Home / Romansa / Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan / Bab 3. Kejutan Hari Pertama Kerja

Share

Bab 3. Kejutan Hari Pertama Kerja

Author: Dera Tresna
last update Last Updated: 2026-02-01 10:39:07

Sara meremas jarinya gugup, saat duduk di salah satu ruangan di perusahaan tempat kerjanya. Dia tidak menyangka jika perusahaan yang menerimanya bekerja bukanlah perusahaan besar biasa, tapi benar-benar luar biasa besar.

D. R. T. Corp merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perhiasan dan jam tangan mewah. Mensponsori acara-acara bergengsi di dunia. Namanya dikenal di 100 negara, hampir 50% dari jumlah negara di dunia ini.

Sejenak dia tampak tidak percaya diri saat bertemu dengan para karyawan wanita di perusahaan tersebut. Pakaian mereka sangat modern dan tampak seksi. Make up mereka sangat tebal, seakan mereka sedang ikut kontes kecantikan.

Apakah berpakaian seksi dan bermake up tebal menjadi salah satu peraturan di perusahaan ini? batin Sara.

Seorang wanita dengan rambut memutih, membuka pintu ruangan dimana dia menunggu.

“Apakah kamu sudah menunggu lama?” tanya wanita tersebut.

“Tidak jadi masalah Mam, saya tahu kesibukan Anda. Apalagi dengan perusahaan sebesar ini,” kata Sara ramah.

“Apakah kamu sudah menyelesaikan administrasinya?”

“Sudah Mam.”

“Kamu bisa memanggilku Charlotte, kita akan sering bertemu nantinya.”

“Apakah itu akan terlihat sopan?”

“Itu akan membuat kita lebih dekat dan santai,” kata Charlotte dengan ramah pula.

“Anda bisa memanggil saya Sara,” balas Sara.

“Baiklah Sara, kamu bisa ikut aku sekarang. Aku akan menjelaskan pekerjaanmu karena Tuan Theodor sedang ada rapat selama seharian penuh sehingga dia tidak bisa menemuimu hari ini.”

“Baik Mam, hmm … maaf, Charlotte maksudku.”

Charlotte tersenyum dengan sikap lugu wanita di sampingnya itu. Mereka berjalan menuju lantai teratas gedung tersebut, dimana singgasana Theodor berada disana.

“Ini adalah ruangan Tuan Theodor dan kamu akan berada di ruangan yang berada di sampingnya. Sedangkan mejaku berada di sini, di antara ruanganmu dan ruangan Tuan Theodor. Jadi, jika kamu memerlukan sesuatu, jangan segan untuk memanggilku,” terang Charlotte sambil menunjuk pintu sebuah ruangan yang tampak begitu dominan, pintu ruangan seorang presiden direktur.

Sangat kontras dengan meja Charlotte yang berada di depan ruangan tersebut. Hanya ada sebuah meja kecil dan komputer di atasnya.

“Terimakasih untuk bantuan yang Anda tawarkan,” jawab Sara.

“Sama-sama, itu sudah menjadi tugasku. Aku rasa, kamu juga bisa membuang formalitasmu itu sehingga pembicaraan kita tidak tampak kaku.”

“Jika hal tersebut, aku butuh waktu untuk melakukannya. Aku tidak terbiasa langsung akrab dengan orang yang baru saja aku temui. Maafkan aku Charlotte.”

“Oh... tentu saja, santailah...!”

Setelah melewati pintu tersebut, Charlotte membuka ruangan lain. Ada ruangan yang lumayan besar yang penuh dengan buku. Meja panjang dengan satu kursi menemaninya. Tidak ada komputer di sana, membuat Sara berkerut heran. Dengan apa dia bekerja jika tidak ada komputer?

Sebelum Sara menanyakannya, Charlotte mendekati meja tersebut dan membuka lacinya.

