Share

BAB 8

Author: Namaku Malaja
last update publish date: 2025-11-12 19:07:35

Pukul lima pagi Aryana bangun dari tidurnya. Aryana langsung mengompres matanya yang sembap akibat menangis semalaman. Setelah sembapnya berkurang, Aryana keluar kamar menuju dapur. Walaupun Albert menyakiti hatinya, sebagai seorang istri, Aryana tetap berbakti kepada suaminya dengan melakukan kewajibannya membuatkan makanan sang suami.

Bel apartemen berbunyi bertepatan dengan Aryana memasuki dapur. Aryana pun berbalik dan dengan langkah cepat menuju pintu dan membukanya.

“Kakek!” seru Aryana terkejut saat mendapati sosok Alvonso berdiri di depan pintu apartemen.

‘Apa yang Kakek lakukan di sini?’ pikir Aryana takut dengan dada berdebar cepat, dia takut Albert akan marah padanya, apalagi saat ini ada Narana di apartemen mereka. Jika Alvonso tahu, maka sudah dipastikan akan ada keributan di rumah mereka.

Alvonso tersenyum lebar. “Pagi, Aryana. Maaf aku datang ke sini pagi-pagi dan tidak memberitahumu,” ucapnya penuh kelembutan.

Aryana memaksakan senyum lebarnya, sebisa mungkin dia berusaha terlihat senang dengan kedatangan pria tua itu.

“Tidak apa-apa, Kek. Silakan masuk, Kek.” Aryana membuka pintu lebih lebar lagi.

Alvonso pun melangkah masuk.

Pandangan Alvonso menjelajah ke seluruh ruang tamu sambil berjalan menuju sofa dan duduk.

“Mana Albert?” tanya Alvonso.

“Mas Albert masih tidur, Kek. Sebentar ya, Kek, aku buatkan kakek minum,” ucap Aryana yang langsung pergi meninggalkan Alvonso setelah mendapatkan jawaban pria itu.

Akan tetapi, Aryana tidak pergi ke dapur untuk membuat minuman seperti yang dia katakan, melainkan pergi ke kamar Albert. Aryana mengetuk pelan pintu kamar Albert, takut suara ketukannya akan terdengar oleh Alvonso kalau dia mengetuknya dengan keras.

Aryana terus mengetuk pintu kamar Albert karena pria itu tidak kunjung membuka pintu. Sesekali Aryana menoleh ke belakang, takut Alvonso akan menyusulnya. Setelah cukup lama, akhirnya pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Albert dengan wajah marah.

Aryana sudah bisa menebaknya, tapi kali ini dia tidak ingin berdebat. Sebelum Albert membuka mulut untuk memarahinya, Aryana lebih dulu mendorong pintu lebih lebar dan masuk ke kamar Albert, lalu menutup pintu rapat-rapat agar Alvonso tidak mendengar pertengkaran mereka.

“Apa yang kamu lakukan, hah?” teriak Albert murka dengan kelancangan Aryana yang tiba-tiba masuk ke kamarnya tanpa izin.

Aryana mengabaikan kemarahan Albert. Dibandingkan kemarahan Albert, saat ini lebih penting bagi mereka untuk membuat kesan yang baik di hadapan Alvonso.

Saat Aryana membuka mulut untuk memberi tahu kedatangan Alvonso, pandangannya tidak sengaja jatuh pada sosok Narana yang tidur di atas tempat tidur Albert. Selimut menutupi tubuh Narana hingga sebatas dada dengan bagian punggung tersingkap hingga sebatas pinggul, menunjukkan bahwa wanita itu tidak mengenakan pakaian di balik selimut.

Tanpa bertanya, Aryana tahu apa yang sudah dilakukan Albert dan Narana. Hatinya sakit, tapi dia tidak bisa meratapi kemalangannya karena Albert yang kembali membentak. Kali ini bentakan Albert diikuti dengan mencengkeram erat tangan Aryana.

“Keluar kamu dari kamarku! Bukankah sudah kukatakan jangan pernah masuk ke kamarku?”

Albert menyeret Aryana dan membuka pintu untuk mengusir Aryana dari kamarnya.

“Kakek datang,” jawab Aryana cepat sambil menahan sakit di tangannya akibat cengkeraman Albert yang begitu kuat.

Seketika gerakan Albert yang hendak membuka pintu terhenti. Dia menatap tajam Aryana, mencari kejujuran dari ucapan wanita itu.

“Kakek datang berkunjung,” ulang Aryana yang tahu arti dari tatapan Albert.

“Kamu jangan bohong padaku. Untuk apa Kakek datang ke sini pagi-pagi?” tanya Albert yang tentu tidak percaya pada ucapan Aryana. Dia tahu Alvonso menyayangi Aryana, dan Albert berpikir mungkin Aryana mengatakan nama Alvonso agar dirinya takut pada wanita itu.

