LOGIN"Bagaimana ini?" Lirihnya kembali.
Emely yang awalnya berdiri kembali duduk. Tangannya gemetar memegangi ponselnya. Dia mulai bingung. Entah dia menemui Wiliam atau memilih untuk pergi. Sementara itu, Wiliam sudah di bawa ke rumah sakit. Kedua orang tuanya sudah berada di depan ruang ICU bersama dengan Joana. Raut wajah mereka terlihat begitu khawatir. Bahkan Joana menangis. Dia tidak bisa membendung air matanya. Dia tidak ingin kehilangan Wiliam. Meski sebenarnya dari awal Wiliam memang bukan miliknya. Kedua orang tua Wiliam tampak hancur melihat putra mereka berlumuran darah. Di sisi lain, dokter dan perawat sedang berjuang membantu Wiliam. Dokter dan perawat mulai berkeringat. Sudah satu jam lamanya mereka berjuang tapi sampai sekarang Wiliam belum ada kemajuan. ****** Wiliam membuka matanya. Netranya melihat sekeliling. Semuanya tampak familiar. Suara tawa terdengar di telianganya. Dia menoleh ke arah sumber suara tersebut. Kedua orang tuanya sedang tertawa bersama. Dia baru saja bangun pagi. Paginya di sambut dengan tawa bahagia kedua orang tuanya. Wiliam beranjak dari tempat tidurnya. Dia berjalan ke arah jendela. Dia tersenyum melihat kedua orang tuanya tertawa bahagian. "Sudah cukup lama aku tidak melihat ayah dan mamah tertawa bersama."Ujarnya. Senyum di bibir Wiliam terlihat jelas. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan. Drt.... Ponselnya berbunyi. Wiliam kembali tersenyum ketika melihat nama Joana tertera di layar ponselnya. "Hallo sayang." Suara Joana memekik di telinganya hingga Wiliam harus menjauhkan poselnya. "Apa kamu harus berteriak seperti itu?" Ujarnya dengan senyuman yang tidak pernah luntur. "Maaf sayang. Ayo kita bertemu di tempat biasa. Ada sesuatu yang ingin aku katakan." Nada bicara Joana mulai merendah. "Khmm. Tunggu aku tiga puluh menit lagi." Wiliam masih belum menyadari apa pun. Dia berjalan ke kamar mandi. Tiga puluj menit berlalu. Dia sudah rapi. Dia berjalan keluar dari kamarnya. Dia terdiam. Wiliam mengedarkan pandangannya. Kini dia berada di mansion kedua orang tuanya. Dia terbangun di kamar lamanya. "Sayang, kamu sudah bangun?" Perhatiannya kembali teralihkan. Wiliam menoleh kepada mamahnya. Penampilan mamahnya tampak berbeda. "Ada apa sayang? Kamu terlihat terkejut. Apa tidur mu tidak nyeyak?" Isabella bertanya dengan lembut. "Tidak ada apa-apa mah." Jawab Wiliam. "Ayah mu baru saja berangkat ke kantor. Aku khawatir penyakitnya kambuh lagi. Mamah lupa memberinya obat asmanya. Kamu harus mengantarkannya." "iya mah." Wiliam meraihnya Inhaler di tangan mamahnya. Wiliam berjalan keluar. Kebingungan mulai meliputi dirinya. "Apa yang terjadi? Bukankah aku baru saja mengalami kecelakaan? Kenapa aku terbangun di mansion lama?" Wiliam mulai berpikir keras tapi dia tetap masuk ke dalam mobilnya. Begitu pintu tertutup, dia kembali membukanya. Dia menatap mobil miliknya. Itu adalah mobil lamanya. "Bagaimana bisa?" Lirihnya kembali masuk ke dalam. Wiliam kembali berpikir jernih. Tapi tetap saja dia masih belum menemukan jawabannya. Dia melajukan mobilnya. Dia masih belum menemukan jawabannya. Sepanjang perjalanan, Wiliam hanya