LOGINBrama tidak langsung menjawab pertanyaan Cantika soal perjodohan. Yang ada Brama justru menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya menatap Cantika dengan tajam.
“Sebelum saya menjawab, saya mau tanya sesuatu ke kamu,” “Apa?” tanya Cantika. “Mau pesan apa?” “Hahk!” terkejut Cantika. “Saya bukan pria pelit yang dengan teganya membiarkan lawan bicara saya tidak memesan minum atau makanan,” jelas Brama. “Aku kira dia mau beralih jadi waitress,” gumam Cantika. Sayangnya Brama masih bisa mendengar apa yang dikatakan Cantika. “Saya dengar apa yang kamu bilang,” tegur Brama. Cantika hanya diam saja. Kepalanya langsung menoleh ke kanan dan kiri, melihat waitress. “Mbak,” panggil Cantika. Waitress yang dipanggil Cantika pun langsung datang. “Mau pesan apa, Mbak?” tanya waitress dengan sopan. “Matcha latte nya satu. No sugar,” “Ada lagi?” tanya waitress. Cantika menatap Brama, “Kamu ada mau dipesan lagi nggak?” tanya Cantika, tentu dengan nada judes. “Nggak,” Cantika pun kembali menatap Waitress, “Nggak ada, mbak,” Cantika langsung memberitahu. “Baik, ditunggu pesanannya ya, mbak,” ucap waitress dengan sopan. Cantika hanya menjawab dengan anggukan kepala. Setelah Waitress pergi, Cantika kembali menatap Brama yang terlihat santai. “Lanjutkan,” ucap Cantika. Brama langsung menegakkan tubuhnya, sebelum berbicara, Brama menyempatkan untuk meneguk kopi miliknya. “Kamu dijanjikan apa sama kakek, supaya mau menikah dengan saya?” tanya Brama dengan suara tegasnya. Mata elangnya terus menatap wajah cantik Cantika. “Apa maksud anda? saya tidak mengerti?” bukannya menjawab, Cantika justru bertanya balik. “Ciih…sok pura-pura nggak ngerti,” ucap Brama dengan sinis. “Pasti kamu sudah jatuh cintakan dengan saya, Makanya kamu menyetujui perjodohan ini. Secara siapa wanita mana yang tidak tergila-gila dengan ketampanan saya, dan satu lagi–,” Brama sengaja menggantung ucapannya. Cantika hanya diam sambil menatap Brama dengan wajah santainya. “Kamu pasti mau hidup enak, karena nantinya bakalan punya suami kaya raya,” lanjut Brama. Cantika yang mendengar bukannya tersinggung dan marah. Yang ada Cantika justru tertawa. Dan itu jelas membuat Brama terkejut, bahkan Brama sampai mengerutkan keningnya, melihat reaksi Cantika. “Jangan terlalu percaya diri Pak Brama,” kekeh Cantika. “Permisi,” waitress mengantar pesanan Cantika. “Terima kasih mbak,” ucap Cantika. Waitress menyahut dengan senyuman, kemudian langsung pergi. Kembali Cantika menatap Brama, senyum di bibirnya kembali terbit, dan Brama yang melihat jujur sedikit terpana. “Saya saja tidak kenal anda, jadi bagaimana mungkin saya bisa jatuh cinta dengan anda pak Brama,” ucap Cantika, yang sukses membuat Brama terkejut. “Apa tadi katanya? dia nggak kenal denganku? tinggal di planet mana dia selama ini? sampai-sampai tidak mengenal Brama Adiyaksa,” batin Brama, menahan geram. “Jangan mentang-mentang anda kaya dan tampan, jadi anda berpikir semua wanita itu tertarik dengan anda?” ucap Cantika. Kali ini wajah Cantika terlihat sinis menatap Brama. “Anda salah pak Brama. Saya bahkan tidak tertarik sama sekali dengan anda. Saya menerima perjodohan ini karena amanah terakhir ayah saya. Bukan karena