เข้าสู่ระบบRaja Sihir mengangkat kepala, sudut bibirnya turun tanpa daya. Setelah lama terdiam, dia baru berkata, "Arlo kemungkinan adalah Utusan Takdir!"Ekspresi Madan langsung berubah drastis. Setelah merenung sejenak, dia tertawa pahit. "Pantas saja! Aku sempat curiga. Bahkan aliran Tao yang mengolah tubuh dan spiritual sekaligus pun belum tentu sekuat dia!""Aku melihat cara dia bertarung. Bahkan di antara para Utusan Takdir, dia juga termasuk sosok kuat yang mungkin hanya muncul sekali dalam ratusan tahun!""Dia menguasai teknik spiritual, bela diri, ilmu pengobatan, formasi, dan alkimia. Semua itu adalah kemampuan yang cukup untuk mendirikan aliran sendiri!"Raja Sihir menghela napas pelan sambil menatap patung Dewa Sihir dengan ekspresi rumit. "Kalau Utusan Takdir sudah muncul, berarti perubahan besar akan segera datang. Menjalin hubungan baik dengannya sekarang adalah investasi Sekte Sihir untuk masa depan!""Kalau soal dia dengan Paula dan Nirmala, hahaha .... Aku cuma mengerjainya sedi
Kalau dihitung-hitung, dia memang jadi sedikit berutang budi pada Sekte Sihir. Setelah Sekte Sihir berhasil mengumpulkan bahan untuk formasi Lembah Sepuluh Ribu Naga nanti, dia bisa membantu memperbaiki formasi itu.Sedangkan soal Isyana, kemungkinan besar Nirmala akan memberikan penjelasan padanya.Memikirkan hal itu, Arlo pun bersiap turun gunung. Pertarungan kali ini telah memberinya banyak manfaat. Dia perlu mencerna semuanya dan merencanakan arah kultivasi selanjutnya.Setelah berpamitan kepada semua orang, Arlo baru berjalan beberapa langkah ketika tiba-tiba terhenti. Ekspresinya berubah berkali-kali, kilatan kegelisahan muncul di matanya yang memerah."Siluman tua! Aku ...."Raja Sihir yang masih duduk di bawah altar Dewa Sihir bahkan tidak menoleh sedikit pun. Sudut bibirnya hanya melengkung membentuk senyuman penuh arti.Arlo rasanya ingin muntah darah. Raja Sihir memasang serangga guna-guna padanya tanpa jejak sedikit pun. Dia bahkan tidak tahu kapan dirinya terkena serangga
Saat semua orang saling memandang dengan wajah penuh keterkejutan ....Bum .... Brak ....Terdengar suara dinding di salah satu sisi Kuil Dewa Sihir runtuh. Sesosok tubuh terpental keluar bersama reruntuhan, lalu menghantam tanah dengan keras hingga debu beterbangan ke mana-mana.Di tengah kepulan debu, Arlo berdiri dengan wajah penuh abu dan tanah, tetapi malah menyeringai lebar penuh semangat."Lagi!"Raja Sihir masih berdiri di bawah patung dewa. Kelopak matanya berkedut. Arlo ini benar-benar punya banyak energi, seperti kecoak yang tidak bisa dibunuh.Melihat tinju besar itu kembali menghantam ke arahnya, dia sekali lagi mengangkat telapak tangan untuk menyambutnya.Saat pukulan Arlo sudah tiba di depan wajahnya, Raja Sihir tiba-tiba maju setengah langkah. Dua jarinya kembali menyatu membentuk pedang dan menusuk ke arah pergelangan tangan Arlo.Itu lagi! Teknik yang tadi dipakai di dalam kuil!"Bagus!" Arlo meraung keras. Pergelangan tangannya melengkung dengan lincah, berhasil men
Di bawah kaki patung dewa itu, lautan ular, serangga, semut, dan berbagai binatang memenuhi seluruh tempat, mempersembahkan diri mereka kepada patung Dewa Sihir.Yang bersujud paling jauh dari patung itu adalah para murid Sekte Sihir yang tak terhitung jumlahnya. Mereka bersujud di tanah sambil gemetar ketakutan. Sementara itu, yang berdiri di depan mereka hanyalah Raja Sihir.Di bawah tatapan penuh hormat dan ketakutan semua orang, Raja Sihir memberi penghormatan kepada Dewa Sihir dengan khidmat, seolah-olah sedang mendengarkan wahyu ilahi.Alis Arlo langsung berkerut rapat."Jalan menuju transenden setiap orang berbeda-beda. Sekte Sihir kami punya jalan sendiri."Saat suara Raja Sihir kembali terdengar, Arlo tersadar dari ilusi itu dan sekali lagi menunjukkan ekspresi termenung.Jalan menuju transenden setiap orang berbeda-beda .... Jadi, Sekte Sihir mengandalkan kekuatan dewa? Omong kosong! Dewa dari mana?Arlo langsung membuang pikiran itu. Kalau kultivator agung zaman kuno, dia pe
