LOGINSenyuman terkembang di bibir Sara menyadari jika baru saja dia berhadapan dengan dua pria dewasa dengan pemikiran yang kekanak-kanakan. Pria sekaya Reagan sedang bersaing dengan putranya sendiri yang pembangkang. Sialnya tanpa sengaja, dia terhisap di dalam persaingan tersebut. Dua pria itu terlihat lebih seperti anak kecil dibanding dengan dua pria dengan kekayaan yang spektakuler.
Jauh di ujung lorong, tanpa dia tahu, sepasang mata hitam sedang menatapnya dingin dan tajam. Rahangnya mengeras dan dadanya penuh dengan kemarahan. Tangannya mengepal karena kemarahannya tersebut. “Dasar wanita jalang, apakah sekarang kamu sedang menggoda Papaku?” gumamnya. Theodor kemudian menjauh dari tempat Sara berdiri lalu masuk ke ruangannya sendiri. Sara merasa tenang dengan kartu emas yang digenggamnya. Dia memasukkan kartu tersebut ke kantong atas kemeja yang dipakai untuk mengamankannya. Sara masuk ke ruangan dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Merasa Theodor tidak memanggilnya untuk melanjutkan pembahasan proyek mereka, dia berkonsentrasi dengan pekerjaan lain yang mengantri. Baru saja konsentrasinya teralihkan ke pekerjaan, pintu ruangan yang menghubungkan ruangannya dengan ruangan Theodor terbuka dengan suara keras. Dia langsung menegakkan kepala dan berdiri saat tahu Theodor masuk ke ruangannya. “Tuan Theodor ...” sapa Sara seramah mungkin. Tanpa berkata apa pun, Theodor langsung menarik lengan Sara dengan kuat, membuat wanita itu meringis karena rasa sakit dari cengkramannya. Dia mendorong tubuh Sara ke tembok dengan kuat, sehingga punggung Sara menabrak dinding dengan kencang. Tanpa diduga, tiba-tiba bibir Theodor sudah melumat bibir Sara dengan rakus. Awalnya tubuhnya mematung merasakan ciuman pertamanya itu, tapi sedetik kemudian tangannya mencoba mendorong tubuh Theodor yang besar dan mendominasi. Sayangnya, kekuatannya tidak ada apa-apanya dibanding dengan kekuatan pria itu. Ciuman Theodor yang tadinya membuat kepala Sara pening karena gairah yang terbakar, berubah menjadi pekikkan pelan karena rasa sakit yang menyengat di bibirnya. Rasa asin dan anyir terasa di mulutnya. Dia sadar jika pria itu sengaja menggigit dan melukai bibirnya. Sara memberontak di dalam kungkungan Theodor. Tangannya berusaha mendorong tubuh kekar atasannya tersebut, tapi apa yang dilakukannya sia-sia saja. Hal itu malah membuat Theodor semakin marah. Belum pernah ada wanita yang menolaknya, tapi wanita yang berada di dalam kungkungannya itu, kini sedang menolaknya. Theodor semakin menekan tubuhnya ke tubuh Sara untuk melampiaskan rasa marahnya. Tubuh Sara gemetar saat Theodor mulai menghisap darah yang keluar dari bibirnya. Tidak hanya itu yang dilakukan Theodor, tangannya pria itu bergerak ke dadanya dan meremasnya kuat di sana. Mendapat perlakuan tersebut, tanpa sadar air mata Sara meleleh keluar, membuat Theodor tersentak dan tersadar jika dirinya baru saja kehilangan kendali. Theodor akhirnya menjauhkan bibirnya dari bibir Sara. Ibu jarinya mengusap bibir Sara yang kotor karena saliva mereka, yang sedikit bercampur dengan darah wanita itu. Setelah mengusapnya, dia membawa ibu jarinya ke dalam mulutnya sendiri dan membersihkan dengan lidahnya. Mata Sara menatap nanar dengan apa yang Theodor lakukan di depannya. Dia segera memejamkan mata lalu memalingkan wajahnya ketakutan, saat jari Theodor terulur kembali ke arahnya. Sara mengira Theodor akan menyentuhnya, ternyata pria itu hanya mengambil kartu nama di saku kemejanya, lalu menjauh dari tubuh wanita itu. Mengetahui jika Theodor menjauh dari tubuhnya, Sara menghela nafas lega dan membuka mata. Dia terkejut melihat Theodor memegang kartu yang Reagan berikan padanya. “Tuan, berikan kartu itu pada saya. Kartu nama itu milik saya,” pinta Sara. “Apakah untuk ini kamu merayu Papaku?” tanya Theodor dengan nada dingin. “Apa, merayu