Masuk“Aunty Moore yang menyarankannya, ceritanya panjang. Apakah kalian tidak mau memelukku?” tanya Revina karena orang tuanya hanya memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tentu saja putriku,” kata Thomas yang langsung memeluk Revina dengan erat. Rebeca pun segera memisahkan dua orang yang sedang berpelukan di depannya dan langsung memeluk Revina, melepaskan semua kerinduan. Air mata yang dari tadi ditahan Rebeca, akhirnya mengalir deras membasahi pipi wanita itu. Begitu pula dengan Revina yang telah lebih dulu membasahi pipi mulusnya dengan air mata. Setelah 6 tahun, akhirnya mereka bisa bertemu kembali dan saling memeluk. “Ayo kita pulang sekarang, tidak enak dilihat orang dengan tangisan kalian,” tegur Thomas yang berdiri di dekat kedua wanita yang dia cintai. Rebeca kemudian menggandeng tangan putrinya dan segera meninggalkan bandara. Saat berada di dalam mobil, Rebeca membicarakan penampilan putrinya. “Mama tidak bermaksud menyinggung kacamatamu, tapi itu menutupi kecantikanmu, Sayang.” “Aku memang sengaja menyembunyikannya. Menjadi wanita cantik, sungguh tidak menyenangkan. Beberapa kali aku diremehkan karena banyak orang menganggapku mendapatkan gelar tinggi hanya karena mengandalkan kecantikanku. Bahkan ada beberapa wanita, menggosipkanku tidur dengan dosen pembimbingku karena nilaiku yang sempurna,” terang Revina. “Astaga, siapa yang berani melakukannya pada putri Mama? Mama akan menuntutnya,” geram Rebeca marah. Revina tertawa dengan sikap protektif Mamanya. “Mama tidak bisa menuntut orang itu karena kasusnya sudah lintas negara. Peradilannya juga akan lebih sulit. Tenanglah! Putri Mama ini adalah wanita yang sangat kuat dan aku baik-baik saja. Aku tidak akan bunuh diri hanya karena gosip murahan seperti itu,” ujar Revina. “Mama percaya dengan hal itu, putri Mama memang wanita terkuat di dunia ini,” kata Rebeca sambil mendekap putrinya. “Papa dengar kamu diterima kerja di perusahaan besar? Kapan kamu mulai bekerja?” “Minggu depan aku sudah mulai kerja. Terkait dengan hal itu ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian.” “Tentang apa itu?” tanya Rebeca. “Bolehkah aku tinggal sendiri di apartemen? Jarak rumah dengan perusahaan itu cukup jauh karena perusahaan itu berada di tengah kota. Aku tidak akan bisa membawa mobilku pulang pergi, belum lagi jika terkena macet di jalan,” jelas Rebeca dengan jantung berdebar. Dia tahu orang tuanya yang cukup protektif tidak akan mengizinkan dia pergi jauh dari jangkauan Mama Papanya. “Tidak, Mama tidak setuju,” tolak Rebeca yang jawabannya sudah bisa di tebak oleh Revina. “Kami tidak ingin kamu dalam bahaya, Sayang,” sambung Papanya. “Aku sudah memikirkan semua itu, karena itulah aku mengubah penampilanku. Jika Papa dan Mama saja sempat tidak mengenaliku, orang-orang juga tidak akan mengenalku sebagai Revina Sanchez. Aku juga bekerja sebagai Sara Moore, jadi aku yakin akan aman dan baik-baik saja,” jelas Revina. “Papa tetap tidak setuju dengan keputusanmu, Sayang. Maafkan Papa!” “Tapi aku sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan tersebut. Aku harus membayar mahal jika mengingkari kontrak yang sudah aku tanda tangani.” “Mama akan mengganti kontrakmu.” “Tidak, Mama. Nilainya terlalu besar, aku tidak mau Mama mengeluarkan uang begitu besar untuk menggantinya. Lagi