LOGINDi dalam ballroom hanya tinggal Mark, Evgenia, dan Victoria. Tidak jauh dari ketiganya, Lev berdiri sambil meminum segelas sampanye, entah mengapa pria itu masih bertahan disana. Mark tidak bisa berkata apa-apa, keputusan sang kakek adalah mutlak dan harus dilakukan, tapi dia masih tidak percaya dengan bukti yang dibawa oleh Victoria.
"Semua omong kosong ini akan terbongkar" ucap Mark kesal "Silahkan saja! Aku tidak takut untuk tes DNA, karena aku pasti menang" tuntut Victoria yakin Evgenia tidak tahan lagi melihat dua orang yang sudah mengkhianatinya, akhirnya dia membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan keduanya. Mark terkejut lalu berlari menyusulnya. "Jeni tolong dengarkan aku" "Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi Mark. Keputusan kakekmu sudah final. Kau harus menikah dengan Victoria" "Aku akan membuktikan padamu jika anak itu bukan anakku" "Lalu jika dia milikmu?" Mark terdiam, dia tidak mampu membalas ucapan Evgenia Evgenia tersenyum sedih "Mungkin aku memang tidak bisa memuaskanmu Mark, sampai kau pergi pada wanita lain. Kau sungguh membuatku kecewa" "Tidak Jeni. Aku dijebak" "Katakan hal itu pada kakekmu dan apakah dia bisa merubah kembali keputusannya" ucap Jeni lalu berjalan pergi meninggalkan Mark Di halaman belakang hotel, Evgenia menangisi nasibnya. Evgenia teringat dengan setelah kejadian malam itu. Setelah berhasil keluar dari kamar hotel, Evgenia langsung bergegas memasuki lift untuk turun ke lobby, dia tau tempat itu masih hotel yang sama dengan hotel tempat pesta ulang tahunnya diadakan. Evgenia mendekati resepsionis dan meminjam telepon hotel untuk menghubungi seseorang. "Hallo Lili.. ini aku Jeni, bisa kau menolongku?" "Ada apa Jen? Kenapa kau tampak panik begitu?" "Terjadi sesuatu Lili.. ku mohon tolong aku.." "Baik... baik. Dimana kau sekarang?" "Aku berada di Swissotel" "Aku akan segera kesana" ucap Lili lalu menutup teleponnya Evgenia menunggu Lilia Golubev - sahabatnya dengan panik, sesekali dia melirik ke arah lift, takut jika ada seseorang muncul dari sana. Saat meratapi nasibnya yang semakin menyedihkan, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Evgenia terperanjat dan saat melihat wajah sahabatnya, Evgenia langsung menghambur memeluknya erat sambil terisak. "Kau baik-baik saja Jeni?" Evgenia menggeleng "Bawa aku pergi dari sini Lili.. cepat!" "Baiklah. Ayo pergi" Evgenia masih sempat melihat sekitar, memastikan pria itu tidak mencarinya. Keduanya memasuki taksi dan pergi meninggalkan hotel yang menjadi tempat semua masalah dimulai. Taksi berhenti di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota Moskow. Evgenia mengigit kukunya dan berjalan mondar-mandir seperti orang yang sedang dilanda kebingungan dan takut, Lilia memperhatikannya heran "Apa sudah terjadi sesuatu Jen? Dimana Mark?" "Itulah yang ku pikirkan sekarang Lili. Aku takut Mark akan marah besar padaku. Dan yang terburuk dia akan meninggalkanku" wajah Evgenia sudah tampak kalut Lilia mengernyitkan dahinya