Papa Anda? Saya tidak merayunya. Papa Anda yang memberikannya pada saya begitu saja,” jelas Sara. “Tidak mungkin dia menyerahkannya begitu saja padamu. Kartu ini sangat berharga, apakah kamu tahu apa kegunaan kartu ini?” tanya Theodor sambil mendekatkan kartu tersebut ke muka Sara. “Tuan Rodriguez berkata, dengan kartu itu saya bisa bekerja dimanapun saya mau tanpa harus melewati tes kelayakan.” “Ya, itu berarti kamu akan diterima kerja di manapun dengan jabatan yang kamu mau. Jadi, apakah kamu akan lari dari tanggung jawabmu dan mengingkari kontrakmu dengan menggunakan kartu ini?” “Jika Anda memecat saya, tentu saja saya akan menggunakan kartu tersebut.” “Bermimpilah menggunakan kartu ini!” kata Theodor yang langsung menyobek kartu tersebut di depan mata Sara dan mematahkan chip yang terpasang di dalamnya. “Tuan, jangan lakukan itu ...!” seru Sara, tapi terlambat, kartu itu sudah tidak berguna lagi karena Theodor sudah merusaknya. Air mata Sara mengalir saat melihat kartu itu hancur di depannya. “Aku paling benci dengan karyawan yang menggoyangkan pinggulnya untuk menggoda seorang pria. Jangan pernah menggoda Papaku lagi atau kamu akan menyesal.” “Saya tidak meng …” “Dan kamu akan tetap menyelesaikan kontrakmu. Aku tidak akan memecatmu, tapi berdoa saja kamu betah di sini,” ujar Theodor dengan rahang mengeras, memotong perkataan Sara. Dia kemudian pergi begitu saja meninggalkan wanita itu. Sara duduk lemas di kursinya. Ada apa dengan atasannya itu? Bagaimana pria itu bisa menuduh jika dirinya merayu Papanya? Apalagi menggoyangkan pinggulnya di depan orang terkaya di negeri ini. Dia bahkan hanya berdiri kaku dan bersikap sesopan mungkin di depan Reagan Rodriguez. Apakah saat ini atasannya itu sedang berhalusinasi? Untuk beberapa saat, Sara belum bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Ciuman yang Theodor berikan padanya, benar-benar mengusik ketenangan batinnya. Itu ciuman pertamanya dan Theodor telah mencurinya. Ciuman pertama yang dia impikan selama ini adalah sebuah ciuman manis dan malu-malu dari kekasih yang dicintainya. Impian itu harus hancur gara-gara bos arogan yang membuat bibirnya bengkak dan terluka saat ini. Bukan rasa manis yang dia rasakan, tapi rasa asin dan anyir karena darah yang keluar dari bibirnya. Dadanya tiba-tiba berdesir mengingat lidah dan bibir panas Theodor saat menghisap darahnya. Seketika inti miliknya, memanas dan lembab karena ingatan tersebut. Alarm tanda bahaya menyala di kepalanya. Omongan orang tentang wanita berambut merah mulai mengusiknya. Selama ini dia merasa tenang karena dia tidak pernah bergairah dengan pria manapun, tapi ciuman Theodor seolah membangunkan sisi gelap yang tertidur dan terkubur selama ini. Bayangan kehidupan Kakaknya, langsung terlintas di benaknya dan membuat Sara gelisah. Malam harinya, Sara harus terbangun dengan keringat yang membasahi bajunya. Iblis di dalam dirinya benar-benar telah terbangun karena ciuman Theodor. Nafasnya terengah dan inti miliknya berdenyut, saat dia bermimpi bercinta dengan atasannya yang arogan itu. Atasan yang seharusnya dia jauhi karena hidupnya yang penuh dengan skandal dan banyak wanita. Tangannya menyentuh dadanya sendiri, berharap bisa meredam detak jantungnya karena mimpi buruk yang dia alami. Sisa malam itu, dia habiskan untuk mempelajari legalitas projek yang sedang dia garap karena matanya tidak bisa terpejam lagi. Sedikit saja terpejam, bayangan Theodor yang bergerak di dalamnya, membuat matanya kembali terbuka. Matahari yang masuk lewat kaca jendela apartemen, mengganggu tidurnya. Dia terbangun dan langsung terlonjak kaget. Tanpa sadar, dia telah tertidur di tumpukan kertas, dimana semua dokumen yang dia kerjakan ada di bawah kepalanya. Dia hanya mempunyai waktu setengah jam untuk mandi dan sampai ke kantor. Beruntung dia tidak memerlukan banyak waktu untuk