MasukWanita Lain di Ranjang Suamiku (7)
"Pak Wahyu? Ada apa, ya sepertinya ada yang penting?" tanyaku pada Pak Wahyu. Beliau adalah pemilik toko bangunan di desa kami. "Begini Anjani, saya ke sini mau nagih hutang sama kamu. Kata Bu Ida, mertuamu, kamu mau bayar hutangmu hari ini." Penuturan Pak Wahyu sontak membuatku kaget. Kenapa lagi-lagi aku dihadapkan dengan utang tidak jelas? Pasti ini ulah Mas Rendy dan ibunya lagi. Dasar keluarga sampah cuma bisa membuatku susah. "Hutang apa, ya, Pak? Saya merasa nggak pernah punya utang ke Bapak?" "Memang bukan kamu yang berhutang ke toko saya, Anjani. Tapi nama kamu yang dipakai Rendy dalam catatan bon saya." Astaghfirullah! Mas Rendy benar-benar jahat! Tega sekali dia menjadikan diri ini tumbal demi bisa berhutang. Aku jadi penasaran, bahan bangunan apa yang diambil dari toko Pak Wahyu? Sementara tak satu pun dari bagian rumah berubah. Termasuk beranda yang katanya waktu itu direnovasi. "Begini, Pak Wahyu. Saya benar-benar tidak tahu perihal ini. Karena memang rumah saya tidak ada yang diperbaiki maupun direnovasi oleh Rendy. Jadi maaf sekali, saya tidak bisa membayar hutang itu karena memang bukan saya yang berhutang. Sebaiknya Pak Wahyu minta aja langsung ke Rendy atau Bu Ida." "Tolonglah bayar, Anjani. Hutang itu sudah enam bulan. Sudah saya tagih ke Rendy dan Bu Ida, tapi mereka bilang itu hutang kamu." Aku menghela napas panjang. Rasanya udara begitu sulit masuk ke dada ini. Pulang merantau ingin bersantai, tapi ternyata malah dikejar oleh orang-orang yang menagih utangnya Mas Rendy. Menyebalkan! Padahal, waktu Mas Rendy bilang mau merenovasi beranda rumah, aku sudah mengirimkan uang untuk keperluan itu. Namun, nyatanya aku dibohongi dan dibodohi. "Maaf, Pak. Saya nggak bisa bayar karena saya nggak pernah berhutang ke Bapak. Maaf, saya permisi." Aku bicara sambil kembali menggandeng tangan Chika. "Ayo, Nak," ajakku pada Chika. "Hei, Anjani! Mau ke mana kamu bawa Chika?! Tiba-tiba ibunya Mas Rendy muncul. Dia itu sudah seperti hantu. Suka sekali muncul secara tiba-tiba. "Terserah aku mau bawa Chika ke mana, dia, kan anakku!" "Nggak bisa! Dia itu juga anaknya Rendy, mana bisa main bawa aja!" Aku menggeleng-gelengkan kepala. Seulas senyum aku umbar. Bukan karena senang, tapi merasa lucu mendengar ucapan ibunya Mas Rendy. Sikapnya seolah-olah peduli dan perhatian pada Chika. Paling-paling cuma mau cari muka di hadapan Pak Wahyu. Ujung-ujungnya mau menjatuhkan aku di hadapan orang-orang. Hmm ... playing victim! "Chika nggak mau sama nenek! Chika mau sama Bunda aja!" seru Chika. Bocah itu menolak tanpa aku minta. Kapokmu kapan, Bu Ida? "Dengar sendiri, kan? Chika milih ikut aku. Udahlah, yuk, Nak. Percuma bicara sama nenekmu itu." Aku kembali mengayunkan langkah dan diikuti oleh Chika. Namun, tiba-tiba ibunya Mas Rendy menarik tangan Chika. "Chika sama nenek aja, ya. Nanti nenek beliin Chika mainan dan makanan kesukaan Chika," rayu Bu Ida pada Chika. Dasar nenek sihir! Dia pikir Chika akan tertarik? "Nggak mau! Nenek pembohong! Nenek, kan nggak sayang aku! Nenek sayangnya sama Dea! Bukan aku!" Ada yang nyeri di ulu hati. Ucapan Chika mampu membuat