Share

Bab 2 Pertemuan

last update Dernière mise à jour: 2025-10-28 17:18:58

Apa yang dikatakan Ema siang tadi. membuat Cantika kepikiran. Hembusan nafas berkali-kali keluar dari mulutnya.

“Kalau aku menolak perjodohan ini, alm ayah pasti kecewa,” ucap Cantika. Matanya melihat ke foto yang ada di nakas. Tangannya mengambil foto tersebut. Senyum terbit melihat foto dirinya bersama Ayah, ibu dan adiknya. Foto yang diambil tiga tahun lalu, saat Cantika baru saja lulus kuliah.

“Tika memang tidak pernah bertemu dengan Pria yang bernama Brama, Yah. Tapi Tika pernah mendengar kalau dia adalah pria yang kejam,” ucap Tika, seolah-olah sedang curhat dengan Ayahnya.

“Kenapa bisa ayah menjodohkan Tika dengan pria itu? apa Ayah punya hutang dengan keluarga mereka?” tanya Cantika. Hembusan Nafas kembali keluar dari mulutnya.

“Sepertinya aku harus tanya ibu,” ucap Cantika.

*******

“Ayahmu nggak pernah punya hutang uang, Tik. Tapi Ayahmu punya hutang budi dengan pak Prabu,” jelas bu Irma. Saat ini Tika sudah berada di kampung halaman, hanya demi menanyakan kenapa Ayahnya bisa menjodohkan dirinya dengan pria yang dikenal kejam itu.

“Hutang budi?” beo Cantika. Keningnya berkerut mendengar cerita ibunya.

“Iya,”

“Hutang budi apa. Bu?”

“Dulu ayah pernah bawa uang bank dalam jumlah milyaran. Memang saat itu Ayah ditemani sama dua orang polisi. Kamu tahu sendiri, kalau Ayah dulu hanya seorang supir di Bank swasta. Kebetulan saat itu Ayah dan karyawan Bank mau bawa uang itu kembali ke kantor, mau di masukkan ke dalam brankas, setelah transaksi dari salah satu pengusaha. Tapi di tengah jalan, mobil ayah di stop preman. Sempat terjadi baku hantam, bahkan Ayah mu juga terluka saat itu. Tapi pertolongan Allah datang. Pak Prabu Adiyaksa lewat bersama dengan bodyguardnya. Dan menolong Ayahmu. Salah satu polisi meninggal, dan karyawan Bank luka-luka, sama seperti Ayahmu. Sejak saat itu, Ayah sering berinteraksi dengan pak Adiyaksa, sampai Ayahmu direkrut menjadi sopirnya,” cerita bu Irma.

“Karena itu Ayah menjodohkan aku dengan cucunya kakek Prabu?” tanya Cantik, meyaknkan ceritanya ibunya.

“Iya, nak. Pak Prabu sendiri yang meminta kamu. Dan karena Ayah pernah ditolong oleh pak Prabu, Ayah tidak bisa menolak. Lagian Ayah juga bisa melihat kalau pak Prabu orangnya sangat baik. Itulah kenapa Ayah memintamu untuk menikah dengan Brama,” jelas bu Irma.

Cantika hanya diam, matanya melihat ke arah luar rumahnya. Hembusan nafas keluar dari mulutnya.

“Ibu hanya bisa berdoa, Tik. Agar kamu bahagia, Ibu juga yakin, kalau pria yang dipilihkan Ayahmu, pasti Pria yang bisa melindungi dan menjaga kamu,” kembali bu Irma berbicara.

“Semoga saja, Bu,” ucap Cantika. Tapi hanya mampu di ucapkan dari dalam hati saja.

*****

Dua hari sudah berlalu, Cantika juga sudah balik dari kampungnya, dan sekarang kembali fokus dengan pekerjaannya.

“Tik, kita ada temu klien sore ini, di cafe Bunga,” Ema memberitahu.

“Kamu saja yang pergi ya, aku sore ini ada urusan,”

“Eehk…ada kabar apa ini? kok aku nggak ada info?” tanya Ema, heboh Langsung duduk di depan meja Cantika.

