MasukArlo hanya tersenyum tipis."Lihat saja sikap mereka. Sekalipun aku setuju, mereka juga belum tentu mau."Nirkasa mengatupkan bibirnya. Kakak seperguruannya, Madan, memang orang yang sangat tinggi hati. Mustahil dia mau menundukkan kepala kepada Arlo.Paula buru-buru berkata, "Aku mau, aku mau! Tolong bantu aku! Serangga seribu wajahku juga hampir nggak kuat lagi!"Arlo memutar bola matanya."Setelah semua ulahmu itu, sekarang baru tahu memohon padaku?""Kalau bukan karena aku, kamu juga nggak bakal bisa mencium Kak Isyana! Kamu seharusnya berterima kasih padaku! Begini saja, kamu bantu aku, nanti aku kasih Kak Isyana serangga nafsu. Dijamin dia bakal sukarela untuk menemanimu!"Paula tersenyum menjilat pada Arlo.Kulit kepala Arlo langsung terasa mati rasa. Meski dia tahu gadis-gadis suku Maia memang penuh gairah dan lebih terbuka dibanding wanita lain, ucapan gadis kecil itu tetap membuatnya terdiam."Kalau kamu berani kasih Isyana serangga nafsu, akan kuhabisi kamu." Arlo mendengus
Setelah rombongan Arlo keluar dari kabut racun, wajah Madan langsung menggelap. Dengan suara berat dia berkata, "Orang-orang tadi bermasalah. Mereka meracuni kita ...."Saat ini Madan sudah merasakan kelainan di dalam pusat energinya. Ada seutas energi kematian yang masuk ke tubuhnya, bahkan serangga guna-guna di dalam pusat energinya ikut terpengaruh dan menjadi lemas.Begitu mendengar ucapannya, Candana dan Jauhari segera memeriksa kondisi tubuh mereka sendiri, dan baru menyadari adanya sesuatu yang tidak beres.Madan langsung menjalankan teknik kultivasinya, mencoba memaksa energi kematian itu keluar dari pusat energinya. Namun, energi dalamnya sama sekali tidak mampu mendekati energi kematian tersebut.Setelah memeriksa tubuhnya sendiri, ekspresi Nirkasa berubah drastis."Serangga inti kehidupanku dililit energi kematian dan sekarang sangat lemah. Kalau begini terus, aku mungkin ...."Serangga inti kehidupan berkaitan langsung dengan nyawa seorang master sihir. Jika serangga guna-g
Nirkasa dan Paula terus berada di sisi Arlo, jadi mereka melihat semuanya dengan jauh lebih jelas.Tadi Arlo nyaris membunuh seseorang dengan satu pukulan, dan setiap serangannya langsung berupa jurus mematikan. Membunuh orang hanyalah semudah membalikkan telapak tangan baginya. Tindakannya begitu kejam hingga membuat bulu kuduk meremang.Wajah Paula saat ini pucat pasi. Tatapannya kepada Arlo kini dipenuhi rasa segan yang berbeda dari sebelumnya.Meski dia dan Nirkasa sudah tahu sejak kemarin bahwa Arlo memang seorang grandmaster tenaga transformasi sejati, tiga grandmaster Sekte Sihir itu juga merupakan kerabat dekat mereka, jadi mereka tidak memiliki rasa takut yang sama seperti orang luar terhadap seorang grandmaster.Karena itu, Paula masih berani menggoda Arlo.Bahkan Nirkasa sendiri, yang selama ini hanya mengikuti Nirmala mengurus urusan duniawi, juga tahu jelas bahwa seorang grandmaster harus dihormati setinggi mungkin.Di mata mereka, Arlo lebih terlihat seperti pemuda kota b
Nirkasa terus mengikuti Paula. Posisi dan tugasnya sangat jelas, yaitu melindungi adik perempuannya.Serangga milik ketiga orang itu bergerak bebas di dalam kabut racun. Melalui serangga itu, mereka dengan cepat menemukan beberapa orang yang bersembunyi di dalam kabut beberapa meter jauhnya.Terdengar beberapa erangan tertahan, lalu serangga-serangga itu terbang kembali satu per satu."Kita lanjutkan perjalanan. Semuanya sudah dibereskan," kata Madan sambil menghela napas lega.Arlo dari awal sampai akhir tidak ikut bergerak. Di mata Candana dan Jauhari, hal itu justru membuat mereka semakin yakin kalau pria itu mungkin sedang mengerahkan seluruh tenaga hanya untuk melawan kabut racun.Arlo diam-diam menggeleng. Kesempatan penyergapan sebagus ini, tetapi orang-orang Organisasi Sembilan Ular hanya menembakkan panah diam-diam?Benar saja, baru beberapa langkah lagi, dia sudah merasakan embusan angin tajam melintas di sampingnya. Refleks, dia langsung menghantamkan tinju. Namun, tidak men