“Kamu akan mendapatkan fasilitas laptop dengan ID dan password terdaftar. Apa pun yang kamu buka di sini, akan diketahui dan dipantau oleh Tuan Theodor. Hal ini untuk menjaga kerahasiaan perusahaan kami,” jelas Charlotte.

“Itu tidak ada masalah untukku.”

“Ada pintu penghubung antara ruanganmu dengan ruangan Tuan Theodor. Dia tipe pria yang tidak sabaran, jadi jika dia meminta sesuatu, segeralah datang. Lemari yang ada di depanmu berisi semua prosedur yang harus kamu pahami. Hari ini, kamu bisa mempelajarinya dan besok kamu baru akan mulai bekerja. Apakah ada yang ingin kamu tanyakan sebelum aku kembali ke mejaku?”

“Ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan tapi tidak berhubungan dengan pekerjaan,” ujar Sara.

“Apa itu?” tanya Charlotte.

“Apakah di perusahaan ini mewajibkan mengenakan pakaian seksi dan bermake up tebal? Karena sepanjang aku berjalan di lantai bawah, aku melihat semua wanita memakai semua itu.”

Charlotte tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. “Mereka sedang berebut untuk naik ke ranjang sang kaisar. Berharap menjadi selirnya, paling tidak bisa bersama sang kaisar selama semalam,” jawab Charlotte yang mendapat tatapan tidak mengerti dari Sara.

“Maaf, aku belum mengerti apa yang Anda katakan?”

“Maksudku adalah tetaplah dengan penampilanmu yang sekarang agar kamu tidak dipecat.”

Sara mengangguk lalu berkata, “Itulah yang aku inginkan, yaitu apakah boleh aku tetap dengan penampilanku?”

“Tentu saja boleh dan itu sangat disarankan. Baiklah, aku akan kembali ke mejaku. Jika butuh sesuatu atau ada yang tidak kamu mengerti, kamu bisa memanggilku.”

“Terimakasih Charlotte, Anda sangat membantu.”

Setelah menjelaskan semua yang Sara butuhkan, Charlotte meninggalkan Sara di ruangannya.

Seharian Sara berkutat dengan prosedur yang harus dipelajari dan pahami, ruangan barunya seperti surga baginya. Banyak ilmu baru yang bisa dia dapatkan dari semua prosedur yang dia baca. Menyelami semua itu, membuatnya tidak sadar jika hari sudah sore dan satu persatu karyawan sudah meninggalkan gedung D. R. T. Corp.

“Sara, apakah kamu tidak pulang? Aku sudah mau pulang,” tanya Charlotte yang hanya menampakkan kepalanya saja dari balik pintu ruangan Sara.

“Bolehkah aku di sini sebentar lagi?” tanya Sara pada Charlotte.

“Tentu saja. Apakah tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu sendiri di sini?”

“Tidak masalah, aku sudah terbiasa sendiri.”

“Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lagi besok.”

“Hati-hati di jalan Charlotte.”

Tidak lama kemudian, Charlotte pulang meninggalkan Sara sendiri di ruangannya. Mata Sara seakan tidak mau berhenti menjelajahi semua dokumen di depannya. Kata sebentar yang tadi diucapkannya pada Charlotte menjadi beberapa jam, tanpa dia sadari.

Kepalanya terangkat saat mendengar pintu ruangan di sebelahnya terbuka dengan keras. Dari sekat kaca yang memisahkan antara ruangannya dengan ruangan presiden direktur, dia bisa melihat seorang pria dan wanita masuk dengan saling memeluk dan melumat bibir pasangannya dengan rakus.

Theodor yang tidak menyadari jika masih ada orang di ruang sebelah tidak peduli dengan keadaan sekitar. Setelah rapat, seorang wanita pemegang saham di salah satu kantor cabang di perusahaan menggodanya. Wanita itu cukup cantik dan seksi, sesuai dengan kriterianya selama ini.

