

Dia berjalan mendekati Ryan dengan langkah penuh percaya diri, pinggulnya bergoyang lembut. Saat sampai di dekat dinding, dia menyandarkan tubuhnya, satu tangan di pinggang, mata berbinar dengan tantangan.

"Lihat nih, adik manis lagi nungguin Om pulang..." bisiknya sambil menggigit bibir bawahnya yang merah. "Siap melayani Om, atau, Mas..."

Ryan menghela napas panjang, matanya menyipit. Tapi kali ini, tatapannya tidak langsung berpaling. Untuk beberapa detik, matanya seolah terpaku pada lekuk tubuh Casy yang terpampang jelas di balik gaun ketatnya.

"Aduh, Om... Kok diam aja?" Casy mendekat lagi, jarinya memainkan ujung rambutnya. "Capek ya seharian kerja? Mau aku pijitin?"

Ryan akhirnya bergerak, tapi bukan menolak. Dia melemparkan dasinya ke kursi, matanya masih tertancap pada Casy. "Kamu tidak pernah berhenti, ya?"

Casy tersenyum menggoda, merasa akhirnya mendapat perhatian. "Kan kata Tante Venna, aku harus jagain Om baik-baik..."

*****

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   48

    Begitu pintu mobil tertutup, suara riuh kampus yang hingar-bingar langsung lenyap. Hanya ada keheningan dan aroma maskulin dari parfum Ryan yang memenuhi indra Casy. Ryan langsung memacu mobilnya, namun pandangannya sempat melirik ke arah Casy yang masih tersenyum bangga.​"Puas?" tanya Ryan sambil melirik lengannya yang baru saja dilepaskan Casy. "Sepertinya kamu baru saja menandai wilayahmu di depan satu kampus.Casy hanya terkekeh, kepalanya menyandar santai di sandaran jok kulit mobil. "Tentu saja! Biar semua tahu kalau Om Ryan ini sudah ada yang punya. Nanti kalau tidak begitu, Om bisa diterkam mahasiswi genit lain."Ryan mendengus, namun sudut bibirnya terangkat tipis. Ia mulai menjalankan mobilnya perlahan. "Kita ke restoran fine dining yang biasa? Aku sudah pesan tempat."​Casy tiba-tiba mengerutkan kening. Entah kenapa, membayangkan aroma daging panggang kelas atas dan saus truffle yang biasanya ia puja malah membuatnya merasa sedikit enek. "Ngga

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   47

    Suasana kantin siang itu sangat riuh, namun Casy tampak tidak peduli. Di depannya tersaji sepiring mangga muda dengan sambal garam dan semangkuk bakso dengan cuka yang cukup banyak, makanan yang biasanya selalu ia hindari karena perutnya yang sensitif.Kelly meletakkan jus jeruknya dengan bunyi tuk yang keras, matanya membelalak menatap piring sahabatnya. "Casy, serius? Sejak kapan kamu doyan makanan asam dan menyengat begitu? Bukannya dulu mencium baunya saja kamu sudah mual?"Casy mengunyah potongan mangga itu dengan nikmat, seolah itu adalah makanan termewah di dunia. "Entahlah, Kelly. Tiba-tiba saja lidahku ingin sekali makan ini. Rasanya segar," jawabnya santai."Aneh sekali. Kamu seperti orang yang..." Kalimat Kelly menggantung. Saat Casy menunduk untuk mengambil kuah bakso, rambutnya tersibak ke samping. Mata Kelly menangkap bercak kemerahan yang kontras di kulit leher Casy yang putih."Casy! Lehermu kenapa?!" tanya Kelly setengah berteriak, hampir

