LOGINSetelah berhasil keluar dari kamar hotel, Evgenia langsung bergegas memasuki lift untuk turun ke lobby, dia tau tempat itu masih hotel yang sama dengan hotel tempat pesta ulang tahunnya diadakan.
Evgenia mendekati resepsionis dan meminjam telepon hotel untuk menghubungi seseorang. "Hallo Lili.. ini aku Evgenia, bisa kau menolongku?" "Ada apa Jeni? Kenapa kau tampak panik begitu?" "Terjadi sesuatu Lili.. ku mohon tolong aku.." "Baik... baik. Dimana kau sekarang?" "Aku berada di Swissotel" "Aku akan segera kesana" ucap Lili lalu menutup teleponnya Evgenia menunggu Lilia Golubev - sahabatnya dengan panik, sesekali dia melirik ke arah lift, takut jika ada seseorang muncul dari sana. Saat tengah meratapi nasibnya yang semakin menyedihkan, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Evgenia terperanjat dan saat melihat wajah sahabatnya, Evgenia langsung menghambur memeluknya erat sambil terisak. "Kau baik-baik saja Jeni?" Evgenia menggeleng. "Bawa aku pergi dari sini Lili.. cepat!" "Baiklah. Ayo pergi" Evgenia masih sempat melihat sekitar, memastikan pria itu tidak mencarinya. Keduanya memasuki taksi dan pergi meninggalkan hotel itu. Taksi berhenti di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota Moskow. Evgenia menggigit kukunya sambil berjalan mondar-mandir seperti orang yang sedang dilanda kebingungan dan ketakutan. Lilia memperhatikannya heran "Apa sudah terjadi sesuatu Jeni? Dimana Mark?" "Itulah yang ku pikirkan sekarang Lili. Aku takut Mark akan marah besar padaku. Dan yang terburuk dia akan meninggalkanku" wajah Evgenia sudah tampak kalut Lilia mengernyitkan dahinya bingung "Apa kau sudah melakukan kesalahan besar sampai Mark harus melakukan hal itu?" Tubuh Evgenia seketika menegang, namun dia bungkam. Lilia semakin mengerutkan dahinya "Ada apa Jeni? Katakan saja. Mungkin aku bisa menolongmu" "Ak-aku..." Lilia masih menatap sahabatnya. "Ak-aku... aku.. sudah tidur dengan seseorang" suara Evgenia terdengar mencicit, namun kata-kata itu sudah ditangkap oleh Lilia Mata Lilia melebar karena terkejut "Sungguh?!" Evgenia mengangguk kecil, ingin rasanya memukul dirinya sendiri karena sudah melakukan hal bodoh. "Siapa dia?" Evgenia menggeleng. "Bagaimana bisa?" Evgenia menggeleng dan memeluk dirinya sendiri "Aku takut Lili.." "Apa pria itu menggunakan pengaman?" Evgenia terdiam, mencoba mengingat pecahan memori yang terjadi semalam, lalu seketika matanya meredup sedih dan dia menggeleng. Lilia menghela napasnya "Kau khawatir akan mengandung anaknya?" Evgenia mengangkat wajahnya, memandang takut kepada Lilia "Apakah itu akan terjadi?" "Mungkin saja" "Tidak! Ini tidak mungkin terjadi. Mark pasti sangat kecewa padaku. Apa yang harus kulakukan Lili?!" kata Evgenia panik, dia bahkan mengguncang tubuh Lilia "Tenanglah dulu Jeni.." "Bagaimana aku bisa tenang Lili?! Keluarga ku pasti akan mengusirku jika aku melakukan kesalahan besar kali ini dan... ibuku.. dia pasti sangat sedih jika mengetahuinya" ucap Evgenia terisak pada akhirnya Lilia menghela napasnya dan memeluk tubuh sahabatnya itu, dia pun bingung harus melakukan apa untuk menolong Evgenia. Setelah Evgenia tampak tenang, Lilia menyiapkan sepiring pancake dan jus jeruk di meja makan untuk keduanya. "Makanlah. Kau pasti kelaparan" "Terima kasih Lili.." ucap Evgenia tersenyum kecil Lilia tersenyum dan mengangguk. "Kapan period mu?" tanya Lilia "Kurasa dua hari lagi" Lilia