LOGINYang diandalkan Sekte Dokter Hantu hanyalah resep obat yang terkumpul dari warisan ribuan tahun.Namun, di dalam Kitab Surgawi Pengobatan Abadi tercatat pengalaman seorang tabib agung yang menjelajahi berbagai dunia, serta seluruh pengetahuan yang dia kumpulkan tentang ilmu pengobatan dan obat-obatan.Jika benar-benar dibandingkan dari segi warisan pengetahuan, bahkan sepuluh Sekte Dokter Hantu pun tidak akan mampu menandingi sebagian kecil darinya.Setelah berbicara dengan Kamil, Arlo kira-kira sudah bisa menebak apa yang ingin dilakukan Keluarga Jayadi dan Sekte Dokter Hantu.Selama satu minggu berikutnya, Arlo terus berada di rumah untuk menyusun resep-resep dari warisan tersebut. Dia berusaha mengganti beberapa bahan obat langka dalam resep leluhur dengan bahan obat yang lebih umum.Cara ini memang akan menurunkan khasiat obat, tetapi nilai penerapannya di masyarakat akan jauh lebih luas.Seperti Pil Penyamaran yang tercatat dalam Kitab Surgawi Pengobatan Abadi. Arlo menghapus baha
"Untuk menghadapi satu Arlo saja harus membuat rencana sebesar ini?"Ibrahim berkata, "Belum tentu sampai sejauh itu, tapi dunia bisnis seperti medan perang. Melangkah satu langkah harus melihat sepuluh langkah ke depan.""Langkah pertama adalah perusahaan farmasi baru yang kamu dirikan bersama Sekte Dokter Hantu. Dengan fondasi Sekte Dokter Hantu, kalian harus lebih dulu membuat nama perusahaan itu terkenal dan menciptakan situasi seolah-olah siap berhadapan langsung dengan Arlo.""Dengan begitu, semua orang akan dipaksa memilih pihak dan ruang perkembangan Arlo akan dipersempit. Kalau Arlo tidak mampu menahan tekanan, dia pasti sudah menyerah lebih dulu.""Kalau Arlo mampu bertahan, kita bisa melangkah lebih jauh dengan menargetkan produksi perusahaan milik Keluarga Soraya. Kalau itu masih nggak berhasil, kita dorong semuanya sampai ke puncak lalu menghancurkannya. Saat itu nggak ada seorang pun yang bisa hidup tenang."Mendengar sampai di sini, Felix langsung mengernyit. "Bukankah i
Felix menunjuk pria berjubah hijau di sampingnya dan memperkenalkannya kepada Reza, "Ini adalah pengurus dalam Sekte Dokter Hantu, Fabian."Fabian mengangguk kepada Reza lalu berkata, "Orang itu cuma pegang dua resep obat kuno saja sudah mau buat gebrakan. Benar-benar lelucon. Di Sekte Dokter Hantu, kita punya paling banyak resep kuno. Kita lawan saja langsung secara terang-terangan.""Perusahaan dia merilis obat apa, kita juga rilis obat yang sama, dan semuanya kita keluarkan lebih dulu daripada perusahaannya.""Aku ingin lihat bagaimana perusahaan yang lama nggak menghasilkan keuntungan bisa terus bertahan. Dia pasti akan datang memohon belas kasihan. Saat itu, pimpinan bisa memaksanya menukar dengan Air Suci."Reza sedikit mengangkat kelopak matanya, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum. "Cara itu memang nggak buruk, tapi hasilnya terlalu lambat. Lagian, juga nggak akan melukai fondasinya."Jelas sekali, yang diinginkan Keluarga Jayadi hanyalah agar Arlo menyerahkan hak agen A
Ini bukan karena Reza sombong. Jika dulu Keluarga Sinaga diibaratkan pohon raksasa yang menjulang tinggi, keluarga-keluarga lain di Provinsi Hareast hanyalah pohon bengkok, sedangkan Arlo saat ini paling hanya bisa dianggap sebagai bibit pohon kecil yang memiliki potensi.Bahkan jika bibit kecil itu diikat bersama pohon-pohon bengkok lainnya, itu tetap tidak akan mampu mengancam vitalitas dan pertumbuhan pohon raksasa."Walaupun dia nggak bisa menggoyahkan kita, tetap saja dia nggak boleh dibiarkan berkembang seperti ini terus. Dia hanya punya dua jalan, tunduk pada keluarga kita atau menghilang tanpa jejak.""Kalau situasinya terus dibiarkan seperti ini, itu akan memicu perubahan posisi dan perombakan kekuatan. Walaupun Keluarga Sinaga nggak takut, nggak perlu juga menanggung masalah seperti itu," kata Reza.Saleh menyingkirkan joran pancingnya, lalu menatap putranya. "Nggak, kamu salah. Dia cuma punya satu jalan, yaitu menghilang tanpa jejak.""Hm?" Reza agak tidak mengerti.Saleh ti
