Mag-log in“Gimana apanya?” tanya Cantika, dengan alis berkerut menatap Ema.
“Ya…kamu gimana sama tuh cowok yang di jodohkan sama kamu? suka nggak?” Cantika menatap foto keluarganya yang ada di atas meja. Melihat senyum ayah, ibu dan adiknya. Cantika juga ikut tersenyum. Hembusan nafas juga keluar dari mulutnya. “Kalau dibilang perasaan, jelas belum ada sama sekali, Ma. Tapi setiap wanita pasti berharap kebahagian bersama dengan suaminya, ketika sudah menikah. Dan aku juga berharap seperti itu, walaupun aku menikah tanpa ada rasa cinta. Aku berharap Allah akan memberikan rasa cinta untuk aku dan dia nanti,” “Aaamiinn,” . . Dua hari sudah berlalu sejak Brama memberitahu kakek Prabu kalau dirinya menerima perjodohan yang sudah di atur kakeknya. Brama pikir masalah itu sudah selesai, tapi pikirannya salah besar. Saat Brama fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba telpon dari kakek Prabu, membuat Brama langsung berdecak kesal. “Apalagi sih?” kesal Brama, tapi tetap menjawab telpon dari kakek Prabu. “Apalagi Kek?” tanya Brama langsung. Nada suaranya terdengar menahan kesal. “Jemput Cantika sekarang,” “Hahk!” terkejut Brama, bahkan alisnya sampai menyatu, saat mendengar apa yang dikatakan kakeknya. “Maksud kakek apa sih?” tanya Brama, mengalah. “Ck, dasar bodoh!” maki kake Prabu, karena kesal dengan cucunya itu. “Kamu tiga hari lagi mau menikah dengan Cantika. Dan kamu belum membeli cincin kawin untuk dia, jadi sekarang kamu jemput dia, dan kalian beli cincin kawin sama-sama,” jelas kak Prabu. “Nggak bisa aku sibuk,” tolak Brama, dan ingin langsung mematikan sambungan telponnya. Tapi perkataan kakek Prabu, membuat Brama langsung mengeraskan rahangnya karena lagi-lagi harus mengalah. “Kalau kamu tidak mau menjemputnya, mulai besok kamu tidak boleh masuk kantor,” ancam kakek Prabu. “Iya, ini aku jemput dia,” lagi-lagi Brama harus mengalah. Bahkan sambungan telponnya langsung diputuskan Brama. “Nyusahin aja,” maki Brama, tapi tetap bangkit dari duduknya. Baru saja Brama ingin membuka pintu, Brama dikagetkan dengan pintu ruangannya yang sudah terbuka lebih dulu. “Aahk…kebetulan, ayo kita ke kantor cewek itu,” ajak Brama langsung, saat melihat Aslan berdiri di depan pintu. “Maaf pak, bukannya saya tidak mau menemani bapak. Tapi sepuluh menit lagi, ada meeting dengan bagian marketing pemasaran. Meeting ini cukup penting pak, jadi sebaiknya bapak sendiri saja yang pergi bersama dengan Bu Cantika. Biar saya yang handle meetingnya,” “Ck, gara-gara cewek itu, aku harus nyetir sendiri. Benar-benar merepotkan,” batin Brama, tanpa berkata-kata, Brama langsung merebut kunci mobil yang ada di tangan Aslan. Kakinya melangkah keluar ruangan melewati Aslan begitu saja. Aslan sendiri ingin memanggil Brama, bermaksud memberitahu alamat kantor Cantika. Tapi entah kenapa Aslan merasa takut, karena melihat wajah Brama. Sampai Brama menghilang masuk ke dalam lift. “Mungkin Pak Brama sudah tahu alamat kantor bu Cantika. Kan nggak mungkin nggak tahu, sama kantor calon istri sendiri,” ucap Aslan. Merasa urusannya sudah beres, Aslan kembali ke ruangannya. Bukan untuk mengurusi meeting, malahan tidak ada meeting sama sekali. Semua itu hanya alasan Aslan saja, sebab kakek Prabu yang meminta Aslan, agar Brama pergi sendiri untuk menjemput Cantika. “Semoga dengan pergi berduanya pak Brama dan bu Cantika, mereka bisa sama-sama saling cinta,” doa Aslan. . . Sudah