Aryana menatap Albert dengan tatapan terluka. Bukan karena Albert tidak mempercayai ucapannya, tapi terluka karena Albert sudah berani berhubungan badan dengan wanita lain, meski itu pacar Albert sendiri.

“Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa melihatnya sendiri. Saat ini Kakek ada di ruang tamu,” ucap Aryana, nadanya penuh luka.

Setelah mengatakan itu, Aryana meningggalkan kamar Albert dan menuju dapur. Dengan menahan sesak di dada serta air mata yang menggenang, Aryana dengan cepat membuatkan minuman untuk Alvonso.

Aryana ke ruang tamu dengan nampan di tangan. Senyum lebar menghiasi wajahnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Maaf lama, Kek,” ucap Aryana seraya meletakkan minuman di hadapan Alvonso. “Dan maaf karena tidak bisa memberikan suguhan untuk kakek, soalnya kami belum belanja, Kek.”

“Tidak apa-apa.” Alvonso mengambil cangkir dan meminumnya perlahan.

Alvonso dapat memakluminya. Bagaimanapun mereka baru pindah kemarin.

Sementara itu, setelah kepergian Aryana, Albert membangunkan Narana yang masih tertidur pulas karena aktivitas mereka malam tadi, di mana mereka menghabiskan waktu hingga larut malam.

“Nara, bangun. Cepat bangun, Nara!” panggil Albert sedikit berteriak, panik dengan kedatangan Alvonso di pagi buta.

Narana yang merasa tidurnya terganggu pun bangun dengan wajah kesal. “Ada apa, Al? Kenapa membangunkan aku? Aku masih ngantuk.”

“Cepat bangun dan sembunyi. Kakekku ada di sini sekarang,” ucap Albert cepat seraya memunguti pakaian mereka yang berserakan di lantai.

“Apa?!” pekik Narana yang seketika terduduk, selimut yang menutupi dadanya merosot, menampilkan buah dada yang besar dan kencang. “Bagaimana bisa pagi-pagi kakekmu ke sini? apa Aryana yang memanggilnya?”

“Aku tidak tahu. Yang jelas sekarang kamu sembunyi dulu, berjaga-jaga kalau kakekku mungkin akan curiga dan datang ke sini.”

“Tapi aku harus sembunyi di mana, Al?”

Albert seketika terdiam. Benar. Di mana dia harus menyembunyikan Narana?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 45

    Apartemen Narana.“Ada apa, Al?” tanya Narana ketika mendengar Albert memaki setelah menerima telepon sambil buru-buru mengenakan pakaian.“Kakekku ada di rumah kakek Aryana. Aku harus ke sana sekarang. Atau kalau tidak, semuanya bisa semakin berantakan.”“Kamu yakin kakekmu di sana? Kamuy akin kalau Aryana tidak berbohong?” tanya Narana memastikan.Sejak pulang dari berlibur, Narana sedikit menaruh prasangka kepada Aryana. Dia takut wanita itu akan membalasnya sekarang karena mendapat dukungan dari Alvonso.“Aku yakin dia tidak berani berbohong. Aku sudah mengancamnya dan akan menghukumnya kalau dia sampai mengadu pada Kakek atau membohongiku. Ya sudah, aku pergi dulu, ya.”Albert mencium bibir Narana yang masih berada di tempat tidur sebelum meninggalkan apartemen Narana. Dengan kecepatan tinggi Albert meninggalkan gedung apartemen Narana, menuju rumah Yudha. Beberapa kali dia hampir menabrak mobil lain, tapi dia terus memacu kecepatannya.

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 44

    Aryana tertegun. Tubuhnya menegang. Tapi itu hanya sesaat. Aryana dengan cepat tersenyum lebar. “Aku baik-baik saja, Nek. Nenek tidak perlu mengkhawatirkan aku. Ada Mas Albert yang akan menjagaku.”“Kamu jujur saja pada nenekmu ini, Nak. Jangan berbohong.”“Aku tidak berbohong, Nek. Serius!” Aryana mengangkat tangan dengan membentuk huruf V kepada Sinta.Sinta menghela napas. “Sejujurnya, sejak kamu menikah, perasaan nenek tidak enak. Setiap hari, setiap malam, nenek selalu memikirkanmu. Meski nenek berusaha tidak memikirkannya, tapi entah kenapa hati nenek selalu tidak enak, Aryana. Nenek merasa kamu tidak bahagia di sana.”Aryana kembali dibuat terkejut. Ingatan waktu Sinta dan Yudha menelepon saat dia liburan pun kembali berputar. Di mana Sinta juga mengatakan hal yang sama, jika wanita itu mengkhawatirkan dirinya tepat setelah dia sakit akibat dicambuk oleh Albert.‘Apakah nenek dapat merasakan apa yang aku alami selama ini jika Mas Albert sela