pula aku ingin merasakan hidup sebagai wanita normal yang bisa keluar kemana pun aku suka, bergaul dengan teman-teman baru dan bekerja sesuai dengan passionku.” Orang tua Revina menghela nafas berat. Mereka tidak mungkin membiarkan putri satu-satunya itu jauh dari perlindungan mereka, tapi bukankah mereka juga tidak bisa membatasi kehidupan Revina? “Kami akan memikirkannya lebih dulu. Sekarang mari kita pulang dan menikmati kebersamaan ini. Jangan merusaknya dengan perdebatan tidak penting,” kata Thomas menengahi perdebatan mereka. Revina mengangguk mengiyakan perkataan Papanya. Setelah percakapan tentang pekerjaannya saat perjalanan pulang dari bandara, tidak ada pembicaraan lagi dari Papa dan Mamanya. Sekarang sudah hari sabtu dan hari Senin dia sudah harus masuk kerja. Diam-diam dia sudah mencari apartemen yang disewakan dari internet. Dia memilih apartemen yang dekat dengan perusahaan sehingga lebih aman, meski harus membayar sedikit lebih mahal untuk biaya sewanya. Saat makan malam, Revina memberanikan diri untuk menanyakan tentang kelanjutan pembicaraan mereka yang tertunda. “Bolehkah aku bicara tentang pekerjaan yang sudah aku ambil? Bagaimana keputusan kalian?” tanya Revina di depan Papa dan Mamanya setelah mereka selesai makan malam bersama. Papanya meletakkan minuman yang baru saja di kecapnya lalu menatap putrinya dengan serius. “Papa dan Mamamu sudah membicarakannya. Kami tidak bisa membatasi kehidupanmu tapi kami juga tidak bisa membiarkanmu begitu saja tanpa perlindungan.” “Jadi, apa yang harus aku lakukan?” tanya Revina karena jawaban Papanya terlalu ambigu. “Jika kamu mau menerima perjodohan yang telah kami sepakati dengan putra sahabat Papa, kami akan mengizinkanmu untuk bekerja di perusahaan pilihanmu itu. Dia mempunyai putra yang kami yakin bisa menjagamu dengan baik.” “Aku tidak keberatan menikah dengan siapa pun, tapi aku tidak ingin menikah secepat ini. Aku masih ingin menikmati pekerjaanku. Bahkan aku belum tahu bagaimana dunia kerja sesungguhnya,” tawar Revina. “Kami akan memberikanmu waktu untuk menikmati pekerjaanmu. Masih ada waktu beberapa bulan untuk kalian bertemu. Papa hanya ingin mengingatkanmu, jaga hatimu! Jangan sampai kamu menyukai pria yang ada di perusahaan tempatmu bekerja, karena kamu sudah mempunyai calon suami.” Revina menggigit bibir mendengar perkataan Papanya. Selama ini dia bahkan tidak memikirkan tentang seorang pria pun. Semenjak kematian Kakaknya, dia lebih memfokuskan diri untuk belajar dan mendapatkan gelar tinggi. Kehidupan kakaknya membuat Revina mengerti jika pria dan obat-obatan terlarang sangatlah berbahaya. “Baiklah, aku setuju. Biarkan aku mengembangkan sayapku dan aku akan menerima perjodohan kalian,” jawab Revina mengambil keputusan tanpa ragu. Papa dan Mamanya tersenyum dengan keputusannya. “Apakah kamu sudah mencari apartemen untuk tempat tinggalmu di sana?” tanya Thomas. “Sudah Pa. Apartemen itu dekat dengan perusahaan tempat aku bekerja.” “Kalau begitu, Papa sendiri yang akan mengantarmu ke sana. Papa akan melihat keamanan di sana. Jika Papa rasa, apartemen itu kurang aman, maka Papa yang akan mencarikan apartemen lain.” “Baiklah, terserah Papa saja yang penting aku bisa hidup normal tanpa bayang-bayang Papa dan Mama,” jawab Revina. Di tempat lain, Theodor sibuk menyeleksi calon