Home / Romansa / Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan / Bab 4. Dua Pria Kekanak-Kanakan

Share

Bab 4. Dua Pria Kekanak-Kanakan

Author: Dera Tresna
last update Last Updated: 2026-02-01 10:39:52

“Benarkah kamu sepintar dan secerdas apa yang dikatakan profesor Andrew?” tanya Theodor dengan nada meragukan.

“Secara akademik, nilai saya sempurna. Saya juga pernah magang di sebuah perusahaan dan penilaian mereka tentang pekerjaan saya, memuaskan. Untuk menyakinkan Anda tentang pekerjaan saya, Anda bisa melihat pekerjaan saya beberapa hari ke depan,” jelas Sara dengan penuh percaya diri.

“Aku akan melihatmu satu minggu ini? Jika kamu tidak bekerja sesuai ekspektasiku, maka kamu akan dipindahkan ke bagian lain. Jika dalam 3 bulan percobaanmu, kamu gagal melakukan tugasmu, maka kamu akan aku pecat dan tidak ada ganti rugi atas sisa kontrak yang kamu tanda tangani,” tegas Theodor dengan nada tegas dan dominan.

“Saya mengerti. Saya akan berusaha bekerja sesuai dengan ekspektasi Anda,” ujar Sara.

“Apakah kamu sudah mempelajari semua prosedur yang ada di ruanganmu?”

“Sudah Tuan.”

“Apakah ada yang ingin kamu tanyakan?”

“Untuk saat ini, belum ada.”

“Kalau begitu kamu boleh kembali ke ruanganmu. Kamu bisa menggunakan pintu penghubung itu untuk keluar masuk ruanganku,” kata Theodor sambil menunjuk pintu di samping Sara.

“Baik Tuan. Terima kasih.”

“Satu hal lagi, Sara.”

“Ya, Tuan.”

“Tetaplah berpakaian seperti ini dan jaga penampilanmu. Jangan pernah berpikir untuk menggodaku. Sekali saja aku menidurimu, kamu harus angkat kaki dari sini.”

“A-apa? Meniduri siapa?” ucap Sara gagap.

Pria seperti Theodor, tidak akan pernah masuk ke dalam kriterianya. Meskipun harus diakui wajah Theodor sangat tampan dengan tubuh seperti dewa yunani, tapi kelakuan dan sikap dinginnya membuatnya menempatkan Theodor menjadi pria terakhir di dunia ini yang akan dipilihnya.

“Jangan munafik, Sara. Semalam bukankah kamu menginginkanku juga? Sayangnya aku tidak pernah meniduri karyawan yang bekerja satu lantai denganku.”

“Sepertinya Anda salah sangka. Saya tidak pernah menginginkan Anda,” jawab Sara dengan tegas.

Ada seringai misterius, terlihat di bibir Theodor. Baru kali ini ada seorang wanita yang bilang tidak menginginkannya. Beruntung Sara adalah wanita yang sangat tidak menarik sehingga dia tidak perlu repot memperlihatkan pesonanya. Jika saja Sara wanita cantik dan seksi, dia pasti akan langsung membawanya ke ranjang dan memecatnya hari itu juga.

“Pergilah ...! Aku rasa sudah cukup aku berbicara denganmu.”

“Baik, Tuan,” jawab Sara lalu meninggalkan ruangan Theodor melalui pintu penghubung di antara mereka.

Hari berikutnya, pintu ruangan Presiden Direktur D. R. T. Corp terbuka dengan keras, mengagetkan Sara yang sedang berbicara dengan Theodor. Matanya terbelalak terkejut melihat Reagan Rodriguez, pria terkaya di negerinya melangkah masuk ke ruang kerja putranya.

Sara langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya, menyambut Reagan. Tentu saja Reagan tidak mempedulikan karyawan rendahan seperti Sara yang sedang membungkukkan tubuh menyambut dirinya. Tubuh Sara terlonjak kaget saat Reagen membanting majalah dengan keras di atas meja Theodor.