mengangguk "Kita berharap saja itu akan terjadi" "Kenapa?" tanya Evgenia heran "Jika tidak, maka benih pria itu berhasil membuahimu" Mata Evgenia seketika melebar. Keesokan harinya, Evgenia kembali ke kediaman Vasiliev, dan tidak terlihat seorang pun disana kecuali beberapa pelayan. Ketika Evgenia hendak naik ke lantai dua, tiba-tiba seorang pelayan datang mendekatinya. "Nona.. tuan muda Mark mencari anda sejak pagi tadi" "Benarkah?" Evgenia tampak terkejut Pelayan itu mengangguk. Evgenia mendekati telepon dan mencoba menghubungi Mark. Pada sering ketiga, telepon itu pun tersambung. "Mark?" "Jeni, kau ada dimana?" "Aku baru kembali" "Mari bertemu, ada yang perlu kita bicarakan" Jantung Evgenia berdebar, apakah Mark akan menanyakan dimana dirinya semalam? "Sayang, kau masih disana?" "Oh ya, aku mendengarmu" "Aku akan menjemputmu" "Tidak perlu. Kita bertemu saja di tempat biasa" "Baiklah" Beberapa saat kemudian, Evgenia sampai di sebuah cafe kecil di tengah kota Moskow. Terlihat Mark yang melambaikan tangan padanya untuk menyambutnya. Evgenia tersenyum kecil dan berjalan mendekatinya. Mark langsung memeluknya begitu Evgenia sampai di hadapannya. "Aku sangat mengkhawatirkanmu" Evgenia hanya tersenyum miris, dia menepuk pelan punggung kekasihnya. "Dimana kau semalam?" "E-itu.. aku menginap di tempat Lilia" "Kenapa kau tidak menelponku? Aku sangat mengkhawatirkanmu" "Maaf. Aku kelelahan dan tertidur begitu saja" "Tapi kau baik-baik saja bukan?" Evgenia mengangguk, meskipun dalam hati dia meragukan ucapannya. Mark menghela napasnya "Bagaimana bisa kau bersama Lilia? Sedangkan ponsel dan tas mu tertinggal?" Mark mengembalikan tas milik Evgenia yang ditemukan oleh seorang pelayan hotel. "Oh.. itu.. Lili datang terlambat ke pesta ulang tahunku, dia baru selesai bekerja. Saat aku keluar dari toilet, aku tidak sengaja bertemu dengannya dan memintanya untuk membawaku pulang karena tiba-tiba kepalaku sangat pusing" ucap Evgenia sedikit gugup Mark meneguk ludahnya kasar, namun segera mengembalikan ekspresinya. "Kenapa dia tidak membawamu pulang ke kediaman Vasiliev?" "Itu pasti akan membuat banyak pertanyaan dari kakek Igor dan ayahku. Mereka pasti menanyakan keberadaanmu" Mark mengangguk setuju. Evgenia sedikit bernafas lega, dia berharap Mark mempercayai ucapannya. Tiba-tiba rasa bersalah merayap di hati Evgenia dan membuatnya tidak nyaman. "Kau baik-baik saja Jeni?" tanya Mark Evgenia mengangguk dan tersenyum kecil. "Kau tampak gelisah" "Tidak. Aku hanya.. tidak sabar menunggu hari pertunangan kita" ucap Evgenia dengan senyum palsunya untuk menutupi kegugupannya Mark tersenyum lalu mencium dahi kekasihnya "Aku pun begitu. Atau jika perlu.. kita langsung menikah saja?" "Huh? Tidak. Tidak. Jangan begitu.. kita tetap harus melewati masa pertunangan dulu" Mark terkekeh "Baiklah.. aku pun belum menyiapkan banyak hal untukmu. Jadi.. tunggulah sampai aku siap untuk benar-benar menikahimu" Evgenia tersenyum, tersentuh dengan ucapan kekasihnya. Meskipun jauh di dalam hatinya, dia pasti sudah mengecewakan Mark. Apakah kekasihnya itu masih akan melanjutkan pertunangan mereka jika mengetahui apa yang sudah terjadi?Matvei melemparkan koran ke meja kerjanya, dia mengusap keningnya yang berdenyut. "Tuan.." Jerry menunduk khawatir "Bagaimana berita ini bisa menyebar, Jerry?!" "Sepertinya ada paparazi yang menyusup dalam pesta, tuan.." "Bagaimana mereka bisa