LOGINDi apartemen Joana.
Dua manusia saling memadu kasih tanpa perasaan bersalah. Wiliam menatap Joana penuh cinta tanpa memikirkan bagaimana perasaan istrinya. "Malam ini apa kamu akan kembali?" Wiliam menarik diri dan mengenakan jubah meninggalkan Joana dengan tubuh polosnya. Wanita itu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Netranya menelisik wajah laki-laki yang dia dapatkan dari hasil menyakiti hati wanita lain. Joana tersenyum puas. "Kamu milikku Wiliam."Batinnya dengan ekspresi penuh kemenangan. Wiliam sendiri sudah berada di dalam kamar mandi. Entah mengapa wajah Emely terbayang-bayang di kepalanya. "Sial. Kenapa harus dia? Aku tidak peduli. Dia melakukan berbagai cara untuk masuk ke dalam keluarga ku." Lirihnya dengan emosi yang tidak stabil. Di mata Wiliam. Emely adalah wanita yang licik yang akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan hanya karena dia menolong ayahnya. Tangan Wiliam mengepal. Dia berusaha untuk menghilangkan wajah istrinya tapi tetap saja tidak bisa. Huh... Hembusan nafas kasar lolos dari bibirnya. Liam melangkah keluar. Dia menoleh. Dia melihat Jessi sedang tertidur pulas dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Wiliam tersenyum kecil. Dia berjalan ke lemari dan mengambil pakaiannya. Bahkan pakaiannya memenuhi lemari itu. Dia meraih sepasang jas miliknya dan mengenakannnya. Sejenak Wiliam terdiam. Dia duduk di pinggir tempat tidur, menatap wajah Joana. Detik berikutnya Wiliam bangkit dari tempat duduknya. Pria itu melangkah keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup. Joana membuka matanya. Dia menoleh ke arah pintu. Tangannya mengepal. Dia bangkit dari tempat tidur dan mengenakan jubah. joana berjalan ke arah jendela. Dugaannya benar. Wiliam meninggalkan apartemen miliknya. "Apa kamu akan menemui wanita itu Wiliam? Kamu hanya boleh menjadi milikku. Hanya aku yang boleh memiliki mu. Kamu tahu berbagai cara telah aku lakukan untuk bisa masuk ke kehidupan mu kembali." Lirihnya dengan sorot mata tajam menatap kepergian Wiliam yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Sementara itu, mobil Wiliam melaju di jalanan dengan kecepatan penuh. Sesekali tangannya mencengkram kemudi. Pikirannya sedang kacau. Kenyataan jika istrinya mengundurkan diri menganggu ketenangannya. Selama lima tahun, Emely selalu berusaha mengambil hatinya. Sikap istrinya belakangan ini terlihat begitu tenang tapi justru hal itu yang membuat Wiliam terganggu. Wiliam kembali menghembuskan nafas kasar. Tangannya kembali mencengkram erat kemudi. Bahkan hembusan nafas berkali-kali terdengar dari bibirnya. Mobil Wiliam terus melaju membela jalanan di kota itu. Baru kali dia merasa terganggu dengan sikap istrinya setelah lima tahun pernikahan mereka. Mobil Wiliam berhenti. Dia menatap bangunan megah di hadapannya. Dia turun dari mobil miliknya. Kakinya melangkah masuk ke dalam mansion miliknya. Orang pertama dia cari adalah istrinya. Wiliam terus melangkahkan kakinya memasuki ruangan di mana kemungkinan istrinya berada. Wiliam mengerutkan keningnya. Dia tidak menemukan keberadaan istrinya di mana pun. "Bibi Elsa. "Teriakan Wiliam menggema di ruang tamu. Tidak berselang lama kemudian. Bibi Elsa berlari dengan tergopoh-gopoh menemui Wiliam. "Tuan memanggil saya?" Wiliam menoleh menatap wanita paruh baya di hadapannya. Wajah bibi Elsa mulai terlihat keriput. Dia