LOGINAroma gosong masakan menyadarkan Aryana dari pikiriannya. Bergegas Aryana pergi ke dapur dan mematikan kompor. Ikan yang dimasaknya sudah setengah gosong.
“Ya Tuhan, tolong kuatkan aku menghadapi sikap Mas Albert,” monolog Aryana lirih.
Karena ikan yang dimasaknya tidak layak dimakan, Aryana pun memasak ikan baru.
Setelah semua hidangan tersaji di meja makan, Aryana pergi ke kamar Albert, memanggil pria itu untuk makan malam.
Dari balik pintu, Aryana dapat mendengar samar-samar suara tawa Narana, sesekali terdengar suara tawa Albert. Hati Aryana semakin hancur. Sejak menikah, Albert tidak pernah tertawa saat bersamanya. Jangankan tertawa, tersenyum pun tidak. Kalaupun Albert bersikap hangat kepadanya, itu hanya di hadapan publik dan Alvonso. Saat mereka hanya berdua, Albert bersikap dingin kepadanya.
Tidak ingin mendengar tawa Narana yang semakin menyakiti hatinya, Aryana memberanikan diri mengetuk pintu kamar Albert.
“Mas, makan malam sudah siap,” ucap Aryana dengan sedikit keras, takut Albert tidak mendengar suaranya.
Beberapa lama menunggu, tidak ada sahutan dari Albert. Aryana pun kembali mengetuk pintu, tapi sebelum dia mengetuk, pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Albert yang kini wajahnya berseri, tidak marah seperti sebelumnya.
Albert menatap Aryana sekilas sebelum meninggalkan kamar dengan menggandeng tangan Narana menuju meja makan.
“Aryana, ayo kita makan!” seru Narana kala melihat Aryana masih berdiam diri di depan kamar Albert.
Aryana mengikuti dengan hati hancur.
Saat di meja makan, Aryana hanya bisa terdiam saat Narana lebih dulu melayani Albert.
Narana dan Albert bersenda gurau di sela-sela makan mereka, mengabaikan Aryana. Aryana beberapa kali berdeham untuk menarik perhatian kedua orang itu, tapi mereka tetap bertindak seolah-olah dirinya tidak ada di sana.
“Sayang, malam ini aku menginap di sini, ya? Boleh, kan?” tanya Narana dengan nada manja.
“Ya tentu saja boleh dong, Sayang,” jawab Albert dengan santainya, bahkan senyum lebar menghiasi wajah pria itu.
Narana menoleh ke arah Aryana yang sejak tadi hanya diam saja karena tidak dihiraukan oleh mereka berdua.
“Aryana, kamu tidak keberatan, kan, kalau aku menginap di sini?”
Aryana ingin menolak, tapi saat melihat Albert yang menatapnya tajam, membuat Aryana hanya bisa mengiakan permintaan Narana. “Ya, aku tidak keberatan.”
“Terima kasih, Aryana,” ucap Narana dengan senyum lebar.
Mereka kembali melanjutkan makan dan mengabaikan Aryana.
Aryana hanya bisa menahan sakit hatinya melihat betapa lembutnya Albert saat berbicara dengan Narana. Tatapan mata Albert pun terlihat begitu penuh kasih dan sayang, berbeda saat menatap dirinya, di mana pria itu selalu memasang wajah datar dan tatapan tajam.
Usai makan malam, Albert langsung membawa Narana meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya.
“Mas, kamu kenapa membawanya masuk ke kamarmu?” tanya Aryana yang sudah tidak sanggup melihat sikap suaminya di luar batas. “Kalau Narana ingin menginap, dia bisa tidur bersamaku. Walaupun dia pacarmu, tapi tidak pantas kalau dia tidur bersamamu, Mas.”
Albert dan Narana menatap Aryana dengan sorot mata yang berbeda. Narana menatap Aryana dengan alis terangkat tinggi, sementara Albert menatap tajam Aryana karena menganggap Aryana terlalu ikut campur urusan pribadinya.
“Sayang, apa perlu kita memberi tahu dia mengenai hubungan kita yang sebenarnya?” tanya Narana. “Aku takut dia akan semakin salah paham dengan kita. Aku tidak mau dituduh merebutmu darinya. Apalagi sampai ada rumor itu menyebar ke publik.”
