LOGINSetelah mandi dan mencuci rambutnya pagi ini, Sara berdiri di depan cermin. Matanya menatap wanita mengagumkan di depannya. Wanita manapun pasti menginginkan berada di posisinya, mempunyai bentuk tubuh yang indah, perpaduan antara Thomas Sanchez yang berbadan kekar dengan Rebeca Sanchez yang dulu pernah menjadi model papan atas, sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang jaksa.
Mata biru dengan semburat hijau yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang di dunia ini dan rambut merah yang menggoda. Entah kenapa dia tidak menginginkan semua ini. Bukan karena dirinya tidak bersyukur dengan apa yang dia miliki, tapi apa yang terjadi dalam hidupnya, membuatnya berpikir jika kecantikan yang dia miliki hanya akan merugikannya. Beberapa kali dia hampir dilecehkan oleh pria, beruntung Papanya yang seorang detektif, mengajari bagaimana cara melindungi diri. Semua pria yang dekat dengannya, hanya menganggapnya sebagai objek fantasi semata. Wanita yang bisa memuaskan mereka tapi tidak untuk dicintai. Sebagian besar dari pria itu, menganggapnya sangat berpengalaman dan panas di ranjang. Padahal dia sama sekali belum pernah naik ke ranjang bersama dengan seorang pria pun. Yang lebih menyakitkan lagi adalah saat dirinya sudah bekerja keras untuk mendapatkan gelar yang dia miliki dan meraihnya dengan nilai sempurna, orang menganggap remeh prestasi yang sudah dia raih. Bahkan beredar gosip jika nilai sempurna itu dia peroleh karena dirinya tidur dengan dosen pembimbing dan beberapa dosen lainnya. Pertama kali mendengar gosip itu dan mendapat pandangan jijik dari orang-orang yang melihatnya, dia hampir putus asa. Bahkan ada selintas pemikiran untuk bunuh diri, tapi saat mengingat orang tua dan kematian kakaknya, dia mengurungkan niat tersebut dan menjauhkan pikiran bunuh diri itu dari kepalanya. Saat itulah Aunty Moore memberikan ide agar dirinya mengubah penampilan, yang bisa membuatnya merasa aman dan nyaman. Kebetulan terkait dengan hal itu, dia juga harus mengganti namanya karena nyawanya terancam. Rasanya seperti mendapat hidup baru dengan penampilan dan nama yang baru. Dia mengakhiri lamunannya dan mengambil cat rambut berwarna hitam di laci meja, lalu mengoleskan ke rambut merahnya. Setelah rambut merahnya tertutup sempurna dengan cat warna hitam tersebut, dia mengeringkan dan mencuci rambutnya kembali. Setelah itu, dia memakai lensa kontak berwarna coklat, di sempurnakan dengan kaca mata besar yang berhasil menyembunyikan kecantikannya. Dia kembali berdiri di depan cermin, tersenyum melihat gadis lugu dan polos dengan aura kecerdasan yang kental. Dia memadukan celana panjang hitam dengan kemeja yang satu nomor diatas ukuran tubuhnya untuk menyembunyikan lekuk tubuhnya. Puas dengan penampilannya, dia bergegas pergi ke kantor D. R. T. Corp. Saat masuk ke dalam ruang kerjanya, terlihat Theodor sudah berada di mejanya. Matanya mencuri pandang ke arah Theodor. Pria yang tampan dan sempurna, rahang kokoh dan bibir yang seksi. Dia menjilat bibirnya saat matanya menatap bibir itu. Bibir yang mengambil ciuman pertamanya, bibir panas dan lembab yang membuat bibirnya bengkak dan terluka. Bahkan sampai sekarang dia masih mengingat rasa bibir itu. Theodor pria yang cerdas, tidak heran bisnisnya berkembang cepat. Pria dominan yang pintar mengintimidasi lawan bisnisnya. Jujur, dia mengagumi pria itu saat tidak sedang bersama dengan semua wanitanya. Theodor tampak menawan dan berkharisma jika sedang duduk serius dengan semua dokumennya. Sayangnya, jika dia ingat semua kelakuan buruk dan semua wanita yang bersama pria itu, rasa benci seketika menggantikan rasa kagumnya dengan cepat. “Apakah kamu sedang mengagumiku, Sara? Jangan sampai hatimu terluka karena aku tidak akan melirikmu. Kamu bukan tipeku, mengerti?” ujar