로그인Taman semakin ramai di malam hari, Dania semakin sibuk melayani pelanggan, ia sampai tidak sempat bargabung untuk menyaksikan pertunjukan di atas panggung yang sudah mulai. pembawa acara sudah mulai berorasi panjang lebar, tapi Dania hanya bisa mendengar Dan melihat dari jauh. "Bu, bukankah yang di atas panggung itu, Pak Rain?" tanya Liya beberapa saat kemudian, matanya fokus mengamati orang yang ia maksud. Dania berhenti dari aktifitasnya untuk melihat, Liya memang benar, itu adalah Rain yang sedang memberi sambutan. Laki-laki itu masih sama, selalu bersinar di manapun berada, tapi ia sadar, Rain bukan lagi suaminya yang boleh ia kagumi sembarangan. Bisa jadi sekarang laki-laki itu sudah menjadi suami orang lain. Ia hanya bisa mengalihkan perhatiannya pada produk yang sudah semakin menipis dan pelanggan yang masih terus berdatangan. "Bagaimana Pak Rain bisa mengenal Bu Dania?" tanya Liya penasaran, mereka memang tidak lama bekerja bersama di toko roti Mufah Bakery, Liya baru
"Mas, urusan dengan Pak Geri sudah selesai? apa ada rencana lagi?" Dania membuang muka dengan dada bergemuruh saat mendengar panggilan 'Mas' oleh Maria, ia teringat saat dirinya menjadi istri Rain. Rain melirik Dania lalu berpikir sebentar, sepertinya belum pantas langsung merasa akrab dan bertanya banyak hal, sebaiknya ia mengulur waktu. "Acaranya masih lama, sebaiknya kita pergi saja dulu," Mendengar itu, Dania langsung mengambil kesimpulan kalau pertemuan ini memang hanya kebetulan. Untuk acara apa yang akan mereka hadiri, Dania merasa tidak berhak tau. "Mama, kita nanti ketemu lagi ya, kata Mbak Rena, Mama sangat baik dan sayang sama Erlangga, aku mau membuktikannya, katanya aku tidak boleh lupa sama mama," ucap Erlangga. "Iya, Sayang. kapan-kapan kita ketemuan, harusnya ajak Mbak Rena juga, mama kangen sama Mbak Rena." Di mata Rain, cara Dania memperlakukan Erlangga masih sama seperti dulu, mereka tidak seperti pernah berpisah selama itu. "Sama papa, nggak?
Dania keluar dari booth dengan perasaan tidak menentu. Ia berjongkok di depan Erlangga. "Kamu bilang aku adalah mamamu?" tanya Dania dengan suara sedikit bergetar tapi ia tetap berusaha tersenyum ramah. "Aku tau mama sedang memikirkan aku sekarang, tadi aku sengaja tidak mengenali karena ingin tau mama mengingatku atau tidak." "Kamu tau darimana kalau aku mamamu?" Erlangga mengambil ponsel dari saku lalu mengusap-usap layar kemudian mengarahkan layar ke arah Dania dan berkata, "Karena mama mirip dengan di foto ini." Dania melihatnya dengan saksama, itu memang dirinya bersama Rena dan Erlangga yang masih bayi. "Papa kamu siapa?" tanya Dania, hampir tidak bisa menahan tangis. "Rainer Milano," ucap Erlangga dengan lancar. "Kamu ke sini dengan siapa?" Dania berdebar-debar menanyakan itu. "Papa dan Mami." Hatinya mencelos saat mendengar kata mami, harusnya Rain sudah memberikan Erlangga mami 'kan? Tapi ia tidak mau peduli tentang itu, ia mau fokus pada Erlangga
Musim telah berganti beberapa kali, tiga tahun telah terlewati begitu saja, semua orang sudah mengalami perubahan, Tubuh Erlangga semakin besar, kesehatan Rain sudah membaik dan usaha Dania semakin berkembang, Bu Dewi semakin renta tapi masih tampil segar dan mendominasi. Semua orang tampaknya melewati tiga tahun dengan baik namun dengan membawa beban hati yang tidak mau sembuh. Erlangga merasa kehilangan, Rain berjuang untuk sembuh, sedang Dania masih menanggung beban rasa yang campur aduk, masih ada rasa kecewa, rasa tidak puas, dan juga rindu. Demi meredam semuanya, ia alihkan pikiran dan hatinya untuk sepenuhnya fokus mengelola toko roti, membuat resep baru dan bersosialisasi dengan pelanggannya. Saat ini ia sedang sibuk mempersiapkan booth container estetik untuk berjualan di taman, di mana tempat perayaan hari ulang tahun kota diadakan hari itu dan puncaknya di malam hari, bagi pengusaha sepertinya, itu adalah moment penting untuk meraup banyak rupiah, selain dirinya ada ba
Beberapa hari berlalu, akhirnya keluarga Rain mengetahui juga keadaannya, mereka semua merasa sangat syok. Semua berawal dari, saat Bu Dewi datang ke rumah Rain tapi tidak ada satupun dari Rain maupun Dania di sana. Rena tidak berani membeberkan prihal hubungan Dania dan Rain, ia hanya beralasan tidak tau dan menyarankan Bu Dewi menelepon asisten Rain. Jeri tidak punya pilihan lain selain jujur tentang keadaan Rain saat ini. "Di mana Dania? Saat-saat dibutuhkan seperti ini dia malah tidak ada," ucap Bu Dewi. "Kami berpisah, aku memutuskan melepaskannya karena Erlangga sudah tidak butuh ASI lagi," ucap Rain. Bu Dewi terkesiap mendengarnya. Untungnya kondisi Rain yang sedang sakit tidak bisa membuat Bu Dewi bertindak otoriter, "Kenapa kau melepaskannya? Jadi kalian bercerai?" desak Bu Dewi. "Sedang diproses." jawab Rian dengan santainya. "Kenapa Rain? dia sangat cocok denganmu," ucap Bu Dewi sangat menahan diri. "Mah, tidak semua hubungan yang kamu atur bisa berak
Rain baru selesai menjalani perawatan pertamanya, Perawatan awal kanker lambung stadium akhir berfokus pada manajemen gejala dan peningkatan kualitas hidup bukan penyembuhan total. Meski begitu efek sampingnya sudah membuat Rain merasa lelah dan kehilangan banyak energi. 'Assalamu'alaikum! Mas, hari ini aku pergi, aku tidak bisa menjelaskan detailnya pada Rena, tolong nanti kamu yang jelaskan.' satu pesan diterima. 'Mas, jangan membuat Erlangga lupa padaku, bagaimanapun aku ibu susunya, dia seperti anak kandungku, kalau aku datang, izinkan aku bertemu dengannya,' dua pesan diterima. 'terimakasih, Mas. Bagaimana pun pernikahan ini sudah menyelamatkanku dari rasa terpuruk dan rasa malu masa laluku,"' tiga pesan diterima. 'Mas, tolong jangan beritahu keluargaku terutama ayah dan ibu, aku akan memberitahunya saat aku sudah siap, selamat tinggal, Mas.' Empat pesan diterima. 'Beritahu aku kalau Pak Rain sudah mengurus semuanya, semua ini sudah takdir dari Allah, aku tidak akan







