Home / Romansa / Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan / Bab 2. Karyawan Baru Membosankan

Share

Bab 2. Karyawan Baru Membosankan

Author: Dera Tresna
last update Last Updated: 2026-02-01 10:37:59

“Aunty Moore yang menyarankannya, ceritanya panjang. Apakah kalian tidak mau memelukku?” tanya Revina karena orang tuanya hanya memandangnya dengan mata berkaca-kaca.

“Tentu saja putriku,” kata Thomas yang langsung memeluk Revina dengan erat. Rebeca pun segera memisahkan dua orang yang sedang berpelukan di depannya dan langsung memeluk Revina, melepaskan semua kerinduan.

Air mata yang dari tadi ditahan Rebeca, akhirnya mengalir deras membasahi pipi wanita itu. Begitu pula dengan Revina yang telah lebih dulu membasahi pipi mulusnya dengan air mata. Setelah 6 tahun, akhirnya mereka bisa bertemu kembali dan saling memeluk.

“Ayo kita pulang sekarang, tidak enak dilihat orang dengan tangisan kalian,” tegur Thomas yang berdiri di dekat kedua wanita yang dia cintai. Rebeca kemudian menggandeng tangan putrinya dan segera meninggalkan bandara.

Saat berada di dalam mobil, Rebeca membicarakan penampilan putrinya. “Mama tidak bermaksud menyinggung kacamatamu, tapi itu menutupi kecantikanmu, Sayang.”

“Aku memang sengaja menyembunyikannya. Menjadi wanita cantik, sungguh tidak menyenangkan. Beberapa kali aku diremehkan karena banyak orang menganggapku mendapatkan gelar tinggi hanya karena mengandalkan kecantikanku. Bahkan ada beberapa wanita, menggosipkanku tidur dengan dosen pembimbingku karena nilaiku yang sempurna,” terang Revina.

“Astaga, siapa yang berani melakukannya pada putri Mama? Mama akan menuntutnya,” geram Rebeca marah.

Revina tertawa dengan sikap protektif Mamanya. “Mama tidak bisa menuntut orang itu karena kasusnya sudah lintas negara. Peradilannya juga akan lebih sulit. Tenanglah! Putri Mama ini adalah wanita yang sangat kuat dan aku baik-baik saja. Aku tidak akan bunuh diri hanya karena gosip murahan seperti itu,” ujar Revina.

“Mama percaya dengan hal itu, putri Mama memang wanita terkuat di dunia ini,” kata Rebeca sambil mendekap putrinya.

“Papa dengar kamu diterima kerja di perusahaan besar? Kapan kamu mulai bekerja?”

“Minggu depan aku sudah mulai kerja. Terkait dengan hal itu ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian.”

“Tentang apa itu?” tanya Rebeca.

“Bolehkah aku tinggal sendiri di apartemen? Jarak rumah dengan perusahaan itu cukup jauh karena perusahaan itu berada di tengah kota. Aku tidak akan bisa membawa mobilku pulang pergi, belum lagi jika terkena macet di jalan,” jelas Rebeca dengan jantung berdebar. Dia tahu orang tuanya yang cukup protektif tidak akan mengizinkan dia pergi jauh dari jangkauan Mama Papanya.

“Tidak, Mama tidak setuju,” tolak Rebeca yang jawabannya sudah bisa di tebak oleh Revina.

“Kami tidak ingin kamu dalam bahaya, Sayang,” sambung Papanya.

“Aku sudah memikirkan semua itu, karena itulah aku mengubah penampilanku. Jika Papa dan Mama saja sempat tidak mengenaliku, orang-orang juga tidak akan mengenalku sebagai Revina Sanchez. Aku juga bekerja sebagai Sara Moore, jadi aku yakin akan aman dan baik-baik saja,” jelas Revina.

“Papa tetap tidak setuju dengan keputusanmu, Sayang. Maafkan Papa!”

“Tapi aku sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan tersebut. Aku harus membayar mahal jika mengingkari kontrak yang sudah aku tanda tangani.”

