Share

Bab 273

Author: Jayden Carter
Mutia merasa sangat canggung sampai rasanya ingin bersembunyi di lubang. Dia meringkuk di sofa dan bahkan tidak ingin menanggapi Arlo sama sekali.

Arlo pun malas menggubris sekelompok anak muda itu, lalu berkata kepada Mutia, "Sudah larut. Jangan sampai kakakmu khawatir."

Mutia tak tahan lagi. Dia mendongak dan menatap Arlo dengan kesal. "Nggak perlu urus aku. Nanti aku pulang sendiri."

Arlo sedikit mengernyit dan hendak berbicara lagi.

Namun, Chandra menyelanya dengan ekspresi nakal, "Nggak dengar Mutia suruh kamu pergi? Banyak omong amat, cepat keluar!"

Dua pemuda bertubuh tinggi mengepung Arlo. Mereka seperti antek yang menatapnya dengan garang.

"Orang gila seharusnya berobat di rumah, malah keluar bikin malu. Pergi sana!"

"Nanti Mutia diantar oleh Chandra, nggak perlu kamu ikut campur!"

Mana mungkin Arlo tidak tahu rencana busuk bocah-bocah ini. Jelas-jelas ini jebakan untuk membuat Mutia mabuk lalu memanfaatkannya. Dia menatap Mutia dengan serius dan berkata, "Di sini ramai sekali
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 300

    'Mobil mewah apanya? Dibandingkan Rolls-Royce yang pernah dikendarai Kak Arlo sebelumnya, ini mah cuma rongsokan!'Namun, demi menjaga harga diri sepupunya, Mutia tetap menanggapi asal-asalan, "Ya, lumayanlah."Daniel langsung bengong. Ada apa ini sebenarnya?Isyana tidak memberinya kesempatan untuk pamer mobil mewah saja sudah cukup menyebalkan. Seharusnya Mutia bersemangat, bertanya ini itu, jadi dia bisa pamer dengan mulus. Kenapa semuanya tidak berjalan sesuai skenario?Dengan penuh rasa kesal, Daniel mengemudikan mobil sampai ke rumah Keluarga Hanafi. Begitu mereka turun dari mobil, tiba-tiba sekelompok orang bermunculan dari segala arah dan mengepung mereka di tengah.Yang memimpin adalah seorang pemuda berandal dengan wajah penuh kesombongan. Tingginya sekitar 1,75 meter, mengenakan pakaian bermerek dari ujung kepala sampai kaki, memakai anting di telinga. Dia menatap orang-orang yang terkepung dengan senyuman mengejek.Alis Arlo sedikit berkerut. Selain pemuda di depan, sisanya

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 299

    Arlo tersenyum kecut dan berkata, "Bukan masalah besar, aku bisa mengatasinya."Mutia menggeleng dengan keras kepala. "Nggak, Kak Arlo. Masalah ini terjadi karena aku. Kalau bukan karena aku, semua ini nggak akan terjadi."Setelah berkata begitu, dia menoleh dan bersikap manja sambil berpura-pura memelas kepada orang tuanya dan sepupunya. "Ayah, Ibu, Kak Daniel .... Kak Arlo benar-benar terpaksa melakukannya demi menolongku. Apa kalian ingin aku diculik oleh Daiyan si mesum itu?"Daniel memaki dalam hati. Kalau yang dipukul hanya anak buah Omran, dia sama sekali tidak takut. Masalahnya, yang dipukul itu adalah anak Omran sendiri!Kalau sudah begini, bahkan membawa-bawa nama Rayanza pun belum tentu ada gunanya. Apalagi dia sama sekali tidak punya kemampuan untuk menggerakkan tokoh besar selevel Rayanza. Hubungannya dengan Fellis pun sebatas kerja sama bisnis biasa, sama sekali bukan hubungan pribadi.Meskipun hatinya gelisah, kata-kata yang keluar dari mulut Daniel terdengar sangat berb

