MasukAzela Hanton merupakan putri dari Bara Hanton dan Tamara Smit, salah satu keluarga terpandang di Indonesia. Sejak kecil Azela di sayangi dan di cintai oleh kedua orangtuanya, namun ketika usianya menginjak 15 tahun orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Azela tinggal bersama adik angkat Daddynya, Sasa Dewanta. Semuanya berubah dan Azela di perlakukan seperti pembantu. Kakek dan neneknya mengambil Azela, membawanya ke singapura karena mereka tinggal di sana. Kakek Azela sangat murka melihat semua bekas pukulan di tubuh Azela. Akhirnya Azela di latih beladiri dan memegang beberapa senjata agar di kemudian hari akan bisa membalas dan mengambil semua milik Azela yang sudah di wariskan oleh Daddynya. Azela menjadi gadis yang sangat cantik dan tangguh berprofesi sebagai desainer terkenal dan memiliki butik dan restoran tapi semua itu Azela tidak pernah muncul di publik. Pertemuannya dengan pria yang sangat tampan dan tak tersentuh merupakan pria terkaya di Negaranya yaitu Ferro Alexander. Mereka bertemu disaat terjadi suatu inseden. Azela menjadi gadis kesayangan Ferro dan di jadikan ratu di kehidupannya.
Lihat lebih banyak"Nyonya!" "Nyonya!"
Teriakan terdengar dari bawah. Semua orang melihat ke arah menara tertinggi kastil, tempat seorang wanita dengan gaun putih penuh darah berdiri di tepi.
Selene Moreau Leventis.
Duchess Leventis. Wanita yang biasanya tenang dan penurut itu kini berdiri di tempat yang paling berbahaya. Para penjaga di belakangnya bergerak hati-hati, takut salah langkah akan membuatnya benar-benar melompat.
Tangisnya pecah, jelas dan memilukan. Selene memegang perutnya yang sakit. Ia baru saja keguguran untuk kelima kalinya. Kali ini ia tahu kebenarannya: semua itu bukan karena penyakit atau kelemahan tubuhnya, tapi karena ulah suaminya sendiri yang tidak menginginkan dia melahirkan keturunan.
"Selene!" suara berat memanggil dari belakang. Dirian, sang Duke, suaminya.
Selene mendengar tapi enggan menoleh. Kecewa sudah terlalu dalam.
"Apa ini trik lain untuk menarik perhatianku?" tanya Dirian dingin. Ia memang tidak suka dibuat repot. Selene tahu, pria itu datang hanya karena tidak tahan mendengar bisik-bisik orang soal istrinya yang berdiri di puncak menara.
Selene tersenyum miris. Suaranya serak saat ia menjawab, "Bukankah kau seharusnya meminta maaf?" Pandangannya jatuh pada seorang wanita cantik yang berdiri di antara para pelayan. Wanita yang rapi, berbeda jauh dari dirinya yang berantakan. Wanita itu dicintai Dirian, wanita yang bahkan tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan dirinya dimata Dirian
"Apa kau gila?" Dirian membalas, nadanya meremehkan.
Selene berbalik menatapnya. Mata suaminya merah, tapi tetap dingin.
"Ya, aku memang gila! Aku gila karena mencintaimu, padahal kaulah yang membunuh lima anakmu sendiri!" teriak Selene.
Semua pengawal terkejut. Dirian pun terdiam sesaat.
"Selene, jangan bicara omong kosong," ucapnya, mencoba menahan kendali.
Selene tertawa getir. Darah terus merembes membasahi gaunnya.
"Pernahkah kau mencintaiku?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.
Dirian diam. Lalu ia mengalihkan pandangan
"Tidak pernah " Selene menjawab sendiri karena reaksi Dirian
Kata dari mulutnya sendiri menghantam Selene. Ia menarik napas gemetar.
"Hentikan semua ini dan turun. Kau butuh istirahat," kata Dirian.
"Jangan pura-pura peduli!" bentak Selene. Air matanya jatuh. "Mengapa tidak membunuhku saja, daripada membunuh semua janin yang tidak berdosa itu?"
"Selene, berhenti! Turun sekarang!" Dirian berteriak memberi perintah.
"Aku akan melompat dan mati lalu bertemu dengan anak-anakku untuk meminta maaf karena tidak mampu melindungi mereka dari ayah mereka sendiri!" balas Selene lagi.
"Jangan gila, Selene! Kau tidak boleh mati!" seru Dirian, gelisah. Langkah mundur Selene membuatnya semakin rentan di tepi menara.
