Partager

Bab 2

Auteur: Myosotis
Saat aku bangun keesokan paginya, sisi tempat tidur di sebelahku sudah kosong.

Yang tersisa di seprai hanyalah aroma samar kayu cedar yang mulai memudar. Selama lima tahun, kami memiliki kesepakatan. Nikjon selalu pergi sebelum fajar, seolah tidak pernah terjadi apa pun.

Setelah bersiap dan turun ke lantai bawah, aku melihat seorang wanita asing di ruang tamu.

Dia mengenakan setelan berwarna gading, rambut pirangnya disanggul rapi. Sebuah tas kulit buaya diletakkan di sampingnya, sementara gelang berlian di pergelangan tangannya berkilau tertimpa cahaya.

Gracia melambaikan tangan dengan hangat dan berkata, "Elena, kemari. Ini Sephia, pacar kakakmu."

Kata "pacar" itu masih membuat hatiku terasa seperti ditusuk. Sephia berdiri dengan senyum manis yang santai. "Jadi kamu Elena. Nikjon sering sekali membicarakanmu. Katanya kamu anak yang manis dan sangat mudah diurus."

Aku hanya menyentuh tangannya sekilas. Jemariku terasa dingin.

"Senang bertemu denganmu."

Nikjon duduk di ujung sofa yang lain. Dia mendengar setiap kata itu, tetapi tidak memberikan penjelasan apa pun. Dia hanya melirikku, seolah menunggu aku cemburu, mempertanyakannya, atau kehilangan kendali.

Aku tidak bertanya apa pun dan langsung berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.

Gelas itu baru saja terisi ketika sebuah bayangan muncul di belakangku. Nikjon melingkarkan satu tangan di pinggangku dari belakang dan menahanku di depan meja dapur, lalu menundukkan kepala untuk menciumku.

Aku memalingkan wajah dan berkata, "Pacarmu ada di luar."

Dia terkekeh pelan. "Cemburu?"

Aku tidak menjawab. Dia mengangkat daguku dan memaksaku menatapnya.

"Dia bukan pacarku. Keluarganya ingin membuka kembali pembicaraan dengan Keluarga Maulana mengenai jalur pelabuhan. Orang tua itu terus mendesakku untuk menikah. Aku nggak punya kesabaran menghadapi semua itu, jadi aku meminta dia berpura-pura menjadi pacarku selama beberapa hari."

Bibirnya menyapu bibirku dengan lembut. "Kamu paling tahu siapa pacarku sebenarnya, 'kan?"

Menatap matanya dari jarak sedekat itu, tiba-tiba aku merasa semua ini lucu.

Di kehidupanku yang lalu, aku berkali-kali tertipu oleh nada suaranya yang seperti ini. Asal dia memberiku satu penjelasan saja, aku akan mencarikan seribu alasan untuk membenarkannya. Kali ini, aku hanya mengangguk.

"Aku mengerti."

Keraguan melintas di mata Nikjon sesaat. Mungkin dia mengira aku akan menangis seperti dulu, lalu membiarkannya menenangkanku dengan sebuah ciuman. Namun, aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk memainkan peran itu.

Saat sarapan, Sephia duduk di samping Nikjon. Dia bercerita tentang masa kecil mereka di Sisilia dan bagaimana Nikjon masih ingat kalau dia tidak suka telur yang dimasak terlalu matang.

Nikjon mendengarkannya dengan sikap acuh tak acuh, tetapi tetap memindahkan telur setengah matang dari piringnya ke piring Sephia.

Sephia tersenyum hingga pipinya memerah, lalu mendorong sepotong roti panggang yang sudah dia gigit ke piring Nikjon. "Kalau begitu, kamu juga harus coba punyaku."

Nikjon tidak langsung bergerak. Dia lebih dulu menatapku. Aku menundukkan kepala dan meminum kopiku seolah tidak melihat apa pun.