berdandan. Dia juga cukup mengendarai mobilnya 10 menit untuk sampai ke tempat kerja. Dengan cepat dia merapikan dokumennya, kemudian berlari ke kamar mandi. Tidak sampai 15 menit dia sudah memakai pakaian kerja dan berada di dalam mobil. Lagi-lagi keberuntungan sedang bersamanya. Jalanan yang dia lalui cukup normal. Mobilnya sampai di gedung D. R. T. Corp tepat waktu. Bahkan dia berhasil duduk di kursi kerjanya beberapa detik sebelum jam kerja dimulai. Mata Sara melirik dan mencuri pandang ke ruang di sebelahnya. Terlihat Theodor belum berada di kursi kebesarannya. Meski sedikit heran karena atasannya tidak pernah terlambat, tapi dia bersyukur dan bisa bernafas lega. Waktu sudah berjalan beberapa jam, dia masih kesulitan berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bayangan Theodor dalam mimpi, terus menghantuinya. Sekali lagi dia menengokkan kepala ke ruang sebelah. Sudah hampir siang dan bosnya belum juga sampai kantor. Ada apa dengan dirinya? Apakah dia sedang mencemaskan bos arogan itu? Sara masih berusaha fokus dengan pekerjaannya, saat tiba-tiba pintu ruangan Theodor terbuka lebar. Bibir Sara sudah ingin tersenyum menyambut kedatangan Theodor, tapi dia langsung mengurungkan niatnya dan mengulum bibirnya lagi saat melihat seorang wanita dengan pakaian kurang bahan mengikuti Theodor di belakangnya. Melihat hal tersebut, Sara langsung berdiri dari tempat duduknya dan menutup tirai kacanya. Sebelum tirai itu tertutup sempurna, Sara masih sempat melihat seringai sinis dari bibir Theodor. Tidak lama kemudian terdengar bunyi berisik dari ruangan pria itu. Bunyi yang membuat Sara harus menutup kakinya rapat-rapat karena sesuatu yang membakar gairahnya. Wajahnya seketika memerah, bayangan Theodor yang sedang memuaskan wanita itu begitu mengganggu dirinya. Tidak tahan di ruangannya sendiri, dia keluar dan pergi ke tempat teratas gedung D. R. T. Corp. Berdiri di sana dan menghirup udara segar sebanyak mungkin. Bukannya merasa lega, dadanya malah terasa sesak. Entah kenapa, tiba-tiba dia menangis terisak di sana. Dengan berjongkok di balik penampungan air yang besar, Sara menyembunyikan dirinya. Di matanya, Theodor seperti pemangsa wanita. Bagaimana jika pria itu tahu dirinya sebenarnya? Jika dia bukanlah wanita berambut hitam yang membosankan, tapi wanita berambut merah yang diinginkan banyak pria. Wanita yang akan menjadi incaran pria seperti Theodor, yang akan dijadikan pelampiasan gairah pria itu. Tubuhnya bergetar memikirkannya. Dia mulai berhitung berapa lama lagi dia harus menghabiskan masa kontraknya. Sekarang dia sadar, seharusnya dia mengikuti perkataan orang tuanya dan tidak bekerja di perusahaan ini. Mulai detik ini, dia harus berhati-hati dengan penyamarannya. Jangan sampai satu orang pun tahu bagaimana penampilan asli dirinya. Jika tidak, maka Theodor akan dengan mudah melecehkan dan meninggalkannya begitu saja setelah mendapatkan apa yang pria itu inginkan. Sara menghembuskan nafas panjang, merasakan masa depannya yang kini terlihat gelap.“Setuju, aku juga tidak berniat membuka identitasku.” “Hanya untuk bersenang-senang.” “Ya... hanya untuk bersenang-senang di tengah kepenatan pekerjaan dan kehidupan.” “Hahaha... benar sekali.” “Bagaimana dengan tunanganmu? Apakah dia tidak akan bermasalah?” “Dia menginginkan seorang wanita jalang, maka dia akan mendapatnya,” kata Revina tampak tidak peduli dan langsung menenggak minuman yang berada di depannya. Theodor menatap wanita di depannya itu dengan tatapan tidak terbaca. "Kapan aku bisa mengajarimu menjadi wanita jalang?" tanya Theodor dengan ekspresi misterius. Revina menatap T sekejap lalu berkata, “Bagaimana jika malam ini, setelah acara pesta ulang tahun selesai.” “Apakah kamu ada agenda di acara ini?” tanya Theodor. “Aku tidak mempunyai agenda apa pun di acara ini, ada apa memangnya?” Revina balik bertanya.