Theodor. “Saya tidak sedang mengagumi Anda, Tuan. Saya hanya berpikir kenapa banyak wanita yang tergila-gila pada Anda, padahal Anda hanyalah manusia biasa dan banyak pria yang lebih tampan dari Anda,” kata Sara asal bicara untuk menyembunyikan apa yang sempat dia pikirkan. “Benarkah ada yang lebih tampan dariku? Siapa?” tanya Theodor. Sara menaikkan bola matanya ke atas, tampak berpikir. Sebenarnya dia tidak menemukan satu orang pria pun yang dirasa lebih tampan dari Theodor, tapi tidak mungkin dia mengatakan hal tersebut, bisa-bisa pria itu semakin besar kepala. “Banyak aktor yang lebih tampan dari Anda,” jawab Sara tanpa menyebut nama aktor tersebut. Dia berharap Theodor tidak menanyakan salah satu nama dari aktor itu, karena dia tidak akan bisa memilih satu nama pun. “Mereka tidak sekaya diriku, itu yang membuatku populer dan banyak wanita yang mengantri mendapatkanku,” jawab Theodor sombong, tapi cukup membuat Sara lega karena pria itu tidak menanyakan nama aktornya. “Beruntung saya tidak tertarik dengan harta Anda, sehingga saya tidak ikut mengantri dengan para wanita itu.” Theodor tersenyum sinis mendengar perkataan Sara. “Jangan terlalu percaya diri! Jika aku mau, aku bisa membuat inti milikmu memanas sekarang.” “A-apa?” seru Sara langsung gagap karena perkataan Theodor. “Aku benci jika dirimu sudah mulai gagap. Ambil dokumen tentang projek berlian yang kemarin kita bahas dan bawa ke ruanganku sekarang juga. Kita akan lanjutkan pembahasan kemarin yang tertunda.” “Baik Tuan,” kata Sara dan dengan cepat mengambil dokumen yang diminta Theodor lalu segera berlari ke ruangan pria itu. Bahkan dia sudah sampai di meja kerja Theodor sebelum pria itu duduk. Tidak lama setelahnya, dia dan Theodor terlibat dalam diskusi serius. Tanpa dia tahu, jika sebenarnya Theodor mengagumi kecerdasannya. Banyak ide-ide cemerlang yang sering dia berikan membuat Theodor semakin bergairah dalam pekerjaannya. Tanpa sadar, Sara membuat Theodor semakin jarang membawa para wanita ke kantornya. Bersama Sara, dia bisa membahas pekerjaan sampai malam. Sara membuat pekerjaan yang biasanya tampak membosankan menjadi menyenangkan. Setelah beberapa bulan Sara bekerja bersamanya, banyak tender besar yang diraih, omset perusahaan pun meningkat drastis. Reagan sempat terkejut saat memasuki ruang kerja putranya. Tidak ada suara menjijikkan yang biasa dia dengar di ruangan itu, bahkan dia melihat putranya tampak sedang berdiskusi serius dengan asistennya, hal yang jarang dilihat. Pakaian putranya pun masih tampak rapi, tidak setengah telanjang seperti yang sering dia lihat. Pantas saja omset perusahaan Theodor meroket beberapa pekan ini, sepertinya ada seorang wanita yang bisa membuatnya bekerja dengan baik. Menyadari hal tersebut, seulas senyuman tersimpul di bibir pria tua itu. “Apakah Papa hanya akan berdiri di situ? Ada apa lagi Papa ke sini?” tanya Theodor dengan nada dingin saat mengangkat kepala dan melihat Papanya berdiri di pintu ruangannya. “Aku ingin bicara pribadi denganmu,” kata Reagan sambil berjalan memasuki ruang kerja putranya. Sorot mata Reagan menekankan pada Theodor, jika dia tidak mau ada orang asing yang mendengar pembicaraannya. Menyadari hal tersebut, Theodor menyuruh Sara meninggalkan ruangan. “Sara, kamu bisa pergi sekarang. Apakah kamu sudah mengerti yang aku jelaskan tadi?” tanya Theodor. “Sudah Tuan, saya akan segera mengerjakannya,” jawab Sara sambil menaikkan kacamata besarnya. “Kalau begitu pergilah! Aku ingin bicara dengan Papaku.” “Baik Tuan,” kata Sara yang segera beranjak dari tempat duduknya. Sebelum keluar dari ruangan Theodor, Sara menyempatkan diri untuk menyapa dan memberikan senyumannya pada Reagan, yang dibalas dengan senyuman pula oleh pria tua itu. Berbeda dengan Theodor yang menatap dua orang yang sedang saling melemparkan