Prinsip Theodor yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan, tentu saja langsung memberi lampu hijau pada wanita itu. Dia membawa wanita itu ke lantai atas, di mana ruangannya berada. Dari dalam lift khusus direksi, dia sudah melumat bibir seksi wanita itu. Bibir yang mungkin sudah beberapa kali mendapat operasi plastik, dilihat dari bentuknya yang terlalu berlebihan. Meski begitu, dia tidak peduli. Dia sedang ingin dipuaskan malam ini.

Tampaknya wanita itu sudah sangat berpengalaman. Setelah memasuki ruangannya, wanita itu mendorong tubuhnya, membuatnya jatuh di kursi kerja. Dengan berani, wanita itu membuka dan menurunkan celananya. Tidak lama kemudian, rasa hangat menyelubungi inti miliknya, membuatnya menutup mata dan menikmati mulut wanita yang sedang memuaskannya.

Saat ingin menutup mata, ujung matanya menangkap sesuatu di ruang sebelah. Ragu antara kenyataan atau halusinasi, dia menyipitkan mata menangkap bayangan seorang wanita yang berdiri di ruang sebelah dan menatapnya dari balik kaca pembatas. Sadar akan hal itu, dia berharap jika apa yang dilihatnya bukan hantu.

Detik itu juga matanya bertabrakan dengan sepasang mata coklat yang terbelalak menatap apa yang dia lakukan bersama wanitanya. Bukannya malu dengan apa yang dia lakukan, bibirnya menyeringai sinis menatap tajam wanita yang sedang menatapnya tanpa berkedip.

Jantung Sara berdetak kencang saat dirinya ketahuan sedang mengintip atasannya yang sedang bercinta dengan seorang wanita. Dengan tangan gemetar, dia langsung menutup tirai sekat kaca tersebut. Beruntung dia tidak melihat bagian bawah tubuh atasannya yang telanjang karena tertutup oleh meja kerja pria itu.

Dengan secepat kilat, dia mengemas barang-barangnya lalu pergi meninggalkan ruangan. Tangannya masih gemetar saat menekan tombol lift, mengingat tatapan tajam dan seringai sinis atasannya yang terus mengganggu di pelupuk mata.

Sesampainya di apartemen, bayangan atasannya masih saja mengganggu. Beberapa kali dia menepuk kening, menyesal kenapa tadi dirinya tidak langsung pergi saat melihat atasannya masuk ke ruangan dengan seorang wanita. Tanpa disadari, matanya malah terus menatap sepasang pria dan wanita itu serta merasa penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan.

“Astaga, bagaimana besok aku menghadapi pria itu? Rasanya akan sangat memalukan,” gumam Sara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Berulang kali dia berusaha menutup mata, tapi selalu terbuka kembali karena bayangan wajah atasannya mengganggu.

“Jangan sampai besok aku dipecat karena apa yang aku lihat hari ini,” doa Sara dalam hati.

Sara berdiri dengan kepala tertunduk dan tangan terlipat di depan tubuhnya. Tubuhnya sedikit gemetar saat tatapan dingin menghujam ke arahnya. Bibirnya terus bungkam karena takut mengucapkan perkataan yang salah.

Pagi ini, dia sangat terkejut saat Charlotte bilang, Theodor ingin bertemu dengannya. Dia mengetuk pintu ruangan pria itu. Setelah Theodor menyuruhnya masuk, pria itu hanya menatapnya tanpa bicara apa pun. Tatapan tajam dan dingin terus terarah padanya. Dia menunggu pria itu berbicara, tapi tidak ada perkataan apa pun yang keluar dari mulut Theodor.

Theodor mengamati penampilan karyawan barunya. Dengan baju yang tertutup, Sara berhasil menyembunyikan tubuh indahnya. Lensa kontak warna coklat yang dia pakai, menyembunyikan warna matanya yang menawan. Cat rambut hitamnya, menghilangkan warna rambut aslinya yang merah menyala. Warna rambut yang banyak disukai oleh para pria karena mereka beranggapan wanita dengan warna rambut merah menyala adalah jenis wanita yang panas di ranjang.