Arlo sama sekali tidak menanggapi mereka. Situasi di dalam Lembah Sepuluh Ribu Naga masih belum diketahui. Dia juga tidak punya mood untuk adu mulut dengan gadis kecil seperti Paula.Setelah melewati hutan lebat, Madan menghentikan langkah semua orang.Arlo mengangkat pandangan dan melihat jalan di depan tertutup kabut merah muda yang pekat, membuat semuanya tampak samar.Di telinga, samar-samar terdengar suara gesekan makhluk seperti ular dan serangga yang merayap, disertai jeritan nyaring burung-burung tak dikenal, membuat suasana semakin mencekam."Aku di depan, Nirkasa dan Paula di tengah, Candana dan Jauhari di belakang. Kalian semua tahu cara melewati kabut racun ini, 'kan?"Setelah berkata begitu, Madan langsung melangkah maju. Dia sengaja tidak menyebut Arlo, juga tidak menjelaskan cara melewati kabut racun itu, jelas sedang menunggu Arlo membuka mulut dan bertanya.Arlo malah tertawa kecil. Kenapa kakak seperguruan ini tingkahnya mirip Paula? Sama-sama suka bersaing? Atau mung
Didukung oleh Madan, Candana sama sekali tidak takut pada Arlo di wilayah mereka sendiri.Arlo menyipitkan mata. "Rekanku? Menurutku otak kalian memang agak bermasalah!"Madan berjalan mendekat, lalu menatap Arlo dengan dingin. "Mulutmu masih saja bicara kasar. Tunggu sampai aku tangkap orangnya. Setelah itu, aku mau lihat, apa kamu masih bisa sesumbar nggak!"Setelah berkata begitu, dia mengentakkan kaki. Tubuhnya langsung melompat ke udara, beberapa kali berpindah dengan cepat sebelum menerjang ke arah sebuah pohon besar beberapa meter jauhnya.Tak lama kemudian, terdengar suaranya yang penuh keterkejutan. "Kenapa kamu ikut ke sini?"Semua orang langsung menoleh dengan penasaran ke arah Madan.Tak lama kemudian, mereka melihat Madan kembali dengan wajah muram, sementara di belakangnya ada seorang wanita yang menunduk dengan lesu."Paula?" Nirkasa berseru kaget setelah melihat siapa orang itu.Paula menatap semua orang dengan wajah malu. "Kak ....""Jangan macam-macam! Cepat kembali s
Risty seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu di dunia. Dia sampai tertawa terpingkal-pingkal."Sebelum datang ke Hareast, aku sudah mempelajari keluarga-keluarga dan para taipan di sini. Maaf kalau penilaianku kurang tajam, tapi di daftar orang kaya, aku benar-benar nggak melihat namamu.""S
Bagas sangat marah. Sejak menjadi komandan besar, ini pertama kalinya dia begitu murka!"Dia ini lagi pamer kekuatan kepada siapa? Maksudnya, kalau aku nggak mendukung dia untuk menghancurkan Keluarga Artika, dia mau membunuhku juga?" Bagas menatap Dandy, menepuk meja dengan marah.Dandy tersenyum m
Lidya cukup terkejut saat melihat Mutia. Dia sebenarnya tidak terlalu akrab dengan Mutia, hanya pernah dua kali minum teh susu bersama karena diajak Isyana. Namun, gadis kecil ini lincah dan pintar. Lidya juga menyukainya."Kamu datang sama Kak Isyana?"Mutia menggeleng.Lidya mengacak rambut Mutia
"Aku tahu aku salah. Aku bersedia mengklarifikasi untukmu! Orang-orang Gorasa memberiku 20 miliar untuk membuktikan kamu memukul tanpa alasan!""Waktu itu aku memang mabuk, tapi semua yang mereka katakan aku dengar. Mereka memang ingin menyerang kami!"Rosita berbicara dengan sangat cepat. Dia melih







