Home / Romansa / Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin / Bab 7 Hanya Status Di Buku Nikah

Share

Bab 7 Hanya Status Di Buku Nikah

last update Last Updated: 2025-11-06 11:50:16

Makan malam berakhir dengan wajah merah Brama dan kekesalan Sarah dan juga Dana.

Cantika yang terlihat tenang dan selalu menampilkan senyuman di bibirnya, tetap saja dadanya terasa sesak saat mendapatkan perlakuan tidak enak dari Sarah dan Dana.

Kakek Prabu bisa melihat bagaimana perasaan Cantika saat ini. Itu sebabnya, setelah selesai makan malam, Kakek Prabu langsung menyuruh Cantika untuk beristirahat di kamar.

“Cantika, langsung istirahat saja di kamar, kakek tahu kamu pasti lelah.. Untuk kamu, Bram. Ke ruangan kerja Kakek dulu. Ada yang mau Kakek bicarakan sama kamu,” ucap Kakek Prabu dengan nada tegas.

“Bi, antarkan Cantika ke kamar, Brama.” Kakek Prabu langsung memerintahkan art di rumahnya. Dengan sopan, Bi Murni pun menjawab dengan anggukan kepala.

“Mari, Non.”

“Panggil Tika saja, Bi,” ucap Cantika dengan sopan.

“Nona Cantika ini istrinya Den Brama, jadi mana mungkin saya memanggil istri majikan saya hanya nama saja,” sahut Bi Murni tidak kalah sopan.

Mendapat perlakuan spesial, Cantika yang tidak biasa hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar.

“Sepertinya mulai hari ini aku akan menjadi Cinderella. Apa-apa harus dilayani, dan yang terpenting disegani di rumah ini,” batin Cantika.

Tanpa berkata-kata lagi, Cantika memilih untuk melangkah menuju kamar Brama yang ada di lantai dua.

Di ruang kerja Kakek Prabu, Brama duduk di hadapan Kakek Prabu dengan tatapan tajam.

“Bram, saat ini Cantika sudah menjadi istrimu. Dia wanita yang baik, tolong hargai dia dan terima dia jadi istrimu. Jangan sakiti dia,” Kakek Prabu memberikan nasihat untuk cucunya.

“Brama nggak janji.”

“Bram!” bentak Kakek Prabu begitu mendengar jawaban yang keluar dari mulut Brama.

“Kek, tolong ngertiin Brama. Wanita yang sekarang jadi istriku itu pilihan Kakek. Bukan pilihanku, Jelas-jelas aku nggak cinta sama dia. Permintaan Kakek sudah aku turuti. Kali ini jangan paksa aku untuk mencintai dia, karena itu sama sekali tidak akan pernah terjadi.” Setelah mengatakan itu, Brama langsung bangkit dari duduknya.

Kakek Prabu hanya bisa diam dan menatap kepergian Brama dengan tangan kanan sudah memegang dadanya.

“Kakek nggak apa-apa?” tanya Pak Heri saat melihat Kakek Prabu seperti menahan sakit. Apalagi wajah kakek Prabu sudah terlihat pucat.

“Obat saya, Her. Jantung saya sakit sekali,” Kakek Prabu memberitahu dengan suara terbata.

“Sebentar, Kek, saya ambil dulu.” Cepat-cepat Pak Heri langsung berlari ke kamar Kakek Prabu. 

Brama yang baru saja mau naik tangga, sedikit terkejut saat melihat Pak Heri seperti terburu-buru masuk ke kamar Kakek Prabu.

“Ck, kenapa lagi? pasti ada sesuatu,,” gumam Brama. Karena tidak mau tahu dan tidak peduli sama sekali. Kakinya kembali melangkah menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarnya.

Di ruang kerja, setelah meminum obat yang diambil Pak Heri, Kakek Prabu kini sedikit tenang, walau dadanya tetap terasa sakit.

“Saya kasih tahu Den Brama ya, Kek, biar Kakek dibawa ke rumah sakit.”

“Tidak perlu, dia tidak akan percaya kalau saya sakit. Saya mau ke kamar saja, mau istirahat.”