Sara bersyukur dengan penampilan barunya yang membuatnya aman dari pria-pria pemangsa wanita seperti presiden direktur yang sedang menilai tubuhnya kini. Dia harus berterima kasih pada Aunty Moore yang telah memberikan ide tersebut.

Keadaan sepi di ruangan itu, membuat Sara semakin bingung dan salah tingkah. Dengan perlahan dia mengangkat kepala dan menatap sepasang mata hitam tajam.

“Charlotte bilang, Anda ingin menemui saya, apakah ada yang bisa saya bantu?” Sara memberanikan diri memulai percakapan.

“Apakah kamu tidak merasa bersalah dengan apa yang kamu lakukan semalam?” tanya Theodor dengan nada dingin dan mengintimidasi. Wajah Sara langsung berubah merah karena malu.

“Maafkan saya atas kejadian semalam. Saya tidak akan mengulanginya lagi.”

“Lain kali jika aku masuk ke ruanganku dengan seorang wanita, tutup tirainya, kecuali jika kamu ingin melihatku bercinta dengan semua wanitaku. MENGERTI ...?”

“Baik, Tuan. Saya mengerti.”

“Siapa namamu?”

“Nama saya, Sara Moore.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 26. Kesepakatan dan Keputusan Gila

    “Setuju, aku juga tidak berniat membuka identitasku.” “Hanya untuk bersenang-senang.” “Ya... hanya untuk bersenang-senang di tengah kepenatan pekerjaan dan kehidupan.” “Hahaha... benar sekali.” “Bagaimana dengan tunanganmu? Apakah dia tidak akan bermasalah?” “Dia menginginkan seorang wanita jalang, maka dia akan mendapatnya,” kata Revina tampak tidak peduli dan langsung menenggak minuman yang berada di depannya. Theodor menatap wanita di depannya itu dengan tatapan tidak terbaca. "Kapan aku bisa mengajarimu menjadi wanita jalang?" tanya Theodor dengan ekspresi misterius. Revina menatap T sekejap lalu berkata, “Bagaimana jika malam ini, setelah acara pesta ulang tahun selesai.” “Apakah kamu ada agenda di acara ini?” tanya Theodor. “Aku tidak mempunyai agenda apa pun di acara ini, ada apa memangnya?” Revina balik bertanya.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 25. Menjadi Pribadi ke 3

    Setelah seminggu merencanakan pesta megah untuk ulang tahun perusahaan, hari itu pun akhirnya tiba. Aula perusahaan yang biasanya di sekat menjadi beberapa ruang meeting, hari itu di bongkar menjadi satu ruangan besar. Ruangan tersebut disulap menjadi ruangan yang bertema pesta topeng. Semua orang tampil maksimal dengan topeng mereka untuk menyembunyikan identitas masing-masing. Begitu juga Sara, dia memakai pakaian yang tidak mencolok, menggunakan topeng Victoria berwarna emas dan tampil elegan. Meskipun begitu, dia tetap menyembunyikan warna rambut dan matanya. Tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai Sara. Berbeda dengan Theodor. Setelah tekanan yang dia rasakan, dia ingin merasakan hidup bebas dengan bersembunyi di balik topengnya. Theodor membayar seorang aktor yang mirip dengan dirinya dan menyuruh aktor tersebut untuk menggantikan dirinya naik ke podium. Sedangkan Theodor bercampur dengan karyawan yang lain dan mengaku jika dia ad

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 24. Berada dalam Posisi Serba Salah