Setelah seminggu merencanakan pesta megah untuk ulang tahun perusahaan, hari itu pun akhirnya tiba. Aula perusahaan yang biasanya di sekat menjadi beberapa ruang meeting, hari itu di bongkar menjadi satu ruangan besar. Ruangan tersebut disulap menjadi ruangan yang bertema pesta topeng. Semua orang tampil maksimal dengan topeng mereka untuk menyembunyikan identitas masing-masing. Begitu juga Sara, dia memakai pakaian yang tidak mencolok, menggunakan topeng Victoria berwarna emas dan tampil elegan. Meskipun begitu, dia tetap menyembunyikan warna rambut dan matanya. Tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai Sara. Berbeda dengan Theodor. Setelah tekanan yang dia rasakan, dia ingin merasakan hidup bebas dengan bersembunyi di balik topengnya. Theodor membayar seorang aktor yang mirip dengan dirinya dan menyuruh aktor tersebut untuk menggantikan dirinya naik ke podium. Sedangkan Theodor bercampur dengan karyawan yang lain dan mengaku jika dia ad
Mendengar perkataan Kimberly, air mata Revina menetes membasahi pipinya. Dia menggigit bibir untuk menahan rasa marah. Calon mertuanya menyamakan dirinya dengan para jalang yang selama ini berkeliaran di sekitar Theodor. “Kakakku bukan wanita seperti itu, dia wanita terhormat. Anda juga telah salah menilaiku.” “Wanita terhormat?” sindir Kimberly dengan senyuman sinis. “Aku berharap kamu bisa membuktikan dirimu jika kamu adalah wanita terhormat. Meskipun aku meragukan akan hal tersebut,” sambung Kimberly lagi. Revina yang tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya terdiam. Dia memilih untuk mengabaikan perkataan calon mertuanya itu. “Masuklah dan cari tunanganmu! Kalau kamu tidak bisa menjadi wanita yang setara dengannya, lebih baik kamu instropeksi diri lebih dulu untuk menjadi menantuku. Jangan karena kamu mendapat tempat di hati suamiku, maka kamu bisa seenaknya saja. Ingat itu!” kata Kimberly yang terlihat seperti bunglon.
Hanya Sara yang bisa membuat Theodor bergairah dan bahagia. Hubungan intim pun terbangun antara dirinya dengan Sara, tanpa mereka harus bercinta. Sayangnya, Papanya memaksanya untuk menikah dengan Revina. Hal itulah yang membuat Theodor berusaha keras menghindari Sara, jika tidak, maka wanita itu akan terluka. Saat dia menjadikan Sara sebagai kekasihnya, dia tidak memikirkan pertunangannya dengan Revina. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri dan kini dia menyesalinya. Tekanan yang mengganggunya, membuat Theodor tidak bisa tidur memikirkan semuanya itu. Dia mengambil ponsel di atas meja dan menekan nomor yang selama ini belum pernah dihubunginya. Mata Revina tertutup rapat dan kesadarannya sudah mulai menghilang saat terdengar suara ponsel yang menyadarkannya kembali dari tidur. Kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya, membuat Revina menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
Tangan Sara tiba-tiba gemetar meresponnya. Cokelat yang ada di tangannya pun tumpah dan mengotori pakaiannya. “Oh... astaga, maafkan saya, Nyonya. Sepertinya keadaan saya memburuk. Bolehkah saya permisi lebih dulu?” “Apakah kamu membutuhkan dokter? Aku akan memanggilkannya untukmu?” “Tidak perlu, terimakasih. Saya harus membersihkan pakaian saya karena tumpahan cokelat ini.” “Sebelum kamu pergi, tolong pikirkan apa yang aku katakan padamu. Theodor membutuhkanmu, Sara.” “Saya akan memikirkannya, Nyonya,” kata Sara lalu menjauh dari Kimberly. Dia berlari masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintunya, tangisnya pecah begitu saja. Dia memukul dadanya berkali-kali, berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Rodriguez jika dirinya adalah Revina Sanchez.
“Papa sangat tahu jika aku tidak akan bisa menolaknya. Jika sudah selesai bicara, aku akan menutup teleponku. Pekerjaanku masih banyak,” nada dingin Theodor semakin membekukan pembicaraan mereka. Reagan pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Theodor sudah memasang dinding tebal di antara mereka. “Baiklah, Papa tutup teleponnya. Satu hari sebelum hari pertunanganmu, pulanglah untuk mempersiapkannya,” tegas Reagan. “Ya, aku akan pulang,” jawab Theodor singkat, lalu menutup teleponnya. Tepat setelahnya, Sara masuk ke ruangan Theodor. “Apakah ada masalah?” tanya Sara pada pria itu. “Bukan urusanmu. Aku akan keluar, kerjakan yang sudah menjadi planning kita hari ini dan mulailah merancang projek baru yang kemarin sudah kamu bicarakan. Kita akan membuat projek tahap dua. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor. Kalau ada apa-apa, kirim pesan saja tapi jangan meneleponku,” jawab Theodor denga







