MasukTatapan Munger berubah serius untuk pertama kalinya, sementara tubuhnya terus mundur dengan cepat."Kamu memang sangat kuat! Tapi aku adalah orang yang diberkati dewa. Semakin kuat lawanku, semakin kuat pula diriku!" Mata Munger dipenuhi kebencian mendalam bercampur gairah bertarung yang gila.Tubuhnya berputar, lalu melompat dan mendarat tepat di atas inti mata air spiritual. Kemudian dia membuka kedua tangannya lebar-lebar dan mendongak ke langit kelabu sambil berteriak keras, "Dewa Kematian abadi selamanya! Lindungilah pengikutmu! Karuniakan kepadaku kekuatan kematian tanpa batas!"Detik berikutnya, seluruh tubuhnya diselimuti energi kematian hitam. Energi itu terus keluar masuk dari hidung dan mulutnya, membuatnya tampak seperti dewa maut dari neraka yang sedang memanggil roh-roh mati di tempat ini.Di tangannya kini muncul sebuah batu hitam misterius. Dengan gerakan membalik tangan, dia langsung menekannya ke inti mata air spiritual. Madan yang kini sudah sedikit pulih memandang M
"Tebas!"Wajah Arlo tetap tanpa ekspresi. Sekali lagi, dia mengayunkan pedang panjangnya. Cahaya merah kembali membelah udara, seolah meretakkan langit itu sendiri.Tubuh Erick beserta kedua tinjunya langsung dilewati bilah energi sejati Arlo. Detik berikutnya, tubuhnya terbelah dan hancur berserakan di tanah."Aaaah!"Tubuh Erick terbelah dua di udara. Jeritannya masih bergema di langit ketika tubuhnya sudah jatuh ke tanah dengan darah menyembur ke segala arah. Semua orang di tempat itu begitu terkejut sampai lupa bernapas. Bahkan mata Madan juga membelalak tak percaya.Pedang api energi sejati itu begitu megah dan tak terkalahkan. Bukan hanya mampu menghancurkan segalanya, tetapi juga memurnikan energi kematian. Ini benar-benar teknik yang legendaris.Kalau hanya mengandalkan energi dalam biasa, mana mungkin bisa memurnikan energi kematian? Dalam hal teknik mistik, Arlo jelas sudah melangkah jauh melampaui tingkat mistik biasa!Apa itu kebangkitan kemampuan? Apa itu pengendalian lima
Saat itu, dua ahli supranatural Organisasi Sembilan Ular yang bertarung melawan Arlo, satu adalah pengendali elemen kayu dan satu lagi adalah petarung hasil modifikasi Tinju Besi.Kombinasi seperti ini sebenarnya sudah pernah Arlo lihat sebelumnya di Hondaria.Pengendali kayu itu memanggil sulur-sulur tanaman dari udara untuk mengikat pergerakan Arlo, sementara Tinju Besi terus melancarkan serangan gila-gilaan dengan lengan logam paduannya.Arlo melompat tinggi ke udara. Energi sejati di tangannya berubah menjadi sebilah pedang panjang dengan api inti yang melekat di ujung bilahnya. Dengan satu ayunan di udara, cahaya merah samar menyerupai kobaran api melintas dan langsung membakar habis seluruh sulur tanaman.Itu adalah teknik mirip sihir kaum dewa. Energi sejatinya sangat padat, dan meski api inti itu tidak sekuat Api Sejati Sembilan Matahari, tetap saja merupakan api murni yang akan langsung membakar apa pun yang disentuhnya.Ke mana pun bilah pedang itu bergerak, energi kematian d
'Kalau Kakak Senior saja nggak bisa mengatasinya, apa mungkin kamu bisa?'"Tinggal di sini dan jaga Paula!"Arlo berkata datar kepada Nirkasa, lalu melangkah maju satu langkah. Dalam sekejap tubuhnya sudah berada lebih dari sepuluh meter di depan. Wajah Paula pucat pasi, sementara Nirkasa menggenggam pisaunya erat-erat.Situasi saat ini ternyata bahkan lebih buruk daripada dugaan Arlo. Ternyata Munger mampu mengendalikan energi kematian. Itu setara dengan seorang ahli sihir yang bisa membentuk formasi energi jahat raksasa kapan saja.Bahkan lebih merepotkan lagi, karena tempat ini adalah wadah alami pembiakan serangga guna-guna.Apa itu serangga guna-guna?Serangga guna-guna lahir dari ribuan serangga beracun yang saling membunuh hingga hanya satu yang bertahan hidup. Artinya, setiap hari ada tak terhitung bangkai ular, serangga, semut, dan binatang beracun tertinggal di sekitar sini.Kalau seluruh energi kematian itu dikumpulkan untuk memperkuat Formasi Iblis Hitam, kekuatan formasi t
