LOGIN
Seorang pria berumur 55 tahun dengan rambut yang mulai memutih, keluar dari sebuah mobil mewah. Mobil tersebut hanya dibuat 5 unit di dunia ini dan Reagan Rodriguez adalah salah satu pemiliknya. Sebuah karpet merah tergelar di hadapannya, jajaran petinggi D. R. T. Corp berdiri di sepanjang pintu masuk dengan membungkukkan badan mereka.
Hanya satu orang petinggi di perusahaan tersebut yang tidak terlihat batang hidungnya. Dia adalah presiden direktur D. R. T. Corp, putra dari Reagan Rodriguez. Pria berumur 30 tahun yang bernama Theodor Rodriguez, malah memilih bersenang-senang bersama wanitanya dibanding menyambut kedatangan Papanya. Tidak ada senyum di bibir Reagan Rodriguez, bahkan dia tidak peduli dengan semua sambutan dari seluruh jajaran petinggi D. R. T. Corp. Dia berjalan cepat diikuti oleh dua pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam serta mengenakan kacamata hitam. Siapapun pasti tahu jika kedua pria itu adalah pengawalnya. Tujuannya datang ke perusahaan tersebut untuk satu tujuan. Dengan rahang yang mengeras serta tatapan dingin, dia menuju ke sebuah ruangan untuk mendapatkan tujuan tersebut. Sebuah desahan keras terdengar menjijikkan, terdengar dari sebuah ruangan yang dituju oleh Reagan. Dengan kasar Reagan membanting pintu ruangan tersebut. Suara pintu yang berdebum keras, mengagetkan sepasang pria dan wanita yang berada di dalam ruangan tersebut. Wanita yang berada di dalamnya, berteriak kaget sambil menutup tubuhnya yang masih dalam keadaan setengah telanjang. Sedangkan pria di depannya tampak santai dengan pakaian yang berantakan. Bahkan dia tidak perlu repot untuk merapikan pakaiannya, saat sepasang mata menatapnya dengan tatapan membunuh. “KELUAR DARI RUANGAN PUTRAKU SEKARANG JUGA ...! DASAR WANITA JALANG ...!” teriak Reagan dengan marah. “Perkataanmu terlalu kasar untuk seorang wanita, Papa,” kata Theodor tanpa benar-benar membela wanita yang baru saja memuaskannya. Bahkan Theo masih duduk dengan santai di kursi kebesarannya, tanpa rasa hormat pada Papanya. “DIAM KAMU, THEO ...!” Theodor hanya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan tidak berkomentar lagi. “Bawa wanita jalang ini keluar dari sini!” kata Reagan pada kedua bodyguard-nya. Kedua pria berpakaian hitam itu langsung memegang lengan wanita yang berada di dekat Theodor dan menyeretnya keluar dari ruangan pria itu. “Theo, tolong aku,” teriak wanita itu memohon. “Maaf Sayang, aku tidak berani membantah Papaku,” jawab Theodor dengan nada yang dibuat-buat, tidak ada keinginan sedikit pun darinya untuk menolong wanita yang baru dikenalnya itu. Bahkan saat ini dia sudah lupa, siapa nama wanita yang datang ke ruangannya tersebut. Setelah Reagan hanya berdua dengan putranya di dalam ruangan, pria itu mengajak bicara putranya. “Berhenti bermain-main, Theo. Sadarlah dengan umurmu, tahun ini kamu sudah berkepala tiga dan kamu tidak pernah serius dengan wanita manapun.” “Aku khawatir nantinya akan kecewa, Papa. Ekspektasiku selalu berbeda dengan ekspektasi Papa dan Mama. Berapa wanita yang aku bawa ke rumah untuk aku perkenalkan pada kalian dan akhirnya kalian menolaknya? Aku sudah lelah dengan sikap kalian yang terlalu mengatur hidupku,” Theodor berusaha membela diri. “Itu karena wanita yang kamu bawa hanyalah wanita murahan yang hanya menginginkan hartamu. Tidak ada yang benar-benar mencintaimu,” jawab Reagan. Theodor tertawa keras mendengar perkataan Papanya. “Apakah Papa sekarang beralih profesi sebagai peramal yang bisa menebak isi hati orang lain? Bagaimana Papa bisa tahu isi hati wanita yang aku perkenalkan pada kalian, jika menatapnya saja kalian tidak bersedia. Jangan melucu di depanku, Pa!” “Dimana ponselmu? Beberapa hari aku menelponmu, tapi kamu tidak menjawab. Apakah kamu menyimpannya di tempat sampah?” sindir Reagan yang mengalihkan pembicaraan. Dia terlalu lelah berdebat dengan putra