ketampanan dan harta pak Brama,” lanjut Cantika. “Saya bukan tipe wanita yang tahunya hanya shopping,” kembali Cantika berbicara. Brama yang mendengar perkataan Cantika, langsung mengeraskan rahangnya. Tangannya sudah terkepal menahan emosi. “Jadi, sekarang semua keputusan ada di tangan anda pka Brama. Kalau anda menyetujui perjodohan ini, saya juga terima. Tapi kalau anda menolaknya, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya saya tidak pernah menolak amanah Alm Ayah saya,” ucap Cantika. Dengan santainya, Cantika meminum matcha latte miliknya. Setelahnya Cantika melihat jam yang melingkar di tangannya. “Saya rasa pembicaraan kita sudah selesai. Semua keputusan saya serahkan kepada pak Brama,” ucap Cantika. Langsung bangkit dari duduknya, baru saja Cantika ingin melangkah, suara Brama langsung menghentikan langkahnya. “Baik, saya setuju menerima perjodohan ini. Jika kamu menikah karena Alm ayahmu, Saya menikah karena warisan kakek saya,” ucap Brama dengan tegas. Cantika langsung meremas tali tas miliknya. Tanpa berkata apa-apa, Cantika langsung melanjutkan langkahnya, meninggalkan Brama begitu saja. “Ciiih….baru kali ini aku melihat cewek sombong seperti dia,” ucap Brama dengan emosi, menahan amarah. Di mobil, Cantika langsung menyandarkan tubuhnya di balik kemudi. Hembusan nafas berkali-kali keluar dari mulutnya. Jujur saat ini dada Cantika terasa sesak. “Apa benar dia pria terbaik untuk masa depanku nanti,” ucap Cantika. Matanya langsung tertutup, mengingat perkataan Brama yang jelas sangat merendahkan dirinya. “Semoga ini memang jalan terbaik yang dipilih Ayah, dan juga takdirku,” kembali Cantika berbicara pada dirinya sendiri. Setelahnya Cantika langsung menghidupkan mobilnya, dan melajukan mobilnya meninggalkan cafe tempat dirinya dan Brama bertemu. ******* Setelah pertemuannya dengan Cantika, Brama sama sekali tidak balik ke kantor, Bahkan Brama juga tidak bertanya urusan pekerjaan dengan Aslan. Sampai waktu makan lama tiba, Brama kini sudah duduk bersama dengan kakek Prabu. Bahkan Aslan juga ikut bergabung makan malam di kediaman kakek Prabu. “Aku terima perjodohan yang kakek buat,” ucap Brama tiba-tiba, yang sukses membuat Kakek Prabu, Pak Heri kaki tangan kakek Prabu, dan Aslan, jelas terkejut. “Tapi dengan satu syarat,” “Apa?” tanya kakek Prabu. Menatap Brama dengan serius. “Tidak ada resepsi, pernikahan hanya dihadiri dengan keluarga saja,” jawab Brama. Setelahnya Brama langsung bangkit dari duduknya. Makan malamnya bahkan tidak tersentuh sama sekali. Kakek Prabu hanya diam menatap kepergian Brama, helaan nafas langsung keluar dari mulutnya. “Setidaknya dia mau menerima perjodohan ini,” batin kakek Prabu. ***** Kabar Brama menerima perjodohan yang di buat kakek Prabu dan Alm Ayah Cantika, sudah sampai ke telinga Cantika. Tentu yang memberitahu sang ibu. Karena kakek Brama langsung menghubungi Bu Irma. “Kenapa?” tanya Ema, saat melihat Cantika langsung terdiam, begitu selesai menerima telepon dari sang ibu. “Dia terima perjodohan ini,” jawab Cantika, dengan lirih. “Benarkan aku bilang, pria mana yang sanggup menolak pesona seorang Cantika Viola Putri,” ucap Ema, sambil menaik turunkan alisnya. Mendengar apa yang dikatakan Ema, Cantika langsung mendengus kesal. “Dia terima perjodohan ini bukan karena suka samaku, Ma,” “Laah…terus?” “Karena dia nggak mau kehilangan warisan kakeknya,” “Whaaat!!” terkejut Ema, Menatap Cantika tidak percaya. “Ada ya manusia seperti itu?” heran Ema. Menatap Cantika yang hanya menjawab dengan mengangkat bahunya. “Terus kamu gimana?” tanya Ema, menatap Cantika dengan serius.