Selene justru tersenyum. "Demi anak-anakku yang kau bunuh, aku bersumpah! Kau akan membayar semuanya! Aku akan menghantuimu seumur hidup dengan penyesalan dan penderitaan tanpa akhir!"
Ia lalu melompat.
"Selene!" Dirian menjerit, berlari ke tepi menara bersama para pengawal. Tapi mereka terlambat. Tubuh Selene meluncur cepat dan menghantam tanah.
Brak
Suara seluruh tulang yang dihancurkan dan darah yang menggenang disana .
Matanya masih terbuka, sempat melihat wajah Dirian yang kacau melihat tubuhnya di bawah.
Teriakan pelayan dan orang-orang pecah memenuhi udara malam. Langit gelap tanpa bintang malam itu menjadi saksi tragedi yang menimpa Duchess Leventis.
.
.
"Selene!"
Selene tersentak, matanya terbuka lebar. Napasnya pendek, seperti orang yang baru saja diselamatkan dari tenggelam. Di depannya berdiri Dirian Leventis, suaminya. Wajahnya tenang, dingin, matanya tajam. Di belakangnya ada dokter dan pelayan, bau obat memenuhi ruangan. Semua terasa nyata, seperti panggung yang sama ketika hidupnya berakhir dulu.
Dia menoleh ke samping. Jam di meja kecil berdetak. Hari dan tahun yang tertera menunjukkan dua tahun sebelum ia mati. Angin malam masuk lewat jendela yang terbuka sedikit, membawa aroma yang sama dengan saat ia terjatuh dari menara. Ingatan itu kembali: tubuhnya menghantam tanah, sakit yang luar biasa, lalu gelap. Ia meraba perutnya, mencari bekas luka. Tangannya berbalut kasa, hangat, berdarah. Ia bingung — pernah mati, tapi sekarang hidup lagi.
"Nyonya Duchess, tangan anda berdarah. Saya akan memasang infus," kata dokter cepat. Selene menatap gerakannya dengan kaku, masih tidak percaya.
Dirian berkata, suaranya terdengar jengkel. "Jangan mempersulit dokter."
Selene menarik napas panjang. Kepalanya penuh dengan bayangan jasadnya, jeritan orang-orang, dan terutama lima janin yang tidak pernah lahir. Semua itu menghantam dirinya sekaligus.
Ia menoleh pada Dirian. Suaranya pelan tapi jelas.
"Dirian."
Suaminya menatap. "Apa?"
Selene menatap lurus ke matanya.
"Ayo bercerai."
Hari-hari telah berlalu, sudah 5 hari Ferro belum pulang ke mansion, bahkan dia juga belum menelpon Azela. Selama itu, jika bukan menginap di perusahaan, Ferro akan menginap di markas. Ferro tidak sadar, bahwa Azela selalu gelisah setiap hari menunggu kepulangannya. Waktu itu, terhitung 3 hari Ferro tidak pulang ke mansion. Azela memberanikan dirinya untuk datang ke perusahaan Horace Group. Namun, yang Azela dapatkan, Ferro tidak ada diperusahaan, dia ada pertemuan dengan klien di luar, Azela merasa kecewa dan akhirnya pulang kembali ke mansion. Bahkan saat itu juga, Azela mencoba menelpon Ferro beberapa kali, Namun Ferro tidak menjawab nya sama sekali. Pernah juga tanpa segaja, Azela datang ke restorannya, saat dia ingin pulang di depan pintu masuk, Azela berpapasan dengan Ferro, hati Azela sakit Ferro hanya melihatnya saja tanpa mau menyapanya sedikitpun. Segala hal Azela pikirkan, dari sebuah kiriman video dari nomor yang tidak di kenal. Awalnya Azela tidak percaya, karena dia y
Pukul 10 malam, Ferro berjalan keluar ruangannya di ikuti Hedy di belakangnya. Ferro ingin ke markas dia ingin melihat wajah Delon seperti apa setelah melihatnya datang.Di perjalanan, ponsel Hedy bergetar tanda ada pesan masuk dari Azela. Dengan ragu Hedy mengatakan pada Ferro."Tuan, Nyonya Azela mengirim pesan padaku" ucap Hedy. "Apa yang dia katakan ?" tanya Ferro. "Nyonya bertanya apakah anda akan pulang ke mansion nanti atau tidak" "Katakan saja kalau aku tidak pulang" "Baik Tuan" Hedy lalu membalas pesan Azela. Semua pertanyaan Azela dia jawab semua tanpa ada kebohongan. Di dalam pesan itu juga, Azela meminta Hedy untuk memperhatikan kesehatan Ferro, makanannya dan memintanya jangan sampai Ferro telat makan. Sebenarnya, Hedy merasa heran pada Tuannya. Jika di lihat Ferro sekarang sudah baik-baik saja dan kenapa tidak pulang ke mansion untuk menemui istrinya. Tapi Hedy tidak mau ikut campur, Hedy hanya berharap pernikahan Ferro dan Azela tetap utuh apalagi sekarang Azela s