Cantika yang tadinya fokus melihat data kliennya, jelas terkejut dengan tingkah asistennya.

“Heboh bener,” kekeh Cantika.

“Kamu sore ini mau kemana? kok nggak ada cerita?” kembali ema bertanya.

“Ketemu sama Brama,”

“Whaaat!!” terkejut Ema.

“Jangan bilang kamu terima perjodohan ini?”

“Nggak tahu Ema, intinya sekarang aku ketemu dulu sama dia. Lagian dia sendiri yang minta,” Cantika memberitahu.

“Aku yakin, dia pasti langsung jatuh cinta sama kamu,”

“Sok tahu,” ucap Cantika.

“Siapa sih yang tidak jatuh cinta sama kamu, Tik. Pengusaha aja banyak yang antri, tapi kamu tolak semua,”

“Karena memang nggak jodoh, Ma. Bukan aku yang menolak,” sahut Cantika.

“Kalau dengan Pak Brama ini? kamu langsung terima?” tanya Ema, penasaran.

Cantika diam sejenak, mau di tolak, tapi ini amanah dari Ayahnya. “Aku ikut dia saja, Aku juga percaya dengan pilihan Ayahku,” jawab Cantika.

“Aku doain kamu bahagia kalau nantinya kamu berjodoh dengan pak Brama,” ucap Ema, dengan tulus.

“Amiin,” sahut Cantika. Keduanya pun tersenyum, dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka.

*******

Di kantor, Brama hanya duduk di diam di kursi kebesarannya. Matanya melihat foto Cantika, yang baru saja dikirim kakek Prabu.

“Ciiih….Cantik karena dempul,” ucap Brama menatap foto Cantika.

Dengan kasar, Brama melempar foto Cantika ke atas meja. Bertepatan pintu ruangan Brama terbuka. Aslan masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya.

“Sore nanti kosongkan jadwal saya,” ucap Brama langsung memberitahu Asistennya.

“Bapak mau kemana?” tanya Aslan dengan hati-hati.

“Ketemu sama wanita yang dijodohkan kakek,”

“Jadi juga pak Brama mau ketemu dengan bu Cantika,” batin Aslan, yang memang sudah diberitahu kakek Brama.

Walau belum pernah bertemu. Tapi kakek Brama sudah memberitahu Aslan. Bahkan kakek Brama pernah meminta tolong pada Aslan, untuk membujuk Brama, agar mau menerima perjodohan itu.

“Apa saya perlu temani bapak?” tanya Aslan.

“Tidak perlu, kamu cukup handle kerjaan saja, saya nanti pergi sendiri,” tolak Brama. Aslan pun hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Setelah Aslan memberikan berkas untuk diperiksa Brama. Aslan pun kembali ke ruangannya.

*****

Dan waktu yang ditunggu-tunggu Cantika pun tiba. Begitu sampai di cafe tempat Brama dan Cantika akan bertemu. Cantika langsung keluar dari mobilnya. Kakinya dengan pelan melangkah masuk ke dalam cafe.

Dari pintu masuk, Cantika bisa melihat seorang pria yang duduk sendiri masih dengan pakaian formal sedang fokus menatap layar hp nya.

Dengan pelan Cantika menarik nafas, kemudian menghembuskannya dengan pelan. Kakinya langsung melangkah menghampiri Brama yang sudah sampai lebih dulu.

“Maaf, saya terlambat,” ucap Cantika.

Brama yang tadinya fokus dengan layar hp nya, langsung mengangkat kepalanya. Brama cukup terkejut saat melihat wajah Cantik yang terlihat dingin, namun juga terlihat cantik.

“Kamu telat 10 menit dari jam yang sudah di tentukan,” ucap Brama. menatap Cantika dengan tatapan tidak suka.

“Saya punya kerjaan, dan jalanan juga macet, harusnya anda punya kesabaran sedikit,”

Deg

Brama dibuat terkejut dengan jawaban Cantika, Matanya langsung menatap Cantika dengan tajam. Bukannya takut, Cantika justru kembali menatap Brama dengan tajam juga.