“Aku takut,” suara Cantika semakin terdengar lirih.“Kamu sudah aman, sekarang,” ucap Brama.Cantika bukannya tenang, justru semakin takut, Kepalanya langsung menggeleng, “Nggak! aku sudah kotor, mereka sudah sentuh aku. Aku minta maaf, karena tidak bisa menjaga kehormatanku, untuk kamu,” Brama sendiri seperti tertampar, saat mendengar apa yang dikatakan, Cantika. Tidak tega dengan Cantika. Brama semakin mengeratkan pelukannya. Cantika sendiri, karena sudah lelah menangis, tiba-tiba saja langsung tak sadarkan diri. membuat Brama khawatir.“Lan, urus mereka, aku mau langsung bawa Cantika pulang.” ucap Brama, dengan nada tegas.“Baik, Pak,” sahut Aslan. Langsung memerintah anak buahnya, untuk membawa orang suruhan Dana dan Iqbal.“Bram,” panggil Iqbal, saat Brama melewatinya begitu saja. Sehingga, langkah Brama langsung terhenti.“Maaf…Bram, Maaf aku nggak bisa menolong Cantika,” ucap Iqbal, sambil berpura-pura menahan sakit.Brama tidak menyahut, yang ada Brama kembali melanjutkan lang
"Lepas." Cantika teriak, matanya menatap satu persatu orang suruhan Iqbal."Kau, duduk tenang saja disitu. Nanti juga pangeranmu datang buat jemput." Salah satu anak buah Iqbal berbicara.Cantika tidak bersuara lagi, yang ada, Cantika saat ini berusaha untuk membuka ikatan tali di tangannya."Aku harus bisa kabur dari sini. Brama harus tau, kalau sepupunya itu jahat." batin Cantika.Saat ini Cantika berusaha untuk membuka ikatan tali di tangannya. Sayangnya, ikatan talinya begitu kuat, sampai-sampai tangan Cantika terluka karena Cantika terus bergerak...Di rumah sakit, Brama sama sekali belum bergerak untuk menyelamatkan Cantika. Tapi wajahnya jelas sekali sedang menahan amarah."Sudah tahu siapa dalangnya?" Brama bertanya pada Aslan."Belum, pak."Rahang Brama semakin mengeras, tapi Brama tetap duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang ICU.Di balik tembok, Dana dan Iqbal melihat Brama yang masih belum pergi untuk menolong Cantika."Papa yakin Brama mau menolong Cantika? Secar
“Tunggu!” teriak Dana setelah berhasil mengejar dokter yang tadinya hendak masuk ke ruangan Kakek Prabu.Bukannya berhenti, dokter yang membuat Dana dan Sarah penasaran justru terus melangkah ke arah kamar jenazah yang memang terlihat sepi. Bahkan karyawan rumah sakit pun tidak ada di sekitar lorong menuju kamar jenazah.“Dia kenapa lari ke sini, sih? Ada-ada aja,” gerutu Sarah dengan nada kesal. Namun, ia tetap mengejar dokter tersebut sampai akhirnya dokter itu masuk ke kamar jenazah.“Iqbal!” teriak Dana begitu sudah berada di dalam kamar jenazah.Iqbal langsung berbalik badan, tangannya membuka masker yang menutupi wajahnya. Senyum tipis terlihat di bibirnya.“Ck, benar dugaan kami. Ternyata dokter gadungan itu kamu,” ucap Sarah dengan nada menyindir.Iqbal membuka jas dokter dan masker yang sedari tadi dipakainya. Dengan kasar, ia melemparnya ke salah satu brankar yang ada di kamar jenazah.“Padahal sedikit lagi aku bisa menyingkirkan si tua bangka itu. Tapi sayangnya gagal.”“Te