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   46

    Casy merasa dunianya telah runtuh sepenuhnya sebuah penyerahan jiwa dan raga yang tak lagi memiliki pembatas. Udara dingin menyentuh pusat dari segala kehangatannya, memicu jenggala rasa yang membuatnya menggigil hebat.​Ryan tidak terburu-buru. Ia hanya terpaku dalam bisu, namun tatapannya menyapu setiap inci keindahan di hadapannya dengan intensitas yang membakar sebuah pandangan gelap yang membuktikan bahwa ini bukan lagi sekadar keinginan biasa, melainkan sebuah obsesi yang bertahta.​"Sepertinya kamu kembali nakal, ya?" Ryan akhirnya memecah kesunyian, suaranya berat oleh gejolak yang ia kunci rapat. "Tabiat aslimu yang dulu berani, menggoda, tidak takut. Kembali lagi setelah sekian lama kau sembunyikan."​Casy membuka mata, menantang tatapan itu dengan sisa keberaniannya. "Dari awal aku memang seperti ini."​"Bagus." gumam Ryan. "Karena aku pun sudah mencapai batas untuk tetap bersikap tenang."​Ia mendekatkan wajahnya. Hawa panas dari napasn

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   45

    Pintu kamar utama tertutup dengan dentuman keras akibat tendangan Ryan, memecah kesunyian malam layaknya guntur. Cahaya lampu nakas yang temaram menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding saat Ryan melangkah mantap menuju peraduan megahnya.​Ryan membungkuk, menangkup wajah Casy dengan klaim penuh. "Melihat pria lain menyentuhmu di kampus tadi... itu menyulut sesuatu yang gelap di dalam diriku." bisiknya serak. Casy justru menyambut api itu dengan tatapan provokatif. "Dan sesuatu itu... ingin memilikiku sekarang?" Jawaban itu memicu erangan rendah dari dada Ryan, sebelum ia kembali menenggelamkan Casy dalam dekapan rasa yang lebih dalam.​Ryan mengukirkan klaimnya di sana sebuah tanda kepemilikan di ceruk leher yang membuat Casy memekik parau. Tanpa ampun, ia beralih ke bahu, memberikan pemujaan intens pada kulit seputih pualam yang kini merona hebat. "Ryan..." rintih Casy, jemarinya mencengkeram bahu kokoh itu saat pertahanannya luluh total​Setelah meras

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   44

    Ryan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah moody Casy yang bisa berubah dari penggoda menjadi manja dalam hitungan detik. "Tadi baru bangun, sekarang sudah menguap lagi. Kau ini sebenarnya manusia atau koala?""Koala yang cantik kan?" Casy menyandarkan kepalanya di bahu Ryan, menghirup aroma tubuh pria itu yang membuatnya merasa sangat nyaman. "Cepat masak sana! Aku tunggu di meja makan. Kalau lama, aku tidur lagi nih!"Casy turun dari kasur dengan langkah yang sedikit gontai namun tetap berusaha terlihat anggun meskipun ujung rambutnya berantakan. Ia sempat menoleh ke arah Ryan dan mengedipkan sebelah matanya sebelum keluar kamar.Ryan hanya bisa terpaku di tepi ranjang, menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak di dadanya. Casyena Lexton benar-benar racun. Gadis itu tahu persis bagaimana cara membuat Ryan bertekuk lutut, bahkan dalam kondisi lemas karena mengantuk sekalipun."Sial," umpat Ryan pelan sambil tersenyum tipis. "Kenapa aku bisa jat

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   43

    Siang itu, perpustakaan kampus terasa begitu nyaman, atau mungkin tubuh Casy saja yang sedang sangat merindukan bantal. Di depannya, buku teks hukum setebal lima ratus halaman terbuka lebar, namun mata Casy sudah terpejam rapat. Tangannya masih memegang pena, tapi garis yang dihasilkan hanya coretan panjang tak beraturan karena ia tertidur di tengah-tengah menulis.​"Cas... Casyena!" Kelly mengguncang bahunya dengan gemas.​Casy tersentak, mengusap setetes liur di sudut bibirnya dengan wajah linglung. "Hah? Sudah selesai kelasnya?"​"Kelas sudah selesai dari satu jam yang lalu, Cas! Kamu tidur nyenyak sekali sampai-sampai aku harus menolak ajakan Leon untuk makan siang karena tidak tega membangunkanmu," keluh Kelly. "Kamu kenapa sih? Padahal semalam kita tidak begadang, kan?"​"Entahlah, Kel," gumam Casy sambil menguap lebar, matanya masih merah karena kantuk yang terasa begitu berat. "Badanku rasanya seperti kapas. Lemas sekali. Rasanya kalau disuruh lari

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status