Baru ketika aku meraih serbet, dia mengangkat roti panggang itu dan menggigitnya perlahan. Aku meletakkan cangkir.

"Aku sudah selesai."

Vincent mendongak.

"Mau ke mana pagi-pagi begini?"

"Ke pusat kota. Mengurus administrasi kampus."

Sephia langsung tersenyum. "Kebetulan sekali. Aku dan Nikjon juga mau keluar. Di luar sedang hujan. Biar dia sekalian mengantarmu."

Aku baru saja hendak menolak ketika Vincent mengernyit. "Biarkan Nikjon yang mengantarmu. Putri Keluarga Maulana nggak perlu naik taksi di tengah hujan."

Aku tidak punya pilihan selain mengambil tas dan berjalan lebih dulu ke garasi.

Aku akan pergi ke pusat pengurusan visa Inggris. Kalau Nikjon tahu, dia mungkin akan curiga.

Lagi pula, memangnya dia bisa berbuat apa? Tiket sudah dipesan, kampus sudah siap menerimaku, dan sudah ada seseorang yang akan menjemputku di London. Dia tidak akan bisa menghentikanku.

Beberapa menit kemudian, Nikjon dan Sephia masuk ke mobil satu per satu. Sephia tidak duduk di kursi penumpang depan. Sebaliknya, dia masuk ke kursi belakang dan duduk di sampingku.

Mobil melaju keluar dari kediaman keluarga, sementara hujan menghantam kaca jendela seperti tirai abu-abu yang lebat.

Sephia sedikit mendekat dan berbicara dengan suara yang hanya bisa didengar kami berdua, "Aku tahu kamu nggak suka aku."

Aku menoleh menatapnya. Senyumnya masih tetap menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya berubah dingin. "Aku juga tahu hubunganmu dengan Nikjon bukan sekadar kakak dan adik."

Jemari tanganku langsung menegang. Dia memperhatikan reaksiku dengan puas.

"Tapi kalian berdua nggak akan pernah berakhir bahagia. Kamu adalah putri Gracia, sedangkan dia pewaris Keluarga Maulana. Kalau rahasia kalian terbongkar, seluruh Chicago akan menertawakan kalian."

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Sephia mengeluarkan ponselnya dari tas lalu memasang alarm. Tepat satu menit kemudian, alarm itu berbunyi. Dia langsung mengangkat panggilan dan suaranya seketika berubah gemetar.

"Apa? Lulu sakit? Kenapa dia bisa tiba-tiba kesulitan bernapas?"

Setelah menutup telepon, air mata sudah menggenang di matanya. Dia membungkuk ke arah kursi depan. "Nikjon, pengurus rumah bilang anjingku sakit parah. Aku tahu ini merepotkan, tapi dia sudah menemaniku selama sepuluh tahun. Aku takut. Bisa antar aku pulang dulu?"

Nikjon menghentikan mobil di pinggir jalan lalu memandang hujan di luar.

Aku melihat dia mengerutkan kening. Aku juga melihat keraguan yang sekilas melintas di wajahnya. Pada akhirnya, tatapannya jatuh kepadaku.

"Elena, aku antar Sephia dulu. Kamu turun di sini saja, lalu naik taksi ke pusat kota."

Sephia segera menyodorkan sebuah payung kepadaku. Sorot kemenangan terlihat jelas di matanya.

Aku menerimanya, lalu membuka pintu mobil.

Hujan dan angin dingin langsung menerpa masuk. Rangka payung itu sudah longgar dan air menetes dari dua lubang kecil tepat ke bahuku.

Nikjon tidak turun dari mobil. Dia hanya menatapku dari balik jendela, seolah menunggu aku berbalik dan memohon kepadanya. Namun, aku tidak melakukannya.

Lampu belakang mobil itu perlahan menghilang ditelan hujan. Aku berdiri di tepi jalan sambil memegang payung yang rusak itu, lalu tiba-tiba tertawa pelan.

