LOGINDua pria sedang bersimpuh di hadapan Sam saat ini. Keduanya tidak ada berani yang mengangkat kepala. "Aku tidak mau tahu. Cepat cari tahu dia sekarang."Perintah Sam kembali. "Baik tuan."Jawab mereka serentak. Sam mengibaskan tangannya sebagai tanda jika dia meminta kedua anak buahnya keluar dari ruangannya. "Aska, Di mana kamu?Kamu pikir bisa kabur dariku? Aku pasti akan menemukan mu."Gumam Sam dengan perasaan kesal. Dia menatap ponselnya. Foto Aska terpampan jelas di layar ponsel Sam. Sesekali Sam tersenyum kecil. Pria itu memegangi dadanya yang sedang berdetak tidak karuan. Dua hari berlalu.. Sam semakin prustasi. Dia tidak bisa menemukan keberadaan Aska. Sementara itu, pria yang dia cari sedang berada di sebuah cafe bersama dengan seorang wanita. Aska kembali mengikuti perjodohan yang di lakukan oleh ibunya setelah sebelumnya gagal. Aska menatap wanita di hadapannya. Dia melihat jika wanita di hadapannya itu juga tidak senang. Dari ekpresi wajahnya sudah terliha
Satu jam berlalu. Wiliam dan Emely sudah tiba di depan perusahaan. Wiliam turun dari mobil. Pria yang di kenal dingin dan cuek itu membuka pintu mobil untuk sang istri di depan semua para karyawannya. Tindakannya itu sontak membuat semua para karyawan keheranan. Mereka tidak pernah melihat atasan mereka memperlakukan wanita dengan baik selain saat dia bersama dengan Joana. Tapi kali ini dia melihat tuan mereka bersikap baik kepada Emely. "Tampaknya bu Emely sudah memiliki kedudukan di hati tuan Wiliam." "Kamu benar." "Tapi mereka berdua adalah pasangan yang serasi." "Aku setuju dengan mu." Para karyawan mulai bergosip ketika melihat bagaimana atasan mereka memperlakukan istrinya dengan baik. Sementara Emely dan Wiliam hanya tersenyum kecil ketika para karyawan mereka menyapa dengan ramah. Meski Emely tahu jika mereka pasti melihat semuanya. Emely tetap tersenyum. "Jangan lakukan hal itu lagi. Aku tidak ingin para karyawan bergosip tentang kita."Ujar Emely ketika m
"Aku antar pulang." Emely menepis tangan Sam. "Menjauh dari ku Sam." Tatapan Emely tampak begitu kesal. "Maafkan aku. Aku juga menyesalinya." "Menyesal? Aku rasa itu tidak mungkin. Menjauh dari ku." Emely berlalu pergi meninggalkan Sam. Meski begitu Sam tidak ingin menyerah. Dia ingin mengantarkan Emely kembali untuk memastikan apa hubungan Emely dan Aska. "Emely." Sam kembali menarik tangan Emely. Bugh..Bugh.. "Apa yang kamu lakukan? Dia bilang tidak mau. Kenapa memaksa?" Dua pukulan di wajah Sam membuat pria itu meringis kesakitan. Begitu menoleh. Sam tidak berkutik. Dia melihat kehadiran Wiliam yang sedang berdiri dan menatap tajam ke arahnya. Dari tatapannya, Sam tampak gugup. "Apa pukulan ku masih kurang?" Sam memegangi wajahnya. "Jangan salah paham tuan Wiliam. Aku hanya ingin mengantarnya pulang." Sam tidak ingin menambah masalah. Pria itu lebih memilih untuk mengalah. "Maaf tuan. Saya benar-benar tidak memiliki niat apa pun. Kedatangan ku hanya
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tatapan Wiliam begitu tajam. "Aku datang untuk menemui mu. Aku tahu jika kamu tidak akan memaafkan ku. Tapi bisakah kamu tidak membuat ku terlihat begitu buruk di mata semua orang?" Wiliam menoleh kepada Jon. Jon yang melihat hal itu segera mengerti. Di berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Kini hanya ada Wiliam dan Joana yang berada di dalam ruangan itu. "Aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah memberimu peringatan tapi kamu mengabaikan ku. Jangan membuat ku kesal Joana. " Joana terkekeh kecil. "Rupanya secepat itu kamu mengabaikan diriku hanya karena wanita lain." Wiliam tertawa. "Sudahlah. Kamu sendiri yang memulai. Kita sudah sering membahas hal ini. Mulai detik ini jangan pernah ada lagi pertemuan. Menjauh dari kehidupan ku jika kamu masih mau berkeliatan di kota ini." "Kamu mengancamku?" "Anggap saja seperti itu." Wiliam terlihat begitu santai. "Tidak bisa Wiliam. Aku sudah hancur dan kamu masih mau membuat ku semaki
"Bagaimana dengan kejutan dari ku? Aku sama sekali tidak senang melihat bagaimana kau mengkhianatiku." Para pemegang saham seketika berkeringat dingin. Mereka terlihat ketakutan. Menjual saham hanya untuk menakuti Wiliam agar atasan mereka itu melakukan apa yang mereka inginkan. Tapi mereka tidak sadar jika Wiliam bukan orang yang mudah di takuti. Justru mereka yang ketakutan sekarang. Bukti-bukti kejahatan mereka satu persatu di ketahui oleh Wiliam. Hal itu membuat mereka tidak berkutik. "Sekali lagi kalian melakukan ini maka aku tidak akan memaafkan kalian. Rapat berakhir sampai di sini." Wiliam beranjak dari tempat duduknya. Pria itu berjalan keluar dan pergi meninggalkan ruangan itu. Di belakangnya ada Jon yang mengikuti langkahnya. Para pemegang saham tidak berani berkutik. "Sialan. Semua ini gara-gara kamu. Kami semua hampir celaka. Gara-gara mengikuti ucapan Joana, kita semua hampir kehilangan. Dengan semua bukti di tangannya. Dia tidak mungkin membeli saham kita
Lima belas menit kemudian. Isabella tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia pergi meninggalkan putra dan suaminya di ruang tamu. Langkahnya sedikit berat. Kebenaran itu seakan menampar wajahnya. Isabelle membeku di tempatnya. Dia meringkuk di atas kasur dalam keadaan gelap gulita seorang diri. Tanpa sadar buliran bening membasahi wajahnya. "Apa semua ini benar? Apa aku telah salah mempercayai Joana?"Lirih Isabella. Perasaan bersalah menyelimuti hati wanita paruh baya itu. Malam ini menjadi malam yang panjang bagi Isabella memikirkan semua masalah yang terjadi. Ke esokan paginya... Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi tapi Isabella belum juga keluar dari kamar. Perasaan bersalah itu juga masih belum bisa ia hilangkan. Di sisi lain, Joana duduk dengan tenang di dalam mobilnya. Keberadaannya di sana belum juga di ketahui oleh sang ibu. Joana menatap rumah itu dengan tatapan sendu. Wajahnya tampak lesu ketika melihat ke arah rumah. Dia bisa melihat sang ibu sedang beraktivi