hampir sepuluh menit Brama berada di jalan, sampai tiba-tiba Brama mengingat sesuatu, dengan cepat Brama langsung menepikan mobilnya. “Aku kan nggak tahu alamat kantornya cewek itu? Ck, kenapa tadi nggak tanya sama Aslan dulu,” kesel Brama, Langsung menghubungi Aslan, detik itu juga. “Halo pak,” terdengar suara Aslan dari seberang telpon. “Kirim alamat kantor cewek itu,” “Alamat kantor Bu Cantika, Pak?” “Ck, memangnya cewek yang mau dinikahkan denganku banyak? sampai kamu balik?” geram Brama. Aslan yang mendengar hanya bisa menahan tawa. “Cek g****e aja Pak, ada kok alamatnya tertera di sana,” “Aslan,” Brama semakin kesal, karena asistennya tidak langsung memberitahu. “Saya sedang meeting, Pak. Tidak sempat mau kirim pesan, lebih baik bapak cek sendiri saja ya, maaf Pak, telponnya harus saya matikan,” ucap Aslan. Brama langsung menutup matanya, hembusan nafas keluar dari mulutnya. “Aku potong gajimu bulan ini,” emosi Brama. Tapi tetap mengikuti perkataan Aslan. “Ternyata dia punya dia punya usaha EO dan WO,” ucap Brama, melihat profil Cantika dari hp nya. “Lumayan besar juga,” mulut Brama, tidak sadar sudah memuji usaha Cantika. Karena sudah tahu dimana alamat kantor Cantika. Brama kembali melajukan mobilnya menuju kantor Cantika. Hampir satu jam Brama menyetir, kini mobilnya sudah terparkir tepat di depan kantor Cantika. Mata Brama melihat nama kantor Cantika yang bertulis ‘Cantika Dream Event & Wedding’ “Bagus namanya,” lagi-lagi tanpa sadar, Brama memuji usaha Cantika. Dengan langkah mantap, Brama langsung melangkah masuk. Karyawan Cantika yang berada di lantai satu, langsung syok melihat pangeran tampan yang tiba-tiba saja datang di siang bolong. “A-ada yang bisa dibantu pak?” tanya resepsionis. “Saya mau bertemu Cantika,” “Sudah ada janji, pak?” “Ck, harus ada janji kalau mau bertemu calon istri sendiri?” “A-pa, ca-calon istri?” terkejut karyawan Cantika, saat mendengar apa yang dikatakan Brama. Bahkan karyawan Cantika sampai saling tatap. “Kenapa diam? Cantika nya ada kan?” “Ada apa ini?” Brama langsung membalikkan tubuhnya, tepat sekali, orang yang dicarinya sudah ada di hadapannya. Tanpa buang-buang waktu, Brama langsung menarik tangan Cantika, membuat Cantika terkejut, begitu juga dengan Ema dan karyawan Cantika, yang kebetulan ada di lantai satu. “Ayo,” “Eeehk….mau kemana?” tanya Cantika, bahkan langsung menarik tangannya. “Ck, beli cincin,” “Buruan,” kembali Brama menarik tangan Cantika. Cantika sendiri hanya bisa nurut dan mengikuti langkah Brama. Padahal dirinya baru saja sampai kantor, karena baru bertemu dengan klien. “Ya ampun, tuh orang nggak ada perasaannya sama sekali, main tarik-tarik aja,” omel Ema. Mau teriak, tapi takut. Apalagi saat melihat wajah Brama yang terlihat begitu menyeramkan. “Untung ganteng,” ucap Ema. Saat mobil mewah Brama sudah pergi, Ema baru sadar kalau hp dan dompet milik Cantika ada di dalam tasnya. “Ya ampun, dompet sama hp Cantika mana disini lagi. Semoga aja tuh cowok punya hati kasih Cantika makan, belum makan soalnya tadi, gara-gara mau cepat balik ke kantor,” ucap Ema. . . Di mall, Brama jalan lebih dulu. Sedangkan Cantika berada di belakang Brama, merasa Cantika begitu lambat, Brama langsung menghentikan langkahnya, baru saja Brama ingin balik badan, Cantika yang tidak lihat-lihat, justru menabrak dada bidang Brama, membuat keduanya sama-sama terkejut dan saling tatap. “Brama,” Brama