bingung "Apa kau sudah melakukan kesalahan besar sampai Mark harus melakukan hal itu?" Tubuh Evgenia seketika menegang, namun dia bungkam. Lilia semakin mengerutkan dahinya "Ada apa Jeni? Katakan saja. Mungkin aku bisa menolongmu" "Ak-aku..." Lilia masih menatap sahabatnya "Ak-aku... aku.. sudah tidur dengan seseorang" suara Evgenia terdengar mencicit namun kata-kata itu sudah ditangkap oleh Lilia Mata Lilia melebar karena terkejut "Sungguh?!" Evgenia mengangguk kecil, ingin rasanya memukul dirinya sendiri karena sudah melakukan hal bodoh "Siapa dia?" Evgenia menggeleng "Bagaimana bisa?" Evgenia menggeleng dan memeluk dirinya sendiri "Aku takut Lili.." "Apa pria itu menggunakan pengaman?" Evgenia terdiam, mencoba mengingat pecahan memori yang terjadi semalam, lalu seketika matanya meredup sedih dan dia menggeleng Lilia menghela napasnya "Kau khawatir akan mengandung anaknya?" Evgenia mengangkat wajahnya memandang takut kepada Lilia "Apakah itu akan terjadi?" "Mungkin saja" "Tidak! Ini tidak mungkin terjadi. Mark pasti sangat kecewa padaku. Apa yang harus kulakukan Lili?!" kata Evgenia panik, dia bahkan mengguncang tubuh Lilia "Tenanglah dulu Jeni.." "Bagaimana aku bisa tenang Lili?! Keluarga ku pasti akan mengusirku jika aku melakukan kesalahan besar kali ini dan... ibuku.. dia pasti sangat sedih jika mengetahuinya" ucap Evgenia terisak pada akhirnya Lilia menghela napasnya dan memeluk tubuh sahabatnya itu, dia pun bingung harus melakukan apa untuk menolong Evgenia. Setelah Evgenia tampak tenang, Lilia menyiapkan sepiring pancake dan jus jeruk di meja makan untuk keduanya. "Makanlah. Kau pasti kelaparan" "Terima kasih Lili.." ucap Evgenia tersenyum kecil Lilia tersenyum dan mengangguk "Kapan period mu?" tanya Lilia "Kurasa minggu depan" Lilia mengangguk "Kita berharap saja itu akan terjadi" "Kenapa?" tanya Evgenia heran "Jika tidak, maka benih pria itu berhasil membuahimu" Mata Evgenia seketika melebar Setelah hari itu, Evgenia merasa selalu gelisah. Dia berharap kesalahan yang dilakukannya tidak akan membuat hidupnya hancur. "Kau pergi kemana saja Jeni?" tanya Mark khawatir, dia memegang kedua lengan Evgenia dan menelisik tubuh kekasihnya Evgenia tersenyum kecil "Maaf Mark, aku pergi ke tempat Lilia" Evgenia dan Mark bertemu di depan sebuah cafe, dimana keduanya biasa menghabiskan waktu bersama. "Kenapa kau tidak menelponku? Aku sangat mengkhawatirkanmu" "Maaf. Aku kelelahan dan tertidur begitu saja" "Tapi kau baik-baik saja?" Evgenia mengangguk Mark menghela napasnya "Bagaimana bisa kau bersama Lilia? Sedangkan ponsel dan tas mu tertinggal?" Mark mengembalikan tas milik Evgenia yang ditemukan oleh seorang pelayan hotel "Oh.. itu.. Lili datang terlambat ke pesta ulang tahunku, dia baru selesai bekerja. Saat aku keluar dari toilet, aku tidak sengaja bertemu dengannya dan memintanya untuk membawaku pulang karena tiba-tiba kepalaku sangat pusing" ucap Evgenia sedikit gugup Mark mengerutkan dahinya "Kenapa dia tidak membawamu pulang ke rumahmu?" "Itu