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 298

    Arlo berkata dengan yakin, "Seharusnya nggak ada masalah besar."Daniel memasang wajah mengejek, menatap Arlo sambil berseloroh, "Sudahlah, jangan membual! Kamu tahu siapa Rayanza itu? Kamu tahu seberapa besar nilai kerja sama pabrik obat baru itu? Kamu kira omonganmu sangat berbobot?"Hilman dan Mahira juga tersenyum kecil. Mereka merasa Arlo hanya tidak terima karena Daniel merebut sorotan, lalu asal membual demi menjaga harga diri.Kebohongan ini benar-benar tidak masuk akal, sama sekali tidak dipikirkan dengan matang. Rayanza itu siapa? Beliau adalah orang yang bahkan di ibu kota provinsi pun termasuk jajaran orang terkaya. Bagaimana mungkin dia mengenal dokter yang hanya membuka klinik kecil?Renata merasa akhirnya bisa sedikit mengembalikan harga dirinya. Dia pun berkata, "Arlo pernah mengobati Rayanza!"Daniel tertegun dua detik, lalu terkekeh. "Bibi, status Rayanza itu sangat tinggi. Sekalipun benar Arlo pernah mengobatinya, apa mungkin tokoh sebesar Rayanza mengingat dokter ya

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 297

    Arlo benar-benar memandang rendah Daniel. Urusannya saja belum jelas, tetapi sudah dijadikan bahan pamer. Sebaliknya, Daniel justru mengira Arlo merasa minder sampai tak berani berbicara. Karena itu, dia semakin tak terkendali saat membual."Bulan lalu, permohonan pencatatan saham perusahaanku sudah diajukan ke otoritas pengawas pasar modal. Kalau kerja sama dengan Keluarga Soraya kali ini berhasil, kemungkinan besar dalam setengah tahun akan disetujui dan dalam setahun bisa masuk papan startup.""Begitu berhasil melantai dan memperoleh pendanaan, dalam tiga tahun aku bisa membawa perusahaan masuk 20 besar industri farmasi di Doraia!"Renata sampai melongo mendengarnya. Bisnis bisa dijalankan seperti itu? Hanya dalam beberapa tahun sudah punya kekayaan ratusan miliar? Ya ampun!Adiknya benar-benar menikah dengan keluarga yang tepat. Keluarga Pramono memang bukan bangsawan papan atas di ibu kota provinsi, tetapi kokoh di jajaran kelas dua! Mereka punya kedudukan dan pengaruh besar, baik

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 296

    Fellis awalnya ingin memanfaatkan alasan ini untuk bisa sekaligus bertemu Arlo, tetapi tak disangka justru ditolak. Seketika, dia merasa sedikit kecewa."Baiklah. Kalau begitu ... besok acara jamuan pembukaan perusahaan investasi, kamu datang?"Arlo bisa menangkap rasa kecewa dalam suara Fellis. Dia ragu sejenak, lalu akhirnya mengangguk setuju. "Aku datang, tapi belum tentu akan muncul di depan umum.""Baguslah kamu datang!" Nada bicara Fellis langsung terdengar riang.Hati Arlo menjadi agak muram. Perempuan ini tidak normal! Pasien dengan gangguan psikologis memang mudah menaruh perasaan khusus pada dokter. Jangan sampai ....Pada saat yang sama, di ruang privat mewah sebuah hotel.Orang tua Mutia sedang duduk berhadapan dengan Victor dan Renata. Ayah Mutia, Hilman, berusia 50-an, berwajah serius dan berwibawa, rambutnya disisir rapi tanpa sehelai pun yang berantakan.Ibu Mutia, Mahira, tampil bak nyonya bangsawan. Wajahnya memiliki kemiripan 70% dengan Renata.Yang ikut bersama mere

  • Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam   Bab 295

    Rayanza tertawa lepas. "Berapa nilainya nyawaku dan anakku ini? Setelah pernah berjalan di ambang kematian, sia-sia saja hidupku kalau masih nggak bisa bedakan mana yang lebih penting!"Fellis merasa terkejut dengan keputusan ayahnya, tetapi tidak menunjukkannya.Arlo tersenyum dan berkata, "Pak Rayanza memang berjiwa besar. Tenang saja, Bapak nggak akan menyesali keputusan hari ini.""Tapi soal perusahaan, aku nggak punya waktu untuk mengelola. Fellis saja yang menangani. Kalau ada hal yang perlu aku lakukan, baru cari aku."Begitu kata-kata itu dilontarkan, mata Rayanza semakin berbinar. Setelah selesai makan, Arlo pun berpamitan.Rayanza mengantarnya keluar vila secara pribadi. Setelah kembali masuk, dia masih tersenyum puas dan menuangkan segelas anggur untuk dirinya sendiri, lalu minum sendirian. Fellis sangat tidak mengerti dengan sikap ayahnya yang tidak biasa ini.Dalam ingatannya, ayahnya tidak pernah sebegitu "dermawan" dalam urusan bisnis.Sekalipun Arlo telah menunjukkan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status