Share

3

Penulis: Liaastory
last update Tanggal publikasi: 2026-04-21 15:00:22

Suasana makan malam berlangsung dengan dinamika yang menarik. Ryan duduk tegak dengan wajahnya yang masih dingin bagai es, dengan sengaja menghindari kontak mata dengan Casy yang duduk di seberangnya.

"Casy sekarang sudah mulai kuliah, ya?" tanya Darius, Ayah Ryan dengan ramah, mencoba memecah keheningan yang canggung.

Dengan senyum manis nan memikat, Casy menjawab, "Iya, Om. Baru saja masuk semester pertama."

Venna tak ketinggalan menambahkan dengan bangga. "Casy sekarang sudah mandiri lho! Dia tinggal sendiri di apartemen yang tak jauh dari sini!"

Darius tertawa geli. "Pasti sulit mendapat izin dari Edward dan Marcus untuk melepasmu hidup mandiri?"

"Awalnya memang sulit, Om." aku Casy dengan jujur. "Tapi setelah banyak bujukan, akhirnya mereka mengizinkan."

Sementara percakapan mengalir hangat di antara ketiganya, Ryan tetap membisu bagai patung yang terpahat. Merasa diabaikan, Casy pun mulai melakukan aksi provokasi kecil ujung sepatu hak tingginya dengan lembut menyentuh kaki Ryan di balik meja makan.

Ryan yang terganggu langsung menoleh dengan pandangan tajam bagai pedang, namun hanya disambut kedipan mata penuh arti dari Casy. "Astaga!" gerutnya sambil mengusap wajah, berusaha menahan kesabaran yang mulai menipis.

Saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, Casy bersiap untuk pulang. Venna yang khawatir segera meminta tolong, "Ryan, tolong antarkan Casy pulang. Sudah larut, tidak aman untuk gadis muda berjalan sendirian."

Ryan mengangguk patuh meski raut wajahnya menunjukkan keengganan yang jelas. "Ayo!" katanya singkat sambil mengambil kunci mobil.

Sepanjang perjalanan, Casy tak berhenti memandang Ryan dengan tatapan yang membuatnya merasa seperti spesimen langka di laboratorium. Cahaya lampu jalan yang berpendar menerawangi profil wajah Ryan yang tajam, menciptakan bayangan sempurna di dalam mobil yang gelap.

"Sampai kapan kamu akan terus melotot seperti itu?" tanya Ryan akhirnya, suaranya berat menahan kesal.

"Aku sedang mempelajari struktur tulang pipi sempurnamu, Om," jawab Casy dengan polos. "Ini untuk tugas anatomi seni rupa." Senyum kecil mengembang di bibirnya.

Ryan hanya mendesah, mencoba fokus pada jalan di depan. Tangannya menggenggam kemudi sedikit lebih erat.

Sesampainya di apartemen, mobil berhenti dengan halus. "Kita sudah sampai," ucap Ryan singkat, masih menghadap ke depan.

"Loh, sudah sampai?" Casy berpura-pura terkejut. "Aduh, aku sampai tidak sadar karena terlalu terpesona memandangimu, Om." Pipinya sengaja dibuat merah merona.

Ryan tetap diam, tangannya masih memegang kemudi dengan erat.

"Ih, masa tidak dibukakan pintu? Tidak gentelman sekali!" sindir Casy sambil memasang wajah kesal. "Pantas saja masih jomblo di usia segini!"

Dengan helaan napas yang dalam, Ryan akhirnya turun dan membukakan pintu untuknya dengan gerakan agak kasar. "Sudah," katanya pendek.

"Nah, gitu dong! Jadi makin cinta deh sama Om," ucap Casy sambil tersipu malu, melangkah turun dengan anggun.

Namun tiba-tiba.."Aduh!" teriaknya sambil memegangi pergelangan kakinya. "Kakiku keseleo! Sakit, Om..." keluhnya dengan suara lirih dan wajah memelas yang dibuat-buat.

Ryan mengangkat alis, tatapannya skeptis. "Kamu bahkan belum melangkah satu langkah pun dari mobil."

Ini keseleo beneran om, lihat tuh, tuh, aduh! Sakit banget!" Casy semakin berakting dengan sempurna, memasang ekspresi kesakitan yang meyakinkan sambil memegangi kakinya.