“Apa-apaan ini? Kamu meniduri investor kita, kemudian memutuskan kerjasama dengan seenaknya saja. Beritanya sudah menyebar kemana-mana dan itu sangat memalukan. Bahkan foto kalian yang sedang telanjang berdua, terpampang di halaman paling depan,” kata Reagan dengan nada tinggi.

Sara bahkan bisa melihat seakan ada asap yang mengepul dari telinga Reagan karena kemarahan pria itu pada putranya.

“Dia menjebakku karena itu aku memutuskan kontrak kerjasamanya.”

“Menjebak bagaimana maksudmu? Kamu yang menidurinya dan sekarang kamu bilang dia yang menjebakmu.”

“Dia sengaja memasang kamera agar bisa mengekspos apa yang kami lakukan saat berdua, kemudian memerasku. Dia meminta bagian 70% dari total keuntungan yang aku peroleh dari kerjasama kami, jika tidak, dia akan menyebarkan rekaman saat kami bercinta.”

“Dan kamu memilih mempermalukan dirimu sendiri?” tanya Reagan geram.

“Aku tidak sudi memberikan uangku untuk wanita serakah seperti dia. Soal gambar itu, aku bisa mengatasinya dengan mudah. Besok pagi Papa tidak akan melihat gambar telanjangku lagi dimanapun juga. Aku akan menariknya dari pasaran,” jelas Theodor.

“Jadi kamu memilih menghabiskan uangmu untuk menarik semua gambarmu ini, daripada mendapat keuntungan 30% dari kerjasama itu dan kehormatanmu tetap terjaga?”

“Kehormatanku sudah lama tidak terjaga Pa, mungkin yang Papa maksud adalah kehormatan keluarga Papa.”

“THEODOR! JAGA UCAPANMU ...!” teriak Reagan yang naik pitam karena perkataan putranya. Sayangnya Theodor mengabaikan teriakan tersebut.

“Lagi pula aku tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk menarik semua gambar telanjangku. Dengan sedikit ancaman dan penarikan saham, aku yakin media manapun akan takut denganku,” kata Theodor dengan santai.

Perang dingin antara Theodor dengan Papanya, membuat Sara yang dari tadi berdiri di ruangan itu merasa tidak nyaman. Ingin sekali dia pergi dari ruangan tersebut, tapi Theodor tidak menyuruhnya pergi.

Di sisi lain, jika dia tetap berada di ruangan tersebut, membuat dirinya canggung dan merasa aneh karena mendengar pertengkaran pribadi keluarga Rodriguez.

Saat akhirnya Sara mendapat celah, dengan memberanikan diri dia berkata, “Tuan Theodor, bolehkah saya pergi lebih dulu untuk mengerjakan pekerjaanku?” kata Sara dengan tubuh sedikit gemetar.

“Kamu tetap di sini...! Pembicaraan kita belum selesai,” tegas Theodor.

“Tapi Tuan, Anda dan Tuan Rodriguez sepertinya butuh waktu berdua untuk ...”

“Siapa kamu? Sejak kapan kamu di sini? Apakah kamu sedang menguping pembicaraan kami?” bentak Reagan di depan muka Sara yang membuat wanita itu semakin gemetar.

“A-apa? Saya ti-tidak ...”

“Dari tadi, dia sudah berdiri di sampingmu, bahkan aku yakin punggungnya sudah sakit karena membungkuk,” sindir Theodor memotong perkataan gagap Sara.

“Pergi dari hadapanku sekarang juga ...!” bentak Reagan pada Sara.

“Tidak, dia akan tetap di sini. Kami sedang membahas proyek baru sebelum Papa kemari dan kami akan melanjutkan pembahasannya saat Papa sudah selesai bicara. Apakah Papa sudah selesai bicara? Jika sudah selesai, Papa bisa meninggalkan ruanganku,” kata Theodor mengusir Papanya dan tetap mempertahankan Sara di ruangannya.