senyum tersebut dengan tatapan dingin. Rahang Theodor mengeras dengan mata menyipit, meresponnya. “Jangan pernah menggoda karyawanku, Papa. Aku akan mengadukanmu pada Mama,” kata Theodor setelah Sara pergi dari ruangannya. “Siapa yang menggoda karyawanmu, Papa hanya berusaha bersikap ramah. Lagi pula, hanya Mamamu yang Papa cintai. Papa bukan pria bejat sepertimu.” “Jangan lupa, jika pria bejat ini adalah putramu sendiri. Aku yakin, gen bejat yang aku miliki berasal darimu karena aku tidak percaya jika Mama mempunyai sikap buruk yang bisa menurun ke anak-anaknya.” “Kamu memang benar-benar tidak bisa membuat Papa senang,” geram Reagan kesal dengan omongan putranya itu. “Membuat Papa senang bukanlah keahlianku,” jawab Theodor dengan berani. Keluar dari ruangan Theodor, Sara pergi ke kamar mandi untuk merapikan penampilannya. Saat sedang berada di depan cermin, seorang wanita masuk dan berdiri di samping Sara. Sara menoleh dan tersenyum ramah pada wanita tersebut, wanita itu pun membalas senyuman Sara dengan ramah pula. Mata Sara sempat melirik ke cermin di depannya dan menatap kagum, melihat penampilan menawan wanita tersebut. Wanita itu mungkin sudah berumur setengah abad, tapi penampilannya sangat elegan dan memiliki kecantikan yang alami. Hal itu membuat umur wanita itu seakan tidak berarti lagi. Bahkan dia yang masih muda, kalah menawan dibanding dengan wanita tersebut. Wajah wanita itu sangat lembut dan menyejukkan. Berbeda dengan dirinya, dengan rambut menyalanya, siapapun yang melihatnya, akan menganggap dirinya wanita jalang. Menjadikannya sasaran empuk untuk dilecehkan oleh setiap pria yang melihatnya. “Apakah kamu sedang mengagumiku?” tanya wanita itu. Mendengar teguran tersebut, Sara langsung memutuskan tatapannya dan menundukkan. Rasanya aneh sekali, akhir-akhir ini dirinya sangat mudah mengagumi seseorang. Pertanyaan seperti itu juga pernah dia dapatkan saat mengagumi Theodor. “Maaf jika saya telah bersikap tidak sopan, hanya saja Anda terlihat sangat mengagumkan,” jawab Sara dengan jujur. Wanita itu tertawa kecil mendengar jawaban polos Sara. “Terimakasih atas pujiannya. Apakah kamu bekerja di sini?” “Benar Nyonya, perkenalkan nama saya Sara Moore,” kata Sara sambil mengulurkan tangan. “Namaku Kimberly,” jawab wanita itu sambil menyambut uluran tangan Sara. “Apakah Anda bekerja di sini atau Anda rekan kerja Tuan Theodor?” tanya Sara. “Menurutmu, aku lebih pantas menjadi siapa?” Kimberly balik bertanya. “Entahlah, saya tidak pandai menebak,” jawab Sara jujur, yang kembali ditanggapi senyuman oleh Kimberly. “Aku heran ada wanita muda di lantai ini. Setahuku, Theodor tidak menerima wanita muda bekerja di lantainya.” “Itu karena saya bukanlah wanita yang menarik dan bukan tipe wanita yang akan membuat Tuan Theodor tertarik.” “Benarkah? Menurutku kamu wanita yang menarik, mungkin Theodor belum menyadarinya. Aku percaya, kamu cukup pintar dan cerdas sehingga Theodor memperbolehkanmu di sini,” ujar Kimberly.“Setuju, aku juga tidak berniat membuka identitasku.” “Hanya untuk bersenang-senang.” “Ya... hanya untuk bersenang-senang di tengah kepenatan pekerjaan dan kehidupan.” “Hahaha... benar sekali.” “Bagaimana dengan tunanganmu? Apakah dia tidak akan bermasalah?” “Dia menginginkan seorang wanita jalang, maka dia akan mendapatnya,” kata Revina tampak tidak peduli dan langsung menenggak minuman yang berada di depannya. Theodor menatap wanita di depannya itu dengan tatapan tidak terbaca. "Kapan aku bisa mengajarimu menjadi wanita jalang?" tanya Theodor dengan ekspresi misterius. Revina menatap T sekejap lalu berkata, “Bagaimana jika malam ini, setelah acara pesta ulang tahun selesai.” “Apakah kamu ada agenda di acara ini?” tanya Theodor. “Aku tidak mempunyai agenda apa pun di acara ini, ada apa memangnya?” Revina balik bertanya.