tertuanya itu. “Aku sedang sibuk dengan semua wanitaku, sebelum hal itu dilarang oleh mu,” jawab Theodor tanpa rasa bersalah. “Nanti malam pulanglah! Mamamu merindukanmu,” kata Reagan dengan nada sedikit melembut. “Aku akan usahakan untuk pulang dan makan malam bersama kalian. Apakah hanya itu yang ingin Papa katakan hingga harus jauh-jauh datang ke sini?” “Tentu saja tidak, ada hal lain yang ingin aku bicarakan denganmu.” “Sudah aku duga. Apakah Papa akan menjodohkan aku lagi setelah kejadian yang terakhir kali?” Reagan tidak langsung menjawab pertanyaan putranya. Dia mengeluarkan selembar foto dari saku bajunya lalu meletakkan foto tersebut di depan Theodor. Mata Theodor menatap sekejap wanita di foto tersebut. Wanita cantik dengan rambut merah menyala, tersenyum menatap dirinya. Matanya sangat indah, berwarna biru dengan semburat hijau membentuk lingkaran unik di sekelilingnya. Untuk sejenak, Theodor mengagumi wanita tersebut, tapi wajahnya kembali memasang tampang dingin di hadapan Papanya. Dia tidak mau Papanya merasa menang karena mengetahui dirinya mengagumi wanita di dalam foto tersebut. “Gadis itu bernama Revina Sanchez. Selama ini keluarga Sanchez menyembunyikan putrinya demi keselamatan gadis tersebut. Mereka tidak mau kejadian kakaknya terulang kembali,” jelas Reagan. “Keluarga Sanchez lagi? Tidak, aku tidak ingin berhubungan dengan mereka. Kamu bisa mencarikanku wanita kaya raya untuk menimbun kekayaanmu, tapi tidak untuk keluarga dengan banyak musuh seperti keluarga Sanchez,” tolak Theodor. “Mereka membutuhkan pertolonganmu, Theo.” “Tidak, mereka membutuhkan pertolonganmu, bukan pertolonganku. Kamu bisa menikahkan gadis itu dengan putramu yang lain. Masih ada Reviano dan Kenric yang sudah cukup matang untuk menikah. Lagi pula berapa umur gadis itu? 24... 23...?” “22 tahun,” jawab Reagan. “What...? Bahkan Delano masih pantas untuknya, dia terlalu kecil untukku. Aku tidak mau disebut pedofil saat berjalan dengannya. Aku yakin, dia bahkan belum tahu apa-apa soal ranjang. Kamu tahu sendiri Pa, gairahku sangat besar di ranjang, hanya wanita berpengalaman yang bisa memuaskanku.” “THEO ... JAGA UCAPANMU ...!” “Aku hanya mencoba berbicara jujur pada mu, Pa.” “Aku tidak mau dibantah. Kamu adalah putra tertuaku dan umurmu sudah terlalu tua untuk menikah. Aku akan memberi kabar kapan kalian bisa bertemu. Saat ini, dia masih ada di luar negeri dan dalam beberapa bulan lagi dia akan pulang, saat itulah kalian akan bertemu.” “Papa tidak bisa mengaturku seperti ini, aku sudah dewasa.” “Tentu saja Papa bisa, Nak. Kedudukan presiden direktur yang kamu emban bukanlah halangan buat Papa untuk memaksamu berjalan sesuai dengan aturan yang telah keluarga Rodriguez jalankan selama ini. Perusahaan besar yang kamu jalankan saat ini hanya kerikil kecil di kaki Papa.” “Hati-hati Pa, kerikil kecil kadang lebih menyakitkan daripada batu besar yang kamu tendang.” “Apakah kamu sedang ingin melawan Papamu, Nak? Berapa lama kamu menjalankan bisnis ini? 5 tahun? 10 tahun? pengalamanmu belum bisa menandingi pengalamanku,” ancam Reagan dengan senyum sinis. Rahang Theodor mengeras, mendengar ancaman Papanya. Selama ini hubungan mereka memang tidak begitu baik, hanya seperti atasan dan bawahan. Bahkan Theodor sampai lupa kapan dia memeluk Papanya dan bilang jika dia mencintainya. “Simpan foto itu, siapa tahu akan berguna untukmu. Jangan lupa nanti malam pulanglah, 3 saudaramu juga akan ada di rumah,” kata Reagan yang kemudian berbalik memunggungi putranya. Dengan langkah penuh percaya diri dan kesombongan, pria tua itu meninggalkan ruangan putranya. Tangan Theodor mengepal kuat menahan amarah. Untuk kedua kalinya dia dijodohkan, apakah kali ini akan berakhir sama dengan perjodohan pertamanya yang gagal? Bahkan wanita itu mati di pelukannya, sebelum Theodor menikahinya. Tangan Theodor mengambil foto yang Papanya berikan, menatapnya