memikirkan kejadian aneh hari ini. Dia terbangun mendengar suara tawa kedua orang tuanya. Kemudian dia menyadari jika dirinya berada di mansion lama. Perhatian Wiliam kembali teralihakan dengan kerumunan di pinggir jalan. Dia tetap melaju tapi laju mobilnya begitu pelan. "Emely." Wiliam menghentikan mobilnya. Dia melihat istrinya berdiri di antara kerumunan itu. Tidak sampai di situ saja. Kini dia melihat istrinya berlari menyebrang jalan. Wiliam membeku di tempatnya. Kejadian ini tidak asing baginya. Tapi saat itu dia sama sekali tidak mengenali Emely. Dia terus melaju meski dia melihat kerumunan itu. Rasa penasaran mulai menghampiri Wiliam ketika melihat Emely kembali dengan tergesa-gesa. Dia mulai memegang gagang pintu dan bersiap untuk turun dari mobil. Kini dia ingin melihat apa yang terjadi. Drt... Bunyi ponselnya menghentikan tangannya. Dia meraih ponselnya. "Tunggu sayang. Aku sudah ada di jalan." Ucapnya kemudian mematikan teleponnya kembali. Wiliam melajukan mobilnya melewati kerumunan itu setelah mendaptakan telepon dari Joana. Dia melupakan apa yang terjadi barusan. Mobil Wiliam terus melaju membelah jalanan. Sesekali senyum terlihat di wajahnya. Di sisi lain, Emely sedang berusaha membantu ayah Wiliam yang kesulitan bernafas. Begitu ia memberikan inheler yang baru saja dia beli. Tuan Carter tertolong. Pria paruh baya itu kini telah duduk sila di pinggir jalan di bantu oleh Emely. "Terimah kasih nak. Jika bukan karena kamu aku tidak akan selamat. Semua orang hanya menonton dan tidak ada yang turut membantu. Tapi kamu mau bersusah payah menolong paman." Tuan Carter tersenyum meski wajahnya masih tampak pucat. Dia benar-benar berterimah kasih dengan wanita di hadapannya. Dia melihat ketulusan di mata Emely. Tidak berselang lama kemudian. Sekertaris tuan Carter telah tiba. Pria itu tampak terkejut. "Tuan baik-baik saja? Apa yang terjadi?" "Aku hampir saja kehilangan nyawaku. Untung saja gadis ini menolongk ku." ujar tuan Carter tersenyum tipis dengan wajah pucat. Sekertaris tuan Carter menoleh kepada Emely. Dia sempat terpaku dengan kecantikan Emely. Kemudian netranya tertuju kepada penampilan Emely. Sangat sederhana. Sekertaris tuan Carter yakin jika Emely adalah gadis biasa. Tuan Carter dan Emely mengobrol sebentar sebelum akhirnya mereka berdua berpisah dengan tujuan mereka masing-masing. Sementara itu Wiliam baru saja tiba di depan cafe. Tempat biasa ia bertemu dengan Joana. Wiliam turun dari mobil. Dia melabgkah masuk ke dalam. Di tempat biasa, Joana sudah menunggu kedatangannya. Wanita itu melambaikan tangan ke arahnya. "Maaf sayang sudah membuat mu menunggu." Ujar Wiliam tersenyum kecil. Joana tersenyum tapi ada sesuatu yang berbeda dengan sorot matanya. Wiliam masih belum menyadari hal itu. Dia duduk di depan Joana. Tapi pikirannya masih terganggu dengan kejadian tadi. Dia melihat wajah Emely. Tapi wanita itu sepertinya tidak menyadari keberdaannya. "Ada apa sayang? Apa ada sesuatu yang penting?" Joana tampak gugup. "Apa kamu ingat apa yang ku ceritakan beberapa hari yang lalu?" Wiliam terdiam. Dia sedang tidak fokus. Pikirannya belum jernih. Kejadiann