LOGINDi tengah kesedihan dan kekecewaan Evgenia karena dikhianati oleh tunangannya, tiba-tiba sebuah suara mendekatinya
"Sepertinya kalian sama-sama saling mengkhianati malam itu" Tubuh Evgenia seketika menegang mendengar suara itu, dia mencoba menghapus air matanya dan menatap tidak suka pada Lev. Lev tersenyum kecil melihatnya "Jangan menatapku seolah aku yang sudah menghancurkan masa depanmu nona.." "Untuk apa kau kemari?!" "Aku? Aku hanya sekedar singgah dan melihat drama yang terjadi" "Jika kau kemari hanya untuk menghinaku maka lebih baik kau pergi" "Oh.. baiklah jika begitu. Tapi perlu kau tau satu hal nona.. keputusan kakekku tidak akan pernah berubah, meskipun anak itu bukanlah milik Mark. Tapi pernikahan mereka tetap akan terjadi" "Apah?!" ucap Evgenia tidak percaya Lev mengangguk kecil "Stainslav selalu menjunjung tinggi dasar kesetiaan dan dalam pernikahan tidak ada perceraian" Evgenia terkejut, dia tidak percaya jika malam ini dia akan kehilangan Mark untuk selamanya. Lev berjalan mendekati Jeni yang masih membeku, dia tersenyum kecil padanya dan berbisik di samping telinga Jeni "Apa kau ingin aku mengantikan posisi tunanganmu?" Mata Evgenia seketika melebar saat mendengarnya "Lelucon apa yang sedang kau mainkan?" Lev tersenyum kecil, menarik dirinya dan berdiri tegak di hadapan Evgenia "Aku sedang tidak membuat lelucon" "Jadi apa tujuanmu mengatakan hal seperti itu?" Lev mengangkat bahunya "Aku hanya memberikanmu penawaran. Lagipula kau tidak akan rugi sama sekali. Aku bahkan lebih berkuasa dari pada Mark" "Diamlah! Aku tidak ingin mendengar omong kosong apapun darimu" Lev mengigit kecil bibirnya menahan rasa gelinya melihat tingkah wanita di depannya "Apakah aku perlu memberitakannya kepada media juga tentang apa yang sudah kita lakukan malam itu?" Mata Evgenia melotot tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Bagaimana mungkin Lev bisa mengancamnya seperti itu? "Aku yakin itu akan menjadi berita paling menghebohkan di Moskow, bahkan melebihi berita yang menghancurkan pertunanganmu malam ini" "Jangan berani-beraninya Lev Stainslav!" Lev terkekeh "Banyak wanita di luar sana rela mengantri untuk bisa bersama denganku, tapi kau justru menolak dengan tawaran yang ku berikan" "Maka aku bukanlah dari wanita-wanita itu yang memujamu" Lev menghela napasnya "Ku pikir kau juga akan membawa berita menghebohkan, tapi.. sepertinya usahaku belum bisa mengalahkan Mark kali ini" kekehnya "Apa maksud ucapanmu?" kata Jeni Lev hanya tersenyum menanggapinya, dia berbalik dan hendak pergi, namun baru dua langkah, Lev berhenti dan berbalik sedikit memandang Jeni "Sampai jumpa lagi Je-ni..." Evgenia memandang tidak suka pada Lev, namun ucapan Lev terngiang di kepalanya. Satu minggu setelah kejadian naas itu untunglah Evgenia mendapat periodnya, jadi benih pria itu tidak berhasil membuahinya. Evgenia bisa bernapas lega saat itu, namun yang dia khawatirkan apa yang akan dia katakan pada Mark ketika dirinya sudah tidak perawan lagi. Apa Mark akan menceraikannya saat malam pertama mereka? Evgenia tidak bisa membayangkan betapa menyedihkannya pengantin wanita ditinggalkan tepat di malam pernikahan mereka. Malam itu setelah pertunangannya dengan Mark batal, Evgenia kembali ke rumahnya dan disana terlihat wajah marah Igor Vasiliev dan raut wajah kecewa Ivan Vasiliev. Evgenia membeku di tempat. "Dasar anak tidak berguna! Lihat apa yang sudah kau lakukan! Seharusnya kau bisa mempertahankan Mark disisimu!" murka Igor "Dia hanya tidak ingin menjual keperawanannya dengan mudah" cemooh Zilya Barbara - ibu tiri Evgenia "Apa ibu yakin dia masih perawan?" ejek Karol Vasiliev - saudara tiri Evgenia "Benar. Bisa saja dia hanya menipu Mark agar tetap bertahan dengannya. Dasar wanita licik!" hina Zilya "Diam kalian berdua!" gelegar Igor "Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang hah?!" geram Igor kepada Evgenia "Kakek.. aku baru saja dicampakkan.. dan itu sungguh menghancurkanku" isak Evgenia "Air matamu tidak akan membuat perusahaan membaik Jeni" ucap Ivan "Jika kau tidak bisa mendapatkan Mark. Maka kau harus mendapatkan pria lain yang bisa membantu Liev Corp tetap berdiri" "Maksud