karyawannya. “Charlotte, berikan data karyawan baru yang akan menjadi konsultan hukum dan legalitas ku?” kata Theodor pada sekretarisnya yang berumur 50 tahun dengan rambut yang hampir semuanya memutih. “Baik Tuan, saya akan segera mengantarkan dokumen yang Anda butuhkan ke ruangan Anda,” jawab Charlotte dengan penuh hormat. Theodor memang sengaja mempekerjakan wanita tua atau para pria untuk duduk posisi yang sering berhubungan dengan dirinya. Hal ini untuk menghindari dirinya meniduri karyawannya sendiri. Dia sadar akan kelemahannya yaitu tidak bisa melihat wanita cantik. Ambisinya untuk menaklukkan semua wanita di dunia ini, membuat dia hampir meniduri semua wanita dengan wajah cantik dan tubuh seksi yang ada di kotanya. Mungkin sebutan penjahat wanita cocok untuk dirinya, tapi jika dipikir-pikir, seumur hidupnya, Theodor tidak pernah memaksa wanita untuk tidur dengannya. Para wanita itu yang mendatanginya dan melemparkan diri mereka ke ranjangnya. Tidak ada paksaan, suka sama suka, saling menikmati dan tidak ada yang dirugikan. Apakah itu sebuah kejahatan? Theodor merasa itu bukanlah kejahatan. Yang harus para wanita itu tahu adalah dia tidak pernah tidur dengan wanita yang sama. Cukup sekali dan dia akan melupakannya, meskipun begitu tidak sedikit wanita yang mendatanginya dan mengemis untuk naik ke ranjangnya lagi. Jika sudah begitu, dia akan menelepon pengawalnya dan mengusir wanita tersebut tanpa perasaan. Kehidupan terkekang, tekanan tinggi, pekerjaan yang berat dan orang tua yang sangat mengatur, membuatnya melampiaskan semua itu dengan gairah. Hanya bersama semua wanitanya, dia bisa melampiaskan kekesalan yang dirasakan dalam hidupnya. Suara ketukan pintu, membuyarkan lamunannya saat Charlotte masuk ke ruangan. Dia mengangkat kepala menatap wanita tua itu dengan tatapan tidak ramah. Tatapan yang sudah biasa Charlotte dapatkan sehingga tidak membuat diri wanita itu terintimidasi. Berbeda dengan karyawan baru atau karyawan yang jarang berhadapan dengannya, mereka pasti akan gemetar dengan tatapan dinginnya. “Saya membawa dokumen yang Anda butuhkan,” kata Charlotte. “Letakkan di mejaku dan pergilah!” jawab Theodor. “Baik, Tuan,” kata Charlotte yang mendekati meja Theodor lalu meletakkan dokumen tersebut di sana. “Apakah dia sudah datang?” “Sudah Tuan. Dia sedang menyelesaikan sisa administrasi yang harus dilengkapi. Apakah Anda ingin bertemu dengannya hari ini?” “Tidak. Aku ada rapat sampai sore. Berikan saja dokumen dan semua prosedur yang dia butuhkan untuk dipelajari. Besok aku akan menemuinya.” “Baik, Tuan.” Setelah Charlotte pergi, Theodor membuka dokumen di mejanya. Sebuah foto wanita muda menatapnya. Sejenak Theodor merasa pernah melihatnya, dia berharap dia bukan wanita yang pernah ditidurinya. “Sara Moore,” gumam Theodor. Nama yang belum pernah dia dengar, membuatnya yakin jika wanita itu bukanlah salah satu wanita yang pernah naik ke ranjangnya. Senyum sinis tersungging di bibir Theodor. “Sungguh wanita yang tidak menarik,” batinnya, tetapi bukankah itu yang dia mau? Dia melihat foto seorang wanita dengan kacamata besar. Matanya berwarna coklat yang sangat tidak cocok dengan warna rambutnya yang hitam legam. Baju yang dia pakai sangat kuno dan tertutup. Dia memang sangat cocok duduk di jabatan yang sedang kosong saat ini. Seorang ahli