“Kok dia nggak takut denganku?” batin Brama.

“Jadi apa keputusan anda?” tanya Cantika to the point.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Bab 12 Innalillahi

    “Aku takut,” suara Cantika semakin terdengar lirih.“Kamu sudah aman, sekarang,” ucap Brama.Cantika bukannya tenang, justru semakin takut, Kepalanya langsung menggeleng, “Nggak! aku sudah kotor, mereka sudah sentuh aku. Aku minta maaf, karena tidak bisa menjaga kehormatanku, untuk kamu,” Brama sendiri seperti tertampar, saat mendengar apa yang dikatakan, Cantika. Tidak tega dengan Cantika. Brama semakin mengeratkan pelukannya. Cantika sendiri, karena sudah lelah menangis, tiba-tiba saja langsung tak sadarkan diri. membuat Brama khawatir.“Lan, urus mereka, aku mau langsung bawa Cantika pulang.” ucap Brama, dengan nada tegas.“Baik, Pak,” sahut Aslan. Langsung memerintah anak buahnya, untuk membawa orang suruhan Dana dan Iqbal.“Bram,” panggil Iqbal, saat Brama melewatinya begitu saja. Sehingga, langkah Brama langsung terhenti.“Maaf…Bram, Maaf aku nggak bisa menolong Cantika,” ucap Iqbal, sambil berpura-pura menahan sakit.Brama tidak menyahut, yang ada Brama kembali melanjutkan lang

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Bab 11 Pelukan Pertama

    "Lepas." Cantika teriak, matanya menatap satu persatu orang suruhan Iqbal."Kau, duduk tenang saja disitu. Nanti juga pangeranmu datang buat jemput." Salah satu anak buah Iqbal berbicara.Cantika tidak bersuara lagi, yang ada, Cantika saat ini berusaha untuk membuka ikatan tali di tangannya."Aku harus bisa kabur dari sini. Brama harus tau, kalau sepupunya itu jahat." batin Cantika.Saat ini Cantika berusaha untuk membuka ikatan tali di tangannya. Sayangnya, ikatan talinya begitu kuat, sampai-sampai tangan Cantika terluka karena Cantika terus bergerak...Di rumah sakit, Brama sama sekali belum bergerak untuk menyelamatkan Cantika. Tapi wajahnya jelas sekali sedang menahan amarah."Sudah tahu siapa dalangnya?" Brama bertanya pada Aslan."Belum, pak."Rahang Brama semakin mengeras, tapi Brama tetap duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang ICU.Di balik tembok, Dana dan Iqbal melihat Brama yang masih belum pergi untuk menolong Cantika."Papa yakin Brama mau menolong Cantika? Secar

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Bab 10 Diculik

    “Tunggu!” teriak Dana setelah berhasil mengejar dokter yang tadinya hendak masuk ke ruangan Kakek Prabu.Bukannya berhenti, dokter yang membuat Dana dan Sarah penasaran justru terus melangkah ke arah kamar jenazah yang memang terlihat sepi. Bahkan karyawan rumah sakit pun tidak ada di sekitar lorong menuju kamar jenazah.“Dia kenapa lari ke sini, sih? Ada-ada aja,” gerutu Sarah dengan nada kesal. Namun, ia tetap mengejar dokter tersebut sampai akhirnya dokter itu masuk ke kamar jenazah.“Iqbal!” teriak Dana begitu sudah berada di dalam kamar jenazah.Iqbal langsung berbalik badan, tangannya membuka masker yang menutupi wajahnya. Senyum tipis terlihat di bibirnya.“Ck, benar dugaan kami. Ternyata dokter gadungan itu kamu,” ucap Sarah dengan nada menyindir.Iqbal membuka jas dokter dan masker yang sedari tadi dipakainya. Dengan kasar, ia melemparnya ke salah satu brankar yang ada di kamar jenazah.“Padahal sedikit lagi aku bisa menyingkirkan si tua bangka itu. Tapi sayangnya gagal.”“Te