seharusnya tidak berteriak seperti itu mengingat bagaimana bibi Elsa mengabdi kepadanya. "Di mana istri ku?" Bibi Elsa mengambil nafas sebelum menjawabnya. "Nyonya sepertinya pergi tuan. Dia mengambil koper dan dia juga menitip ini untuk anda." Bibi Elsa memberikan amplop itu kepada Wiliam. Wiliam mengerutkan keningnya. Dia menatap amplop cokelat yang sekarang ada di tangannya. Entah apa isi amplop itu tapi hal itu membuat Wiliam penasaran. Dia semakin merasa sikap istrinya semakin aneh. Dia tahu jika istrinya sudah mengundurkan diri. Itu artinya dia hanya akan berada di mansion sepanjang hari. Wilim melangkah pergi. Dia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Begitu ia tiba di dalam kamarnya. Dia menatap amplop di tanggannya. Wiliam membukanya. Dia membaca isi amplop itu dengan teliti. Dia menatap tidak percaya. Isi amplop itu adalah surat cerai yang sudah di tanda tangani istrinya. Tubuh Wiliam membeku. Kini ia teringat dengan ucapan istrinya beberapa hari yang lalu. Dia masih menganggap ucapan itu tidak serius. "Dia ingin bercerai dengan ku?" Lirihnya mendudukkan bokongnya pada sofa. Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Lima menit kemudian. Ponsel Wiliam kembali berdering. Wiliam terdiam. "Kamu ingin pergi dari ku. Tidak akan semudah itu."Lirihnya melangkah keluar dari kamarnya. Wiliam meninggalkan mansion miliknya setelah mendapatkan informasi jika istrinya berada di bandara. Mobil Wiliam melaju dengan kecepatan penuh. Tangannya mencengkram kemudi dengan sangat kuat. Dadanya naik turun karena emosi mengetahui jika Emely ingin menceraikan dirinya. Wiliam tidak akan terima hal itu. Wiliam terus menambah laju kecepatan mobilnya menyalip mobil lain. Dia tidak akan membiarkan Emely pergi tanpa persetujuan darinya. Mobil Wiliam melaju dengan kecepatan penuh di jalan raya di tengah kendaraan yang berlalu lalang. Brak..... Satu kali hantaman yang cukup keras. Mobil Wiliam berguling-guling di aspal. Semua kendaraan berhenti memandang mobil Wiliam. Semua orang hanya bisa menutup mulut tidak percaya. Di dalam mobil. Wiliam merasaka hantaman benda keras di kepalanya. Darah segar mulai bercururan keluar. Entah mengapa tapi wajah istrinya yang terbayang sebelum ia memejamkan matanya. Darah segar terus mengalir. Semua orang mulai berkerumun menghampiri Wiliam. Salah satu dari mereka mulai menghubungi rumah sakit dan juga polisi. Para media juga tidak ingin ketinggalan. Kini berita kecelakaan Wiliam sudah di siarkan di berbagai tv. Emely yang masih berada di bandara menyaksikan itu semua. Tangannya gemetar menyaksikan laki-laki yang dia cintai bersimbah dara. "Bagaimana bisa?" Lirihnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.Di apartemen Joana. Dua manusia saling memadu kasih tanpa perasaan bersalah. Wiliam menatap Joana penuh cinta tanpa memikirkan bagaimana perasaan istrinya. "Malam ini apa kamu akan kembali?" Wiliam menarik diri dan mengenakan jubah meninggalkan Joana dengan tubuh polosnya. Wanita itu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Netranya menelisik wajah laki-laki yang dia dapatkan dari hasil menyakiti hati wanita lain. Joana tersenyum puas. "Kamu milikku Wiliam."Batinnya dengan ekspresi penuh kemenangan. Wiliam sendiri sudah berada di dalam kamar mandi. Entah mengapa wajah Emely terbayang-bayang di kepalanya. "Sial. Kenapa harus dia? Aku tidak peduli. Dia melakukan berbagai cara untuk masuk ke dalam keluarga ku." Lirihnya dengan emosi yang tidak stabil. Di mata Wiliam. Emely adalah wanita yang licik yang akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan hanya karena dia menolong ayahnya. Tangan Wiliam mengepal. Dia berusaha untuk menghilangkan wajah ist