dan Cantika tersadar saat mendengar seseorang memanggil Brama. Cantika bahkan langsung memundurkan langkahnya, tapi Brama justru kembali menarik pinggang Cantika. Membuat Cantika jelas terkejut, dan kembali menatap Brama. “Sejak kapan kamu disini?” tanya Brama, menatap Iqbal. Sepupu Brama yang selalu mencari masalah dengannya. “Ternyata kabar kalau kamu mau menikah benar ya?” bukannya menjawab, Iqbal justru kembali bertanya, bahkan saat ini Iqbal menatap Cantika dengan tatapan begitu dalam. “Jaga matamu, dia calon istriku,” ucap Brama dengan tegas. Iqbal langsung tertawa sinis, matanya kini beralih menatap Brama. “Segitunya cemburu hanya karena aku menatap dia,” kekeh Iqbal. Brama hanya diam, tapi rahangnya sudah mengeras. “Kamu beneran cinta sama dia? atau karena takut hak ahli waris jatuh ke tanganku?”“Aku takut,” suara Cantika semakin terdengar lirih.“Kamu sudah aman, sekarang,” ucap Brama.Cantika bukannya tenang, justru semakin takut, Kepalanya langsung menggeleng, “Nggak! aku sudah kotor, mereka sudah sentuh aku. Aku minta maaf, karena tidak bisa menjaga kehormatanku, untuk kamu,” Brama sendiri seperti tertampar, saat mendengar apa yang dikatakan, Cantika. Tidak tega dengan Cantika. Brama semakin mengeratkan pelukannya. Cantika sendiri, karena sudah lelah menangis, tiba-tiba saja langsung tak sadarkan diri. membuat Brama khawatir.“Lan, urus mereka, aku mau langsung bawa Cantika pulang.” ucap Brama, dengan nada tegas.“Baik, Pak,” sahut Aslan. Langsung memerintah anak buahnya, untuk membawa orang suruhan Dana dan Iqbal.“Bram,” panggil Iqbal, saat Brama melewatinya begitu saja. Sehingga, langkah Brama langsung terhenti.“Maaf…Bram, Maaf aku nggak bisa menolong Cantika,” ucap Iqbal, sambil berpura-pura menahan sakit.Brama tidak menyahut, yang ada Brama kembali melanjutkan lang
"Lepas." Cantika teriak, matanya menatap satu persatu orang suruhan Iqbal."Kau, duduk tenang saja disitu. Nanti juga pangeranmu datang buat jemput." Salah satu anak buah Iqbal berbicara.Cantika tidak bersuara lagi, yang ada, Cantika saat ini berusaha untuk membuka ikatan tali di tangannya."Aku harus bisa kabur dari sini. Brama harus tau, kalau sepupunya itu jahat." batin Cantika.Saat ini Cantika berusaha untuk membuka ikatan tali di tangannya. Sayangnya, ikatan talinya begitu kuat, sampai-sampai tangan Cantika terluka karena Cantika terus bergerak...Di rumah sakit, Brama sama sekali belum bergerak untuk menyelamatkan Cantika. Tapi wajahnya jelas sekali sedang menahan amarah."Sudah tahu siapa dalangnya?" Brama bertanya pada Aslan."Belum, pak."Rahang Brama semakin mengeras, tapi Brama tetap duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang ICU.Di balik tembok, Dana dan Iqbal melihat Brama yang masih belum pergi untuk menolong Cantika."Papa yakin Brama mau menolong Cantika? Secar
“Tunggu!” teriak Dana setelah berhasil mengejar dokter yang tadinya hendak masuk ke ruangan Kakek Prabu.Bukannya berhenti, dokter yang membuat Dana dan Sarah penasaran justru terus melangkah ke arah kamar jenazah yang memang terlihat sepi. Bahkan karyawan rumah sakit pun tidak ada di sekitar lorong menuju kamar jenazah.“Dia kenapa lari ke sini, sih? Ada-ada aja,” gerutu Sarah dengan nada kesal. Namun, ia tetap mengejar dokter tersebut sampai akhirnya dokter itu masuk ke kamar jenazah.“Iqbal!” teriak Dana begitu sudah berada di dalam kamar jenazah.Iqbal langsung berbalik badan, tangannya membuka masker yang menutupi wajahnya. Senyum tipis terlihat di bibirnya.“Ck, benar dugaan kami. Ternyata dokter gadungan itu kamu,” ucap Sarah dengan nada menyindir.Iqbal membuka jas dokter dan masker yang sedari tadi dipakainya. Dengan kasar, ia melemparnya ke salah satu brankar yang ada di kamar jenazah.“Padahal sedikit lagi aku bisa menyingkirkan si tua bangka itu. Tapi sayangnya gagal.”“Te