“Tapi—”

“Tidak apa-apa, Her. Saya baik-baik saja,” potong Kakek Prabu. Heri pun hanya bisa mengalah, tapi rasa khawatir untuk Kakek Prabu tetap terlihat di wajahnya.

.

.

Di kamar pengantin baru, benar-benar tidak ada terlihat aura kebahagiaan. Yang ada, auranya terasa suram, seperti berada di rumah hantu.

Saat ini Cantika masih sadar dan duduk di sofa yang ada di kamar Brama.

“Kenapa belum tidur? Kamu nungguin saya?”

Cantika langsung tersenyum saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Brama. Tubuhnya yang tadinya menyandar kini berubah menjadi tegak.

“Kasih saya alasan kenapa harus menunggu Anda, Pak Brama yang terhormat?” Bukannya menjawab, Cantika justru memberikan pertanyaan balik.

“Bisa jadi Anda mengharapkan malam ini menjadi malam panjang?”

“Hahahaha!” tawa Cantika seketika langsung pecah.

“Malam panjang?” beo Cantika, tentu masih ada tawa yang keluar dari mulutnya. Jari telunjuknya menggaruk alisnya yang sama sekali tidak terasa gatal. Kini Cantika juga sampai bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Brama yang berdiri di sisi ranjang.

“Jangan-jangan pak Brama yang berharap kalau malam ini akan terjadi malam panjang?” tanya Cantika. Kini sudah berdiri tepat di hadapan Brama.

“Kamu—” geram Brama karena merasa emosinya dipancing oleh Cantika.

“Jangan marah, nanti yang ada Pak Brama malah kelihatan tua.”

“Jangan bicara, kamu!” bentak Brama, dengan wajah sudah merah padam menahan emosi.

“Maaf,” sahut Cantika. Kedua tangannya kini berada di telinganya, layaknya anak kecil yang sedang melakukan kesalahan.

“Untuk malam panjang, kita lupakan dulu ya, Pak Brama. Jujur, saya tahu kewajiban saya. Tapi saya belum siap memberikannya pada Anda, karena di antara kita belum ada ikatan apa-apa,” jelas Cantika.

“Memang saat ini di mata hukum dan negara saya ini istri Anda, tapi sepertinya itu hanya status di buku nikah saja. Untuk perasaan, sama-sama tidak ada. Benarkan?” lanjut Cantika.

Sayangnya Brama tidak menyahut, membuat Cantika melangkah ke sisi ranjang. Tangannya mengambil bantal. Jelas saja membuat Brama mengerutkan keningnya.

“Kamu mau tidur di sofa?”

“Saya orangnya tahu diri, Pak Brama. Ini kamar Anda, mana mungkin saya yang tidur di ranjang empuk ini. Jadi lebih baik saya yang tidur di sofa. Lagian saya juga takut mengotori ranjang Anda.”

“Baguslah kalau kamu paham,” ucap Brama. Setelahnya, ia langsung melangkah menuju kamar mandi.

Hembusan napas langsung keluar dari mulut Cantika. Jiwa beraninya akan muncul saat berada di hadapan Brama. Tapi kalau Brama sudah tidak ada di hadapannya, Cantika tetap akan menjadi lemah. Bahkan saat ini mata Cantika juga sudah berkaca-kaca.

“Sabar, Cantika, semua ini pasti akan cepat berakhir. Hanya saja pilihannya ada dua, kamu akan bahagia bersama Brama, atau kamu akan menjadi janda di kemudian hari,” ucap Cantika. Kakinya langsung melangkah menuju sofa.

Dengan pelan, Cantika merebahkan tubuhnya. Hari ini rasanya tubuhnya benar-benar lelah. Tanpa menunggu lama, mata Cantika sudah terlelap.

Brama yang baru saja keluar dari kamar mandi sedikit terkejut saat melihat Cantika sudah tidur.

“Cepat banget tidurnya? Perasaan tadi dia masih banyak bicara,” heran Brama.

Mata Brama tak lepas menatap wajah Cantika yang sedang terlelap. Terlihat damai, bahkan Brama bisa melihat kecantikan wajah Cantika yang terlihat natural.

“Ck, mikirin apa kamu, Bram? Dia tidak jauh beda dari wanita di luar sana. Matre dan manja,” ucap Brama. Kini memilih untuk naik ke atas ranjang dan merebahkan tidurnya.