“Mama akan mengganti kontrakmu.”

“Tidak, Mama. Nilainya terlalu besar, aku tidak mau Mama mengeluarkan uang begitu besar untuk menggantinya. Lagi pula aku ingin merasakan hidup sebagai wanita normal yang bisa keluar kemana pun aku suka, bergaul dengan teman-teman baru dan bekerja sesuai dengan passionku.”

Orang tua Revina menghela nafas berat. Mereka tidak mungkin membiarkan putri satu-satunya itu jauh dari perlindungan mereka, tapi bukankah mereka juga tidak bisa membatasi kehidupan Revina?

“Kami akan memikirkannya lebih dulu. Sekarang mari kita pulang dan menikmati kebersamaan ini. Jangan merusaknya dengan perdebatan tidak penting,” kata Thomas menengahi perdebatan mereka.

Revina mengangguk mengiyakan perkataan Papanya.

Setelah percakapan tentang pekerjaannya saat perjalanan pulang dari bandara, tidak ada pembicaraan lagi dari Papa dan Mamanya. Sekarang sudah hari sabtu dan hari Senin dia sudah harus masuk kerja.

Diam-diam dia sudah mencari apartemen yang disewakan dari internet. Dia memilih apartemen yang dekat dengan perusahaan sehingga lebih aman, meski harus membayar sedikit lebih mahal untuk biaya sewanya.

Saat makan malam, Revina memberanikan diri untuk menanyakan tentang kelanjutan pembicaraan mereka yang tertunda.

“Bolehkah aku bicara tentang pekerjaan yang sudah aku ambil? Bagaimana keputusan kalian?” tanya Revina di depan Papa dan Mamanya setelah mereka selesai makan malam bersama.

Papanya meletakkan minuman yang baru saja di kecapnya lalu menatap putrinya dengan serius. “Papa dan Mamamu sudah membicarakannya. Kami tidak bisa membatasi kehidupanmu tapi kami juga tidak bisa membiarkanmu begitu saja tanpa perlindungan.”

“Jadi, apa yang harus aku lakukan?” tanya Revina karena jawaban Papanya terlalu ambigu.

“Jika kamu mau menerima perjodohan yang telah kami sepakati dengan putra sahabat Papa, kami akan mengizinkanmu untuk bekerja di perusahaan pilihanmu itu. Dia mempunyai putra yang kami yakin bisa menjagamu dengan baik.”

“Aku tidak keberatan menikah dengan siapa pun, tapi aku tidak ingin menikah secepat ini. Aku masih ingin menikmati pekerjaanku. Bahkan aku belum tahu bagaimana dunia kerja sesungguhnya,” tawar Revina.

“Kami akan memberikanmu waktu untuk menikmati pekerjaanmu. Masih ada waktu beberapa bulan untuk kalian bertemu. Papa hanya ingin mengingatkanmu, jaga hatimu! Jangan sampai kamu menyukai pria yang ada di perusahaan tempatmu bekerja, karena kamu sudah mempunyai calon suami.”

Revina menggigit bibir mendengar perkataan Papanya. Selama ini dia bahkan tidak memikirkan tentang seorang pria pun. Semenjak kematian Kakaknya, dia lebih memfokuskan diri untuk belajar dan mendapatkan gelar tinggi. Kehidupan kakaknya membuat Revina mengerti jika pria dan obat-obatan terlarang sangatlah berbahaya.

“Baiklah, aku setuju. Biarkan aku mengembangkan sayapku dan aku akan menerima perjodohan kalian,” jawab Revina mengambil keputusan tanpa ragu.

Papa dan Mamanya tersenyum dengan keputusannya. “Apakah kamu sudah mencari apartemen untuk tempat tinggalmu di sana?” tanya Thomas.

“Sudah Pa. Apartemen itu dekat dengan perusahaan tempat aku bekerja.”