hukum yang pintar dan cerdas, kutu buku dan membosankan. Wanita seperti itu tidak akan pernah bisa meningkatkan gairahnya dan karyawan seperti itulah yang dia cari. Sara Moore akan menjadi wanita termuda pertama yang bekerja di perusahaannya dengan interaksi yang intens dengannya. Selama ini, dia selalu menempatkan karyawan wanita muda jauh-jauh dari lantai tempat dia bekerja, untuk menghindari para wanita itu merayunya dan mereka akan berakhir di ranjang, karena dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya. Hanya saja, seorang profesor dan dosen hukum yang dia segani menghubunginya bulan lalu. profesor itu mereferensikan mantan mahasiswanya yang katanya sangat pandai dan cerdas untuk bisa bekerja di perusahaannya. Profesor itu sudah sangat banyak membantunya dalam meraih karirnya sekarang ini. Jadi, dia tidak mungkin bisa menolak permintaan pria itu. Kebetulan dia memang sedang membutuhkan konsultan hukum dan legalitas untuk menggantikan karyawannya yang telah pensiun.Dokter yang memeriksa Celsea melanjutkan perkataannya. “Meskipun Nyonya Smith tidak bersedia makan, dia tetap harus makan demi kandungan dan kesehatannya. Anda bisa memilih beberapa makanan bergizi yang bisa diterima oleh istri Anda tanpa menimbulkan rasa mual.”“Baik Dok, aku akan memastikan Celsea tetap makan. Apalagi yang harus aku lakukan agar istriku bisa kembali pulih?” tanya Evans.“Cukup makan, cukup istirahat, emosi terjaga dan jangan lupa memberikan vitamin yang saya berikan pada Nyonya Smith. Jika Anda berencana untuk pulang ke negara Anda, saya sarankan untuk memeriksakan kandungannya lebih dulu ke dokter kandungan,” papar dokter yang menangani Celsea.“Apakah keadaan Celsea sangat mengkhawatirkan sehingga aku harus membawanya ke dokter lagi?”“Bukan begitu Tuan Smith, hanya saja penerbangan yang terlalu lama akan memperngaruhi kandungan Nyonya Smith. Lebih baik Anda bisa memastikan jika kandungan istri Anda memungkinkan untuk melakuka
“Istriku manja sekali, apakah perutmu tidak merasa lapar dengan apa yang semalam kita lakukan? Energimu pasti terkuras habis, kamu butuh kalori untuk tubuhmu,” ucap Evans sambil mengusap punggung telanjang istrinya dari balik selimut tebal mereka. “Perutku terasa tidak nyaman, aku sedang tidak ingin makan. Aku hanya ingin merasakan aroma tubuhmu yang terasa menenangkan dan membuatku nyaman,” jawab Celsea. “Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Evans yang tiba-tiba merasa khawatir dengan kondisi istrinya, lalu menyentuh kening wanita itu. “Aku baik-baik saja, hanya perutku saja yang merasa kurang nyaman. Aku akan tidur sebentar, tetaplah bersamaku di sini! Jangan tinggalkan aku,” pinta Celsea. “Aku akan tetap di sini bersamamu. Tidurlah!” Mendengar perkataan tersebut, Celsea membenamkan wajahnya di dada telanjang suaminya dan merasakan aroma tubuh Evans yang menenangkan. Tidak lama kemudian, hembusan nafas teratu
