MasukAzela Hanton merupakan putri dari Bara Hanton dan Tamara Smit, salah satu keluarga terpandang di Indonesia. Sejak kecil Azela di sayangi dan di cintai oleh kedua orangtuanya, namun ketika usianya menginjak 15 tahun orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Azela tinggal bersama adik angkat Daddynya, Sasa Dewanta. Semuanya berubah dan Azela di perlakukan seperti pembantu. Kakek dan neneknya mengambil Azela, membawanya ke singapura karena mereka tinggal di sana. Kakek Azela sangat murka melihat semua bekas pukulan di tubuh Azela. Akhirnya Azela di latih beladiri dan memegang beberapa senjata agar di kemudian hari akan bisa membalas dan mengambil semua milik Azela yang sudah di wariskan oleh Daddynya. Azela menjadi gadis yang sangat cantik dan tangguh berprofesi sebagai desainer terkenal dan memiliki butik dan restoran tapi semua itu Azela tidak pernah muncul di publik. Pertemuannya dengan pria yang sangat tampan dan tak tersentuh merupakan pria terkaya di Negaranya yaitu Ferro Alexander. Mereka bertemu disaat terjadi suatu inseden. Azela menjadi gadis kesayangan Ferro dan di jadikan ratu di kehidupannya.
Lihat lebih banyakThe transparent doors of the bookstore─Lawrence, shut close soundlessly as Jeremy walked out with his baby blue satchel perched on his right shoulder.
A sudden assault of coldness creeping up his sleeveless arms made Jeremy halt for a second. He rubbed his goosebumps filled arms to find some momentous warmth.
The greeny─blue of his changeable eyes gazed around aimlessly, landing on the fellow pedestrians, who just like him were having a hard time with the after drizzle temperature drop.
Why are weather reports so inaccurate?
Inhaling the relatively cold air Jeremy sidestepped a stray can of coke.
The walk from the bookstore to the bus stop hardly takes five minutes but today Jeremy decided to fasten his pace. The cotton shirt he wore clung to his lanky physique but didn't help much in guarding from the cold air continuously trying to invade through the light material.
As soon as the bus stop came to view Jeremy heaved a breath of relief. Quickly getting inside the platform, he moaned audibly, loving the light warm air surrounding the enclosed waiting area.
Jeremy carefully sat on the seats allotted for the passengers and let the strap of his satchel fall off his shoulders. Interwining his fingers, Jeremy leaned against the wall and closed his eyes trying to meditate silently till the announcer informed of his bus' arrival.
"Arrrmm." The gruff and low groan made Jeremy open his eyes immediately and look in the direction from where it emitted.
Busy with himself till now, Jeremy failed to notice the other person at the far end to the left, shrivelled up. Worried he took careful steps and stopped right in front of the person. From here itself Jeremy could make out the dried trail of blood that clung to the curve of that person's cheekbones.
Jeremy panicked. Perhaps the person is injured?
"Excuse me." He spoke softly to the person.
The stranger's mass of raven curls dipped back and a pair of squinting grey eyes looked back at Jeremy.
If time were to stop Jeremy wouldn't have minded. The person in front of him seemed extremely handsome, capable of rivaling the nation's top Male models. With eyes so clear and deep, people might have always looked twice to make sure this person is real.
The person stared back at him with curious eyes and something more that he couldn't comprehend properly at the moment.
Once again Jeremy insisted. "Are you injured? You seem to have dried blood trails down your cheekbones."
No words came in response.
The same stare that trickled Jeremy's body a few moments ago now made him feel self conscious.
Is there something on his face, Jeremy thought. Maybe the person doesn't talk? Perhaps the person is so unwell that he cannot speak? The last thought made Jeremy more worried and he bent towards the person's face, trying to find any visible bruise or cut.
The stranger immediately leaned back, grey eyes widening.
Jeremy narrowed his eyes inspecting but didn't find any visible bruise. Straightening his posture, Jeremy searched inside his satchel to find the spare piece of handkerchief he always brings for emergencies.
"Ah." He muttered happily, finally grasping the white handkerchief. Jeremy offered the handkerchief to the person. The person looked at the piece of cloth but didn't make any motion to take it.
"Bus 4509 has arrived. Boarders please go in." The announcer suddenly burst shaking both of them.
Jeremy glanced outside to see the blue─white vehicle stopping in front of the platform. His bus has arrived. He once again looked back to see that the person had made no move to take the offered cloth. Sighing impatiently, Jeremy boldly took one of the person's hands and forced the cloth on the stranger's palm. "Take this. Okay?"
With a last warm smile Jeremy hurried towards the automatic doors, marching out as they opened to the awaiting bus, leaving the shook stranger on his seat, palm still out in the air, holding the white cloth.