jantungku berdegup kencang. Aku jadi penasaran, perhatian seperti apa yang sering ditunjukkan ibunya Mas Rendy pada Dea? Kenapa Chika yang notabenenya anak kecil bisa sampai mengatakan kalimat seperti itu? "Chika! Kenapa ngomong begitu? Ini pasti ulah kamu, kan Anjani?! Kamu, kan yang mengajari Chika ngomong begitu?" Oh Allah ... manusia di depan hamba ini sangat menjengkelkan dan membuat emosi. Berikanlah dia kesadaran agar tak terus-terusan mengganggu ketenteraman hidupku. Aamiin. "Chika, yuk kita pergi sekarang, Nak. Nggak guna meladeni nenekmu." Aku kembali menggandeng tangan Chika. Aku berniat melanjutkan perjalanan mencari tempat tinggal sementara sebelum menemukan rumah baru yang pas dan cocok. "Pantas anakku muak sama kamu! Orang tua ngomong nggak menghargai main pergi-pergi aja!" "Ngomel aja terus. Emang aku peduli? Paling situ yang capek," ujarku sambil terus berjalan. Dia pikir anak tercintanya saja yang muak? Aku juga. *** Rasanya nyaman sekali merebahkan diri di ranjang setelah seharian berkeliling mencari tempat tinggal. Alhamdulillah, kini aku dan Chika sudah tinggal di sebuah kontrakan yang lumayan nyaman. Yang paling penting, kami sudah jauh dari Mas Rendy dan ibunya. Itu yang utama. "Bunda, Chika takut kalo misalnya ayah atau nenek tiba-tiba datang ke sini dan bawa Chika pergi. Chika nggak mau pisah sama Bunda lagi." Chika yang sejak tadi gelisah akhirnya mau mengungkapkan kekhawatirannya. Aku langsung mendekap Chika. Menyalurkan kenyamanan lewat pelukan. "Chika jangan takut. Mereka nggak akan bisa misahin kita." "Bunda jangan pergi kerja jauh-jauh lagi, ya. Bunda kerja di sini aja. Nggak apa-apa uangnya sedikit, asalkan tetap sama Chika." Aku menangkup wajah tirus Chika. Kemudian mengangguk setelah bola mata gadis kecil itu menatapku lurus. Aku memang sudah berniat tidak akan kembali bekerja menjadi TKW. Rencananya aku mau usaha kecil-kecilan seperti berjualan makanan. Semoga semuanya Allah mudahkan. Malam ini aku lewati dengan pikiran lumayan tenang. Meski ada sedikit kekhawatiran, takut jika didatangi oleh orang-orang menagih utang. Memang sekarang kami sudah tinggal jauh beda kecamatan dengan Mas Rendy. Akan tetapi, tidak mustahil bagi orang-orang itu menemukan tempat tinggal kami. *** "Budget Mbak berapa biar saya bantu carikan rumah yang sesuai," ucap seorang pria yang mengaku sales marketing sebuah perusahaan properti. "Mas yakin mau bantu? tanyaku sambil melihat orang itu serius. Saat ini aku dan Chika sedang berada di sebuah kafe. Aku diminta oleh sales itu datang ke tempat ini. "Mbak meragukan saya? Saya jadi sales udah belasan tahun, Mbak. Banyak yang sudah saya bantu." "Saya nggak meragukan, kok. Cuma saya mau nyari sendiri dulu. Saya nggak bisa bayar jasa Mas. Maaf, ya." "Gimana, sih, Mbak? Buang-buang waktu saya aja!" Tiba-tiba orang itu menggebrak meja membuatku dan Chika kontan terkejut. "Jangan marah-marah, dong, Mas! Saya, kan cuma mau nanya-nanya dulu. Kok, situ emosi?" "Gimana nggak marah? Mbak sudah mempermainkan saya! Mbak pikir saya ini tempat konsultasi?" Aku heran. Kenapa akhir-akhir ini aku bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan? Siapa