Di Asteria, di tepi danau buatan sebuah vila mewah, seorang pria tua berusia lebih dari 50 tahun sedang duduk sana, memancing dengan tenang.Di belakangnya berdiri seorang pemuda yang belum genap 30 tahun. Sosoknya tampak berwibawa dan elegan, memegang sebuah tablet di tangannya.Video yang diputar di tablet itu adalah rekaman dari pesta ulang tahun di Keluarga Kardinegara hari ini, adegan ketika Arlo yang dipanggil Master Antasari, dipuja dan menjadi pusat perhatian semua orang."Ayah, sudah lihat?" tanya pemuda itu pelan kepada lelaki tua yang sedang memancing.Lelaki tua itu adalah Saleh, Kepala Keluarga Sinaga yang kini merupakan keluarga nomor satu di Provinsi Hareast, sedangkan pemuda itu adalah putra sulungnya, tokoh generasi ketiga paling menonjol di Keluarga Sinaga, Reza.Keluarga Sinaga memiliki hubungan dengan keluarga besar di ibu kota kekaisaran, mengendalikan Kamar Dagang Hareast, sekaligus menjabat Wakil Ketua Kamar Dagang Nordic.Dalam berbagai rumor, Keluarga Sinaga di
Tak lama kemudian, Dandy merasakan kembali sensasi saat masih muda, darah dan energi yang meluap-luap. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung bangkit dan duduk bersila di samping.Di mata Bagas terus berkilat cahaya tajam. Dia sangat penasaran bagaimana sebenarnya efek obat itu.Arlo tidak memperhatikannya. Dia terus berbincang santai dengan Tristan dan Yudawa, menjelaskan pengaturannya serta pembagian keuntungan.Untuk bisa menjadi agen Air Suci dan naik ke kapal induk milik Arlo, diperlukan kesetiaan dan pertukaran sumber daya.Namun, Arlo tidak ingin terlalu ikut campur dengan hal-hal seperti itu. Semua diserahkan kepada Omran dan Sheila untuk bernegosiasi dengan para tokoh besar.Bagas melihat aura Dandy melonjak tajam. Dia bahkan langsung menembus tenaga transformasi di tempat dan melonjak menjadi semi-grandmaster. Setelah mengikuti petunjuk Arlo dan menelan satu Pil Energi, tingkat kultivasinya pun menjadi stabil.Khasiat kedua pil itu jelas luar biasa. Segala penyesalan dan pengeka
Di telepon tadi, Dina mengatakan bahwa dokumen itu sangat sulit diurus dan perlu banyak cap resmi, jadi dia meminta Isyana keluar agar bisa menjelaskan lebih detail. Namun dari nada bicara senior bernama Nico barusan sepertinya tidak begitu.Dina tetap tampak tenang, lalu berkata dengan nada datar,
Arman mengerutkan kening. Saat ini dia bahkan hampir yakin bahwa Victor memang tidak mau bayar, makanya masalah jadi sebesar ini.Setelah ragu sejenak, Arman maju mendekati dua polisi itu dan merendahkan suara, "Aku Arman, cucu Herman. Bisa nggak kalian hargai aku sedikit? Soal penahanan jangan dibi
Zaki sama sekali tidak percaya Arlo bisa punya pengaruh sebesar ini. "Kak Hendro, pasti ada salah paham, 'kan? Kenapa tiba-tiba jadi begini?" tanyanya sambil memaksa tersenyum.Namun, Hendro langsung menampar keras wajah Zaki dengan penuh amarah, "Dasar keparat! Kamu sendiri nggak tahu apa yang suda
"Omong kosong! Mereka ini murid-murid TK Internasional yang selalu tinggal di kota. Mana mungkin kena wabah penyakit?!" Mikael refleks membantah."Minggir!" Arlo meraih jarum akupunktur dari tangan Mikael, lalu mendorongnya ke samping.Mikael marah sekaligus malu. Namun dalam hatinya juga penasaran,