Hari-hari telah berlalu, sudah 5 hari Ferro belum pulang ke mansion, bahkan dia juga belum menelpon Azela. Selama itu, jika bukan menginap di perusahaan, Ferro akan menginap di markas. Ferro tidak sadar, bahwa Azela selalu gelisah setiap hari menunggu kepulangannya. Waktu itu, terhitung 3 hari Ferro tidak pulang ke mansion. Azela memberanikan dirinya untuk datang ke perusahaan Horace Group. Namun, yang Azela dapatkan, Ferro tidak ada diperusahaan, dia ada pertemuan dengan klien di luar, Azela merasa kecewa dan akhirnya pulang kembali ke mansion. Bahkan saat itu juga, Azela mencoba menelpon Ferro beberapa kali, Namun Ferro tidak menjawab nya sama sekali. Pernah juga tanpa segaja, Azela datang ke restorannya, saat dia ingin pulang di depan pintu masuk, Azela berpapasan dengan Ferro, hati Azela sakit Ferro hanya melihatnya saja tanpa mau menyapanya sedikitpun. Segala hal Azela pikirkan, dari sebuah kiriman video dari nomor yang tidak di kenal. Awalnya Azela tidak percaya, karena dia y
Pukul 10 malam, Ferro berjalan keluar ruangannya di ikuti Hedy di belakangnya. Ferro ingin ke markas dia ingin melihat wajah Delon seperti apa setelah melihatnya datang.Di perjalanan, ponsel Hedy bergetar tanda ada pesan masuk dari Azela. Dengan ragu Hedy mengatakan pada Ferro."Tuan, Nyonya Azela mengirim pesan padaku" ucap Hedy. "Apa yang dia katakan ?" tanya Ferro. "Nyonya bertanya apakah anda akan pulang ke mansion nanti atau tidak" "Katakan saja kalau aku tidak pulang" "Baik Tuan" Hedy lalu membalas pesan Azela. Semua pertanyaan Azela dia jawab semua tanpa ada kebohongan. Di dalam pesan itu juga, Azela meminta Hedy untuk memperhatikan kesehatan Ferro, makanannya dan memintanya jangan sampai Ferro telat makan. Sebenarnya, Hedy merasa heran pada Tuannya. Jika di lihat Ferro sekarang sudah baik-baik saja dan kenapa tidak pulang ke mansion untuk menemui istrinya. Tapi Hedy tidak mau ikut campur, Hedy hanya berharap pernikahan Ferro dan Azela tetap utuh apalagi sekarang Azela s
Terik matahari muncul di sela-sela horden. Ferro membuka matanya, perlahan dia merasakan sakit di kepalanya, dia lalu bersandar di sandaran ranjang.Ferro melihat sekelilingnya, kalau dia ternyata menginap di perusahaan. Ferro memegang kepalanya dan berusaha turun dari ranjang ingin masuk dalam kamar mandi. Setelah 15 menit membersihkan tubuh, Ferro membuka lemari, mengambil satu set pakaiannya lalu dia pakai. "Sepertinya Ini efek aku minum banyak kemarin jadi kepalaku sakit" lirih Ferro, diam dan mengingat semuanya.Ferro lalu berjalan keluar ruangan pribadinya, duduk di kursi kebesarannya, membuka ponselnya dan langsung menekan panggilan pada asistennya. "Halo Tuan" "Pesankan aku sarapan sekarang juga" "Baik Tuan" Kemudian mematikan telpon, Ferro membuka laptopnya dan mulai melakukan pekerjaannya. Ferro seolah-olah melupakan Azela yang berada di mansion. Di mansion, Azela berdiri merenung di balkon kamar. Hatinya gelisah setelah mengetahui dari Bibi Wawa kalau Ferro tidak pul
Semenjak kepergian Azela, Ferro tidak bekerja. Dia hanya diam memejamkan matanya, bersandar di kursinya. Ferro tidak tidur, dia hanya ingin menenangkan pikirannya saja yang kalut, menghilangkan amarah dalam dirinya yang tadi mencuak tapi tidak bisa di keluarkan. Akhirnya, Ferro tidak tahan, jam sudah menunjukkan jam pulang kerja. Dia meminta asistennya Hedy membawakan minuman yang beralkohol tinggi. Ferro lama-lama menghabiskan banyak minuman alkohol itu. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Ferro belum juga ingin pulang. Dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sejak siang tadi. Semua pegawai sudah pulang, tidak ada pegawai yang lembur malam ini dan Hedy masih setia menunggu Ferro di depan ruangan Ferro. Satu jam kemudian, Hedy berjalan masuk ke dalam ruangan Ferro. "Tuan mari kita pulang, sudah jam 9 malam" ucap Hedy dengan hati-hati."Pekerjaanku belum selesai, kau bisa pulang duluan" jawab Ferro tanpa melihat Hedy. "Baiklah, Tuan. Saya akan menunggu anda sampai selesai" ucap
Di perusahaan Horace Group, Ferro baru saja selesai melakukan rapat dari klien luar negeri. Kini dia sekarang berada di ruangannya. Diasudah membeli ponsel baru dan akan menelpon istrinya nanti siang setelah dia mengecek semua berkas laporan.Setelah pekerjaan Ferro sudah selesai, dia akan menelpon i
Jam menunjukkan pukul 11 siang, Azela bersiap ingin pergi menghadiri ajakan makan siang Delon. Azela ragu meminta izin, dia tau pasti suaminya tidak akan mengizinkannya. Tapi jika dia tidak menghadiri ajakan makan siang Delon dia tidak akan tau apa yang akan di rencanakan Delon selanjutnya.Dengan te
"PENGUSAHA NOMOR SATU DI NEGARA INI FERO ALEXANDER MEMASUKI RESTORAN BINTANG LIMA BERSAMA SEORANG WANITA, MEREKA TAMPAK MESRA. APAKAH WANITA ITU KEKASIH FERRO ALEXANDER ?""ALEXANDER BERSAMA ISTRINYA RISA BERKUNJUNG KERUMAH SAKIT BERSAMA SEORANG WANITA CANTIK. MEREKA JUGA JALAN BERSAMA KE MALL, DI DU
Alexander dan Risa sedang dalam perjalanan menuju ke mansion Ferro dan Azela sesuai dengan janji Alexander pada Risa. Sedangkan Ferro dan Azela kini berdebat di dalam kamar karena Ferro tak ingin ke perusahaan."Aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir" ucap Azela."Aku takut, keram di perut kamu munc


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.