Kabar kalau Kakek Prabu masuk rumah sakit sudah terdengar sampai di telinga Dana dan Sarah. Jelas saja, keduanya langsung terlihat gembira. Begitu juga dengan Iqbal.“Belum juga kita bekerja, tapi si tua bangka itu sudah sekarat saja,” kekeh Sarah.Saat ini dirinya sedang berada di dalam perjalanan bersama Dana, menuju rumah sakit. Sedangkan Iqbal masih sibuk dengan urusannya. Kalau urusannya sudah selesai, barulah Iqbal akan menyusul.Di rumah sakit, Cantika terus mondar-mandir di ruang UGD. Pak Heri sendiri hanya bisa berdiri di depan pintu UGD. Tak lupa, mulutnya selalu bergerak membaca doa agar Kakek Prabu baik-baik saja.Di kursi tunggu, Brama duduk diam, sesekali melirik ke arah pintu UGD. Wajahnya terlihat tenang, tapi tetap saja Brama saat ini khawatir dengan Kakek Prabu.Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya dokter yang menangani Kakek Prabu keluar.“Dok, gimana keadaan kakek saya?” tanya Cantika. Brama langsung bangkit dari duduknya, ingin mendengar apa yang disampa
Dana meletakkan ponselnya di atas nakas. Matanya menatap Sarah dengan senyuman sinis.“Yang pastinya, aku mau menghancurkan hubungan wanita itu dan Brama. Aku akan mengadu domba mereka. Tujuan utamaku adalah, jangan sampai mereka sampai jatuh cinta,” ujar Dana.“Dengan cara?”“Menghadirkan orang dari masa lalu Brama.”Senyum Sarah langsung terbit begitu mendengar apa yang dikatakan suaminya. “Bagus itu, Mas. Aku sudah nggak sabar melihat wanita sombong itu ditendang dari rumah Papa,” seru Sarah bersemangat, tak sabar dengan rencana suaminya.“Tapi sebelum itu, aku juga mau buat sesuatu buat Papa.”“Apa?”“Kamu nggak tahu kalau Papa jantungnya sekarang sering kambuh? Jadi kalau tua bangka itu mati, mungkin dengan kita menjalankan rencana untuk menghancurkan Brama akan lebih mudah,” jelas Dana.Wajah Sarah semakin sumringah. Dengan cepat, ia langsung memeluk tubuh Dana.“Kamu memang pintar, Mas. Jadi makin sayang deh,” puji Sarah. Dana pun membalas pelukan itu.“Siapa dulu, Pradana,” uj
Makan malam berakhir dengan wajah merah Brama dan kekesalan Sarah dan juga Dana.Cantika yang terlihat tenang dan selalu menampilkan senyuman di bibirnya, tetap saja dadanya terasa sesak saat mendapatkan perlakuan tidak enak dari Sarah dan Dana.Kakek Prabu bisa melihat bagaimana perasaan Cantika saat ini. Itu sebabnya, setelah selesai makan malam, Kakek Prabu langsung menyuruh Cantika untuk beristirahat di kamar.“Cantika, langsung istirahat saja di kamar, kakek tahu kamu pasti lelah.. Untuk kamu, Bram. Ke ruangan kerja Kakek dulu. Ada yang mau Kakek bicarakan sama kamu,” ucap Kakek Prabu dengan nada tegas.“Bi, antarkan Cantika ke kamar, Brama.” Kakek Prabu langsung memerintahkan art di rumahnya. Dengan sopan, Bi Murni pun menjawab dengan anggukan kepala.“Mari, Non.”“Panggil Tika saja, Bi,” ucap Cantika dengan sopan.“Nona Cantika ini istrinya Den Brama, jadi mana mungkin saya memanggil istri majikan saya hanya nama saja,” sahut Bi Murni tidak kalah sopan.Mendapat perlakuan spesi