pasti akan membuat banyak pertanyaan dari kakek Igor dan ayahku. Mereka pasti menanyakan keberadaanmu" Mark mengangguk setuju Evgenia sedikit bernafas lega, dia berharap Mark mempercayai ucapannya. Tiba-tiba rasa bersalah merayap di hati Evgenia dan membuatnya tidak nyaman. "Kau baik-baik saja Jeni?" tanya Mark Evgenia mengangguk dan tersenyum kecil "Kau tampak gelisah" "Tidak. Aku hanya.. tidak sabar menunggu hari pertunangan kita" ucap Jeni dengan senyum palsunya untuk menutupi kegugupannya Mark tersenyum lalu mencium dahi kekasihnya "Aku pun begitu. Atau jika perlu.. kita langsung menikah saja?" "Huh? Tidak. Tidak. Jangan begitu.. kita tetap harus melewati masa pertunangan dulu" Mark terkekeh "Baiklah.. aku pun belum menyiapkan banyak hal untukmu. Jadi.. tunggulah sampai aku siap untuk benar-benar menikahimu" Evgenia tersenyum, tersentuh dengan ucapan kekasihnya. Meskipun jauh di dalam hatinya, dia pasti sudah mengecewakan Mark. Apakah kekasihnya itu masih akan melanjutkan pertunangan mereka jika mengetahui apa yang sudah terjadi?Keesokan harinya, di sebuah rumah sakit di kota Kolomna, terlihat sebuah perdebatan di depan ruang rawat Alleya. "Tuan... anda tidak bisa menerobos masuk seperti itu.." "Diam kau! Aku akan mencabut sendiri semua alat sialan itu" "Tidak bisa tuan.. nyonya Alleya membutuhkan semua itu untuk pengobatannya" "Aku akan menghentikan semua pengobatan itu. Percuma saja. Dia tidak akan bisa disembuhkan!" kata Ivan murka Keributan itu membuat beberapa orang berhenti dan melihatnya, sampai seorang dokter datang menghampiri keributan itu "Apa yang terjadi disini?" "Dokter Frans.. tolong.. tuan ini ingin menghentikan pengobatan pasien di dalam sana" ucap seorang perawat wanita yang ketakutan "Tenanglah.. biar aku yang menghadapinya" Kedua perawat wanita itu mengangguk dan pergi dari tempat itu "Siapa kau? Berani sekali menghentikan kami" ucap Zilya geram "Aku salah satu dokter disini. Jadi tolong hargailah tempat ini, banyak pasien yang sedang beristirahat" "Frans?" ucap Iva
Setelah mengetahui keberadaan Evgenia, Mark sering datang ke gedung Stains Corp untuk menemuinya. Entah hanya sekedar mengajak makan siang ataupun memberikan buah tangan untuk wanita itu. Namun hal itu menjadi tanda tanya para karyawan lainnya, sebenarnya ada hubungan apa Evgenia dengan para anggota keluarga konglomerat itu? Gosip baru pun mulai menyebar, siapa yang akan dipilih oleh Evgenia, Mark ataukah Lev? "Sebenarnya apa hubungan mu dengan Mark, Jeni?" tanya Elena, dia memutar kursinya menghadap Evgenia Alisa yang duduk di seberang Elena pun mendorong kursinya untuk mendekati keduanya, dia juga ingin tau apa yang sudah menjadi rumor yang menyebar di perusahaan. "Itu... sebenarnya..." Elena menunggu, dan Alisa sampai mencondongkan tubuhnya agar bisa mendengar lebih jelas "Mark adalah mantan kekasih ku" "Apah?!" teriak keduanya Hal itu membuat semua orang disana memandangi ketiganya Evgenia segera membungkam mulut keduanya "Tidak perlu berteriak seperti itu..!"