Mata Sara terbelalak saat mendengar perkataan Theodor. Dia tidak menyangka jika atasannya tersebut bisa bersikap sangat arogan, seperti orang yang tidak berpendidikan. Bahkan dia begitu lancang mengusir Papanya sendiri yang seharusnya dia hormati.

“Aku masih bicara denganmu Theodor,” geram Reagan.

“DAN KAMU, PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA ...!” bentak Reagan dengan mata melebar menyuruh Sara pergi.

“Baik Tuan,” jawab Sara yang langsung beranjak menjauh dari meja Theodor.

“BERHENTI ...! Aku bilang kamu tetap di sini. Aku yang menggajimu, bukan Tuan Rodriguez. Jadi, dengarkan perkataanku atau aku akan memecatmu,” ancam Theodor pada Sara.

“PERGI DARI RUANGAN INI ...! Atau aku sendiri yang akan membuatmu tidak bisa diterima kerja dimanapun juga,” serang Reagan mengusir Sara, yang tidak mau kalah dengan putranya.

Bola mata Sara bergerak dari Theodor ke Reagan, kemudian kembali lagi menatap bergantian kedua pria yang berada di ruangan tersebut. Sara bingung harus memilih yang mana? Saat ini dia benar-benar merasa sedang berada di pinggir jurang. Apa pun keputusannya, sama-sama merugikan dirinya. Anak dan bapak di depannya sedang berperang ego dan nasibnya yang menjadi taruhannya.

Mata coklat Sara akhirnya menatap Theodor dengan penuh penyesalan. “Maafkan saya, Tuan,” kata Sara lalu pergi meninggalkan ruangan Theodor.

Rahang Theodor mengeras melihat wanita itu lebih patuh pada Papanya dibanding dirinya. Sedangkan bibir Reagan tersenyum tipis karena merasa menang dari putranya. Sikap mereka berdua seperti anak kecil dan jauh dari kata dewasa.

Sara masih memegang dadanya, merasakan jantungnya yang seakan ingin lepas dari tempatnya. Dua orang Rodriguez baru saja membentaknya dan sekarang nasibnya berada di ujung tanduk. Baru saja dia mendapat kepercayaan dari Theodor karena pekerjaannya yang baik, hari ini dia harus siap-siap dipecat.

Dia mondar-mandir di ruangan dengan gelisah, seakan sedang menunggu eksekusi dari Theodor. Bahkan dia harus pergi beberapa kali ke kamar mandi karena rasa gelisahnya tersebut.

Saat keluar dari kamar mandi, sepertinya dewa keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Tepat beberapa meter di depannya, Reagan berjalan ke arahnya. Dia berpikir untuk masuk kembali ke kamar mandi untuk menghindari pria tua yang galak itu, tapi akan sangat tidak sopan menghindari orang terkaya di negerinya itu saat mata mereka sudah saling menatap.

Saat Reagan semakin mendekat ke tempatnya berdiri. Sara langsung menundukkan kepala dan membungkukkan tubuhnya.

“Tuan Rodriguez,” sapa Sara.

“Apakah kamu wanita yang tadi berada di ruangan Theodor?” tanya Reagan dengan nada dingin.

“Ya Tuan, maaf karena tadi saya tidak langsung pergi dari ruangan Tuan Theodor dan sempat mendengar pembicaraan Anda dengan Tuan Theodor.”

“Apakah kamu bekerja langsung di bawah Theodor?” tanya Reagan menghiraukan perkataan Sara.

“Benar Tuan, saya berada di bagian legal.”

“Bagian legal?” gumam Reagan.

“Benar Tuan.”

“Jabatan yang lumayan. Apakah kamu cukup pintar di bagian itu atau Theodor sudah menidurimu sehingga memberikan jabatan itu dengan mudah?”

“A-apa? Ti-tidak Tuan. Saya tidak pernah tidur dengan Tuan Theodor,” bantah Sara.

“Apakah kamu selalu gagap jika sedang gugup?”

“Maafkan saya, Tuan.”