Aryana tertegun mendengar ucapan Narana. Kenapa Narana berkata seperti itu? Bukankah sudah jelas jika mereka berdua berpacaran dan Narana merupakan orang ketiga dalam rumah tangganya bersama Albert? Meskipun Albert dan Narana sudah berpacaran, tetapi statusnya sebagai istri Albert lebih tinggi dibandingkan Narana yang hanya sekadar pacar Albert.
“Tidak sekarang, Sayang. Aku takut dia akan mengadu pada Kakek, dan aku takut itu bisa merusak rencana kita. Aku harap kamu bersabar, ya?” Albert menggenggam tangan Narana untuk menenangkan wanita itu, lalu Albert menatap tajam Aryana.
“Dan kamu!” Albert menunjuk Aryana tepat di wajah. Matanya mendelik marah. “Sudah kukatakan untuk tidak pernah ikut campur urusan pribadiku. Kalau kamu masih berani ikut campur urusan pribadiku lagi, aku benar-benar tidak akan segan memberimu pelajaran. Ingat itu baik-baik.”
Setelah mengatakan itu, Albert membawa Narana menuju kamar.
Aryana hanya bisa memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak. Air mata menetes tanpa bisa dibendung. Aryana tidak tahu kenapa Albert bersikap kejam kepadanya. Apakah pernikahan mereka ini tidak ada artinya di mata Albert?
Dan apa tadi? Rencana?
Sebenarnya apa yang Albert dan Narana rencanakan?
Mungkinkah Albert menikahinya hanya untuk mendapatkan harta warisan Alvonso? Apakah dirinya adalah syarat dari Alvonso supaya Albert bisa mendapatkan harta warisan itu dengan cara menikahinya?
Memikirkan hal itu, mendadak dada Aryana semakin sakit. Bahkan dirinya kesulitan bernapas.
‘Ya Tuhan, tolong beri aku kekuatan menghadapi ini semua,’ doa Aryana dalam hati.
Dengan langkah pelan Aryana kembali ke kamarnya. Sepanjang malam dirinya menangis tanpa suara di atas tempat tidur. Membayangkan penderitaan apa lagi yang akan Albert berikan kepadanya.
Apartemen Narana.“Ada apa, Al?” tanya Narana ketika mendengar Albert memaki setelah menerima telepon sambil buru-buru mengenakan pakaian.“Kakekku ada di rumah kakek Aryana. Aku harus ke sana sekarang. Atau kalau tidak, semuanya bisa semakin berantakan.”“Kamu yakin kakekmu di sana? Kamuy akin kalau Aryana tidak berbohong?” tanya Narana memastikan.Sejak pulang dari berlibur, Narana sedikit menaruh prasangka kepada Aryana. Dia takut wanita itu akan membalasnya sekarang karena mendapat dukungan dari Alvonso.“Aku yakin dia tidak berani berbohong. Aku sudah mengancamnya dan akan menghukumnya kalau dia sampai mengadu pada Kakek atau membohongiku. Ya sudah, aku pergi dulu, ya.”Albert mencium bibir Narana yang masih berada di tempat tidur sebelum meninggalkan apartemen Narana. Dengan kecepatan tinggi Albert meninggalkan gedung apartemen Narana, menuju rumah Yudha. Beberapa kali dia hampir menabrak mobil lain, tapi dia terus memacu kecepatannya.