Di rumah sakit Botkin, Moskow, keluarga Yaroslav dan Matvei sudah datang terlebih dulu "Selamat siang tuan Matvei.." sapa Alexe seraya menjabat tangannya "Selamat siang dokter Lavrentiy" Alexe juga menyapa keluarga Yaroslav "Aku disini akan membantu mengawasi jalannya tes Non-Invasive Prenatal" "Terima kasih dokter, mohon bantuannya" jawab Bella Alexe mengangguk, dia memberikan senyum tipis ketika melihat Mark Mark sedikit mengernyitkan dahinya heran Selang beberapa menit kemudian, keluarga Zhanna pun datang "Maafkan kami terlambat, kami memastikan kondisi Victoria dalam keadaan baik terlebih dulu" "Apa terjadi sesuatu?" tanya Bella khawatir "Hanya mual ringan, tapi dia sudah baik-baik saja sekarang" jawab Tisha Mark menatap sinis ke arah Victoria, entah apa yang direncanakan wanita itu lagi. Victoria bersama Tisha dan Bella masuk ke dalam ruang dokter untuk melakukan pemeriksaan "Masuklah ke dalam, Mark" ucap Yegor "Untuk apa ayah?" "Bagaimanapun dia a
Lev melumat bibir Evgenia dengan kasar Evgenia mendorong Lev untuk menghentikan ciumannya, setelah berhasil terlepas, Evgenia menamparnya "Apa yang kau lakukan hah?!" ucapnya marah, Evgenia menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya "Aku tidak suka kau dekat dengan pria lain, terutama Mark. Ingat! Dia sudah mencampakanmu" "Itu urusanku dengan Mark. Kau tidak berhak mengaturku" "Tentu saja itu menjadi urusanku!" kata Lev tegas Evgenia terdiam "Ingat Eve! Aku sudah menandaimu sebagai milikku, jadi aku tidak mau lagi melihatmu dekat dengan pria lain selain diriku" "Itu hanya kesalahan satu malam Lev, jangan berlebihan" "Bagiku tidak. Kau adalah milikku. Camkan itu" "Kau sudah gila" ucap Evgenia lalu pergi meninggalkan Lev disana Evgenia kembali ke ruangannya dengan wajah kesal, dia tidak percaya Lev akan memperlakukannya seperti itu. Lev kembali ke ruangannya, dia memukul dinding disana, meluapkan rasa kesal yang menjalar di dadanya. Entah mengapa dia semakin
Evgenia memperkenalkan Mark kepada ketiga temannya dan Mark menyambut mereka dengan hangat. Akhirnya mereka makan bersama dengan diselingi obrolan, tanpa terasa waktu makan siang pun berakhir dan mereka kembali ke kantor bersama. "Aku tidak menyangka kau akan bekerja disini, Jeni" ucap Mark Evgenia tersenyum "Begitupun denganku" "Tapi dengan kemampuanmu, aku tau kau pasti bisa melakukannya" "Terima kasih Mark" ucap Evgenia tersenyum "Aku tidak tau kenapa keluargamu harus berbohong padaku dengan mengatakan kau pergi di luar negeri" Evgenia terkejut, dia memang tidak menceritakan kepada Mark alasan dia pergi ke Moskow. Evgenia hanya tersenyum menanggapinya Evgenia dan Mark berpisah di depan lift "Senang bisa berjumpa denganmu Mark" ucap Alisa seraya melambaikan tangan, Elena dan Nail mengangguk setuju Mark tersenyum kepada ketiganya, lalu menoleh ke arah Evgenia "Sampai jumpa lagi Jeni" Evgenia tersenyum Mark masuk ke dalam lift petinggi perusahaan, dia datang
Evgenia tidak berani mengatakan apapun saat melihat sorot mata tajam Lev setelah mendapat panggilan telepon. Namun dari mimik wajah Lev, dia tau jika ada sesuatu yang tidak baik sudah terjadi. Evgenia terdiam sampai mereka tiba di Moskow. Saat turun dari pesawat pribadi milik Stainslav, Feliks langsung mendekati Lev dan keduanya tampak membicarakan hal yang serius. Ketika mereka akan keluar dari bandara, Lev menghentikan langkahnya, sehingga membuat Feliks hampir menabrak dirinya karena dia sedang memeriksa tablet di tangannya tanpa melihat sekitar. "Ada apa Lev?" Lev berbalik Evgenia menahan napasnya, seketika dia menghentikan langkahnya, dia berjarak beberapa langkah di belakang pria itu. "Suruh Krit untuk mengantar Eve pulang" perintah Lev kepada Feliks "Eh?" ucap Feliks dan Evgenia bersamaan "Tapi Lev.." kata Feliks sedikit keberatan "Kita ke kantor menggunakan taksi" ucap Lev seraya berbalik untuk melihat situasi "Aku saja yang menggunakan taksi. Kau pergi