Arlo masuk ke Kuil Dewa Sihir dengan langkah besar tanpa rasa takut sedikit pun!Begitu masuk, pintu kuil langsung tertutup dengan keras.Di tengah kegelapan, begitu Arlo baru berdiri tegak, dia merasakan angin dingin menerpa wajahnya. Terlihat dua jari putih ramping membentuk pedang jari, muncul dari kehampaan dan menusuk ke arah tenggorokannya.Arlo merasa belum pernah melihat jurus seaneh ini sebelumnya. Gerakan dua jari itu terlihat sangat lambat, lintasannya pun jelas, tetapi anehnya tetap terasa seperti muncul begitu saja dari udara kosong dan mustahil menangkap arah awal serangannya.Dia sedikit memiringkan leher untuk menghindar, tetapi alisnya justru semakin berkerut.Pada detik berikutnya, dua lilin di bawah altar tiba-tiba menyala. Di bawah altar itu, seorang wanita Suku Maia berusia sekitar 40-an yang sedang duduk bersimpuh memandang Arlo sambil tersenyum samar.Arlo mengucek matanya. Bukankah Raja Sihir yang dilihatnya terakhir kali adalah nenek tua renta? Wanita di hadapa
Mata Madan berkilat kagum sesaat. Benar-benar orang yang sangat teliti!Arlo masih terus berbicara, "Panah itu juga menarik sekali. Memang salah satu tujuan Organisasi Sembilan Ular kali ini adalah membunuhku, tapi tindakan itu juga membuat keberadaan mereka terbongkar lebih cepat. Karena kesal, aku sampai hajar mereka habis-habisan.""Lalu soal Organisasi Sembilan Ular, entah mereka berhasil mendapat investasi atau nggak, mereka tetap akan masuk ke Lembah Sepuluh Ribu Naga. Begitu masuk, mereka pasti akan dimusnahkan.""Mm, sebenarnya semua ini memang nggak ada hubungannya denganku. Tapi kalian berkali-kali menjadikan aku sebagai senjata dan tameng!"Madan menyipitkan mata, lalu berkata dengan datar, "Semua analisismu itu cuma berlaku kalau memang kami menolak reformasi desa dan nggak mau menerima investasi dari luar. Tapi apa alasannya? Siapa yang nggak ingin hidup lebih baik?"Arlo memelankan suaranya sampai Nirmala yang berada di samping pun tidak bisa mendengarnya. Padahal, dia se
Lidya cukup terkejut saat melihat Mutia. Dia sebenarnya tidak terlalu akrab dengan Mutia, hanya pernah dua kali minum teh susu bersama karena diajak Isyana. Namun, gadis kecil ini lincah dan pintar. Lidya juga menyukainya."Kamu datang sama Kak Isyana?"Mutia menggeleng.Lidya mengacak rambut Mutia
"Aku tahu aku salah. Aku bersedia mengklarifikasi untukmu! Orang-orang Gorasa memberiku 20 miliar untuk membuktikan kamu memukul tanpa alasan!""Waktu itu aku memang mabuk, tapi semua yang mereka katakan aku dengar. Mereka memang ingin menyerang kami!"Rosita berbicara dengan sangat cepat. Dia melih
"Kamu ... bagaimana kamu bisa menemukanku? Apa yang kamu bicarakan?" Rosita baru tersadar belakangan. Setelah mengenali Arlo, wajahnya langsung berubah pucat karena terkejut.Arlo mengangkat sedikit kelopak matanya. Ekspresinya dingin saat berkata, "Kemarin kamu juga ada di ruang privat itu. Kalau a
Guram mendengus dingin dan berkata, "Paling-paling kamu cuma dapat kabar lebih dulu, lalu mengatur penyergapan terhadap mereka. Apa yang perlu dibanggakan?""Semua gara-gara orang bodoh dari Keluarga Sukendro itu, ngotot melakukan serangan mendadak. Ujung-ujungnya bukan cuma mati di Kota Naldern, ta