Pria Korlia itu mengangkat goloknya untuk bertahan, tetapi langsung menyadari semua itu sia-sia.Dari telapak tangan Munger, energi kematian yang hitam pekat menyembur, lalu masuk melalui hidung dan mulutnya. Energi kematian itu seolah mampu melahap daya hidup. Dalam sekejap, energi kehidupan pria Korlia itu terputus.Pria Korlia itu terjatuh. Sampai mati pun dia tidak percaya dirinya akan dibunuh oleh sekutu sendiri. Namun, bawahan Organisasi Sembilan Ular sudah terbiasa melihat hal seperti itu. Munger memang selalu seperti ini, kuat dan tak boleh dipertanyakan.Ekspresi Munger bahkan tidak berubah sedikit pun, seolah yang dia bunuh bukan manusia, melainkan seekor ayam. Dia melirik ke arah asal kedatangan pria Korlia tadi lalu mendesak, "Cepat ambil airnya!"Orang-orang Organisasi Sembilan Ular juga mulai panik. Jumlah air di mata air spiritual memang tidak banyak, sehingga mereka hanya bisa maju berdua secara bergantian untuk mengambil air.Meski terlihat kecil seperti botol air mine
"Kamu sebenarnya berpihak ke siapa?""Di lembah ini penuh racun di mana-mana. Bahkan menghirup udara saja bisa keracunan. Kita punya obat penawar racun, sedangkan dia nggak.""Jangan lihat dia pura-pura seperti ahli hebat. Bisa jadi diam-diam seluruh energi dalamnya dipakai untuk menahan racun," kata Jauhari sambil tersenyum licik. Candana akhirnya menerima penjelasan itu lalu mencibir dingin."Benar juga. Biar saja dia melihat Kakak Senior menunjukkan keperkasaannya, supaya para ahli bela diri dari luar itu tahu bahwa kehebatan Sekte Sihir kita bukan sesuatu yang bisa mereka incar hanya karena paham sedikit ilmu bela diri!""Dan para orang asing sialan itu juga, berani-beraninya datang membuat kekacauan di Gunung Suci kita. Mereka harus dikubur hidup-hidup di sini untuk meredakan murka Dewa Sihir!"Beberapa orang itu berbicara dengan penuh amarah, sementara Paula ikut mengangguk setuju.Keinginan melihat Arlo dipermalukan dan bernasib sial kini sudah menjadi obsesi gadis itu. Tak ada
Sheila duduk di kursi pengemudi dan membawa Arlo langsung menuju sebuah rumah sakit swasta. Setelah turun dari mobil, keduanya langsung menuju ruang perawatan VIP.Di atas ranjang rumah sakit, terbaring seorang pria tua dengan tubuh kurus. Saat ini wajahnya tampak kebiruan, bibirnya membiru, napasny
Belum sempat Arlo buka mulut, Dina sudah mendahului dengan gelengan kepala, "Benar-benar nggak sepadan! Bayangkan, adik kelasku dulu adalah gadis yang cantik dan pintar, serta idola semua orang di kampus. Tapi akhirnya menikah denganmu? Sungguh sayang sekali!"Saat mereka sedang berbicara, sebuah mo
Mikael kemudian menambahkan dengan tenang, "Kasus salah diagnosis pada putri Keluarga Soraya waktu itu juga Arlo yang menemukannya, bahkan dia yang menyembuhkan Nona Fellis! Pak Rayanza juga sangat memuji dirinya!"Dahi Nelson langsung penuh keringat.Nelson juga mengetahui tentang kasus salah diagn
Begitu datang, Arman langsung menyapa Renata dan Victor, "Paman, Bibi, jangan panik! Aku akan bantu kalian!"Victor yang memang mengenal keduanya pun bertanya, "Kalian kenapa bisa datang ke sini?"Lidya merapikan rambutnya sambil menjawab, "Isyana merasa cemas setelah menerima telepon dari Bibi, tap