    Mendengar perkataan Kimberly, air mata Revina menetes membasahi pipinya. Dia menggigit bibir untuk menahan rasa marah. Calon mertuanya menyamakan dirinya dengan para jalang yang selama ini berkeliaran di sekitar Theodor. “Kakakku bukan wanita seperti itu, dia wanita terhormat. Anda juga telah salah menilaiku.” “Wanita terhormat?” sindir Kimberly dengan senyuman sinis. “Aku berharap kamu bisa membuktikan dirimu jika kamu adalah wanita terhormat. Meskipun aku meragukan akan hal tersebut,” sambung Kimberly lagi. Revina yang tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya terdiam. Dia memilih untuk mengabaikan perkataan calon mertuanya itu. “Masuklah dan cari tunanganmu! Kalau kamu tidak bisa menjadi wanita yang setara dengannya, lebih baik kamu instropeksi diri lebih dulu untuk menjadi menantuku. Jangan karena kamu mendapat tempat di hati suamiku, maka kamu bisa seenaknya saja. Ingat itu!” kata Kimberly yang terlihat seperti bunglon.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 23. Rasa Tertolak menjadi Diri Sendiri

    Hanya Sara yang bisa membuat Theodor bergairah dan bahagia. Hubungan intim pun terbangun antara dirinya dengan Sara, tanpa mereka harus bercinta. Sayangnya, Papanya memaksanya untuk menikah dengan Revina. Hal itulah yang membuat Theodor berusaha keras menghindari Sara, jika tidak, maka wanita itu akan terluka. Saat dia menjadikan Sara sebagai kekasihnya, dia tidak memikirkan pertunangannya dengan Revina. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri dan kini dia menyesalinya. Tekanan yang mengganggunya, membuat Theodor tidak bisa tidur memikirkan semuanya itu. Dia mengambil ponsel di atas meja dan menekan nomor yang selama ini belum pernah dihubunginya. Mata Revina tertutup rapat dan kesadarannya sudah mulai menghilang saat terdengar suara ponsel yang menyadarkannya kembali dari tidur. Kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya, membuat Revina menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 22. Menghancurkan Diri karena Rasa Marah

    Tangan Sara tiba-tiba gemetar meresponnya. Cokelat yang ada di tangannya pun tumpah dan mengotori pakaiannya. “Oh... astaga, maafkan saya, Nyonya. Sepertinya keadaan saya memburuk. Bolehkah saya permisi lebih dulu?” “Apakah kamu membutuhkan dokter? Aku akan memanggilkannya untukmu?” “Tidak perlu, terimakasih. Saya harus membersihkan pakaian saya karena tumpahan cokelat ini.” “Sebelum kamu pergi, tolong pikirkan apa yang aku katakan padamu. Theodor membutuhkanmu, Sara.” “Saya akan memikirkannya, Nyonya,” kata Sara lalu menjauh dari Kimberly. Dia berlari masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintunya, tangisnya pecah begitu saja. Dia memukul dadanya berkali-kali, berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Rodriguez jika dirinya adalah Revina Sanchez.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 21. Hati Hancur karena Penolakan

    “Papa sangat tahu jika aku tidak akan bisa menolaknya. Jika sudah selesai bicara, aku akan menutup teleponku. Pekerjaanku masih banyak,” nada dingin Theodor semakin membekukan pembicaraan mereka. Reagan pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Theodor sudah memasang dinding tebal di antara mereka. “Baiklah, Papa tutup teleponnya. Satu hari sebelum hari pertunanganmu, pulanglah untuk mempersiapkannya,” tegas Reagan. “Ya, aku akan pulang,” jawab Theodor singkat, lalu menutup teleponnya. Tepat setelahnya, Sara masuk ke ruangan Theodor. “Apakah ada masalah?” tanya Sara pada pria itu. “Bukan urusanmu. Aku akan keluar, kerjakan yang sudah menjadi planning kita hari ini dan mulailah merancang projek baru yang kemarin sudah kamu bicarakan. Kita akan membuat projek tahap dua. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor. Kalau ada apa-apa, kirim pesan saja tapi jangan meneleponku,” jawab Theodor denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status