saat ini begitu familiar. Wiliam tersenyum kecil. Dia menelisik penampilan Joana. jika dugaannya benar maka dia sepertinya sudah bisa menebak apa yang ingin di katakan oleh Joana. Wiliam mengedarkan pandangannya. Semuanya tampak sama. "Aku akan melanjutkan kuliah di negara lain." Wiliam membeku. Dugaannya benar. "Apa yang terjadi sebenarnya?" Pertanyaan itu memenuhi isi kepalanya. "Sayang."Tiga puluh menit berlalu. Wiliam sudah tiba di perusahaan. Pria itu terlihat begitu kesal. Raut wajahnya terlihat begitu dingin. Para karyawan tidak ada yang berani menyapa. Wiliam melangkah masuk ke dalam. Wajahnya tampak begitu tenang tapi hatinya terlihat gelisah. Kini dia tiba di depan ruangannya. Dia menoleh ke arah meja Emely. "Kemana dia?" Batin Wiliam yang melihat meja Emely kosong. Entah kemana Emely pergi. Hal itu semakin membuat Wiliam gelisah. Dia berjalan mendekati meja kerja Emely. Tatapan Wiliam tampak begitu sendu. Dia berjalan mengitari meja. Tangannya mengepal begitu mengingat tuan James. Ada perasaan cemburu yang di rasakan oleh Wiliam tapi dia sama sekali tidak menyadari hal itu. Dia hanya merasakan amarah ketika melihat tuan James begitu perhatian kepada Emely. Wanita yang dulunya ia sia-siakan tapi kini dia tidak ingin melakukan hal itu. "Tuan." Wiliam menoleh. "Di mana Emely?" "Sepertinya tuan James tidak menyerah tuan." Jon tampak r
"Ada apa ini?" Lirih Wiliam kembali. Dia memegangi dadanya yang berdetak lebih cepat. Hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.. Wiliam menatap ke arah Emely kembali. Detakan itu semakin terasa. "Apa aku merasakan hal ini karena mu? Selama lima tahun pernikahan kita. Aku tidak pernah merasakan ini. Apa mungkin sekarang aku merasakannya." Batin Wiliam menatap ke arah Emely. Tatapannya kali ini sedikit berbeda. Wiliam terlihat sendu. Rasa bersalah semakin terasa. Dia melihat bagimana istrinya selama ini. "Maafkan aku. Selama ini aku begitu egois kepada mu. Aku tidak tahu penderitaan mu. Tapi sekarang aku tidak ingin membuat mu merasakan hal itu lagi."Gumam Wiliam dengan tatapan yang tidak pernah beralih dari Emely. Wiliam beranjak dari kursinya. Dia berjalan keluar dari ruangannya. "Tuan." Wiliam menoleh. "Ada apa?" Wiliam menatap ke arah Jon yang sedang berdiri tidak jauh darinya. "Ada pertemuan dengan tuan James. Entah sejak kapan tuan James ada di sini. Tapi
Malam hari. Pukul 7 malam. Emely duduk di sebuah cafe. Dia menatap langit yang sudah gelap. Dia sudah mendarat beberapa jam yang lalu tapi dia memilih untuk tidak kembali segera. Wanita itu duduk dengan pandangan lurus ke depan. Dia merindukan orang tuanya saat ini. Rasa rindu itu cukup menyiksa dirinya. Tidak berselang lama kemudian. Dia meninggalkan cafe. Dia kembali ke mansion yang baru menghitung hari dia tinggal. Sepanjang perjalanan, dia hanya menutup matanya. hingga ia berhenti di depan mansion. Emely turun dari mobil. Dia berdiri di sana selama beberapa menit lamanya. Netranya melihat sekeliling. Rasa rindu kini ia rasakan kembali. Selama ini dia selalu kembali di sambut hangat oleh ibunya tapi sekarang dia tidak melihat ibunya lagi. Kini dia kembali di tempat yang begitu asing. "Kenapa baru tiba? Aku dengar jika kamu mendarat beberapa jam sebelumnya." Emely menoleh. Dia menatap ke arah suaminya yang sedang berdiri di hadapannya. Pria itu menatap dirinya d