“Kalau begitu, Papa sendiri yang akan mengantarmu ke sana. Papa akan melihat keamanan di sana. Jika Papa rasa, apartemen itu kurang aman, maka Papa yang akan mencarikan apartemen lain.”

“Baiklah, terserah Papa saja yang penting aku bisa hidup normal tanpa bayang-bayang Papa dan Mama,” jawab Revina.

Di tempat lain, Theodor sibuk menyeleksi calon karyawannya.

“Charlotte, berikan data karyawan baru yang akan menjadi konsultan hukum dan legalitas ku?” kata Theodor pada sekretarisnya yang berumur 50 tahun dengan rambut yang hampir semuanya memutih.

“Baik Tuan, saya akan segera mengantarkan dokumen yang Anda butuhkan ke ruangan Anda,” jawab Charlotte dengan penuh hormat.

Theodor memang sengaja mempekerjakan wanita tua atau para pria untuk duduk posisi yang sering berhubungan dengan dirinya. Hal ini untuk menghindari dirinya meniduri karyawannya sendiri. Dia sadar akan kelemahannya yaitu tidak bisa melihat wanita cantik.

Ambisinya untuk menaklukkan semua wanita di dunia ini, membuat dia hampir meniduri semua wanita dengan wajah cantik dan tubuh seksi yang ada di kotanya.

Mungkin sebutan penjahat wanita cocok untuk dirinya, tapi jika dipikir-pikir, seumur hidupnya, Theodor tidak pernah memaksa wanita untuk tidur dengannya. Para wanita itu yang mendatanginya dan melemparkan diri mereka ke ranjangnya. Tidak ada paksaan, suka sama suka, saling menikmati dan tidak ada yang dirugikan. Apakah itu sebuah kejahatan? Theodor merasa itu bukanlah kejahatan.

Yang harus para wanita itu tahu adalah dia tidak pernah tidur dengan wanita yang sama. Cukup sekali dan dia akan melupakannya, meskipun begitu tidak sedikit wanita yang mendatanginya dan mengemis untuk naik ke ranjangnya lagi. Jika sudah begitu, dia akan menelepon pengawalnya dan mengusir wanita tersebut tanpa perasaan.

Kehidupan terkekang, tekanan tinggi, pekerjaan yang berat dan orang tua yang sangat mengatur, membuatnya melampiaskan semua itu dengan gairah. Hanya bersama semua wanitanya, dia bisa melampiaskan kekesalan yang dirasakan dalam hidupnya.

Suara ketukan pintu, membuyarkan lamunannya saat Charlotte masuk ke ruangan. Dia mengangkat kepala menatap wanita tua itu dengan tatapan tidak ramah. Tatapan yang sudah biasa Charlotte dapatkan sehingga tidak membuat diri wanita itu terintimidasi. Berbeda dengan karyawan baru atau karyawan yang jarang berhadapan dengannya, mereka pasti akan gemetar dengan tatapan dinginnya.

“Saya membawa dokumen yang Anda butuhkan,” kata Charlotte.

“Letakkan di mejaku dan pergilah!” jawab Theodor.

“Baik, Tuan,” kata Charlotte yang mendekati meja Theodor lalu meletakkan dokumen tersebut di sana.

“Apakah dia sudah datang?”

“Sudah Tuan. Dia sedang menyelesaikan sisa administrasi yang harus dilengkapi. Apakah Anda ingin bertemu dengannya hari ini?”

“Tidak. Aku ada rapat sampai sore. Berikan saja dokumen dan semua prosedur yang dia butuhkan untuk dipelajari. Besok aku akan menemuinya.”

“Baik, Tuan.”

Setelah Charlotte pergi, Theodor membuka dokumen di mejanya. Sebuah foto wanita muda menatapnya. Sejenak Theodor merasa pernah melihatnya, dia berharap dia bukan wanita yang pernah ditidurinya.

“Sara Moore,” gumam Theodor. Nama yang belum pernah dia dengar, membuatnya yakin jika wanita itu bukanlah salah satu wanita yang pernah naik ke ranjangnya.

