LOGIN"Aku memang mau begitu. Aku nggak suka melihat Keluarga Hanafi. Alasan itu cukup nggak?""Tentu saja, aku juga bisa memberi kalian satu kesempatan. Sepuluh miliar untuk membeli kebun kalian yang menyedihkan itu. Bagaimana?"Victor sangat marah, suaranya tanpa sadar meninggi. "Jangan keterlaluan. Kebun itu adalah hasil jerih payah Keluarga Hanafi kami selama bertahun-tahun. Ditambah investasi Cakra belakangan ini, nilainya setidaknya 100 miliar. Kamu menawar 10 miliar? Kenapa nggak sekalian merampok!"Kennedy mengayunkan jarinya, wajahnya penuh ejekan. "Pak Victor, jangan bicara seperti itu.""Sepuluh miliar itu nilai normal. Tapi kalau aku mainkan sedikit, nilainya nggak akan segitu lagi. Memberimu sepuluh miliar saja sudah karena aku kasihan pada Keluarga Hanafi. Kalau nggak, beberapa hari lagi kebunmu itu bisa jadi nggak bernilai sepeser pun.""Kamu ...." Victor mengepalkan tinjunya, ingin rasanya menghantam Kennedy.Namun dia lebih paham, Kennedy memang sengaja mencari masalah. Kala
Daniel sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa keluar dari ruang privat itu. Saat tiba kembali di aula jamuan dan disambut Renata serta yang lainnya, pikirannya masih kacau dan kosong."Daniel, gimana? Kerja samanya sudah beres, 'kan?""Kamu sudah menyebut soal Keluarga Hanafi jadi pemasok ke pihak Keluarga Soraya, belum?"Daniel membuka mulut beberapa kali, tetapi tidak tahu harus menjawab apa. Renata sama sekali tidak menyadari keanehan sikap Daniel. Di benaknya, selama Daniel yang turun tangan, urusan ini pasti sudah pasti beres."Pasti sudah berhasil. Daniel, lain hari Bibi akan masak sendiri. Kamu datang ke rumah kami ya, makan bareng. Bibi benar-benar ingin menjamu kamu dengan baik."Sambil bicara, dia menoleh ke arah suaminya. "Lihat itu, Daniel benar-benar punya masa depan.""Lalu lihat Arlo? Baru saja Bu Fellis selesai mengumumkan mitra kerja, dia langsung nggak berkutik dan kabur begitu saja."Victor mengernyit tidak senang. "Kamu ini bicara apa sih? Kabur dari mana? Kenapa kam
Daniel sangat percaya diri dengan kemampuan bicaranya. Dia merasa selama tokoh besar itu mau memberinya kesempatan, dia pasti bisa meyakinkan pihak tersebut.Fellis mendorong pintu dengan lembut.Daniel refleks merapikan pakaiannya, berusaha membuat dirinya terlihat percaya diri dan berwibawa. Namun ketika dengan penuh keyakinan dia menatap ke dalam lewat celah pintu yang terbuka, orang yang terlihat di dalam bagaikan petir yang menyambar tepat di atas kepalanya dan membuatnya terpaku.Di sofa ruang privat, Arlo sedang menggeser layar ponselnya dengan bosan. Sekujur tubuh Daniel terasa dingin. Dalam sekejap, rasa percaya dirinya hancur berkeping-keping.'Kenapa harus dia? Bagaimana mungkin orangnya Arlo? Tidak mungkin, pasti ada kesalahan.'Daniel refleks menoleh ke sekeliling. Namun sayangnya, di dalam ruang privat itu hanya ada Arlo seorang diri.'Ini tidak mungkin. Kejadiannya seharusnya tidak seperti ini.'Daniel hampir runtuh. Dia menatap Fellis yang berjalan menghampiri Arlo.Di
Di atas panggung, Fellis tersenyum lebar. Dia berkata, "Karena itu, dalam kerja sama ini, dialah pengambil keputusan utama, pemegang saham terbesar, sekaligus pihak yang memiliki keputusan akhir di perusahaan baru nanti.""Total investasi perusahaan diperkirakan mencapai 10-20 triliun."Di bawah panggung, Daniel hampir menangis. Semakin dia mendengar, semakin jelas baginya bahwa mitra yang dimaksud sama sekali bukan dirinya. Sementara Renata yang berdiri di samping Daniel justru hampir melonjak kegirangan."Daniel! Keluarga Soraya mau berinvestasi 20 triliun untukmu? Berarti sekarang kamu sudah jadi miliarder, bukan?"Victor juga terlihat sangat puas. "Generasi muda memang hebat. Daniel, orang tuamu pasti akan sangat bangga padamu."Wajah Daniel langsung tampak muram. Pada saat ini, pujian Renata dan pengakuan Victor terdengar sangat menusuk telinganya.Bangga? Lebih mirip badut!Dia sudah bisa membayangkan, tak lama lagi semua bualan yang tadi dia pamerkan akan disebarkan oleh orang-o
Yang membuat Isyana marah adalah karena pihak lawan terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada Arlo di depan dirinya sebagai istri. Jelas-jelas itu tantangan langsung kepadanya."Bu Sheila, aku juga percaya pada kehebatan suamiku. Di masa depan dia pasti bisa menjadi dokter yang luar biasa.""Tapi dia berbeda denganmu. Dia berasal dari kalangan biasa, tanpa latar belakang dan tanpa fondasi. Aku nggak ingin karena kemunculanmu, dia salah menilai diri sendiri, merasa berada di kelas yang sama denganmu, lalu bertindak gegabah, menimbulkan masalah, dan memancing permusuhan.""Aku memang bukan bagian dari lingkaran kalian, tapi aku tahu betul bahwa para pebisnis paling mengutamakan kepentingan. Kalau suatu hari nanti kepentinganmu berbenturan dengan kepentingan Arlo dan kamu tidak lagi membutuhkannya, lalu apa yang akan terjadi padanya?""Dia tidak akan lagi punya kemampuan untuk melawan para penguasa yang pernah dia singgung. Kamu justru sedang mencelakainya."Sheila justru tersenyum se
Daniel tertegun sejenak. Di dalam hatinya juga mulai muncul sedikit amarah. Dengan nada dingin dia berkata, "Aku Daniel dari Keluarga Pramono di ibu kota provinsi. Kamu nggak kenal aku, bukan berarti ayahmu juga nggak tahu."Daiyan langsung tertawa terbahak-bahak."Keluarga Pramono? Yang Keluarga Pramono kelas dua di ibu kota provinsi itu?""Siapa yang memberimu ilusi sampai kamu merasa Keluarga Pramono layak merendahkanku untuk pamer? Tuhan?"Tatapan Daniel menyempit. Dia merasa sudah waktunya menunjukkan wibawa Keluarga Pramono. Sambil menatap Daiyan, dia mencibir dingin, "Mungkin dulu Keluarga Pramono memang belum cukup layak. Tapi setelah hari ini, belum tentu.""Aku bekerja sama dengan Keluarga Soraya. Ini aliansi bisnis. Ke depannya, kepentingan kami sejalan. Satu rugi semua rugi. Adikku terpilih masuk Pasukan Metal Bangsa. Keluarga Pramono pasti akan naik level satu tingkat lagi."Wajah Daiyan penuh dengan rasa meremehkan. Dia mencibir, "Kamu? Fellis pasti buta kalau mau bekerja