Kabar kalau Kakek Prabu masuk rumah sakit sudah terdengar sampai di telinga Dana dan Sarah. Jelas saja, keduanya langsung terlihat gembira. Begitu juga dengan Iqbal.“Belum juga kita bekerja, tapi si tua bangka itu sudah sekarat saja,” kekeh Sarah.Saat ini dirinya sedang berada di dalam perjalanan bersama Dana, menuju rumah sakit. Sedangkan Iqbal masih sibuk dengan urusannya. Kalau urusannya sudah selesai, barulah Iqbal akan menyusul.Di rumah sakit, Cantika terus mondar-mandir di ruang UGD. Pak Heri sendiri hanya bisa berdiri di depan pintu UGD. Tak lupa, mulutnya selalu bergerak membaca doa agar Kakek Prabu baik-baik saja.Di kursi tunggu, Brama duduk diam, sesekali melirik ke arah pintu UGD. Wajahnya terlihat tenang, tapi tetap saja Brama saat ini khawatir dengan Kakek Prabu.Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya dokter yang menangani Kakek Prabu keluar.“Dok, gimana keadaan kakek saya?” tanya Cantika. Brama langsung bangkit dari duduknya, ingin mendengar apa yang disampa
Dana meletakkan ponselnya di atas nakas. Matanya menatap Sarah dengan senyuman sinis.“Yang pastinya, aku mau menghancurkan hubungan wanita itu dan Brama. Aku akan mengadu domba mereka. Tujuan utamaku adalah, jangan sampai mereka sampai jatuh cinta,” ujar Dana.“Dengan cara?”“Menghadirkan orang dari masa lalu Brama.”Senyum Sarah langsung terbit begitu mendengar apa yang dikatakan suaminya. “Bagus itu, Mas. Aku sudah nggak sabar melihat wanita sombong itu ditendang dari rumah Papa,” seru Sarah bersemangat, tak sabar dengan rencana suaminya.“Tapi sebelum itu, aku juga mau buat sesuatu buat Papa.”“Apa?”“Kamu nggak tahu kalau Papa jantungnya sekarang sering kambuh? Jadi kalau tua bangka itu mati, mungkin dengan kita menjalankan rencana untuk menghancurkan Brama akan lebih mudah,” jelas Dana.Wajah Sarah semakin sumringah. Dengan cepat, ia langsung memeluk tubuh Dana.“Kamu memang pintar, Mas. Jadi makin sayang deh,” puji Sarah. Dana pun membalas pelukan itu.“Siapa dulu, Pradana,” uj
Makan malam berakhir dengan wajah merah Brama dan kekesalan Sarah dan juga Dana.Cantika yang terlihat tenang dan selalu menampilkan senyuman di bibirnya, tetap saja dadanya terasa sesak saat mendapatkan perlakuan tidak enak dari Sarah dan Dana.Kakek Prabu bisa melihat bagaimana perasaan Cantika saat ini. Itu sebabnya, setelah selesai makan malam, Kakek Prabu langsung menyuruh Cantika untuk beristirahat di kamar.“Cantika, langsung istirahat saja di kamar, kakek tahu kamu pasti lelah.. Untuk kamu, Bram. Ke ruangan kerja Kakek dulu. Ada yang mau Kakek bicarakan sama kamu,” ucap Kakek Prabu dengan nada tegas.“Bi, antarkan Cantika ke kamar, Brama.” Kakek Prabu langsung memerintahkan art di rumahnya. Dengan sopan, Bi Murni pun menjawab dengan anggukan kepala.“Mari, Non.”“Panggil Tika saja, Bi,” ucap Cantika dengan sopan.“Nona Cantika ini istrinya Den Brama, jadi mana mungkin saya memanggil istri majikan saya hanya nama saja,” sahut Bi Murni tidak kalah sopan.Mendapat perlakuan spesi