“Jika kamu tidak pernah tidur dengan Theodor, maka aku percaya kamu cukup pintar untuk duduk di jabatanmu sekarang.”

“Sebenarnya saya tidak sepintar yang Anda kira, saya hanya beruntung saja. Kebetulan penelitian saya dibimbing oleh Profesor Andrew, dia yang menjadi perantara sehingga saya bisa bekerja di sini, tapi sayangnya hari ini bakalan menjadi hari terakhir saya bekerja.”

“Oh... aku kenal baik dengan Andrew, jika dia yang merekomendasikan dirimu, aku percaya jika kamu cukup pandai. Ini kartu namaku, jika kamu memegang kartu ini, kamu bisa bekerja dimana pun kamu mau,” kata Reagan sambil menyerahkan kartu nama berwarna emas yang sangat elegan.

Mata Sara terbelalak mendapatkan kartu tersebut. Dia tidak menyangka, Reagan akan bersikap baik setelah pria itu membentaknya begitu keras.

“Terimakasih Tuan,” kata Sara dengan hati senang sambil membungkukkan tubuhnya beberapa kali.

“Itulah keuntungan jika kamu menuruti kata-kataku dibanding menuruti perkataan putraku. Jika kamu sudah tidak betah bekerja dengannya, kamu bisa meninggalkan kantor ini dan gunakan kartu yang kamu pegang untuk mendapatkan tempat yang lebih baik,” kata Reagan lalu meninggalkan Sara begitu saja.

Mata Sara berbinar senang dan terus menatap kepergian pria tua tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 26. Kesepakatan dan Keputusan Gila

    “Setuju, aku juga tidak berniat membuka identitasku.” “Hanya untuk bersenang-senang.” “Ya... hanya untuk bersenang-senang di tengah kepenatan pekerjaan dan kehidupan.” “Hahaha... benar sekali.” “Bagaimana dengan tunanganmu? Apakah dia tidak akan bermasalah?” “Dia menginginkan seorang wanita jalang, maka dia akan mendapatnya,” kata Revina tampak tidak peduli dan langsung menenggak minuman yang berada di depannya. Theodor menatap wanita di depannya itu dengan tatapan tidak terbaca. "Kapan aku bisa mengajarimu menjadi wanita jalang?" tanya Theodor dengan ekspresi misterius. Revina menatap T sekejap lalu berkata, “Bagaimana jika malam ini, setelah acara pesta ulang tahun selesai.” “Apakah kamu ada agenda di acara ini?” tanya Theodor. “Aku tidak mempunyai agenda apa pun di acara ini, ada apa memangnya?” Revina balik bertanya.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 25. Menjadi Pribadi ke 3

    Setelah seminggu merencanakan pesta megah untuk ulang tahun perusahaan, hari itu pun akhirnya tiba. Aula perusahaan yang biasanya di sekat menjadi beberapa ruang meeting, hari itu di bongkar menjadi satu ruangan besar. Ruangan tersebut disulap menjadi ruangan yang bertema pesta topeng. Semua orang tampil maksimal dengan topeng mereka untuk menyembunyikan identitas masing-masing. Begitu juga Sara, dia memakai pakaian yang tidak mencolok, menggunakan topeng Victoria berwarna emas dan tampil elegan. Meskipun begitu, dia tetap menyembunyikan warna rambut dan matanya. Tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai Sara. Berbeda dengan Theodor. Setelah tekanan yang dia rasakan, dia ingin merasakan hidup bebas dengan bersembunyi di balik topengnya. Theodor membayar seorang aktor yang mirip dengan dirinya dan menyuruh aktor tersebut untuk menggantikan dirinya naik ke podium. Sedangkan Theodor bercampur dengan karyawan yang lain dan mengaku jika dia ad

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 24. Berada dalam Posisi Serba Salah