kakek?" ucap Jeni dengan tatapan takut "Aku sudah menemukan seseorang yang akan menikahimu. Pergilah kesana besok dan temui dia" perintah Igor "Siapa maksud ayah?" tanya Ivan "Seorang pria bernama Gleb Pavel" "Maksud ayah.. tuan Gleb Pavel pengusaha logam?" Igor mengangguk "Ya. Istrinya sudah meninggal setengah tahun yang lalu karena penyakit jantung. Saat ini dia sudah mempunyai tiga orang anak. Dia sudah setuju untuk menikahi Jeni" Zilya cukup terkejut dengan keputusan ayah mertuanya, namun dia menyeringai senang mendengarnya. Dia tidak perlu berusaha payah untuk menghancurkan hidup Evgenia dan Alleya "Kakek.. ku mohon.. jangan lakukan hal itu" isak Evgenia berharap kakeknya tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya, dia bahkan berlutut di kaki Igor memohon belas kasihan darinya Bagaimana bisa kakeknya begitu tega menikahkannya dengan pria paruh baya yang lebih pantas menjadi ayahnya? "Ini adalah akibat dari kebodohanmu. Jadi terima dan lakukan perintahku!" geram Igor dengan wajah merah, dia justru menjambak rambut Evgenia sampai wajahnya menengadah ke atas Evgenia terus menangis, dia menatap ayahnya bermaksud memohon batuan, namun rasa kecewa kembali dia dapati. Sang ayah yang dulu mencintainya hanyalah sebuah topeng di hadapan sang nenek. Ketika nenek Evgenia meninggal, sifat asli Ivan mulai terlihat, dia bahkan tidak segan-segan untuk memukul Alleya saat marah. Evgenia beberapa kali melihat lebam di tubuh ibunya, namun Alleya mengelak jika itu ulah ayahnya, dia selalu mengatakan kalau dia terbentur atau terjatuh. "Turuti saja perintah kakekmu Jeni. Kau tetap akan bisa hidup mewah jika menikah dengan tuan Gleb Pavel" "Tapi ayah..." ucap Evgenia merana "Diam! Aku tidak menerima bantahan. Kembali ke kamarmu! Dan ingat besok kau harus pergi menemui tuan Gleb Pavel!" perintah Igor dengan marah Igor Vasiliev adalah pria yang bersifat otoriter. Dia selalu menganggap jika anak perempuan tidak pernah berguna jika dilahirkan. "Ivan pergi ke ruang kerja. Kita harus membicarakan pernikahan mereka" "Baik ayah" Ivan Vasiliev memandang sejenak putrinya lalu pergi menyusul sang ayah ke ruang kerjanya. Evgenia masih tersungkur di lantai sambil menangis. Kenapa dunia begitu kejam padanya? Dulu saat neneknya masih hidup, hanya tawa dan senyum yang dia rasakan, namun semua itu sudah lenyap tergantikan neraka dunia yang tidak pernah berakhir.Lev masih memegang salah satu tangan Evgenia, keduanya saling menatap dengan perasaan yang berbeda. Evgenia dengan rasa sakitnya, sedangkan Lev dengan rasa khawatirnya. "Ikut denganku" ucap Lev seraya menarik paksa lengan Evgenia Evgenia tidak bisa mengindar, cengkraman tangan Lev sangat kuat, tubuhnya tertarik oleh pria itu. Lev mendorong tubuh Evgenia masuk ke dalam mobilnya, lalu dia memutari mobil dan duduk di tempat pengemudi. Lev melajukan mobilnya pergi meninggalkan hotel. Sebuah mobil Bentley putih melaju meninggalkan area hotel itu. Hotel tempat pernikahan Mark adalah salah satu hotel milik keluarga Stainslav, tentu saja Lev sudah menyiapkan mobil lain di basement. "Kemana kau akan membawaku?" Lev menaikan sudut bibirnya "Ke tempat yang bisa mencairkan suasana hatimu" "Aku baik-baik saja" "Kau ingin membohongi siapa, Eve?" Mata Evgenia seketika memanas, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan akhirnya menangis tersedu. Melihat pemandangan Mark
Sebuah mobil rolls-royce hitam sampai di depan pintu hotel, seorang petugas sigap membukakan pintu untuk penumpang di belakangnya. Lev keluar dari mobil dengan aura dominan dan segala ketampanannya, beberapa wartawan saling berdesakan untuk mengambil foto dan mewawancarai salah satu pria terpandang di Moskow itu. Feliks bersiap menghadang para awak media agar tidak mendekati Lev, begitu juga petugas keamanan di hotel. "Tuan Lev, bagaimana pendapat anda dengan pernikahan tuan Mark yang tiba-tiba berganti pasangan?" "Apa yang terjadi dengan nona Vasiliev, tuan Lev?" Lev berhenti sejenak menatap dingin wartawan yang menanyakan hal itu. Seketika semuanya bungkam, merasa aura mencekam disekitar mereka. "Untuk hal itu adalah masalah keluarga kami, kehadiran kalian disini sama sekali tidak diundang, tapi jika kalian ingin membuat berita, berikan berita yang baik tentang pernikahan mereka" jawab Lev Semua wartawan itu tiba-tiba mengangguk serempak, seolah robot yang sudah d