Terik matahari muncul di sela-sela horden. Ferro membuka matanya, perlahan dia merasakan sakit di kepalanya, dia lalu bersandar di sandaran ranjang.Ferro melihat sekelilingnya, kalau dia ternyata menginap di perusahaan. Ferro memegang kepalanya dan berusaha turun dari ranjang ingin masuk dalam kamar mandi. Setelah 15 menit membersihkan tubuh, Ferro membuka lemari, mengambil satu set pakaiannya lalu dia pakai. "Sepertinya Ini efek aku minum banyak kemarin jadi kepalaku sakit" lirih Ferro, diam dan mengingat semuanya.Ferro lalu berjalan keluar ruangan pribadinya, duduk di kursi kebesarannya, membuka ponselnya dan langsung menekan panggilan pada asistennya. "Halo Tuan" "Pesankan aku sarapan sekarang juga" "Baik Tuan" Kemudian mematikan telpon, Ferro membuka laptopnya dan mulai melakukan pekerjaannya. Ferro seolah-olah melupakan Azela yang berada di mansion. Di mansion, Azela berdiri merenung di balkon kamar. Hatinya gelisah setelah mengetahui dari Bibi Wawa kalau Ferro tidak pul
Semenjak kepergian Azela, Ferro tidak bekerja. Dia hanya diam memejamkan matanya, bersandar di kursinya. Ferro tidak tidur, dia hanya ingin menenangkan pikirannya saja yang kalut, menghilangkan amarah dalam dirinya yang tadi mencuak tapi tidak bisa di keluarkan. Akhirnya, Ferro tidak tahan, jam sudah menunjukkan jam pulang kerja. Dia meminta asistennya Hedy membawakan minuman yang beralkohol tinggi. Ferro lama-lama menghabiskan banyak minuman alkohol itu. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Ferro belum juga ingin pulang. Dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sejak siang tadi. Semua pegawai sudah pulang, tidak ada pegawai yang lembur malam ini dan Hedy masih setia menunggu Ferro di depan ruangan Ferro. Satu jam kemudian, Hedy berjalan masuk ke dalam ruangan Ferro. "Tuan mari kita pulang, sudah jam 9 malam" ucap Hedy dengan hati-hati."Pekerjaanku belum selesai, kau bisa pulang duluan" jawab Ferro tanpa melihat Hedy. "Baiklah, Tuan. Saya akan menunggu anda sampai selesai" ucap
Alexander dan Risa sedang dalam perjalanan menuju ke mansion Ferro dan Azela sesuai dengan janji Alexander pada Risa. Sedangkan Ferro dan Azela kini berdebat di dalam kamar karena Ferro tak ingin ke perusahaan."Aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir" ucap Azela."Aku takut, keram di perut kamu munc
Hari-hari telah berlalu, kini sudah 2 bulan pernikahan Ferro dan Azela. Selama 2 bulan ini tidak ada pengganggu yang datang mengganggu pernikahan mereka. Baik dari Fadil dan Salsa atau dari Trijaya dan Delon. Mereka belum bergerak atau melakukan apapun. Ferro dan Azela makin hari makin mesra membuat
Seorang pria paruh baya menghancurkan semua barang yang berada di ruangannya. Dia sangat marah karena perusahaannya menjadi bangkrut. Pintu ruangannya di buka."Daddy apa benar perusahaan kita sekarang bangkrut ?" tanya pria muda dan tampan yang panik mengetahui perusahaan Daddynya bangkrut."Ya dan i
Sesuai dengan janjinya, Azela dan Ferro sekarang sedang bersiap. Azela akan membawa Ferro ke markasnya untuk memperkenal dunia laiannya. Setelah bersiap, mereka turun ke bawah, sebelum mereka pergi mereka sarapan terlebih dahulu. Kali ini Azela ingin melayani suaminya, mengambilkan makanan. Pelayan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.