Melepaskan seseorang tidak selalu berarti berteriak atau menangis. Kadang, itu hanya berarti akhirnya menyadari bahwa setiap kali dia harus memilih, dia tidak pernah memilihmu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Wanita yang Hanya Digunakan Untuk Membalas Dendam   Bab 8

    Dua tahun kemudian, aku lulus dari Universitas London.Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langit London cerah. Halaman rumput kampus dipenuhi para wisudawan. Sinar matahari menghangatkan dinding-dinding batu tua.Mama Gracia terbang dari Chicago untuk menghadiri wisudaku. Dia berdiri di tengah kerumunan sambil memegang buket mawar putih, menungguku.Saat melihat sosoknya, aku langsung berlari dan memeluknya.Dia tertawa sambil menepuk punggungku. Matanya memerah. "Elena, akhirnya kamu lulus juga.""Ma, jangan nangis.""Mama nggak nangis." Dia langsung menyangkalnya, lalu menunduk sambil mengusap sudut matanya. "Ini cuma gara-gara anginnya kencang."Caspar berdiri tak jauh dari kami sambil memegang kamera. Setelah dua tahun berlatih, hasil fotonya masih kadang bagus, kadang berantakan, tetapi setidaknya sekarang dia sudah tidak lagi membuat orang-orang berdiri di ujung bingkai foto.Aku menggenggam tangan Mama Gracia dan berdiri di anak tangga, mengangkat tangan memben

  • Wanita yang Hanya Digunakan Untuk Membalas Dendam   Bab 7

    Untuk pertama kalinya, Nikjon kehilangan kendali di depan semua orang.Dia menghancurkan semua yang bisa dihancurkan di ruang kerjanya, memerintahkan agar bandara, pelabuhan, dan landasan pacu pribadi ditutup, lalu mengirim orang-orang ke London untuk mencari tahu di mana Elena tinggal.Namun, setiap petunjuk tenggelam begitu saja seperti batu yang jatuh ke laut.Jejak penerbangannya menghilang setelah pesawat mendarat, apartemennya tidak bisa dilacak, dan sistem Universitas London hanya menampilkan status dasarnya. Jaringan keamanan Keluarga Rusman menutup semua akses terhadapnya bagaikan tembok yang tak tertembus.Saat Sephia mendengar apa yang terjadi, dia datang sendiri ke kediaman itu. Sambil berdiri di ambang pintu ruang kerja yang sudah porak-poranda, suaranya dipenuhi rasa tidak rela."Nikjon, kamu sudah gila? Bukannya bagus kalau dia pergi? Bukannya selama ini kamu selalu bilang kalau dia menderita, Gracia juga akan ikut menderita?"Nikjon mengangkat pandangannya. Tatapan itu

  • Wanita yang Hanya Digunakan Untuk Membalas Dendam   Bab 6

    Pukul 5 pagi, Nikjon terbangun seperti biasanya.Hal pertama yang dia lakukan adalah meraih sisi tempat tidur di sampingnya.Masih kosong. Elena tidak pulang semalaman.Jantung Nikjon seolah mau copot. Dia kembali ke kamarnya dan baru saja hendak menyuruh seseorang melacak keberadaan Elena ketika tangannya menyentuh dua benda yang terselip di bawah bantal.Sepucuk surat dan sebuah kartu kredit. Gerakannya langsung terhenti.Dulu, setiap kali Elena ingin menghiburnya, dia selalu menyembunyikan hadiah-hadiah kecil di bawah bantalnya. Kadang kartu ucapan yang ditulis tangan, sepasang kancing manset, buku kumpulan puisi edisi langka, bahkan permen yang disimpan di dalam botol kaca. Itu sudah menjadi kebiasaan kekanak-kanakan kecil mereka.Nikjon menatap surat itu. Perasaan muram yang menghantuinya sepanjang malam mendadak sedikit mereda.Elena masih ingat ulang tahunnya. Dia hanya sedang keras kepala.Nikjon tidak langsung membuka surat itu. Dia hanya membawa kartu kredit tersebut ke ruang