“Aku berharap hari ini hanya mimpi. Besok saat bangun pagi, aku masih single dan belum punya istri,” ucap Brama sebelum menutup mata.

.

.

Di kediaman Dana dan Sarah, saat ini keduanya masih belum memejamkan mata. Rasa kesal karena perkataan Cantika masih membuat Sarah emosi sampai sekarang.

“Jadi, apa rencana kamu, Mas?” tanya Sarah, menatap Dana yang sedang memainkan HP-nya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Bab 12 Innalillahi

    “Aku takut,” suara Cantika semakin terdengar lirih.“Kamu sudah aman, sekarang,” ucap Brama.Cantika bukannya tenang, justru semakin takut, Kepalanya langsung menggeleng, “Nggak! aku sudah kotor, mereka sudah sentuh aku. Aku minta maaf, karena tidak bisa menjaga kehormatanku, untuk kamu,” Brama sendiri seperti tertampar, saat mendengar apa yang dikatakan, Cantika. Tidak tega dengan Cantika. Brama semakin mengeratkan pelukannya. Cantika sendiri, karena sudah lelah menangis, tiba-tiba saja langsung tak sadarkan diri. membuat Brama khawatir.“Lan, urus mereka, aku mau langsung bawa Cantika pulang.” ucap Brama, dengan nada tegas.“Baik, Pak,” sahut Aslan. Langsung memerintah anak buahnya, untuk membawa orang suruhan Dana dan Iqbal.“Bram,” panggil Iqbal, saat Brama melewatinya begitu saja. Sehingga, langkah Brama langsung terhenti.“Maaf…Bram, Maaf aku nggak bisa menolong Cantika,” ucap Iqbal, sambil berpura-pura menahan sakit.Brama tidak menyahut, yang ada Brama kembali melanjutkan lang

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Bab 11 Pelukan Pertama

    "Lepas." Cantika teriak, matanya menatap satu persatu orang suruhan Iqbal."Kau, duduk tenang saja disitu. Nanti juga pangeranmu datang buat jemput." Salah satu anak buah Iqbal berbicara.Cantika tidak bersuara lagi, yang ada, Cantika saat ini berusaha untuk membuka ikatan tali di tangannya."Aku harus bisa kabur dari sini. Brama harus tau, kalau sepupunya itu jahat." batin Cantika.Saat ini Cantika berusaha untuk membuka ikatan tali di tangannya. Sayangnya, ikatan talinya begitu kuat, sampai-sampai tangan Cantika terluka karena Cantika terus bergerak...Di rumah sakit, Brama sama sekali belum bergerak untuk menyelamatkan Cantika. Tapi wajahnya jelas sekali sedang menahan amarah."Sudah tahu siapa dalangnya?" Brama bertanya pada Aslan."Belum, pak."Rahang Brama semakin mengeras, tapi Brama tetap duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang ICU.Di balik tembok, Dana dan Iqbal melihat Brama yang masih belum pergi untuk menolong Cantika."Papa yakin Brama mau menolong Cantika? Secar

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Bab 10 Diculik

    “Tunggu!” teriak Dana setelah berhasil mengejar dokter yang tadinya hendak masuk ke ruangan Kakek Prabu.Bukannya berhenti, dokter yang membuat Dana dan Sarah penasaran justru terus melangkah ke arah kamar jenazah yang memang terlihat sepi. Bahkan karyawan rumah sakit pun tidak ada di sekitar lorong menuju kamar jenazah.“Dia kenapa lari ke sini, sih? Ada-ada aja,” gerutu Sarah dengan nada kesal. Namun, ia tetap mengejar dokter tersebut sampai akhirnya dokter itu masuk ke kamar jenazah.“Iqbal!” teriak Dana begitu sudah berada di dalam kamar jenazah.Iqbal langsung berbalik badan, tangannya membuka masker yang menutupi wajahnya. Senyum tipis terlihat di bibirnya.“Ck, benar dugaan kami. Ternyata dokter gadungan itu kamu,” ucap Sarah dengan nada menyindir.Iqbal membuka jas dokter dan masker yang sedari tadi dipakainya. Dengan kasar, ia melemparnya ke salah satu brankar yang ada di kamar jenazah.“Padahal sedikit lagi aku bisa menyingkirkan si tua bangka itu. Tapi sayangnya gagal.”“Te