Ke esokan paginya. Emely membuka matanya. Dia menatap langit-langit kamarnya. Tatapannya kemudian beralih kepada cahaya yang menyusup masuk melalui celah tirai yang terbuka. Drt.... Bunyi ponselnya mengalihkan perhatiannya. "Apa kamu sudah bangun?"Tanya seseorang di sebrang telepon. Emely terdiam sejenak. "Sudah." "Baguslah. Jam 9 nanti tuan James sudah menunggu di restoran. Alamatnya akan ku kirim sebentar lagi. Kamu harus berhasil." "Aku mengerti." Emely meletakkan ponselnya. Wanita itu tersenyum tipis. "Apa dia sedang perhatian kepadaku?" Lirihnya menatap cincin pernikahannya. "Meskipun pernikahan ini di rahasiakan. Tapi aku akan berusaha untuk mendapatkan cinta mu. Aku mencintai mu Wiliam. Dari pertama kita bertemu aku sudah tertarik."Batin Emely beranjak dari tempat duduknya. Emely tampak begitu bersemangat. Dia berjalan ke arah kamar mandi. Di sisi lain, Wiliam sedang berada di mansion miliknya. Pria itu sedang duduk di ruang tamu menikmati kopi mil
Lima belas menit berlalu. Emely kini berada di meja kerjanya. Dia menatap ke arah Wiliam yang sedang fokus pada pekerjaannya. " Apa kamu percaya aku bisa?" Lirihnya menatap wajah suaminya. Emely meraih ponselnya. Dia menghubungi pelayan di mansion untuk menyiapkan barang-barang miliknya. Tepat jam 12 siang. Emely kini sudah berada di bandara. Bertepatan dengan hal itu. Pakaiannya yang sudah di siapkan pelayan juga sudah tiba. "Pakaian anda nyonya." "Terimah kasih." Emely meraih koper miliknya. Setelah itu dia berjalan masuk ke dalam pesawat. Jujur saja dia merasa gugup. Tangannya menggenggam erat koper miliknya. Dia melangkah masuk ke dalam pesawat dengan perasaan khawatir. Dia sedikit khawatir jika dia tidak mampu melakukannya. Emely masuk dan mencari kursinya. Begitu ia menemukannya. Dia meletakkan kopernya dan duduk. "Kamu harus bisa Emely. Wiliam sudah memberikan kesempatan kepada mu. Gunakan kesempatan ini dengan baik." Batinnya memegangi dadanya yang b
Satu jam berlalu Isabella beranjak dari taman. Dia berjalan kembali ke mansion. Suasana hatinya masih belum baik. Isabella terus melangkahkan kakinya hingga ia tiba di depan mansion. Langkshnya terhenti. Dia menoleh kepada pelayan yang berdiri di belakangnya. "Bagaimana?" "Kami tidak menemukan informasi apa pun nyonya." Tatapan Isabella seketika berubah menjadi tajam. "Itu tidak mungkin. Dia pasti memiliki informasi." Ujar Isabella dengan perasaan kesal. Dia tidak percaya jika dia tidak bisa menemukan kelemahan menantunya. Isabella melangkah masuk ke dalam mansion miliknya dengan perasaan kesal. Dia sibuk memikirkan bagaimana dia menyingkirkan menantunya. Isabella melangkahkan kakinya menuju ke kamar putranya. Kamar itu telah kosong. Netranya melihat sekeliling. Tiba-tiba Isabella merasakan rindu dengan sang putra. "Wiliam. Mamah ingin melihat mu bersanding dengan wanita yang kamu cintai. Bukan wanita itu."Ujarnya begitu ia mendudukkan bokongnya pada sofa. He