sekali lagi wanita itu, kemudian meletakkan foto tersebut di laci meja. Dia tidak akan pernah menyentuh wanita yang Papanya sodorkan. Lebih baik dia menikah dengan wanita jalang yang dia temui di pinggir jalan daripada menyenangkan hati Papanya dengan menikahi gadis yang dijodohkan Papanya. Apalagi harus kembali berurusan dengan keluarga Sanchez, semua itu mustahil untuk dia lakukan. Thomas dan Rebeca Sanchez sedang berada di bandara, suami istri itu tampak gelisah menunggu putri mereka yang datang dari luar negeri. Hampir 6 tahun keluarga itu tidak saling bertemu karena mereka sengaja menyembunyikan putri mereka dari penjahat yang ingin melukai putri mereka. Thomas adalah seorang detektif polisi, sedangkan Rebeca adalah seorang jaksa. Mereka mempunyai dua orang putri, yang pertama bernama Lalita Sanchez dan yang kedua adalah Revina Sanchez. Lalita Sanchez meninggal, seminggu sebelum acara pernikahannya digelar. Dia tertembak tepat di bagian dada saat pergi bersama teman-temannya. Pelakunya adalah bandar narkoba yang tangan kanannya ditangkap oleh Thomas dan sedang menjalani proses pengadilan dengan Rebeca sebagai jaksa penuntutnya. Semenjak saat itu, keluarga mereka selalu menerima ancaman. Demi keselamatan putrinya, Thomas dan Rebeca mengirim Revina Sanchez pada Aunty Moore dan mengganti nama putri mereka menjadi Sara Moore. Setelah dianggap aman, Revina akhirnya bisa pulang dan berkumpul bersama keluarganya. Seharusnya Revina pulang beberapa bulan lagi, tapi karena dia diterima kerja di sebuah perusahaan besar di kota kelahirannya, wanita itu memutuskan untuk pulang lebih awal. Pesawat yang dinaiki oleh Revina baru saja mendarat, mata Thomas dan Rebeca mencari putri mereka di gerbang kedatangan. Mereka mencari wanita berambut merah yang selalu mudah ditemukan di antara banyak orang, tapi setelah beberapa menit menunggu, tidak terlihat wanita yang mereka cari. Tangan Rebeca mulai gemetar, memikirkan hal negatif yang kemungkinan terjadi pada putrinya. Thomas yang tahu kegelisahan istrinya, menggenggam tangan istrinya dengan lembut, mencoba menenangkan kegelisahan istrinya. Air mata Rebeca menggembang di pelupuk matanya saat orang terakhir dari penerbangan putrinya sudah turun dan tidak terlihat putri mereka berada di antara orang-orang itu. “Thom, dimana putri kita?” gumam Rebeca di pelukkan suaminya. “Mungkin Revina sedang ke toilet lebih dulu, kita tunggu sebentar lagi. Tenanglah!” jawab Thomas yang sebenarnya juga khawatir dengan keadaan Revina. “Mama ... Papa …!” panggil seorang wanita dengan rambut hitam legam sebahu, serta sepasang mata coklat yang tidak dikenal oleh Thomas dan Rebeca. Ditambah lagi kacamata bulat besar yang menutupi kecantikan wanita tersebut. “Revina ...?” kata Rebeca seakan tidak percaya dengan putrinya yang sudah merubah penampilannya. “Yes, I’am Revina,” jawab wanita itu dengan senyum manis. “Bagaimana kamu bisa berubah seperti ini? Mama sampai tidak mengenalimu,” kata Rebeca dengan perasaan lega dan senyum bahagia karena putrinya tiba dengan selamat.“Setuju, aku juga tidak berniat membuka identitasku.” “Hanya untuk bersenang-senang.” “Ya... hanya untuk bersenang-senang di tengah kepenatan pekerjaan dan kehidupan.” “Hahaha... benar sekali.” “Bagaimana dengan tunanganmu? Apakah dia tidak akan bermasalah?” “Dia menginginkan seorang wanita jalang, maka dia akan mendapatnya,” kata Revina tampak tidak peduli dan langsung menenggak minuman yang berada di depannya. Theodor menatap wanita di depannya itu dengan tatapan tidak terbaca. "Kapan aku bisa mengajarimu menjadi wanita jalang?" tanya Theodor dengan ekspresi misterius. Revina menatap T sekejap lalu berkata, “Bagaimana jika malam ini, setelah acara pesta ulang tahun selesai.” “Apakah kamu ada agenda di acara ini?” tanya Theodor. “Aku tidak mempunyai agenda apa pun di acara ini, ada apa memangnya?” Revina balik bertanya.