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Bab 9 Dokter Yang Mencurigakan

    Kabar kalau Kakek Prabu masuk rumah sakit sudah terdengar sampai di telinga Dana dan Sarah. Jelas saja, keduanya langsung terlihat gembira. Begitu juga dengan Iqbal.“Belum juga kita bekerja, tapi si tua bangka itu sudah sekarat saja,” kekeh Sarah.Saat ini dirinya sedang berada di dalam perjalanan bersama Dana, menuju rumah sakit. Sedangkan Iqbal masih sibuk dengan urusannya. Kalau urusannya sudah selesai, barulah Iqbal akan menyusul.Di rumah sakit, Cantika terus mondar-mandir di ruang UGD. Pak Heri sendiri hanya bisa berdiri di depan pintu UGD. Tak lupa, mulutnya selalu bergerak membaca doa agar Kakek Prabu baik-baik saja.Di kursi tunggu, Brama duduk diam, sesekali melirik ke arah pintu UGD. Wajahnya terlihat tenang, tapi tetap saja Brama saat ini khawatir dengan Kakek Prabu.Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya dokter yang menangani Kakek Prabu keluar.“Dok, gimana keadaan kakek saya?” tanya Cantika. Brama langsung bangkit dari duduknya, ingin mendengar apa yang disampa

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Masuk Rumah Sakit

    Dana meletakkan ponselnya di atas nakas. Matanya menatap Sarah dengan senyuman sinis.“Yang pastinya, aku mau menghancurkan hubungan wanita itu dan Brama. Aku akan mengadu domba mereka. Tujuan utamaku adalah, jangan sampai mereka sampai jatuh cinta,” ujar Dana.“Dengan cara?”“Menghadirkan orang dari masa lalu Brama.”Senyum Sarah langsung terbit begitu mendengar apa yang dikatakan suaminya. “Bagus itu, Mas. Aku sudah nggak sabar melihat wanita sombong itu ditendang dari rumah Papa,” seru Sarah bersemangat, tak sabar dengan rencana suaminya.“Tapi sebelum itu, aku juga mau buat sesuatu buat Papa.”“Apa?”“Kamu nggak tahu kalau Papa jantungnya sekarang sering kambuh? Jadi kalau tua bangka itu mati, mungkin dengan kita menjalankan rencana untuk menghancurkan Brama akan lebih mudah,” jelas Dana.Wajah Sarah semakin sumringah. Dengan cepat, ia langsung memeluk tubuh Dana.“Kamu memang pintar, Mas. Jadi makin sayang deh,” puji Sarah. Dana pun membalas pelukan itu.“Siapa dulu, Pradana,” uj

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Bab 7 Hanya Status Di Buku Nikah

    Makan malam berakhir dengan wajah merah Brama dan kekesalan Sarah dan juga Dana.Cantika yang terlihat tenang dan selalu menampilkan senyuman di bibirnya, tetap saja dadanya terasa sesak saat mendapatkan perlakuan tidak enak dari Sarah dan Dana.Kakek Prabu bisa melihat bagaimana perasaan Cantika saat ini. Itu sebabnya, setelah selesai makan malam, Kakek Prabu langsung menyuruh Cantika untuk beristirahat di kamar.“Cantika, langsung istirahat saja di kamar, kakek tahu kamu pasti lelah.. Untuk kamu, Bram. Ke ruangan kerja Kakek dulu. Ada yang mau Kakek bicarakan sama kamu,” ucap Kakek Prabu dengan nada tegas.“Bi, antarkan Cantika ke kamar, Brama.” Kakek Prabu langsung memerintahkan art di rumahnya. Dengan sopan, Bi Murni pun menjawab dengan anggukan kepala.“Mari, Non.”“Panggil Tika saja, Bi,” ucap Cantika dengan sopan.“Nona Cantika ini istrinya Den Brama, jadi mana mungkin saya memanggil istri majikan saya hanya nama saja,” sahut Bi Murni tidak kalah sopan.Mendapat perlakuan spesi

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status