MasukFellis awalnya ingin memanfaatkan alasan ini untuk bisa sekaligus bertemu Arlo, tetapi tak disangka justru ditolak. Seketika, dia merasa sedikit kecewa."Baiklah. Kalau begitu ... besok acara jamuan pembukaan perusahaan investasi, kamu datang?"Arlo bisa menangkap rasa kecewa dalam suara Fellis. Dia ragu sejenak, lalu akhirnya mengangguk setuju. "Aku datang, tapi belum tentu akan muncul di depan umum.""Baguslah kamu datang!" Nada bicara Fellis langsung terdengar riang.Hati Arlo menjadi agak muram. Perempuan ini tidak normal! Pasien dengan gangguan psikologis memang mudah menaruh perasaan khusus pada dokter. Jangan sampai ....Pada saat yang sama, di ruang privat mewah sebuah hotel.Orang tua Mutia sedang duduk berhadapan dengan Victor dan Renata. Ayah Mutia, Hilman, berusia 50-an, berwajah serius dan berwibawa, rambutnya disisir rapi tanpa sehelai pun yang berantakan.Ibu Mutia, Mahira, tampil bak nyonya bangsawan. Wajahnya memiliki kemiripan 70% dengan Renata.Yang ikut bersama mere
Rayanza tertawa lepas. "Berapa nilainya nyawaku dan anakku ini? Setelah pernah berjalan di ambang kematian, sia-sia saja hidupku kalau masih nggak bisa bedakan mana yang lebih penting!"Fellis merasa terkejut dengan keputusan ayahnya, tetapi tidak menunjukkannya.Arlo tersenyum dan berkata, "Pak Rayanza memang berjiwa besar. Tenang saja, Bapak nggak akan menyesali keputusan hari ini.""Tapi soal perusahaan, aku nggak punya waktu untuk mengelola. Fellis saja yang menangani. Kalau ada hal yang perlu aku lakukan, baru cari aku."Begitu kata-kata itu dilontarkan, mata Rayanza semakin berbinar. Setelah selesai makan, Arlo pun berpamitan.Rayanza mengantarnya keluar vila secara pribadi. Setelah kembali masuk, dia masih tersenyum puas dan menuangkan segelas anggur untuk dirinya sendiri, lalu minum sendirian. Fellis sangat tidak mengerti dengan sikap ayahnya yang tidak biasa ini.Dalam ingatannya, ayahnya tidak pernah sebegitu "dermawan" dalam urusan bisnis.Sekalipun Arlo telah menunjukkan ke
"Kalau dipikir-pikir, masa depan puluhan tahun ke depan sudah bisa terlihat jelas. Nggak menarik sama sekali!"Arlo berpikir sejenak, lalu memberi saran, "Aku sedang berencana mendirikan sebuah pabrik obat. Semuanya dimulai dari nol. Kamu tertarik ikut berwirausaha bersamaku?"Mata Fellis langsung berbinar. Berwirausaha bersama, bukankah itu berarti bisa sering bersama?"Aku mau investasi!"Arlo sebenarnya sudah punya posisi dan rencana yang jelas, lalu menyampaikannya dengan tenang, "Bukan cuma soal investasi.""Urusanku cukup banyak, jadi aku nggak bisa terlibat langsung dalam pengelolaan. Selain berinvestasi, kamu lebih banyak berperan sebagai pengelola. Kamu nggak perlu terburu-buru menjawab. Pikirkan baik-baik dulu, baru putuskan."Tanpa ragu sedikit pun, Fellis langsung berkata, "Aku mau! Nggak perlu dipikir lagi!"Arlo tersenyum lembut sambil memutar setir dan mobil pun melaju memasuki halaman rumah Keluarga Soraya. "Kalau begitu, kamu mulai saja buat perencanaannya."Mobil berh
Bum!!Angga benar-benar terkejut. Lamborghini kehilangan kendali dan menghantam keras pot bunga di pinggir jalan. Mobil itu terguling beberapa kali sebelum akhirnya jatuh menghantam tanah dengan keras.Dua mobil lainnya segera berhenti di dekat sana.Para berandalan turun dari mobil untuk memberi pertolongan. Beberapa gadis mengeluarkan ponsel dengan panik, bersiap menelepon ambulans.Angga diseret keluar dari mobil. Untungnya tidak ada luka serius. Semua orang akhirnya mengembuskan napas lega.Dengan wajah penuh darah, Angga merangkak ke tepi pot bunga. Wajahnya pucat pasi sambil terengah-engah.Sekitar seratus meter jauhnya, Ferrari melakukan drift putar balik yang indah, lalu berhenti dengan bunyi decit tepat di hadapan mereka. Begitu melihat si iblis kembali, satu per satu kaki mereka langsung gemetar.Teknik balapnya kejam. Orangnya lebih kejam lagi. Siapa yang tidak takut dengan monster seperti ini?Arlo turun dari mobil.Bam!Pintu mobil ditutupnya dengan keras. Dia menyalakan s
Di dalam Ferrari, dorongan kuat dari akselerasi menekan Fellis keras ke sandaran kursi.Dengan wajah pucat, dia menatap Arlo. "Kak Arlo! Gimana kalau kita hentikan saja? Aku agak takut!"Arlo menoleh ke arahnya dengan wajah penuh percaya diri dan senyuman hangat. "Percaya padaku. Dalam dua menit, aku buat dia berlutut dan manggil aku ayah!"Saat kata-kata itu terucap, tiba-tiba muncul kendaraan lambat di depan.Arlo mengendalikan Ferrari dengan sebuah manuver indah, memanfaatkan mobil lambat itu untuk memisahkan dua kendaraan, membuat Angga tidak bisa lagi menekan lajunya. Pada saat yang sama, kecepatan Ferrari melonjak drastis.220 ...250!Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Angga!Pada kecepatan ini, mobil sudah berada di luar kendali optimalnya. Itu sudah melampaui batas kemampuannya. Dia hanya bisa berusaha menjaga posisi sejajar dengan Ferrari. Taktik memimpin dan menekan yang sebelumnya dia gunakan sudah tidak bisa diterapkan lagi.Para pemuda kaya di dalam Porsche dan Mase
Arlo tidak menganggapnya serius. "Nggak usah diladeni, kita jalan saja."Arlo mengemudi dengan stabil, bersiap keluar dari jalan lingkar kapan saja. Tak disangka, tiga mobil itu malah makin menjadi-jadi. Mereka terus menyelip ke depan mobil Arlo, mengerem mendadak dan mencoba memaksa berhenti!Arlo melakukan manuver halus dan menghindar.Pihak lawan mengganti mobil lain untuk memotong dari depan, kembali mengerem, kembali mencoba menghentikan mereka! Kali ini, bukan hanya Arlo, Fellis pun mulai kesal."Apa sih maunya orang-orang ini?"Arlo menyipitkan mata. Dia tetap mengendalikan mobil dengan tenang, berputar menghindar tanpa menjawab. Ketiga mobil itu kembali mengejar, lalu melaju sejajar di kiri dan kanan mereka. Kaca jendela diturunkan.Di Lamborghini, seorang pemuda bergaya modis dengan rambut kepang kecil dan anting di telinga menatap Arlo dengan ekspresi meremehkan. "Bro, balapan satu kali, yuk?"Ekspresi Arlo tampak dingin. Dia melirik sekilas ke arah lawan. "Nggak tertarik."K







