LOGIN“Harus mau!” Claudia langsung membalas tegas. “Sepatu gue rusak gara-gara lo lempar ke selokan. Jadi lo harus ganti rugi!” “Iya, tuh! Ganti rugi!” Ineke ikut menyahut, membela Claudia. Varisha hanya tersenyum tipis. Ia tidak percaya sedikit pun pada alasan Claudia. Baginya, ini hanyalah akal-akalan gadis itu untuk mencari sasaran pelampiasan setelah hubungannya dengan sugar daddy-nya berakhir. Dan lebih ironis lagi, sugar daddy yang baru saja meninggalkannya itu adalah ayah Varisha sendiri. Andai dia tahu kalau laki-laki yang selama ini dia akui sebagai pacarnya itu ternyata ayahku, apa dia nggak malu? batin Varisha, dia hampir terkekeh sinis. Tapi kemudian ia menepis. Ah, untuk apa berharap Claudia punya rasa malu? Justru Varishalah yang akan merasa malu jika semua orang sampai mengetahui bahwa ayahnya pernah bermain-main dengan Claudia. Selama ini Varisha memang berniat memberikan pelajaran kepada gadis itu. Hanya saja, ia sempat berpikir untuk melakukannya nanti. Na
“Mau nggak, Des?” Desha kembali tergagap. Ia menatap Budhe Tati dengan ekspresi tak percaya. “Apa sih, Budhe? Kenapa aku malah ditawarin Mas Sobri? Aku sama sekali nggak kepikiran buat nikah. Yang benar saja, lah.” “Des, Sobri itu sudah lama naksir sama kamu.” Budhe Tati menghela napas pelan. “Tapi selama ini Budhe selalu bilang sama dia kalau kamu sedang fokus kuliah. Maaf ya akhirnya tadi Budhe cerita kalau kamu sedang kesulitan biaya kuliah, dia dengan senang hati langsung menawarkan diri untuk membantu.” Desha terdiam. Untuk beberapa saat, ia hanya menunduk. Ada rasa bingung sekaligus galau yang memenuhi pikirannya. Kalau dibandingkan dengan kerja samanya bersama Varisha, tawaran Sobri memang terdengar jauh lebih mudah. Ia tidak perlu menjadi wanita penggoda. Tidak perlu mendekati pria yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya. Tidak perlu menjalankan rencana yang sejak awal membuat hati kecilnya terus dihantui rasa takut dan menyesal dikemudian hari. Namun
Budhe Tati masih berdiri di depan pintu, matanya menatap ke arah lorong kontrakan tempat Adirama tadi pergi. Sosok pria itu sudah tidak terlihat lagi, tetapi entah kenapa pikirannya masih tertinggal pada percakapan mereka. Sementara itu, Desha hanya bisa menggaruk kepalanya. Andai Budhe tahu kalau pria tadi ternyata suka bermain dengan banyak perempuan, kira-kira apa tanggapannya? Desha menelan ludah. Apalagi jika Budhe sampai tahu bahwa pria yang baru saja datang itu kelak akan menjadi targetnya. Pria yang harus ia dekati dan goda sesuai kesepakatannya bersama Varisha. Yang lebih membuat Desha merasa tidak nyaman, Adirama juga akan menjadi sumber uang yang ia dapatkan dari rencana tersebut. Ia akan dibayar karena menjalankan tugas untuk mendekati pria itu. Semakin memikirkannya, kepala Desha semakin terasa berat. Kalau Budhe tahu semua ini, apa dia akan kecewa? Desha menunduk. Ada rasa bersalah yang perlahan menyelinap di dalam hatinya. Apa aku sama saja seperti per
Adirama menyampaikan keinginannya dengan serius. Desha yang berdiri di belakang Budhe Tati hanya bisa menahan salah tingkah. Berbeda dengan Desha yang masih merasa canggung, Budhe Tati sama sekali tidak terlihat kikuk. Puluhan tahun menjadi penjual jamu gendong membuatnya sudah terbiasa menghadapi berbagai macam pelanggan. Ribuan kali ia mendengar keluhan, permintaan, bahkan pertanyaan aneh dari para pelanggannya. Jadi, ketika Adirama menanyakan jamu untuk stamina pria, Budhe Tati bisa langsung menjawab dengan santai. “Waduh, Pak, mohon maaf banget. Kalau ramuan cair dalam botol khusus stamina pria kebetulan sedang nggak ada. Tadi botolnya pecah waktu insiden,” jelas Budhe Tati. “Tapi kalau Pak Adirama mau, saya masih punya stok jamu serbuk sachetan. Khasiatnya hampir sama. Nanti saya seduh langsung pakai air panas, terus saya campur madu murni dan kuning telur ayam kampung. Mau saya racikkan sekarang, Pak? Diminum selagi hangat, biar badan terasa lebih segar.” Adirama tampak b
Mata Desha yang masih sepet langsung membelalak ketika melihat sosok pria berdiri tepat di depan pintu. Di tangan pria itu terdapat bakul butut miliknya. “Om?” ulang Desha. Ia benar-benar tidak menyangka ayah Varisha tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. “Kamu kenapa nggak jawab telepon saya?” tanya pria itu dengan wajah tanpa senyum. Nada suaranya terdengar kesal. Tanpa banyak basa-basi, ia bahkan melemparkan bakul tersebut ke arah Desha. Refleks Desha menangkapnya. Ia gelagapan sambil mengucek salah satu matanya. Rupanya ia benar-benar tidak mendengar suara ponselnya berdering karena tadi tertidur pulas. “Maaf, Om. Aku nggak dengar. Aku lagi tidur,” jawab Desha dengan nada bersalah. “Ck! Tidur kamu kayak bangkai, kah? Saya telepon berkali-kali, sama sekali nggak dijawab,” gerutu Adirama. “Iya, Om. Maaf.” Desha menunduk sebentar, lalu kembali menatap pria itu. “Tadi Om bilang bakulnya mau diantar pakai Gojek. Tapi kenapa malah Om sendiri yang datang?” Pandangannya beralih
“Halo, Varis. Apa kamu masih di sana?” “Masih, Mbak. Aku lagi mikir apa memang ayahku udah ganjen dari sebelum ibuku meninggal atau memang baru-baru ini. Jujur aku gak nyangka dengan sikap dia, Mbak. Menjijikan sekali dia kencan dengan cewek-cewek seusiaku. Pedofil gak sih?” "Em, aku gak tahu, Varis. Tapi, kalau orang yang benar-benar player dia tidak akan bisa menyembunyikan tabiatnya, Varis." "Iya juga, Mbak. Buktinya ibu dan ayahku selama itu baik-baik saja, dan apa kamu tahu Mbak, tadi aku spill tipis-tipis ke kakek aku tentang ayahku yang nakal tahu gak reaksi beliau? Gak percaya blas, Mbak. Kata kakek ayahku gak mungkin seperti itu, dan jujur rasanya aku pengen kasih lihat video hasil pengintaianku sama kakek, tapi aku masih mempertimbangkan kondisi kakek dan aku gak mau terjadi apa-apa sama dia, Mbak." "Ya sudah, aku tahu apa yang kamu rasakan. Kamu pasti sakit hati dan kecewa berat sama ayahmu, tapi kamu juga gak boleh nekat bongkar ini sama kekekmu, kasihan. Yang terp