Setelah seminggu merencanakan pesta megah untuk ulang tahun perusahaan, hari itu pun akhirnya tiba. Aula perusahaan yang biasanya di sekat menjadi beberapa ruang meeting, hari itu di bongkar menjadi satu ruangan besar. Ruangan tersebut disulap menjadi ruangan yang bertema pesta topeng. Semua orang tampil maksimal dengan topeng mereka untuk menyembunyikan identitas masing-masing. Begitu juga Sara, dia memakai pakaian yang tidak mencolok, menggunakan topeng Victoria berwarna emas dan tampil elegan. Meskipun begitu, dia tetap menyembunyikan warna rambut dan matanya. Tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai Sara. Berbeda dengan Theodor. Setelah tekanan yang dia rasakan, dia ingin merasakan hidup bebas dengan bersembunyi di balik topengnya. Theodor membayar seorang aktor yang mirip dengan dirinya dan menyuruh aktor tersebut untuk menggantikan dirinya naik ke podium. Sedangkan Theodor bercampur dengan karyawan yang lain dan mengaku jika dia ad
Mendengar perkataan Kimberly, air mata Revina menetes membasahi pipinya. Dia menggigit bibir untuk menahan rasa marah. Calon mertuanya menyamakan dirinya dengan para jalang yang selama ini berkeliaran di sekitar Theodor. “Kakakku bukan wanita seperti itu, dia wanita terhormat. Anda juga telah salah menilaiku.” “Wanita terhormat?” sindir Kimberly dengan senyuman sinis. “Aku berharap kamu bisa membuktikan dirimu jika kamu adalah wanita terhormat. Meskipun aku meragukan akan hal tersebut,” sambung Kimberly lagi. Revina yang tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya terdiam. Dia memilih untuk mengabaikan perkataan calon mertuanya itu. “Masuklah dan cari tunanganmu! Kalau kamu tidak bisa menjadi wanita yang setara dengannya, lebih baik kamu instropeksi diri lebih dulu untuk menjadi menantuku. Jangan karena kamu mendapat tempat di hati suamiku, maka kamu bisa seenaknya saja. Ingat itu!” kata Kimberly yang terlihat seperti bunglon.
Hanya Sara yang bisa membuat Theodor bergairah dan bahagia. Hubungan intim pun terbangun antara dirinya dengan Sara, tanpa mereka harus bercinta. Sayangnya, Papanya memaksanya untuk menikah dengan Revina. Hal itulah yang membuat Theodor berusaha keras menghindari Sara, jika tidak, maka wanita itu akan terluka. Saat dia menjadikan Sara sebagai kekasihnya, dia tidak memikirkan pertunangannya dengan Revina. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri dan kini dia menyesalinya. Tekanan yang mengganggunya, membuat Theodor tidak bisa tidur memikirkan semuanya itu. Dia mengambil ponsel di atas meja dan menekan nomor yang selama ini belum pernah dihubunginya. Mata Revina tertutup rapat dan kesadarannya sudah mulai menghilang saat terdengar suara ponsel yang menyadarkannya kembali dari tidur. Kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya, membuat Revina menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
Tangan Sara tiba-tiba gemetar meresponnya. Cokelat yang ada di tangannya pun tumpah dan mengotori pakaiannya. “Oh... astaga, maafkan saya, Nyonya. Sepertinya keadaan saya memburuk. Bolehkah saya permisi lebih dulu?” “Apakah kamu membutuhkan dokter? Aku akan memanggilkannya untukmu?” “Tidak perlu, terimakasih. Saya harus membersihkan pakaian saya karena tumpahan cokelat ini.” “Sebelum kamu pergi, tolong pikirkan apa yang aku katakan padamu. Theodor membutuhkanmu, Sara.” “Saya akan memikirkannya, Nyonya,” kata Sara lalu menjauh dari Kimberly. Dia berlari masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintunya, tangisnya pecah begitu saja. Dia memukul dadanya berkali-kali, berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Rodriguez jika dirinya adalah Revina Sanchez.
“Papa sangat tahu jika aku tidak akan bisa menolaknya. Jika sudah selesai bicara, aku akan menutup teleponku. Pekerjaanku masih banyak,” nada dingin Theodor semakin membekukan pembicaraan mereka. Reagan pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Theodor sudah memasang dinding tebal di antara mereka. “Baiklah, Papa tutup teleponnya. Satu hari sebelum hari pertunanganmu, pulanglah untuk mempersiapkannya,” tegas Reagan. “Ya, aku akan pulang,” jawab Theodor singkat, lalu menutup teleponnya. Tepat setelahnya, Sara masuk ke ruangan Theodor. “Apakah ada masalah?” tanya Sara pada pria itu. “Bukan urusanmu. Aku akan keluar, kerjakan yang sudah menjadi planning kita hari ini dan mulailah merancang projek baru yang kemarin sudah kamu bicarakan. Kita akan membuat projek tahap dua. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor. Kalau ada apa-apa, kirim pesan saja tapi jangan meneleponku,” jawab Theodor denga







