ログインWiliam tersenyum masam. Jauh dari lubuk hatianya dia sedikit kecewa dengan keinginan istrinya itu. "Baiklah jika itu mau mu sayang." Emely hanya tersenyum tipis begitu ia menoleh kepada suaminya. Mobil mereka pun melaju meninggalkan parkiran. Wiliam menikmati momen-momen ini. Hal yang tidak pernah mereka lakukan di masa lalu. Tapi begitu kembali di kehidupan itu lagi. Wiliam melakukannya. "Bagaimana kalau kita makan malam di restoran sayang?" Wiliam menoleh kepada sang istri yang terlihat begitu fokus pada jalan. "Terserah kamu saja sayang. Boleh aku pilih restoran?" "Tentu saja sayang."Jawab Wiliam yang sama seki tidak keberatan. "Terimah kasih sayang." Emely melajukan menuju ke sebuah restoran. Setibanya di depan restoran. Wiliam sedikit mengerutkan keningnya. "Di sini?" Tanya Wiliam sedikit ragu. "Khmm. Katanya enak. Ini cukup terkenal. Namanya nasi goreng dari indonesia." Ujar Emely tersenyum lebar. "Baiklah. Mari kita coba." Wiliam turun dari mobil
Jon berdecak kesal. Dia sendiri belum memastikan apa-apa tapi atasannya sudah mencurigai dirinya. "Jika tidak ada lagi. Saya permisi tuan." "Pergilah." Ujar Wiliam. Jon berjalan keluar meninggalkan ruangan Wiliam. Dia kembali ke meja kerjanya. Di sisi lain. Mantan manajer Wiliam dan sopir taksi itu kini tengah berada di dekat sebuah dermaga. Keduanya berencana kabur melalui jalur laut. "Apa ini akan berhasil?" Sopir taksi tersebut bertanya dengan perasaan gelisah. Penyasalan kini semakin ia rasakan. Tapi semuanya telah terjadi. Dia tidak bisa mengembalikan semuanya. Kini hanya bisa mengikuti apa yang di katakan oleh pria paruh baya di hadapannya. Semua itu dia lakukan untuk melindungi dirinya. "Tentu saja. Lima belas menit lagi kita akan naik kapal." "Aku mengerti. " Keduanya menunggu dengan perasaan gelisah. "Mau kemana kalian?" Teriak seseorang. Keduanya menoleh dan bersiap kabur begitu melihat petugas. Tapi itu hanya keinginan mereka berdua. Timah pana
Jon terdiam sejenak. Orang-orang mulai berkerumun.Bahkan tidak sedikit dari para karyawan yang berlari keluar melihat seseorang yang kini terbaring di aspal dengan berlumur darah. Jon sendiri masih menatapnya. Kakinya terasa berat. Perasaan ini tidak pernah ia rasakan selama hidupnya. "Kenapa ? Padahal dia sudah tiba di sana. Aku melihatnya sendiri." Jon melangkahkan kakinya dengan perasaan was-was. Begitu mendekat, terlihat jelas darah segar mengalir di aspal. "Sepertinya dia sudah meninggal."Ujar seseorang yang semakin menghantam dada Jon. Dia berhenti. Jon tidak sanggup melihatnya. "Dia belum meninggal. Tolong segera panggil ambulans." Teriak seseorang. "Suara itu."Jon menerobos kerumuanan dan mendekat. Tanpa sadar senyum terlihat di bibirnya ketika melihat Grace baik-baik saja. Ternyata yang tertabrak adalah seorang anak kecil. "Kamu baik-baik saja?" Cristal menoleh dan menganggukkan kepalanya. "Tolong hubungi ambulans." "Sudah aku lakukan. Mereka akan
"Siapa yang membuat proposal ini?" Wiliam menatap manajer yang bediri di hadapannya. Seorang pria paruh baya yang terlihat baik. Tapi siapa sangka jika dia memiliki hati yang busuk. "Grace tuan Wiliam. Awalnya Wiliam ingin memanggil Grace untuk menemuinya tapi dia berubah pikiran. Dia ingin melihat permainan apa yang mereka mainkan. "Panggil dia kemari." Lima manit kemudian. Grace kini sudah berdiri di hadapan Wiliam. Wiliam membeku di tempatnya. Di kehidupan sebelumanya. Dia memecat wanita di hadapannya. Saat itu, Emely sudah memberitahu kebenarannya tapi dia tidak peduli. Dia tetap memecat Grace. Sekarang dia kembali ke masa itu lagi. Kali ini dia tidak akan membuat kesalahan. Dia akan mendengarkan apa kata Emely. Selama ini Emely selalu mengatakan kebenaran tapi di masa lalu dia begitu tidak berprasaan. Kali ini dia kembali ke masa itu lagi. Dia tidak akan membuat kesalahan lagi. "Apa proposal yang kamu buat ini?" Wiliam memberikan proposal itu kepada Grace.
Panggilan pertama tidak ada jawaban. Wiliam kembali melakukan panggilan kedua. Tapi lagi-lagi tidak ada jawaban. Sementara itu, orang yang di telepon sedang mengobrol dengan santai bersama dengan Grace. Kedua wanita itu mengobrol cukup lama sambil mengerjakan pekerjaannya. "Akhirnya selesai juga."Gumam Grace tersenyum kecil. "Baguslah. Ayo kembali."Emely beranjak dari tempat duduknya. "Terimah kasih bu."Ujar Grace dengan tulus. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Waktu yang cukup larut untuk sebuah pekerja kantor. "Di mana rumah mu? Biar aku antar." "Tidak perlu bu. Aku bisa kembali sendiri."Tolak Grace. Dia tidak mungkin membebani Emely yang merupukan atasannya sendiri untuk yang kedua kalinya. Tapi pada akhirnya mereka berdua tetap pulang bersama. "Terimah kasih bu. Saya benar-benar sudah merepotkan anda sekali lagi." Grace terlihat tidak enak. "Tidak masalah. Jujur saja, aku pernah di posisi mu. Salah satu rekan kerjaku tidak suka dengan ku. Hingga proposal k
Di dalam ruangan Wiliam. Emely dan Wiliam sangat menikmati makanan mereka. "Ini sangat lezat."Puji Emely menyandarkan punggungnya pada sofa setelah merasakan perutnya terisi penuh. "Kamu benar sayang." Jawab Wiliam. Pria itu bahkan membereskan bekas makanan mereka berdua. Hal yang tidak pernah Wiliam lakukan di kehidupan sebelumnya. "Sebaiknya aku kembali ke meja kerja ku."Ujar Emely beranjak dari sofa dan berjalan keluar dari dari ruangan tersebut dan kembali ke meja kerjanya. Kini Emely duduk di meja kerjanya. Wanita itu kembali menatap meja kerja Wiliam. Senyum terlihat di bibir wanita itu "Terimah kasih sayang. Aku tidak menyangka jika kamu akan menerima keberadaan ku dengan baik." Batin Emely tersenyum bahagia. Di sisi lain, Wiliam juga tersenyum bahagia. Dia menatap layar komputer miliknya dengan perasaan bahagia. "Aku akan melindungi mu sayang." Tok...tok... Pintu ruangannya terbuka. Wiliam menoleh. Netranya langsung tertuju kepada Jon yang sedang berdiri