lolos dari pemantauan?!" "Maafkan saya, tuan.. ini kesalahan saya" Matvei tidak habis pikir dengan apa yang diberitakan media. Di Liev Corp, Karol tertawa saat membaca koran hari ini. "Tampaknya riwayatmu tidak akan lama lagi, Jeni ku sayang.." Karol merasa sangat senang dengan apa yang media beritakan. Akhirnya dia bisa kembali melihat penderitaan Evgenia. Sedangkan di Stains Corp, ketika Lev dan Feliks berjalan memasuki kantor, semua pandangan tertuju padanya. "Aku merasa ada yang tidak beres" ucap Feliks pelan sambil memperhatikan sekitar Dan saat itu juga Feliks mendapat panggilan telepon dari anak buahnya. Mata Feliks melebar saat mendengar kabar yang diberikan. Ketika Lev sampai di ruangannya, terlihat Gresha
Lev mencengkram gelas di tangannya dengan erat. Dia menenggak sampanye hingga tandas dan meletakkan gelas itu dengan keras di atas meja, lalu berjalan menjauh meninggalkan tempat itu. "Terima kasih Mark" "Kau baik-baik saja Jeni?" tanya Mark tampak khawatir "Ya. Tapi sepertinya aku sudah merusak sepatu milik Dinara" "Tidak masalah. Dia memiliki banyak benda seperti itu" Evgenia merasa tidak enak, bagaimanapun Dinara sudah meminjamkan miliknya, namun dia justru merusaknya. Tanpa mereka ketahui, ada kilatan kamera yang menangkap moment itu. Di tempat lain, Dinara mendekati wastafel untuk mencuci tangannya, dan melihat Mitya yang tengah memoles lipstick di bibirnya. "Aku tidak menyangka kau masih menerima wanita itu yang sudah mengkhianati saudaramu" "Dia tetap bagian dari keluarga" Mitya tersenyum mengejek, dia menoleh kepada Dinara "Sekali wanita penggoda tetaplah wanita penggoda. Kau tau.. wanita itu sudah merebut posisi yang seharusnya menjadi milikku" "L
Pagi itu Evgenia terbangun dan tidak menemukan Lev dimanapun. Semalam pria itu mengatakan jika hari ini akan ada jamuan makan malam keluarga di sebuah kapal pesiar milik Stainslav. Kate - pelayan pribadinya mengatakan jika Lev sudah pergi sejak pagi hari. Setelah sarapan, Evgenia kembali ke kamarnya dan menyibukkan diri dengan membuat sketsa aksesoris untuk usahanya sendiri, lalu dia mengirimkannya kepada orang kepercayaannya. Tanpa sadar, waktu sudah menjelang sore hari dan terlihat Lev yang belum juga kembali, bahkan tidak ada satu pun pesan yang dikirimkan olehnya. Evgenia menghela napas pelan, dan saat itu juga terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya. Terlihat Kate masuk dengan membawa sebuah kotak untuknya. "Tuan meminta anda memakainya untuk malam ini, nyonya" "Baiklah. Terima kasih" Pelayan itu pun pergi meninggalkan Evgenia. Malam harinya, Lev yang sedang menerima telepon di dekat tangga lantai satu, mendengar suara sepatu hak tinggi yang menuruni
Di ruangan CEO, terdengar suara pintu yang terbuka begitu saja. Di belakangnya ada Gresha yang berusaha mencegah seorang pria yang menerobos masuk. "Kau bisa keluar Gresha" "Baik tuan" Karol menarik sudut bibirnya dan berjalan mendekati meja kerja Lev. Dia menarik kursi di depan meja itu dan duduk dengan angkuh. "Bukankah seharusnya kau memanggilku dengan sebutan kakak ipar sekarang?" "Apa yang kau lakukan Karol?" Karol menarik sudut bibirnya "Hanya ingin berkunjung untuk menyapa adik iparku" Lev menatapnya seolah ucapan pria itu tidak penting. "Apa yang kau inginkan?" "Kita sudah menjadi keluarga sekarang. Bukankah seharusnya aku juga mendapat bagian khusus?" "Bagian khusus?" Karol mengangguk "Kau melamar Jeni dengan banyak barang mewah, tapi semua itu hanya sebagai bayaran karena keluarga Vasiliev sudah mengurus Jeni selama ini" Lev menarik sudut bibirnya, merasa lucu dengan ucapan pria itu. "Dan?" Karol menatap sekeliling ruangan itu lalu terse
