LOGINPemeriksaan terakhir menunjukkan, Rain sudah sepenuhnya pulih dan benar-benar sehat, semua orang yang mengetahui penykitnya dari awal merayakannya penuh suka cita, tapi Rain kurang menikmatinya, ia merasakan kekosongan di hatinya. Rasanya tidak sabar lagi, ingin membawa Dania kembali ke sisinya, tapi setelah melihat Dania beberapa hari yang lalu membuatnya kurang percaya diri, apalagi Dania bukanlah wanita yang mudah didekati, entah kenapa sejak mengenal Dania, ia juga jadi menghargai wanita, dulu ia dan Monika benar-benar tidak ada batas, bahkan setelah menikah dengan Marina mereka masih sering melewati batas. Tapi saat bersama Dania, ia berubah sepenuhnya. Di kala ia memikirkan Dania, Jeri masuk ke ruangannya. Asistennya itu membawa jurnal berisi jadwal Rain. Ia mulai membacakannya secara rinci "... terkahir, besok ada rapat di cabang perusahaan. Itu saja, Pak," ucapnya di antara penjelasan panjangnya. Sudah lama sekali, Rain tidak mengunjungi cabang perusahaannya, ia ha
Tempat tinggal Dania hanya di seberang taman, kalau bukan karena Barang-barang ia pasti memilih berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, Ia tidak bisa tidak memikirkan hubungan Rain dan Maria, untungnya ia cepat tiba di toko kue sekaligus tempat tinggalnya sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan semuanya. Ternyata waktu tiga tahun tidak bisa mengubur kenangan yang pernah ada. Dania masih berdoa untuk menyembuhkan rasa sesak yang masih menggumpal di dadanya. Bukan hanya disebabkan oleh perkataan Rain yang tiba-tiba mengatakan perpisahan, saat surat cerai diantarkan ke rumahnya juga sangat membuatnya terluka lebih dalam. Tapi ia sabar untuk menerima semuanya sehingga tidak perlu dendam pada Rain. Tapi semua kembali terasa nyata saat melihat Rain hari ini, ia sungguh tidak sebaik kelihatannya, janji dan ingkar serta surat cerai waktu itu kembali memenuhi pelupuk matanya. Ia tetap santai karena sabarnya yang begitu luas. Ditambah lagi urusan dengan orang tua dan keluarganya, ia tidak
Taman semakin ramai di malam hari, Dania semakin sibuk melayani pelanggan, ia sampai tidak sempat bargabung untuk menyaksikan pertunjukan di atas panggung yang sudah mulai. pembawa acara sudah mulai berorasi panjang lebar, tapi Dania hanya bisa mendengar Dan melihat dari jauh. "Bu, bukankah yang di atas panggung itu, Pak Rain?" tanya Liya beberapa saat kemudian, matanya fokus mengamati orang yang ia maksud. Dania berhenti dari aktifitasnya untuk melihat, Liya memang benar, itu adalah Rain yang sedang memberi sambutan. Laki-laki itu masih sama, selalu bersinar di manapun berada, tapi ia sadar, Rain bukan lagi suaminya yang boleh ia kagumi sembarangan. Bisa jadi sekarang laki-laki itu sudah menjadi suami orang lain. Ia hanya bisa mengalihkan perhatiannya pada produk yang sudah semakin menipis dan pelanggan yang masih terus berdatangan. "Bagaimana Pak Rain bisa mengenal Bu Dania?" tanya Liya penasaran, mereka memang tidak lama bekerja bersama di toko roti Mufah Bakery, Liya baru
"Mas, urusan dengan Pak Geri sudah selesai? apa ada rencana lagi?" Dania membuang muka dengan dada bergemuruh saat mendengar panggilan 'Mas' oleh Maria, ia teringat saat dirinya menjadi istri Rain. Rain melirik Dania lalu berpikir sebentar, sepertinya belum pantas langsung merasa akrab dan bertanya banyak hal, sebaiknya ia mengulur waktu. "Acaranya masih lama, sebaiknya kita pergi saja dulu," Mendengar itu, Dania langsung mengambil kesimpulan kalau pertemuan ini memang hanya kebetulan. Untuk acara apa yang akan mereka hadiri, Dania merasa tidak berhak tau. "Mama, kita nanti ketemu lagi ya, kata Mbak Rena, Mama sangat baik dan sayang sama Erlangga, aku mau membuktikannya, katanya aku tidak boleh lupa sama mama," ucap Erlangga. "Iya, Sayang. kapan-kapan kita ketemuan, harusnya ajak Mbak Rena juga, mama kangen sama Mbak Rena." Di mata Rain, cara Dania memperlakukan Erlangga masih sama seperti dulu, mereka tidak seperti pernah berpisah selama itu. "Sama papa, nggak?
Dania keluar dari booth dengan perasaan tidak menentu. Ia berjongkok di depan Erlangga. "Kamu bilang aku adalah mamamu?" tanya Dania dengan suara sedikit bergetar tapi ia tetap berusaha tersenyum ramah. "Aku tau mama sedang memikirkan aku sekarang, tadi aku sengaja tidak mengenali karena ingin tau mama mengingatku atau tidak." "Kamu tau darimana kalau aku mamamu?" Erlangga mengambil ponsel dari saku lalu mengusap-usap layar kemudian mengarahkan layar ke arah Dania dan berkata, "Karena mama mirip dengan di foto ini." Dania melihatnya dengan saksama, itu memang dirinya bersama Rena dan Erlangga yang masih bayi. "Papa kamu siapa?" tanya Dania, hampir tidak bisa menahan tangis. "Rainer Milano," ucap Erlangga dengan lancar. "Kamu ke sini dengan siapa?" Dania berdebar-debar menanyakan itu. "Papa dan Mami." Hatinya mencelos saat mendengar kata mami, harusnya Rain sudah memberikan Erlangga mami 'kan? Tapi ia tidak mau peduli tentang itu, ia mau fokus pada Erlangga
Musim telah berganti beberapa kali, tiga tahun telah terlewati begitu saja, semua orang sudah mengalami perubahan, Tubuh Erlangga semakin besar, kesehatan Rain sudah membaik dan usaha Dania semakin berkembang, Bu Dewi semakin renta tapi masih tampil segar dan mendominasi. Semua orang tampaknya melewati tiga tahun dengan baik namun dengan membawa beban hati yang tidak mau sembuh. Erlangga merasa kehilangan, Rain berjuang untuk sembuh, sedang Dania masih menanggung beban rasa yang campur aduk, masih ada rasa kecewa, rasa tidak puas, dan juga rindu. Demi meredam semuanya, ia alihkan pikiran dan hatinya untuk sepenuhnya fokus mengelola toko roti, membuat resep baru dan bersosialisasi dengan pelanggannya. Saat ini ia sedang sibuk mempersiapkan booth container estetik untuk berjualan di taman, di mana tempat perayaan hari ulang tahun kota diadakan hari itu dan puncaknya di malam hari, bagi pengusaha sepertinya, itu adalah moment penting untuk meraup banyak rupiah, selain dirinya ada ba