Matanya mulai berkunang dihiasi kembang api yang seakan meledak di langit, menambah keindahan aurora yang dilihatnya. Apa yang Evans katakan memang benar, aurora itu menjadi jauh lebih indah dengan gerakan dirinya di atas tubuh suaminya.Erangan Evans terdengar saat miliknya diremas kuat oleh dinding milik Celsea. Dia sekuat tenaga bertahan dengan remasan tersebut. Hingga akhirnya terdengar teriakan kencang dari bibir Celsea, wanita itu terkulai lemah di pelukannya.Kepala Celsea bertopang sepenuhnya di bahunya, sedangkan wajah wanita itu terbenam di ceruk lehernya. Sadar jika istrinya sudah tidak berminat lagi dengan auroranya, dia menggeser posisi duduk mereka dan menutup pintu tenda.Tenda dengan penghangat di dalamnya dan baju hangat yang melindungi mereka, membuat udara dingin di luar, tidak berani mendekat. Evans membaringkan Celsea dan memiringkan tubuh istrinya. Selimut tebal masih menutupi tubuh mereka.Dia berbaring di belakang tubuh Cel
“Evans, stop! Aku tidak bisa bernafas.” Celsea menjauhkan bibirnya dan menahan dada suaminya.“Kita pulang sekarang!” ucap Evans tidak sabar.“Sekarang? Apakah kamu tidak makan malam bersama Mamamu?”“Tidak, kita akan makan malam di rumah.”“Kenapa?” Celsea khawatir jika suaminya masih membuat dinding dengan Mamanya.“Karena aku menginginkanmu,” bisik Evans yang membuat mata Celsea terbelalak.“Tapi ...”“Kita pulang sekarang!” ucap Evans yang tidak bisa dibantah lagi oleh Celsea.Paginya, Celsea terbangun dengan kepala terbenam di bantal putih yang empuk. Tubuhnya tertutup selimut tebal hampir sampai leher. Dia membuka mata dan merenggangkan tubuhnya, tapi seketika mengernyit merasakan rasa sakit yang menyengat di inti miliknya.Dia mengingat kejadian malam panasnya bersama suaminya dan menggigit selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Wajahnya merona malu
Evans kemudian melirik ke arah Delano yang seakan tidak peduli dengan apa yang sedang dibicarakan istrinya. Pria itu malah terus sibuk dengan makanan di depannya. “Tidak masalah. Aku pantas menerimanya. Aku berterimakasih pada Delano karena dia tidak membunuhku dan kini aku bisa memperbaiki dan membangun kembali hubunganku dengan Celsea.” “Membunuhmu tidak ada untungnya bagiku. Aku malah akan membusuk di penjara,” sambung Delano tanpa mau menatap Evans membuat Evans terdiam. “Sebaiknya kita makan dulu. Jika kalian ingin bicara, kalian bisa bicara nanti setelah kita makan,” tegur Theodor yang akhirnya membuat seluruh orang duduk di meja makan tersebut terdiam. Untuk beberapa lama, tidak ada seucap kata pun yang terdengar. Meja itu begitu sunyi, hanya ada suara sendok yang berbenturan dengan piring. Setelah makan malam selesai, semua anggota keluarga Rodriguez pindah ke ruang keluarga untuk menikmati minuman hangat dan makan
“Tapi aku tidak meminum obat itu,” ucap Celsea yang teringat jika Evans menolak mempunyai anak darinya.Mendengar perkataan Celsea, mata Evans menatap nanar wajah istrinya yang berada di bawahnya. Matanya berkaca-kaca, merasa bersalah karena keegoisannya.“Maafkan aku, kamu pasti kecewa dan terluka karena hal tersebut,” gumam Evans dengan ekspresi penuh penyesalan.Tangan Celsea terangkat dan menangkup wajah suaminya. “Aku bisa mengerti tekanan yang kamu alami dan rasakan. Jangan meminta maaf! Jadikan aku bagian dari rasa sakitmu sehingga aku menyatu denganmu,” kata Celsea dengan lembut hingga menyentuh hati Evans yang terdalam.Dengan masih terus bergerak di dalam Celsea, Evans berkata, “Izinkan aku untuk menjadi bagian dari dirimu dengan menanam benihku di rahimmu.”Perkataan itu membuat jantung Celsea yang sudah berdebar kencang, semakin berdebar lebih kencang lagi. Tanpa sadar air matanya mengalir deras dengan kebahagiaan yang membunc