juga yang mempermainkan dia? Aneh. "Ada apa ini?" Seorang pria mengenakan jas hitam tiba-tiba muncul. Aku menatapnya lekat sembari mengingat-ingat siapa orang itu. Sepertinya ... aku pernah bertemu dengannya sebelum ini. Namun, aku lupa kapan dan di mana. "Kamu kenapa menatap saya seperti itu?" Bersambung ....Aku masih keheranan dengan sikap Mas Harris dan papanya. Saat datang tadi, Mas Harris mengatakan ada hal penting yang ingin dibicarakan. Dan setelah Pak Handoko tiba, beliau meminta maaf dan melamarku untuk Mas Harris. Namun, sekarang mereka berdua malah sibuk membahas rumah ini.Sebenarnya, tujuan utama mereka apa, sih? Kenapa mereka membuatku salah mengartikan maksud hati mereka? Apa mereka sengaja mempermainkan aku? "Mas, kamu mau beli rumahku?" Akhirnya aku melontarkan pertanyaan itu. Tak enak juga rasanya sejak tadi terus bertanya-tanya dalam dada. "Iya. Kamu jual, kan? Tenang, mas sudah siapkan uangnya. Kamu sebutin aja berapa nanti mas bayar." Mas Harris meletakkan tas yang tadi dibawanya. Kemudian dia membuka tas itu dan memperlihatkan isinya padaku. "Ini 500 juta. Cukup, kan?"Aku kaget. Lima ratus juta? Nominal itu sangat besar dan jauh dari harga jual yang aku tentukan. "Kenapa kamu diam? Kalo kurang kamu bilang aja?" Pak Handoko melontarkan pertanyaan itu dan kontan mem
"Jangan takut, Anjani. Saya tidak ada maksud jahat, kok," kata orang itu dengan suara bergetar. Mungkin dia merasa aku takut padanya karena reaksi penuh waspada yang aku tunjukkan."Ada perlu apa, ya, Pak? Kenapa tiba-tiba Anda mendatangi saya? Bukannya Anda masih harus dirawat di rumah sakit?""Alhamdulillah, saya sudah baikan. Bahkan merasa lebih sehat dari sebelumnya.""Syukurlah," kataku sembari menunduk. Aku benar-benar tak tahu harus bicara apa lagi. Rasanya kaku dan canggung sekali berbicara dengan Pak Handoko.Ya, orang itu adalah Pak Handoko. Rasanya ada yang aneh. Sebab, biasanya Pak Handoko tidak pernah bicara selembut itu padaku. Namun, anehnya kali ini nada kasar yang biasa terdengar terlontar dari bibirnya, berganti kelembutan yang tak pernah aku bayangkan."Semua berkat kamu, Anjani." Pak Handoko berbicara lagi. Kontan saja aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan Pak Handok. Namun, masih bingung harus merespon ucapannya bagaimana.Jujur, ada rasa sakit hati yang sulit d
Bab 43. Hal MengejutkanBu Ida tertunduk malu. Dia tak bisa berkata-kata membela diri lagi. Sementara Pak RT juga terlihat serba salah."Sebaiknya kalian pulang. Saya masih banyak urusan," kataku sembari hendak melangkah masuk. Namun, secara mengejutkan Bu Ida tiba-tiba berlari dan memeluk kakiku. "Anjani, tolong ibu! Cuma kamu yang bisa bantu ibu," katanya dengan berurai air mata. "Ibu tau kamu benci Dea, karena dia anaknya Rendy dan Mira, tapi ibu mohon tolong kami. Dea harus segera mendapatkan pengobatan, Anjani.""Bu Ida, tolong jangan bersikap seperti ini!" kataku sedikit keras sambil meraih lengannya agar Bu Ida berdiri segera. "Jangan menghiba seperti ini, Bu. Saya bukan Tuhan. Saya, kan sudah bilang, Dea bisa berobat dengan BPJS.""Ibu merasa berobat dengan BPJS itu tidak maksimal, Anjani. Penyakit Dea sudah lumayan parah karena terlambat ditangani. Ibu mohon bantu Dea, Anjani.""Maaf, Bu. Saya, nggak bisa. Tolong setelah ini jangan cari saya lagi." Aku langsung masuk ke dal