Ryan menghela napas kasar, lalu tanpa banyak bicara mengangkatnya dengan mudah dalam gendongan. Casy yang terkejut langsung merasakan jantungnya berdetak kencang, merasakan kekuatan otot-otot Ryan yang menggendongnya dengan stabil. Dengan manja, ia melingkarkan tangannya di bahu Ryan, menikmati aroma parfumnya yang menggoda dan kehangatan tubuhnya.

Setelah menidurkannya di kasur dengan lembut, Ryan berbalik untuk pergi, namun Casy menarik lengannya. "Om, tidak mau mampir sebentar?"

"Casy, aku ini pria dewasa!" tegur Ryan dengan suara berwibawa. "Kamu tidak bisa sembarangan mengajak pria masuk ke kamarmu, bahkan jika itu adalah aku."

"Tapi Om kan bukan orang lain..." jawabnya sambil berpose menggoda di kasur, menjentikkan jarinya. "Rawr!" suaranya menggoda dengan gaya kucing garong, matanya berbinar penuh tantangan.

Ryan menatapnya sejenak, matanya menyipit penuh peringatan. Perlahan ia mendekat, hingga wajah mereka hanya terpisah sejengkal. "Jadi... kamu ingin aku tidur di sini?" suaranya rendah dan berbahaya.

Casy tersenyum dengan jantung berdebar kencang. Perlahan ia memejamkan mata, bibirnya sudah siap menerima apapun yang akan datang. Nafasnya tertahan, menunggu kejadian yang diidam-idamkannya...

Namun yang terjadi justru di luar dugaan Ryan malah menyentil dahinya dengan lembut dan membalutnya dengan selimut hingga seperti mummi. "Eh?!" Casy terkejut, matanya membelalak tak percaya.

"Tidur yang nyenyak." perintah Ryan dengan suara tegas sebelum berbalik pergi tanpa ragu.

"Om! Mau pergi kemana? Om!" teriak Casy, namun Ryan sudah menghilang di balik pintu yang tertutup rapat, meninggalkannya sendirian dengan perasaan campur aduk.

"Ih, susah banget sih naklukin orang ini!" gerutnya sambil memukul-mukul bantal dalam frustrasi. Tapi kemudian senyum licik muncul di bibirnya. "Tapi yang hot-hot memang selalu sulit digapai! Tenang Casy, sesulit apapun dia, tidak mungkin dia tidak tergoda!" kekehnya dengan percaya diri sambil memeluk bantal erat-erat.

Sementara di luar, Ryan berjalan cepat menuju mobilnya sambil menggeleng-geleng. Gadis itu benar-benar akan membuatnya gila. Tapi anehnya, di sudut bibirnya terbentuk senyum kecil yang tak disadari. Saat mobil melaju, tangannya secara refleks menepuk kemudi dengan ritme gembira, seolah ada sesuatu yang berhasil membuat hari monotonnya menjadi lebih berwarna.

*****

Fajar baru saja menyingsing ketika Casy sudah berdiri di depan cermin lemarinya, tangan terangkat frustrasi. "Apa-apaan ini?" gerutnya, melihat tumpukan baju yang semuanya bergaya innocent dress floral, cardigan pastel, dan blus berlengan puff. "Aku terlihat seperti anak SMA yang tersesat!"

Dia menyadari pilnya. Selama ini, di bawah bayang-bayang tiga Titan hidupnya, penampilannya selalu dijaga agar terlihat manis dan tidak mencolok. Tapi sekarang, di usia 19 tahun dan dengan misi mendesak untuk menaklukkan Ryan Callister, dia butuh perubahan drastis.

"Darren pasti akan mengamuk," gumamnya sambil membayangkan reaksi kakaknya. "Dan Ayah... astaga, Ayah mungkin akan memanggil tim SWAT."

Tapi tekadnya sudah bulat. Dengan make-up matang yang membuatnya terlihat lebih tua beberapa tahun, dan satu-satunya black bodycon dress yang berhasil dia selundupkan ke dalam koper tanpa sepengetahuan keluarganya, Casy merasa seperti agen rahasia yang sedang dalam misi, lalu dia mengambil jaket oversize tambahan untuk di pakainya saat sampai kampus.

Dia memilih apartemen ini dengan satu alasan sederhana: rute Ryan menuju kantor Callister Industries pasti melewati sini. Dan sekarang, dia sudah berdiri gagah di trotoar depan apartemennya. Setelah menyebrang dengan hati-hati, ia memilih spot strategis yang jelas terlihat dari jalan raya. Rambut curlly-nya tertata rapi, makeup-nya flawless, dan black bodycon dress-nya benar-benar berbeda dari gaya busana "anak manis" yang selama ini dipaksakan keluarganya.