  • Wanita yang Hanya Digunakan Untuk Membalas Dendam   Bab 5

    Pesawat menuju London lepas landas tepat waktu.Saat pesawat menembus lapisan awan, telapak tanganku berkeringat hingga mencengkeram erat sandaran tangan kursi. Baru setelah gemerlap lampu Kota Chicago menghilang di balik kabut, aku perlahan melepaskan genggamanku.Aku benar-benar sudah pergi. Meninggalkan kediaman keluarga itu, meninggalkan Nikjon, dan meninggalkan Elena yang selama ini terus memenjarakan dirinya di antara cinta dan kebohongan.Ketika pesawat mendarat di Bandara Heathrow, gerimis tipis sedang membasahi Kota London.Aku mendorong tiga koper keluar dari area kedatangan dan langsung melihat sebuah papan bertuliskan namaku.Seorang wanita berwajah lembut memegang papan itu. Di sampingnya berdiri suaminya, sementara di sisi lainnya ada seorang pria muda bertubuh tinggi mengenakan mantel hitam. Wajahnya tegas dan bersih, tetapi sorot matanya sama sekali tidak segarang Nikjon.Begitu melihatku, wanita itu langsung melambaikan tangan."Elena! Di sini!"Dia adalah Margaret Rus

  • Wanita yang Hanya Digunakan Untuk Membalas Dendam   Bab 4

    Aku menatapnya dan tiba-tiba merasa pria di hadapanku ini seperti orang asing.Dulu, aku mengira aku memahami Nikjon. Kelembutannya yang jarang diperlihatkan, luka-luka masa lalunya, kebenciannya terhadap kebaikan Mama Gracia. Sekarang aku baru sadar, selama ini aku hanya memahami sisi-sisi yang memang ingin dia tunjukkan kepadaku.Aku meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Suaraku serak karena demam, "Memangnya ada sesuatu yang nggak boleh kulihat?"Nikjon menghampiri dan melirik layar ponsel itu, lalu menggenggam gelas di tangannya begitu erat hingga airnya tumpah membasahi punggung tangannya. Namun, dia cepat menguasai diri. Dia duduk di tepi tempat tidur dan menarikku ke dalam pelukannya."Itu cuma omong kosong beberapa bajingan. Kamu masih sakit. Jangan terlalu dipikirkan.""Jadi pertunangan itu juga cuma lelucon?"Nikjon mencium puncak kepalaku. Suaranya begitu lembut hingga hampir terdengar seperti kebohongan itu sendiri."Elena, aku ingin memberimu kejutan. Ada beberapa ne

  • Wanita yang Hanya Digunakan Untuk Membalas Dendam   Bab 3

    Aku berjalan hampir 40 menit di tengah hujan sebelum akhirnya tiba di pusat pengurusan visa.Rambutku basah kuyup, rokku menempel di kaki, dan dokumen-dokumenku hampir rusak. Seorang petugas menyodorkan segelas air hangat dan bertanya apakah aku perlu beristirahat. Aku menggeleng dan menyerahkan dokumen-dokumen itu satu per satu.Cap. Verifikasi. Tanda tangan.Saat formulir terakhir diambil, aku menatap stempel biru kecil itu dan tiba-tiba merasa hatiku menjadi sangat tenang. Sekarang, hanya satu tiket yang memisahkanku dari kediaman Keluarga Maulana.Hujan di luar masih belum berhenti. Aku tidak bisa mendapatkan taksi, jadi aku terpaksa berjalan pulang menyusuri jalan. Air hujan menetes dari rambutku ke dalam kerah baju, begitu dingin hingga gigiku bergemeletuk.Saat kembali ke rumah, hari sudah gelap. Aku tidak pergi ke ruang makan dan tidak memberi tahu siapa pun. Aku langsung kembali ke kamar dan mengganti pakaian yang basah. Namun, bahkan mandi air panas pun tidak mampu mengusir r

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status