LOGINAzela Hanton merupakan putri dari Bara Hanton dan Tamara Smit, salah satu keluarga terpandang di Indonesia. Sejak kecil Azela di sayangi dan di cintai oleh kedua orangtuanya, namun ketika usianya menginjak 15 tahun orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Azela tinggal bersama adik angkat Daddynya, Sasa Dewanta. Semuanya berubah dan Azela di perlakukan seperti pembantu. Kakek dan neneknya mengambil Azela, membawanya ke singapura karena mereka tinggal di sana. Kakek Azela sangat murka melihat semua bekas pukulan di tubuh Azela. Akhirnya Azela di latih beladiri dan memegang beberapa senjata agar di kemudian hari akan bisa membalas dan mengambil semua milik Azela yang sudah di wariskan oleh Daddynya. Azela menjadi gadis yang sangat cantik dan tangguh berprofesi sebagai desainer terkenal dan memiliki butik dan restoran tapi semua itu Azela tidak pernah muncul di publik. Pertemuannya dengan pria yang sangat tampan dan tak tersentuh merupakan pria terkaya di Negaranya yaitu Ferro Alexander. Mereka bertemu disaat terjadi suatu inseden. Azela menjadi gadis kesayangan Ferro dan di jadikan ratu di kehidupannya.
View MoreAria's POV:
“Does it hurt much?” I asked softly, kneeling beside a boy no older than twelve, who clutched his side as I approached, his eyes wide and wary.
Letting my hands hover over the wound without touching it yet, I watched as he swallowed hard, and with a trembling voice he asked. “Will I get better?”
I smiled, the gesture meant to reassure him even though my own stomach twisted at the sight of the ragged cut on his arm. “I’ll make sure it doesn’t.” I said gently.
“Are… are you really a physician?” He asked, and I couldn’t help the small chuckle that escaped me.
“Not exactly, but I know enough to help you.” I admitted as I cleaned the wound, and wrapped it carefully, all while keeping my tone light. “There
” I said finally, pressing a soft bandage over the gash. “Good as new.”
He blinked at me, then smiled faintly, and I let myself relax for a moment because this part of my work where I saw the relief in someone’s eyes, was what I lived for.
Before I could stand, another patient called from the next cot. A middle-aged woman, feverish and trembling. She had questions before I even reached her, one after another, but I answered every single one with a
smile.
And with each answer, my hands moved over her, checking her pulse, ensuring she was comfortable. But I barely had time to think about the exhaustion pooling in my muscles. There were still six more I had to attend to, and night was settling fast around the infirmary.
Suddenly a deep sliced through the murmurs of patients. “Aria, you should leave.” The head physician said, stepping into the room. “ It’s late.”
I froze for a second, looking at Dr. Malrick, the head physician, disciplinarian, and occasional friend who was standing there with his arms folded.
“Late?” I asked, a small frown tugging at my brow. “There are over six patients I haven’t even seen yet. I can’t just leave.”
“I have a live-in nurse who can handle them.” His eyes softened slightly, but the edge in his voice didn’t vanish. “You should go home, I don’t want you getting into trouble with your father again.”
“I… I suppose you’re right.” I murmured finally, then I packed my bag slowly.
While Dr. Malrick sighed and stopped me before I could leave. From the pocket of his coat, he pulled a few coins and held them out. “For your work today.” He said, and although it was something he did once in a while beyond my monthly wages, I still inclined my head.
“Thank you.” I said, tucking the coins away and forcing a smile.
Then I stepped out into the cold night, the moon high above, casting silvery shadows along the road and my boots crunched over the gravel as I walked, mind wandering to my father’s cabin, which lay deep within the forest.
The road eventually forked, as I took the narrower path to the right, the one that led into the trees and every step reminded me of how far we had fallen. And how my father, once a respected man, now a gambler who had traded comfort and dignity for fleeting excitement.
My chest tightened as I swallowed, thinking of the cabin that had become my home after he lost everything. Hissing under my breath, I paused after a while, stretching my legs, letting the air fill my lungs.
The forest was alive with the rustle of leaves, the occasional call of a night bird, and the whisper of wind through the trees. But as I took a step forward, ready to walk again, I felt a presence moving behind me.
My heart skipped, and I glanced over my shoulder and saw nothing but trees, shadows, and the faint shimmer of moonlight. I shook my head, trying to dismiss it because animals were normal here, but as a werewolf, they always avoided me.
‘So… who could it be?’ I thought, quickening my pace, because the feeling of being followed didn’t leave me so every rustle, and every snap of a twig made me tense.
I dared another look over my shoulder and still saw nothing. Accepting it all as my imagination, I rounded a bend in the path, only to see a hand shoot out from the shadows, and grab my shoulder as my body went rigid.
“Who… Who are you?” I asked, spinning around to face a broad-shouldered and dark-eyed man I hadn’t seen before, holding me with an unsettling grip.
Before I could react, two more figures dropped silently from the trees above, landing with near-perfect stealth, circling me and my heart raced.
My wolf sensed danger and my instincts screamed at me to run, which I did, only to be held back by the two men who had dropped down from the trees.
“Let me go!” I demanded, struggling, but their grip was iron and my pleas seemed to amuse him.
“I’d love to let you go.” The first man said, his voice low, almost taunting. “But unfortunately, your father decided to use you as collateral.”