Saat mobil hitam Mercedes yang tak asing lagi terlihat dari kejauhan, jantungnya berdebar kencang. Dia merapikan rambut curlly-nya yang sudah dipelajarinya semalam dari tutorial YouTube, dan memasang senyum paling menawan.

"Om Ryan!" teriaknya, melambai-lambaikan tangan dengan girang.

Tapi yang terjadi membuatnya membeku. Mercedes itu melintas begitu saja, bahkan tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan.

Di balik kaca film yang gelap, Casy hampir yakin melihat sosok Ryan sama sekali tidak menoleh.

"APA?!" Casy berdiri terpaku, tangan masih tergantung di udara. Wajahnya memerah padam. "Dia lewat begitu saja? Serius?"

Beberapa pejalan kaki di sekitarnya meliriknya dengan ekspresi aneh.

"Dasar om om jelek!" gerutnya dalam hati. "Masa badan sebesar ini nggak kelihatan!"

Tapi yang tak disadari Casy, di dalam Mercedes yang sudah melaju beberapa meter jauhnya, Ryan justru sedang menggenggam kemudi dengan kuat. Napasnya sedikit tersengal, matanya masih menatap kaca spion yang memperlihatkan siluet Casy yang semakin mengecil.

"Bocah nekad," gumamnya sambil menggeleng. "Pakaian seperti itu di pagi hari? Dia benar-benar tidak tahu batas."

Namun, harus diakui, ada sesuatu yang berdetak tak beraturan di dadanya. Penampilan Casy tadi... sangat berbeda. Sangat... dewasa. Dan Ryan, mau tak mau, menyadari setiap detailnya.

Sementara di luar, Casy sudah mengambil ancang-ancang untuk rencana B. "Oke, kalau cara halus tidak mempan, waktunya pakai cara yang lebih... langsung."

*****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   48

    Begitu pintu mobil tertutup, suara riuh kampus yang hingar-bingar langsung lenyap. Hanya ada keheningan dan aroma maskulin dari parfum Ryan yang memenuhi indra Casy. Ryan langsung memacu mobilnya, namun pandangannya sempat melirik ke arah Casy yang masih tersenyum bangga.​"Puas?" tanya Ryan sambil melirik lengannya yang baru saja dilepaskan Casy. "Sepertinya kamu baru saja menandai wilayahmu di depan satu kampus.Casy hanya terkekeh, kepalanya menyandar santai di sandaran jok kulit mobil. "Tentu saja! Biar semua tahu kalau Om Ryan ini sudah ada yang punya. Nanti kalau tidak begitu, Om bisa diterkam mahasiswi genit lain."Ryan mendengus, namun sudut bibirnya terangkat tipis. Ia mulai menjalankan mobilnya perlahan. "Kita ke restoran fine dining yang biasa? Aku sudah pesan tempat."​Casy tiba-tiba mengerutkan kening. Entah kenapa, membayangkan aroma daging panggang kelas atas dan saus truffle yang biasanya ia puja malah membuatnya merasa sedikit enek. "Ngga

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   47

    Suasana kantin siang itu sangat riuh, namun Casy tampak tidak peduli. Di depannya tersaji sepiring mangga muda dengan sambal garam dan semangkuk bakso dengan cuka yang cukup banyak, makanan yang biasanya selalu ia hindari karena perutnya yang sensitif.Kelly meletakkan jus jeruknya dengan bunyi tuk yang keras, matanya membelalak menatap piring sahabatnya. "Casy, serius? Sejak kapan kamu doyan makanan asam dan menyengat begitu? Bukannya dulu mencium baunya saja kamu sudah mual?"Casy mengunyah potongan mangga itu dengan nikmat, seolah itu adalah makanan termewah di dunia. "Entahlah, Kelly. Tiba-tiba saja lidahku ingin sekali makan ini. Rasanya segar," jawabnya santai."Aneh sekali. Kamu seperti orang yang..." Kalimat Kelly menggantung. Saat Casy menunduk untuk mengambil kuah bakso, rambutnya tersibak ke samping. Mata Kelly menangkap bercak kemerahan yang kontras di kulit leher Casy yang putih."Casy! Lehermu kenapa?!" tanya Kelly setengah berteriak, hampir