Aryana tertegun. Tubuhnya menegang. Tapi itu hanya sesaat. Aryana dengan cepat tersenyum lebar. “Aku baik-baik saja, Nek. Nenek tidak perlu mengkhawatirkan aku. Ada Mas Albert yang akan menjagaku.”“Kamu jujur saja pada nenekmu ini, Nak. Jangan berbohong.”“Aku tidak berbohong, Nek. Serius!” Aryana mengangkat tangan dengan membentuk huruf V kepada Sinta.Sinta menghela napas. “Sejujurnya, sejak kamu menikah, perasaan nenek tidak enak. Setiap hari, setiap malam, nenek selalu memikirkanmu. Meski nenek berusaha tidak memikirkannya, tapi entah kenapa hati nenek selalu tidak enak, Aryana. Nenek merasa kamu tidak bahagia di sana.”Aryana kembali dibuat terkejut. Ingatan waktu Sinta dan Yudha menelepon saat dia liburan pun kembali berputar. Di mana Sinta juga mengatakan hal yang sama, jika wanita itu mengkhawatirkan dirinya tepat setelah dia sakit akibat dicambuk oleh Albert.‘Apakah nenek dapat merasakan apa yang aku alami selama ini jika Mas Albert sela
Aryana menatap mobil Albert yang semakin menjauh dengan rasa kecewa. Dia pikir Albert benar-benar akan menemaninya pergi ke rumah keluarganya. Tapi ternyata itu hanya angannya saja.“Sepertinya tidak mudah membuat Mas Albert berubah baik padaku seperti sebelumnya. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan merebut kembali Mas Albert dari Narana,” kata Aryana penuh keyakinan jika dia bisa merebut dan membuat Albert kembali mencintai dan menyayanginya seperti sebelumnya.Aryana menatap barang bawaannya yang begitu banyak. Dia mengembuskan napas pelan.“Sepertinya aku harus naik taksi,” ucap Aryana yang berpikir tidak memungkinkannya dia menaiki bus dengan bawaan sebanyak itu sendirian.Aryana pun menghentikan taksi dan melanjutkan perjalanan ke rumah kakeknya.Sementara itu, Albert melajukan kendaraannya ke tempat Narana. Sebelumnya Albert kesal karena Aryana ingin mengunjungi keluarganya tanpa memberitahunya, tapi setelah dia memikirkannya lagi, Albert
Argandara menerima kertas itu dengan kening berkerut. “Dari siapa?” tanyanya penasaran.Pramusaji itu menunjuk Aryana yang menyeberang jalan, menghampiri Albert yang berdiri di tepi jalan menunggu taksi. “Dari wanita itu, Kak.”Argandara menatap Aryana sebentar sebelum kembali menatap pramusaji itu dengan senyum lebar. “Terima kasih.”“Sama-sama, Kak.”Pramusaji itu pun meninggalkan mereka.Argandara segera membuka kertas itu.[Arga, maafkan aku. Kami akan pulang hari ini. Malam tadi Mas Albert tiba-tiba mengajak pulang. Aku tidak bisa menemuimu secara langsung untuk memberitahumu, jadi aku hanya bisa menulis ini untukmu. Maafkan aku. Jaga dirimu baik-baik dan hati-hati saat di perjalanan pulang nanti. Aryana.]Kedua sudut bibir Argandara terangkat sedikit. Tidak menyangka Aryana rela mengambil risiko hanya untuk bisa berpamitan kepadanya.Argandara kembali melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celana. Lalu dia menatap k
Aryana pun kembali melanjutkan kegiatannya menonton drama. Tepat saat drama yang ditontonnya habis, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Aryana bergegas membuka pintu.“Arga! Apa yang kamu lakukan di sini?!” seru Aryana yang dibuat terkejut hingga jantungnya terasa mau lepas dari rongganya.‘Kenapa Arga harus ke sini, sih? Bagaimana kalau Mas Albert dan Nanara kembali?’ Aryana menjerit dalam hati karena Argandara yang datang ke kamarnya.Argandara tersenyum lebar. Gemas dengan Aryana yang selalu saja menatapnya dengan mata melotot setiap kali bertemu dengannya.“Aku datang ke sini untuk menjengukmu.”“Tunggu di sini!” Aryana kembali menutup pintu tanpa menunggu jawaban Argandara.Argandara tertegun menatap pintu di depannya. Namun, pintu itu kembali terbuka beberapa menit kemudian.Aryana keluar dengan mengenakan jaket kain. “Ayo!” Aryana menarik tangan Argandara menuju l
Albert menatap Narana dengan rasa penasaran. “Sayang, ada apa?”Albert juga merasa aneh dengan Narana yang ekspresinya mendadak berubah saat memasuki kamar.Narana menatap Albert. “Apa kamu tidak menciumnya? Aku mencium parfum orang lain di kamar ini, Al. Aku yakin Aryana pasti sudah membawa orang lain masuk ke kamar kita.”Mendengar itu, Albert pun mengendus bau di sekitarnya. Dan benar, Albert mencium wangi parfum cendana yang kini baunya sudah mulai samar-samar.“Kamu benar, Sayang,” kata Albert, ekspresinya berubah datar. Dia menatap tajam Aryana yang telihat tenang, tapi dadanya sudah bertalu-talu. “Katakan, apa benar yang dikatakan Narana? Kamu membawa orang masuk ke kamar ini?”“Kamu percaya dengannya?” bukannya menjawab, Aryana justru balik bertanya kepada Albert.“Tentu saja! Jadi katakan saja dengan jujur, apa kamu membawa orang lain ke sini?”“Bukan sekedar orang lain, Al. Tapi lebih tepatnya dia membawa masuk seorang pria