Senyum sinis tersungging di bibir Theodor. “Sungguh wanita yang tidak menarik,” batinnya, tetapi bukankah itu yang dia mau?

Dia melihat foto seorang wanita dengan kacamata besar. Matanya berwarna coklat yang sangat tidak cocok dengan warna rambutnya yang hitam legam. Baju yang dia pakai sangat kuno dan tertutup. Dia memang sangat cocok duduk di jabatan yang sedang kosong saat ini.

Seorang ahli hukum yang pintar dan cerdas, kutu buku dan membosankan. Wanita seperti itu tidak akan pernah bisa meningkatkan gairahnya dan karyawan seperti itulah yang dia cari.

Sara Moore akan menjadi wanita termuda pertama yang bekerja di perusahaannya dengan interaksi yang intens dengannya. Selama ini, dia selalu menempatkan karyawan wanita muda jauh-jauh dari lantai tempat dia bekerja, untuk menghindari para wanita itu merayunya dan mereka akan berakhir di ranjang, karena dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya.

Hanya saja, seorang profesor dan dosen hukum yang dia segani menghubunginya bulan lalu. profesor itu mereferensikan mantan mahasiswanya yang katanya sangat pandai dan cerdas untuk bisa bekerja di perusahaannya.

Profesor itu sudah sangat banyak membantunya dalam meraih karirnya sekarang ini. Jadi, dia tidak mungkin bisa menolak permintaan pria itu. Kebetulan dia memang sedang membutuhkan konsultan hukum dan legalitas untuk menggantikan karyawannya yang telah pensiun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 26. Kesepakatan dan Keputusan Gila

    “Setuju, aku juga tidak berniat membuka identitasku.” “Hanya untuk bersenang-senang.” “Ya... hanya untuk bersenang-senang di tengah kepenatan pekerjaan dan kehidupan.” “Hahaha... benar sekali.” “Bagaimana dengan tunanganmu? Apakah dia tidak akan bermasalah?” “Dia menginginkan seorang wanita jalang, maka dia akan mendapatnya,” kata Revina tampak tidak peduli dan langsung menenggak minuman yang berada di depannya. Theodor menatap wanita di depannya itu dengan tatapan tidak terbaca. "Kapan aku bisa mengajarimu menjadi wanita jalang?" tanya Theodor dengan ekspresi misterius. Revina menatap T sekejap lalu berkata, “Bagaimana jika malam ini, setelah acara pesta ulang tahun selesai.” “Apakah kamu ada agenda di acara ini?” tanya Theodor. “Aku tidak mempunyai agenda apa pun di acara ini, ada apa memangnya?” Revina balik bertanya.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 25. Menjadi Pribadi ke 3

    Setelah seminggu merencanakan pesta megah untuk ulang tahun perusahaan, hari itu pun akhirnya tiba. Aula perusahaan yang biasanya di sekat menjadi beberapa ruang meeting, hari itu di bongkar menjadi satu ruangan besar. Ruangan tersebut disulap menjadi ruangan yang bertema pesta topeng. Semua orang tampil maksimal dengan topeng mereka untuk menyembunyikan identitas masing-masing. Begitu juga Sara, dia memakai pakaian yang tidak mencolok, menggunakan topeng Victoria berwarna emas dan tampil elegan. Meskipun begitu, dia tetap menyembunyikan warna rambut dan matanya. Tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai Sara. Berbeda dengan Theodor. Setelah tekanan yang dia rasakan, dia ingin merasakan hidup bebas dengan bersembunyi di balik topengnya. Theodor membayar seorang aktor yang mirip dengan dirinya dan menyuruh aktor tersebut untuk menggantikan dirinya naik ke podium. Sedangkan Theodor bercampur dengan karyawan yang lain dan mengaku jika dia ad

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 24. Berada dalam Posisi Serba Salah