Bab 42. Jual Kesedihan"Jaga bicaramu, Dara! Kamu tidak pantas bicara seperti itu!" Mas Harris memarahi Dara yang tadi bicara kasar dan mengusirku. "Harris! Kalo tante yang bicara pantas, kan? Tante nggak suka dia di sini. Apa yang Dara katakan, itu mewakili tante. Kamu marah!?" Bu Devina bertanya dengan wajah sombongnya. Mas Harris melangkah mendekati Bu Devina. "Siapa pun orangnya tidak pantas menghina, menyakiti apalagi mengusir Anjani dari sini!""Jangan kurang ajar sama tante, Harris!""Apa yang Tante berikan itu yang aku balas," jawab Mas Harris seraya menarik pelan tangan ini dan menggandengku masuk ruang IGD tempat Pak Handoko berada. Pria itu tak memedulikan teriakan Bu Devina yang penuh emosional. "Mas, aku di luar aja, ya. Kasihan papanya Mas. Beliau pasti marah kalo lihat aku. Itu bisa bahaya sama jantungnya."Mas Harris terdiam sesaat. Dia seperti menimbang-nimbang saran dariku. "Ya, udah. Kamu tunggu di sini aja. Mas ke dalam dulu."Aku mengangguk seraya tersenyum. Ak
Bab 41. Penyelamat atau Pembawa Sial? Mataku terasa perih karena ada embun yang sedang bertahta di sana. Sial, aku tak mampu menahan buliran bening itu ada di netra. Sudah pasti aku akan dipandang lemah dan cengeng sekarang. Apalagi, Dara yang congkak itu pasti tak segan-segan bicara pedas padaku.Saat ini aku hanya bisa menunduk. Mencoba menyembunyikan air mata yang tak tahu malu. Semoga Mas Harris tak tahu aku menangis. Ya, agar aku tidak dinilai mencari simpatinya. "Kenapa? Kamu kaget? Makanya jadi perempuan jangan sok kecantikan dan kepedean. Malu sendiri, kan sekarang? Kasihan banget, udah kepedean mau dinikahi, eh ternyata cuma di-PHP." Dara tertawa. Bicaranya sangat pedas seperti dugaanku."Dara! Ngomong apa kamu ini? Jangan sembarangan bicara!" Mas Harris tampak sangat emosional. Rahang pria itu mengetat, pertanda amarahnya sudah sampai ubun-ubun."Kenapa, Mas? Kan, memang kenyataannya aku dan kamu akan bertunangan. Papamu sendiri, lho yang datang ke rumahku untuk melamar ak
Kaki ini terasa berat untuk melangkah masuk ke dalam ruang kerja Mas Harris. Namun, aku tak punya pilihan lain selain menyelesaikan urusan dengannya hari ini.Ya, amplop coklat yang Mas Harris berikan padaku kemarin adalah pernyataan bahwa secepatnya aku harus menyelesaikan urusan dengan perusahaannya. Jujur, aku takut sekali jika sampai diminta untuk membayar kompensasi saat ini juga. Semua sebab kebodohanku tak datang bekerja dalam beberapa minggu terakhir.Waktu itu Mas Harris memang memintaku jangan datang ke resort sampai keadaan aman. Selang seminggu, admin perusahaan mengabarkan jika aku sudah harus kembali bekerja, tapi aku malah mengabaikan pesan itu dikarenakan tak mau lagi berurusan dengan Mas Harris dan keluarganya. Aku melupakan kontrak kerja yang sudah aku tanda tangani masih berlaku beberapa bulan lagi."Assalamualaikum, Mas, maaf aku terlambat," kataku seraya sedikit membungkukkan badan pada Mas Harris yang kini duduk rapi di meja kerjanya. Pria yang kini mengenakan st