Setelah seminggu merencanakan pesta megah untuk ulang tahun perusahaan, hari itu pun akhirnya tiba. Aula perusahaan yang biasanya di sekat menjadi beberapa ruang meeting, hari itu di bongkar menjadi satu ruangan besar. Ruangan tersebut disulap menjadi ruangan yang bertema pesta topeng. Semua orang tampil maksimal dengan topeng mereka untuk menyembunyikan identitas masing-masing. Begitu juga Sara, dia memakai pakaian yang tidak mencolok, menggunakan topeng Victoria berwarna emas dan tampil elegan. Meskipun begitu, dia tetap menyembunyikan warna rambut dan matanya. Tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai Sara. Berbeda dengan Theodor. Setelah tekanan yang dia rasakan, dia ingin merasakan hidup bebas dengan bersembunyi di balik topengnya. Theodor membayar seorang aktor yang mirip dengan dirinya dan menyuruh aktor tersebut untuk menggantikan dirinya naik ke podium. Sedangkan Theodor bercampur dengan karyawan yang lain dan mengaku jika dia ad
Mendengar perkataan Kimberly, air mata Revina menetes membasahi pipinya. Dia menggigit bibir untuk menahan rasa marah. Calon mertuanya menyamakan dirinya dengan para jalang yang selama ini berkeliaran di sekitar Theodor. “Kakakku bukan wanita seperti itu, dia wanita terhormat. Anda juga telah salah menilaiku.” “Wanita terhormat?” sindir Kimberly dengan senyuman sinis. “Aku berharap kamu bisa membuktikan dirimu jika kamu adalah wanita terhormat. Meskipun aku meragukan akan hal tersebut,” sambung Kimberly lagi. Revina yang tidak ingin memperkeruh keadaan, hanya terdiam. Dia memilih untuk mengabaikan perkataan calon mertuanya itu. “Masuklah dan cari tunanganmu! Kalau kamu tidak bisa menjadi wanita yang setara dengannya, lebih baik kamu instropeksi diri lebih dulu untuk menjadi menantuku. Jangan karena kamu mendapat tempat di hati suamiku, maka kamu bisa seenaknya saja. Ingat itu!” kata Kimberly yang terlihat seperti bunglon.
Hanya Sara yang bisa membuat Theodor bergairah dan bahagia. Hubungan intim pun terbangun antara dirinya dengan Sara, tanpa mereka harus bercinta. Sayangnya, Papanya memaksanya untuk menikah dengan Revina. Hal itulah yang membuat Theodor berusaha keras menghindari Sara, jika tidak, maka wanita itu akan terluka. Saat dia menjadikan Sara sebagai kekasihnya, dia tidak memikirkan pertunangannya dengan Revina. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri dan kini dia menyesalinya. Tekanan yang mengganggunya, membuat Theodor tidak bisa tidur memikirkan semuanya itu. Dia mengambil ponsel di atas meja dan menekan nomor yang selama ini belum pernah dihubunginya. Mata Revina tertutup rapat dan kesadarannya sudah mulai menghilang saat terdengar suara ponsel yang menyadarkannya kembali dari tidur. Kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya, membuat Revina menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
Tangan Sara tiba-tiba gemetar meresponnya. Cokelat yang ada di tangannya pun tumpah dan mengotori pakaiannya. “Oh... astaga, maafkan saya, Nyonya. Sepertinya keadaan saya memburuk. Bolehkah saya permisi lebih dulu?” “Apakah kamu membutuhkan dokter? Aku akan memanggilkannya untukmu?” “Tidak perlu, terimakasih. Saya harus membersihkan pakaian saya karena tumpahan cokelat ini.” “Sebelum kamu pergi, tolong pikirkan apa yang aku katakan padamu. Theodor membutuhkanmu, Sara.” “Saya akan memikirkannya, Nyonya,” kata Sara lalu menjauh dari Kimberly. Dia berlari masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintunya, tangisnya pecah begitu saja. Dia memukul dadanya berkali-kali, berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Rodriguez jika dirinya adalah Revina Sanchez.
“Papa sangat tahu jika aku tidak akan bisa menolaknya. Jika sudah selesai bicara, aku akan menutup teleponku. Pekerjaanku masih banyak,” nada dingin Theodor semakin membekukan pembicaraan mereka. Reagan pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Theodor sudah memasang dinding tebal di antara mereka. “Baiklah, Papa tutup teleponnya. Satu hari sebelum hari pertunanganmu, pulanglah untuk mempersiapkannya,” tegas Reagan. “Ya, aku akan pulang,” jawab Theodor singkat, lalu menutup teleponnya. Tepat setelahnya, Sara masuk ke ruangan Theodor. “Apakah ada masalah?” tanya Sara pada pria itu. “Bukan urusanmu. Aku akan keluar, kerjakan yang sudah menjadi planning kita hari ini dan mulailah merancang projek baru yang kemarin sudah kamu bicarakan. Kita akan membuat projek tahap dua. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor. Kalau ada apa-apa, kirim pesan saja tapi jangan meneleponku,” jawab Theodor denga