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 43

    Aryana menatap mobil Albert yang semakin menjauh dengan rasa kecewa. Dia pikir Albert benar-benar akan menemaninya pergi ke rumah keluarganya. Tapi ternyata itu hanya angannya saja.“Sepertinya tidak mudah membuat Mas Albert berubah baik padaku seperti sebelumnya. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan merebut kembali Mas Albert dari Narana,” kata Aryana penuh keyakinan jika dia bisa merebut dan membuat Albert kembali mencintai dan menyayanginya seperti sebelumnya.Aryana menatap barang bawaannya yang begitu banyak. Dia mengembuskan napas pelan.“Sepertinya aku harus naik taksi,” ucap Aryana yang berpikir tidak memungkinkannya dia menaiki bus dengan bawaan sebanyak itu sendirian.Aryana pun menghentikan taksi dan melanjutkan perjalanan ke rumah kakeknya.Sementara itu, Albert melajukan kendaraannya ke tempat Narana. Sebelumnya Albert kesal karena Aryana ingin mengunjungi keluarganya tanpa memberitahunya, tapi setelah dia memikirkannya lagi, Albert

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 42

    Argandara menerima kertas itu dengan kening berkerut. “Dari siapa?” tanyanya penasaran.Pramusaji itu menunjuk Aryana yang menyeberang jalan, menghampiri Albert yang berdiri di tepi jalan menunggu taksi. “Dari wanita itu, Kak.”Argandara menatap Aryana sebentar sebelum kembali menatap pramusaji itu dengan senyum lebar. “Terima kasih.”“Sama-sama, Kak.”Pramusaji itu pun meninggalkan mereka.Argandara segera membuka kertas itu.[Arga, maafkan aku. Kami akan pulang hari ini. Malam tadi Mas Albert tiba-tiba mengajak pulang. Aku tidak bisa menemuimu secara langsung untuk memberitahumu, jadi aku hanya bisa menulis ini untukmu. Maafkan aku. Jaga dirimu baik-baik dan hati-hati saat di perjalanan pulang nanti. Aryana.]Kedua sudut bibir Argandara terangkat sedikit. Tidak menyangka Aryana rela mengambil risiko hanya untuk bisa berpamitan kepadanya.Argandara kembali melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celana. Lalu dia menatap k

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 41

    Aryana pun kembali melanjutkan kegiatannya menonton drama. Tepat saat drama yang ditontonnya habis, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Aryana bergegas membuka pintu.“Arga! Apa yang kamu lakukan di sini?!” seru Aryana yang dibuat terkejut hingga jantungnya terasa mau lepas dari rongganya.‘Kenapa Arga harus ke sini, sih? Bagaimana kalau Mas Albert dan Nanara kembali?’ Aryana menjerit dalam hati karena Argandara yang datang ke kamarnya.Argandara tersenyum lebar. Gemas dengan Aryana yang selalu saja menatapnya dengan mata melotot setiap kali bertemu dengannya.“Aku datang ke sini untuk menjengukmu.”“Tunggu di sini!” Aryana kembali menutup pintu tanpa menunggu jawaban Argandara.Argandara tertegun menatap pintu di depannya. Namun, pintu itu kembali terbuka beberapa menit kemudian.Aryana keluar dengan mengenakan jaket kain. “Ayo!” Aryana menarik tangan Argandara menuju l

  • Wanita Kesayangan Sang Pewaris Pengganti   BAB 40

    Albert menatap Narana dengan rasa penasaran. “Sayang, ada apa?”Albert juga merasa aneh dengan Narana yang ekspresinya mendadak berubah saat memasuki kamar.Narana menatap Albert. “Apa kamu tidak menciumnya? Aku mencium parfum orang lain di kamar ini, Al. Aku yakin Aryana pasti sudah membawa orang lain masuk ke kamar kita.”Mendengar itu, Albert pun mengendus bau di sekitarnya. Dan benar, Albert mencium wangi parfum cendana yang kini baunya sudah mulai samar-samar.“Kamu benar, Sayang,” kata Albert, ekspresinya berubah datar. Dia menatap tajam Aryana yang telihat tenang, tapi dadanya sudah bertalu-talu. “Katakan, apa benar yang dikatakan Narana? Kamu membawa orang masuk ke kamar ini?”“Kamu percaya dengannya?” bukannya menjawab, Aryana justru balik bertanya kepada Albert.“Tentu saja! Jadi katakan saja dengan jujur, apa kamu membawa orang lain ke sini?”“Bukan sekedar orang lain, Al. Tapi lebih tepatnya dia membawa masuk seorang pria

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status