Kabar mengenai anak yang dikandung Victoria adalah positif milik Mark, membuat perasaan Evgenia semakin suram. Evgenia berusaha menghapus air mata yang menerobos dari sudut matanya, dia akan menyibukkan diri dengan bekerja untuk melupakan hal buruk yang menghancurkan hatinnya. Setelah keluar stasiun kereta bawah tanah, Evgenia melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki menuju tempat kerjanya. Saat lampu hijau pejalan kaki masih berkedip, Evgenia segera berlari kecil mengikuti para penyebrang jalan lainnya. Sesampainya di gedung Stains Corp, sapaan hangat dari beberapa karyawan lain ditanggapi dengan senyum manis dari Evgenia. Sesampainya di ruangannya, mata Evgenia menangkap sebuah undangan tergeletak di atas meja kerjanya. Evgenia mengambil undangan itu dan membaca nama yang tertera disana. 'The Wedding Mark Yaroslav and Victoria Zhanna' Nyut. Rasa sakit di hatinya kembali, rongga dadanya terasa sesak. Hubungan selama enam tahun yang sia-sia, pada akhirnya Mark just
Setelah percakapannya dengan Lilia, Evgenia menghela napas sejenak, mencoba mengembalikan degub jantungnya yang sempat tidak menentu. Evgenia melanjutkan perjalanannya menuju cafe yang ada dia seberang kantor, untuk menghabiskan waktu makan siangnya. Menjelang sore hari, di saat Evgenia sedang bekerja, sang atasan memanggilnya "Ada apa tuan Grigori?" "Tuan Lev memintamu menemuinya" Evgenia sedikit mengerutkan dahinya, namun dia mengangguk sebagai jawaban Evgenia pergi menuju lantai lima puluh tujuh, setiap langkahnya terasa berat saat kakinya menginjak lantai teratas itu, entah mengapa kali ini dia memiliki perasaan yang kurang baik. Tepat di lantai itu, Gresha sudah bersiap membukakan pintu untuk Evgenia ketika melihat wanita itu keluar dari lift "Masuklah" ucapnya Evgenia mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam ruangan CEO, dia masih saja kagum setiap memasuki ruangan itu. "Duduklah Eve.." Evgenia mengangguk, dia menarik kursi di depan meja milik Lev "Ap
Beberapa hari berlalu, hasil tes DNA itu akhirnya dikeluarkan. Mark bergegas pergi ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari seorang petugas. Alexe memberikan sebuah map kepada Mark, dengan jantung yang berdebar, Mark membaca setiap kata yang tertera disana, namun matanya melebar saat menemukan kecocokan DNA disana adalah 98,7%. Tangan Mark seketika lemas, dia hampir menjatuhkan map itu. Di perusahaan Stains Corp, di ruangan Lev "Aku akan mendapatkan milikku kali ini" ucapnya sambil menyeringai, Lev meletakan sebuah kertas yang berisi hasil tes DNA janin yang di kandung Victoria Sebelum Mark mendapatkan hasilnya, Alexe sudah mengirimkannya terlebih dulu kepada Lev. Kondisi Mark terlihat tidak baik sejak mendapatkan hasil tes DNA itu, setelah dia pergi ke rumah sakit, dia justru tidak kembali ke kantor maupun rumahnya, Mark justru pergi ke bar dan mabuk disana. Kebetulan saat itu seorang wanita melihat Mark yang sudah tidak sadarkan diri di meja bar, dia segera mencari
Keesokan harinya, di sebuah rumah sakit di kota Kolomna, terlihat sebuah perdebatan di depan ruang rawat Alleya. "Tuan... anda tidak bisa menerobos masuk seperti itu.." "Diam kau! Aku akan mencabut sendiri semua alat sialan itu" "Tidak bisa tuan.. nyonya Alleya membutuhkan semua itu untuk pengobatannya" "Aku akan menghentikan semua pengobatan itu. Percuma saja. Dia tidak akan bisa disembuhkan!" kata Ivan murka Keributan itu membuat beberapa orang berhenti dan melihatnya, sampai seorang dokter datang menghampiri keributan itu "Apa yang terjadi disini?" "Dokter Frans.. tolong.. tuan ini ingin menghentikan pengobatan pasien di dalam sana" ucap seorang perawat wanita yang ketakutan "Tenanglah.. biar aku yang menghadapinya" Kedua perawat wanita itu mengangguk dan pergi dari tempat itu "Siapa kau? Berani sekali menghentikan kami" ucap Zilya geram "Aku salah satu dokter disini. Jadi tolong hargailah tempat ini, banyak pasien yang sedang beristirahat" "Frans?" ucap Iva