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Bab 9 Dokter Yang Mencurigakan

    Kabar kalau Kakek Prabu masuk rumah sakit sudah terdengar sampai di telinga Dana dan Sarah. Jelas saja, keduanya langsung terlihat gembira. Begitu juga dengan Iqbal.“Belum juga kita bekerja, tapi si tua bangka itu sudah sekarat saja,” kekeh Sarah.Saat ini dirinya sedang berada di dalam perjalanan bersama Dana, menuju rumah sakit. Sedangkan Iqbal masih sibuk dengan urusannya. Kalau urusannya sudah selesai, barulah Iqbal akan menyusul.Di rumah sakit, Cantika terus mondar-mandir di ruang UGD. Pak Heri sendiri hanya bisa berdiri di depan pintu UGD. Tak lupa, mulutnya selalu bergerak membaca doa agar Kakek Prabu baik-baik saja.Di kursi tunggu, Brama duduk diam, sesekali melirik ke arah pintu UGD. Wajahnya terlihat tenang, tapi tetap saja Brama saat ini khawatir dengan Kakek Prabu.Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya dokter yang menangani Kakek Prabu keluar.“Dok, gimana keadaan kakek saya?” tanya Cantika. Brama langsung bangkit dari duduknya, ingin mendengar apa yang disampa

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Masuk Rumah Sakit

    Dana meletakkan ponselnya di atas nakas. Matanya menatap Sarah dengan senyuman sinis.“Yang pastinya, aku mau menghancurkan hubungan wanita itu dan Brama. Aku akan mengadu domba mereka. Tujuan utamaku adalah, jangan sampai mereka sampai jatuh cinta,” ujar Dana.“Dengan cara?”“Menghadirkan orang dari masa lalu Brama.”Senyum Sarah langsung terbit begitu mendengar apa yang dikatakan suaminya. “Bagus itu, Mas. Aku sudah nggak sabar melihat wanita sombong itu ditendang dari rumah Papa,” seru Sarah bersemangat, tak sabar dengan rencana suaminya.“Tapi sebelum itu, aku juga mau buat sesuatu buat Papa.”“Apa?”“Kamu nggak tahu kalau Papa jantungnya sekarang sering kambuh? Jadi kalau tua bangka itu mati, mungkin dengan kita menjalankan rencana untuk menghancurkan Brama akan lebih mudah,” jelas Dana.Wajah Sarah semakin sumringah. Dengan cepat, ia langsung memeluk tubuh Dana.“Kamu memang pintar, Mas. Jadi makin sayang deh,” puji Sarah. Dana pun membalas pelukan itu.“Siapa dulu, Pradana,” uj

  • Wanita Tangguh Untuk CEO Dingin   Bab 7 Hanya Status Di Buku Nikah

    Makan malam berakhir dengan wajah merah Brama dan kekesalan Sarah dan juga Dana.Cantika yang terlihat tenang dan selalu menampilkan senyuman di bibirnya, tetap saja dadanya terasa sesak saat mendapatkan perlakuan tidak enak dari Sarah dan Dana.Kakek Prabu bisa melihat bagaimana perasaan Cantika saat ini. Itu sebabnya, setelah selesai makan malam, Kakek Prabu langsung menyuruh Cantika untuk beristirahat di kamar.“Cantika, langsung istirahat saja di kamar, kakek tahu kamu pasti lelah.. Untuk kamu, Bram. Ke ruangan kerja Kakek dulu. Ada yang mau Kakek bicarakan sama kamu,” ucap Kakek Prabu dengan nada tegas.“Bi, antarkan Cantika ke kamar, Brama.” Kakek Prabu langsung memerintahkan art di rumahnya. Dengan sopan, Bi Murni pun menjawab dengan anggukan kepala.“Mari, Non.”“Panggil Tika saja, Bi,” ucap Cantika dengan sopan.“Nona Cantika ini istrinya Den Brama, jadi mana mungkin saya memanggil istri majikan saya hanya nama saja,” sahut Bi Murni tidak kalah sopan.Mendapat perlakuan spesi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status