    Mendengar perkataan Kimberly, air mata Revina menetes membasahi pipinya. Dia menggigit bibir untuk menahan rasa marah. Calon mertuanya menyamakan dirinya dengan para jalang yang selama ini berkeliaran di sekitar Theodor. “Kakakku bukan wanita seperti itu, dia wanita terhormat. Anda juga telah salah menilaiku.” “Wanita terhormat?” sindir Kimberly dengan senyuman sinis. “Aku berharap kamu bisa membuktikan dirimu jika kamu adalah wanita terhormat. Meskipun aku meragukan akan hal tersebut,” sambung Kimberly lagi. Revina yang tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya terdiam. Dia memilih untuk mengabaikan perkataan calon mertuanya itu. “Masuklah dan cari tunanganmu! Kalau kamu tidak bisa menjadi wanita yang setara dengannya, lebih baik kamu instropeksi diri lebih dulu untuk menjadi menantuku. Jangan karena kamu mendapat tempat di hati suamiku, maka kamu bisa seenaknya saja. Ingat itu!” kata Kimberly yang terlihat seperti bunglon.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 23. Rasa Tertolak menjadi Diri Sendiri

    Hanya Sara yang bisa membuat Theodor bergairah dan bahagia. Hubungan intim pun terbangun antara dirinya dengan Sara, tanpa mereka harus bercinta. Sayangnya, Papanya memaksanya untuk menikah dengan Revina. Hal itulah yang membuat Theodor berusaha keras menghindari Sara, jika tidak, maka wanita itu akan terluka. Saat dia menjadikan Sara sebagai kekasihnya, dia tidak memikirkan pertunangannya dengan Revina. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri dan kini dia menyesalinya. Tekanan yang mengganggunya, membuat Theodor tidak bisa tidur memikirkan semuanya itu. Dia mengambil ponsel di atas meja dan menekan nomor yang selama ini belum pernah dihubunginya. Mata Revina tertutup rapat dan kesadarannya sudah mulai menghilang saat terdengar suara ponsel yang menyadarkannya kembali dari tidur. Kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya, membuat Revina menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 22. Menghancurkan Diri karena Rasa Marah

    Tangan Sara tiba-tiba gemetar meresponnya. Cokelat yang ada di tangannya pun tumpah dan mengotori pakaiannya. “Oh... astaga, maafkan saya, Nyonya. Sepertinya keadaan saya memburuk. Bolehkah saya permisi lebih dulu?” “Apakah kamu membutuhkan dokter? Aku akan memanggilkannya untukmu?” “Tidak perlu, terimakasih. Saya harus membersihkan pakaian saya karena tumpahan cokelat ini.” “Sebelum kamu pergi, tolong pikirkan apa yang aku katakan padamu. Theodor membutuhkanmu, Sara.” “Saya akan memikirkannya, Nyonya,” kata Sara lalu menjauh dari Kimberly. Dia berlari masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintunya, tangisnya pecah begitu saja. Dia memukul dadanya berkali-kali, berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Rodriguez jika dirinya adalah Revina Sanchez.

  • Wanita Rambut Merah Penakluk Pria Arogan   Bab 21. Hati Hancur karena Penolakan

    “Papa sangat tahu jika aku tidak akan bisa menolaknya. Jika sudah selesai bicara, aku akan menutup teleponku. Pekerjaanku masih banyak,” nada dingin Theodor semakin membekukan pembicaraan mereka. Reagan pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Theodor sudah memasang dinding tebal di antara mereka. “Baiklah, Papa tutup teleponnya. Satu hari sebelum hari pertunanganmu, pulanglah untuk mempersiapkannya,” tegas Reagan. “Ya, aku akan pulang,” jawab Theodor singkat, lalu menutup teleponnya. Tepat setelahnya, Sara masuk ke ruangan Theodor. “Apakah ada masalah?” tanya Sara pada pria itu. “Bukan urusanmu. Aku akan keluar, kerjakan yang sudah menjadi planning kita hari ini dan mulailah merancang projek baru yang kemarin sudah kamu bicarakan. Kita akan membuat projek tahap dua. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor. Kalau ada apa-apa, kirim pesan saja tapi jangan meneleponku,” jawab Theodor denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status