    Mendengar perkataan Kimberly, air mata Revina menetes membasahi pipinya. Dia menggigit bibir untuk menahan rasa marah. Calon mertuanya menyamakan dirinya dengan para jalang yang selama ini berkeliaran di sekitar Theodor. “Kakakku bukan wanita seperti itu, dia wanita terhormat. Anda juga telah salah menilaiku.” “Wanita terhormat?” sindir Kimberly dengan senyuman sinis. “Aku berharap kamu bisa membuktikan dirimu jika kamu adalah wanita terhormat. Meskipun aku meragukan akan hal tersebut,” sambung Kimberly lagi. Revina yang tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya terdiam. Dia memilih untuk mengabaikan perkataan calon mertuanya itu. “Masuklah dan cari tunanganmu! Kalau kamu tidak bisa menjadi wanita yang setara dengannya, lebih baik kamu instropeksi diri lebih dulu untuk menjadi menantuku. Jangan karena kamu mendapat tempat di hati suamiku, maka kamu bisa seenaknya saja. Ingat itu!” kata Kimberly yang terlihat seperti bunglon.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 23. Rasa Tertolak menjadi Diri Sendiri

    Hanya Sara yang bisa membuat Theodor bergairah dan bahagia. Hubungan intim pun terbangun antara dirinya dengan Sara, tanpa mereka harus bercinta. Sayangnya, Papanya memaksanya untuk menikah dengan Revina. Hal itulah yang membuat Theodor berusaha keras menghindari Sara, jika tidak, maka wanita itu akan terluka. Saat dia menjadikan Sara sebagai kekasihnya, dia tidak memikirkan pertunangannya dengan Revina. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri dan kini dia menyesalinya. Tekanan yang mengganggunya, membuat Theodor tidak bisa tidur memikirkan semuanya itu. Dia mengambil ponsel di atas meja dan menekan nomor yang selama ini belum pernah dihubunginya. Mata Revina tertutup rapat dan kesadarannya sudah mulai menghilang saat terdengar suara ponsel yang menyadarkannya kembali dari tidur. Kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya, membuat Revina menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 22. Menghancurkan Diri karena Rasa Marah

    Tangan Sara tiba-tiba gemetar meresponnya. Cokelat yang ada di tangannya pun tumpah dan mengotori pakaiannya. “Oh... astaga, maafkan saya, Nyonya. Sepertinya keadaan saya memburuk. Bolehkah saya permisi lebih dulu?” “Apakah kamu membutuhkan dokter? Aku akan memanggilkannya untukmu?” “Tidak perlu, terimakasih. Saya harus membersihkan pakaian saya karena tumpahan cokelat ini.” “Sebelum kamu pergi, tolong pikirkan apa yang aku katakan padamu. Theodor membutuhkanmu, Sara.” “Saya akan memikirkannya, Nyonya,” kata Sara lalu menjauh dari Kimberly. Dia berlari masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintunya, tangisnya pecah begitu saja. Dia memukul dadanya berkali-kali, berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Rodriguez jika dirinya adalah Revina Sanchez.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 21. Hati Hancur karena Penolakan

    “Papa sangat tahu jika aku tidak akan bisa menolaknya. Jika sudah selesai bicara, aku akan menutup teleponku. Pekerjaanku masih banyak,” nada dingin Theodor semakin membekukan pembicaraan mereka. Reagan pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Theodor sudah memasang dinding tebal di antara mereka. “Baiklah, Papa tutup teleponnya. Satu hari sebelum hari pertunanganmu, pulanglah untuk mempersiapkannya,” tegas Reagan. “Ya, aku akan pulang,” jawab Theodor singkat, lalu menutup teleponnya. Tepat setelahnya, Sara masuk ke ruangan Theodor. “Apakah ada masalah?” tanya Sara pada pria itu. “Bukan urusanmu. Aku akan keluar, kerjakan yang sudah menjadi planning kita hari ini dan mulailah merancang projek baru yang kemarin sudah kamu bicarakan. Kita akan membuat projek tahap dua. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor. Kalau ada apa-apa, kirim pesan saja tapi jangan meneleponku,” jawab Theodor denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status