My stomach lurched and my mind spun, trying to make sense of his words. “Collateral?” I whispered, disbelief freezing my tongue. “Wh… what do you mean?”
He tilted my chin up with one hand, forcing me to meet his cold gaze. “Your father owes a significant debt. You, my dear, are the repayment so I’m afraid that I have no choice but to sell you to the slave traders to settle it.”
Hari-hari telah berlalu, sudah 5 hari Ferro belum pulang ke mansion, bahkan dia juga belum menelpon Azela. Selama itu, jika bukan menginap di perusahaan, Ferro akan menginap di markas. Ferro tidak sadar, bahwa Azela selalu gelisah setiap hari menunggu kepulangannya. Waktu itu, terhitung 3 hari Ferro tidak pulang ke mansion. Azela memberanikan dirinya untuk datang ke perusahaan Horace Group. Namun, yang Azela dapatkan, Ferro tidak ada diperusahaan, dia ada pertemuan dengan klien di luar, Azela merasa kecewa dan akhirnya pulang kembali ke mansion. Bahkan saat itu juga, Azela mencoba menelpon Ferro beberapa kali, Namun Ferro tidak menjawab nya sama sekali. Pernah juga tanpa segaja, Azela datang ke restorannya, saat dia ingin pulang di depan pintu masuk, Azela berpapasan dengan Ferro, hati Azela sakit Ferro hanya melihatnya saja tanpa mau menyapanya sedikitpun. Segala hal Azela pikirkan, dari sebuah kiriman video dari nomor yang tidak di kenal. Awalnya Azela tidak percaya, karena dia y
Pukul 10 malam, Ferro berjalan keluar ruangannya di ikuti Hedy di belakangnya. Ferro ingin ke markas dia ingin melihat wajah Delon seperti apa setelah melihatnya datang.Di perjalanan, ponsel Hedy bergetar tanda ada pesan masuk dari Azela. Dengan ragu Hedy mengatakan pada Ferro."Tuan, Nyonya Azela mengirim pesan padaku" ucap Hedy. "Apa yang dia katakan ?" tanya Ferro. "Nyonya bertanya apakah anda akan pulang ke mansion nanti atau tidak" "Katakan saja kalau aku tidak pulang" "Baik Tuan" Hedy lalu membalas pesan Azela. Semua pertanyaan Azela dia jawab semua tanpa ada kebohongan. Di dalam pesan itu juga, Azela meminta Hedy untuk memperhatikan kesehatan Ferro, makanannya dan memintanya jangan sampai Ferro telat makan. Sebenarnya, Hedy merasa heran pada Tuannya. Jika di lihat Ferro sekarang sudah baik-baik saja dan kenapa tidak pulang ke mansion untuk menemui istrinya. Tapi Hedy tidak mau ikut campur, Hedy hanya berharap pernikahan Ferro dan Azela tetap utuh apalagi sekarang Azela s
Terik matahari muncul di sela-sela horden. Ferro membuka matanya, perlahan dia merasakan sakit di kepalanya, dia lalu bersandar di sandaran ranjang.Ferro melihat sekelilingnya, kalau dia ternyata menginap di perusahaan. Ferro memegang kepalanya dan berusaha turun dari ranjang ingin masuk dalam kamar mandi. Setelah 15 menit membersihkan tubuh, Ferro membuka lemari, mengambil satu set pakaiannya lalu dia pakai. "Sepertinya Ini efek aku minum banyak kemarin jadi kepalaku sakit" lirih Ferro, diam dan mengingat semuanya.Ferro lalu berjalan keluar ruangan pribadinya, duduk di kursi kebesarannya, membuka ponselnya dan langsung menekan panggilan pada asistennya. "Halo Tuan" "Pesankan aku sarapan sekarang juga" "Baik Tuan" Kemudian mematikan telpon, Ferro membuka laptopnya dan mulai melakukan pekerjaannya. Ferro seolah-olah melupakan Azela yang berada di mansion. Di mansion, Azela berdiri merenung di balkon kamar. Hatinya gelisah setelah mengetahui dari Bibi Wawa kalau Ferro tidak pul
Semenjak kepergian Azela, Ferro tidak bekerja. Dia hanya diam memejamkan matanya, bersandar di kursinya. Ferro tidak tidur, dia hanya ingin menenangkan pikirannya saja yang kalut, menghilangkan amarah dalam dirinya yang tadi mencuak tapi tidak bisa di keluarkan. Akhirnya, Ferro tidak tahan, jam sudah menunjukkan jam pulang kerja. Dia meminta asistennya Hedy membawakan minuman yang beralkohol tinggi. Ferro lama-lama menghabiskan banyak minuman alkohol itu. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Ferro belum juga ingin pulang. Dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sejak siang tadi. Semua pegawai sudah pulang, tidak ada pegawai yang lembur malam ini dan Hedy masih setia menunggu Ferro di depan ruangan Ferro. Satu jam kemudian, Hedy berjalan masuk ke dalam ruangan Ferro. "Tuan mari kita pulang, sudah jam 9 malam" ucap Hedy dengan hati-hati."Pekerjaanku belum selesai, kau bisa pulang duluan" jawab Ferro tanpa melihat Hedy. "Baiklah, Tuan. Saya akan menunggu anda sampai selesai" ucap






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.