Mark mendatangi Stains Corp, dia membuka pintu ruangan CEO, tanpa memperdulikan peringatan dari Gresha. Lev yang tengah melakukan rapat virtual seketika menghentikan semuanya. Langkah Mark terhenti, namun rasa kesal menghilangkan rasa sopan santunnya. Lev menyandarkan punggungnya di kursi "Apa yang kau inginkan?" "Kenapa kau mengambil keputusan tanpa meminta ijin dariku?!" Lev sedikit mengerutkan dahinya, namun sedetik kemudian dia menyeringai tipis. "Kau punya masalah dengan itu?" "Bagaimanapun seharusnya kau mendiskusikannya terlebih dulu denganku. Aku lah direktur utama di mall itu, jadi semua keputusan harus melewati ku terlebih dahulu" geram Mark tidak terima Lev berdiri dan berjalan mendekatinya "Perlu kau ingat satu hal, Mark Yaroslav. Meskipun kau menjadi direktur utama disana, tapi mall itu masih berada dibawah kendali Stains Corp. Dan seharusnya kau tau apa artinya" Mark mengepalkan tangannya. "Jika kau tidak memiliki urusan lain disini, silahkan per
Di Stains Corp, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gedung. Beberapa reporter mendekatinya dan mencoba mengambil foto sebanyak mungkin. Para petugas keamanan bersiaga, mereka membukakan jalan untuk Lev dan Evgenia yang keluar dari mobil. "Tuan Lev, apakah benar jika anda sudah menikah?" "Ya" "Kenapa anda tidak mengumumkannya kepada publik?" "Aku berniat melakukannya setelah pernikahan" "Kenapa anda melakukan pernikahan secara tertutup?" "Aku tidak ingin merusak kesakralannya" "Siapa wanita yang anda nikahi, tuan Lev?" "Dia Evgenia Vasiliev" ucap Lev seraya merangkul tubuh Evgenia merapat padanya Sorotan kamera mengarah kepada keduanya untuk mengambil foto dan rekaman video. "Apakah benar jika dia adalah salah satu karyawan anda?" "Ya.. Dia bekerja di divisi perancangan" "Apakah dia anak dari tuan Ivan Vasiliev, pemilik Liev Corp?" "Ya benar" Bisikan dari para awak media yang mengutarakan pendapatnya terdengar oleh keduanya. "Apakah anda me
Di luar ballroom tampak Mark yang tampak panik karena tidak berhasil menemukan Jeni setelah pesta usai. "Kau yakin dia sudah meminumnya?" ucap Mark kesal, dia bahkan hampir membentak pelayan yang sudah dibayarnya untuk memberikan wine kepada kekasihnya "Tentu tuan. Nona bahkan menghabiskan minu
Taksi yang ditumpangi Evgenia berhenti di depan sebuah minimarket di pinggiran kota Moskow. Lilia sedang membereskan beberapa barang di rak, sampai matanya tidak sengaja menangkap sosok Evgenia berdiri di depan minimarket, wanita itu melambaikan tangan padanya. Lilia bergegas keluar dan menghampiri
Di dalam ballroom hanya tinggal Mark, Evgenia, dan Victoria. Tidak jauh dari ketiganya, Lev berdiri sambil meminum segelas sampanye, entah mengapa pria itu masih bertahan disana. Mark tidak bisa berkata apa-apa, keputusan sang kakek adalah mutlak dan harus dilakukan, tapi dia masih tidak percaya
"Apa yang harus kulakukan?" lirih seorang wanita berambut pirang panjang Wanita itu terduduk lemas di samping tempat tidur pasien di sebuah rumah sakit, menatap sedih sesosok wanita yang tertidur tenang dengan selang infus dan alat bantu pernafasan yang setia menemaninya dalam dua bulan terakhir.