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   46

    Casy merasa dunianya telah runtuh sepenuhnya sebuah penyerahan jiwa dan raga yang tak lagi memiliki pembatas. Udara dingin menyentuh pusat dari segala kehangatannya, memicu jenggala rasa yang membuatnya menggigil hebat.​Ryan tidak terburu-buru. Ia hanya terpaku dalam bisu, namun tatapannya menyapu setiap inci keindahan di hadapannya dengan intensitas yang membakar sebuah pandangan gelap yang membuktikan bahwa ini bukan lagi sekadar keinginan biasa, melainkan sebuah obsesi yang bertahta.​"Sepertinya kamu kembali nakal, ya?" Ryan akhirnya memecah kesunyian, suaranya berat oleh gejolak yang ia kunci rapat. "Tabiat aslimu yang dulu berani, menggoda, tidak takut. Kembali lagi setelah sekian lama kau sembunyikan."​Casy membuka mata, menantang tatapan itu dengan sisa keberaniannya. "Dari awal aku memang seperti ini."​"Bagus." gumam Ryan. "Karena aku pun sudah mencapai batas untuk tetap bersikap tenang."​Ia mendekatkan wajahnya. Hawa panas dari napasn

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   45

    Pintu kamar utama tertutup dengan dentuman keras akibat tendangan Ryan, memecah kesunyian malam layaknya guntur. Cahaya lampu nakas yang temaram menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding saat Ryan melangkah mantap menuju peraduan megahnya.​Ryan membungkuk, menangkup wajah Casy dengan klaim penuh. "Melihat pria lain menyentuhmu di kampus tadi... itu menyulut sesuatu yang gelap di dalam diriku." bisiknya serak. Casy justru menyambut api itu dengan tatapan provokatif. "Dan sesuatu itu... ingin memilikiku sekarang?" Jawaban itu memicu erangan rendah dari dada Ryan, sebelum ia kembali menenggelamkan Casy dalam dekapan rasa yang lebih dalam.​Ryan mengukirkan klaimnya di sana sebuah tanda kepemilikan di ceruk leher yang membuat Casy memekik parau. Tanpa ampun, ia beralih ke bahu, memberikan pemujaan intens pada kulit seputih pualam yang kini merona hebat. "Ryan..." rintih Casy, jemarinya mencengkeram bahu kokoh itu saat pertahanannya luluh total​Setelah meras

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   44

    Ryan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah moody Casy yang bisa berubah dari penggoda menjadi manja dalam hitungan detik. "Tadi baru bangun, sekarang sudah menguap lagi. Kau ini sebenarnya manusia atau koala?""Koala yang cantik kan?" Casy menyandarkan kepalanya di bahu Ryan, menghirup aroma tubuh pria itu yang membuatnya merasa sangat nyaman. "Cepat masak sana! Aku tunggu di meja makan. Kalau lama, aku tidur lagi nih!"Casy turun dari kasur dengan langkah yang sedikit gontai namun tetap berusaha terlihat anggun meskipun ujung rambutnya berantakan. Ia sempat menoleh ke arah Ryan dan mengedipkan sebelah matanya sebelum keluar kamar.Ryan hanya bisa terpaku di tepi ranjang, menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak di dadanya. Casyena Lexton benar-benar racun. Gadis itu tahu persis bagaimana cara membuat Ryan bertekuk lutut, bahkan dalam kondisi lemas karena mengantuk sekalipun."Sial," umpat Ryan pelan sambil tersenyum tipis. "Kenapa aku bisa jat

  • Wanita Gila mengejar Om Tampan   43

    Siang itu, perpustakaan kampus terasa begitu nyaman, atau mungkin tubuh Casy saja yang sedang sangat merindukan bantal. Di depannya, buku teks hukum setebal lima ratus halaman terbuka lebar, namun mata Casy sudah terpejam rapat. Tangannya masih memegang pena, tapi garis yang dihasilkan hanya coretan panjang tak beraturan karena ia tertidur di tengah-tengah menulis.​"Cas... Casyena!" Kelly mengguncang bahunya dengan gemas.​Casy tersentak, mengusap setetes liur di sudut bibirnya dengan wajah linglung. "Hah? Sudah selesai kelasnya?"​"Kelas sudah selesai dari satu jam yang lalu, Cas! Kamu tidur nyenyak sekali sampai-sampai aku harus menolak ajakan Leon untuk makan siang karena tidak tega membangunkanmu," keluh Kelly. "Kamu kenapa sih? Padahal semalam kita tidak begadang, kan?"​"Entahlah, Kel," gumam Casy sambil menguap lebar, matanya masih merah karena kantuk yang terasa begitu berat. "Badanku rasanya seperti kapas. Lemas sekali. Rasanya kalau disuruh lari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status