Wiliam terus menatap ke arah Emely hingga istrinya itu menghilang dari pandangannya. Pria itu tetap saja merasa ragu dengan apa yang di lakukan oleh Emely. Wiliam sangat yakin jika Emely tidak akan pernah melakukan hal itu. Selama ini Emely berusaha masuk ke perusahaan hanya demi dekat dengannya. Wiliam tidak akan pernah percaya jika Emely akan mengundurkan diri setelah dia berhasil mendapatkan jabatan sebagai sekertarisnya. Tetap saja Wiliam merasa jika Emely sedang kesal saat ini. Sementara Emely kini berada di dalam mobil miliknya. Dia menatap ke arah gedung yang sudah lima tahun menjadi tempat yang begitu ia senangi. Setiap kali pagi tiba, dia akan selalu bersemangat. Dia selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Tidak sampai di situ saja. Melihat suaminya bekerja menjadi hal yang begitu membahagiakan. Sekarang semua itu telah berubah. Sejak kembalinya Joana, Emely merasa jika dia tidak punya harapan untuk meluluhkan hati Wiliam. Suaminya telah kemba
Lima belas menit berlalu. Emely kini duduk di meja kerjanya. Wanita itu menatap amplop cokelat yang baru saja dia letakkan di laci meja kerjanya. Hembusan nafas kasar terdengar dari bibirnya. Senyum di wajahnya terlihat begitu menyedihkan. Dia tidak menyangka jika pada akhirnya dia akan melepaskan laki-laki yang dia cintai. Emely menutup laci. Emely menoleh kepada Wiliam yang berada di dalam ruang kerjanya. Hanya kaca yang menjadi pembatas di antara mereka berdua. "Semoga kamu bahagia bersama dengan wanita yang kamu cintai. "Lirih Emely tersenyum getir. Emely menyalakan komputer miliknya dan mulai melakukan pekerjaannya. Rasa sakit di hatinya selalu berusaha ia sembuhkan sendiri tapi kini ia menyerah. Dia melepaskan Wiliam. Laki-laki yang dia cintai tapi tidak pernah ia miliki sepenuhnya. Di dalam ruangannya, Wiliam sesekali menoleh kepada Emely. Pria itu mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan Emely. Setiap pagi Emely akan menyapa dirinya tapi hari ini dia
Apartemen.. Wiliam menghentikan mobilnya. Pria itu turun dari mobil miliknya dan melangkah masuk ke dalam gedung apartemen tersebut. Pria itu terlihat tergesa-gesa. Langkahnya terhenti ketika ia tiba di depan apartemen milik Joana. Dia membuka pintu tanpa menekan bel. Pintu terbuka. Wiliam masuk dengan cepat. Netranya langsung tertuju kepada Joana yang sedang duduk di sofa memegangi tangannya. "Kamu baik-baik saja sayang?" Wiliam terlihat begitu khawatir. Joana menunjukka tangannnya yang sedikit tergores dan mengeluarkan darah. Luka itu tidak seberapa tapi wanita itu butuh Wiliam. Dia ingin menunjukka kepada Emely jika Wiliam adalah miliknya. Dia baru saja kembali dari eropa setelah meninggalkan Wiliam lima tahun yang lalu. Kali ini Joana kembali untuk mendapatkan Wiliam kembali. Tujuannya telah berhasil. Wiliam kembali ke sisinya. "Apa yang terjadi sayang?" Wiliam bertanya sambil memasangkan plester di tangan Joana. "Aku lapar dan berniat memasak sesuatu tapi ti
"Wiliam, lihat istri mu! Dia menolak perintah mamah, padahal mamah hanya ingin dia membuat teh." Isabella mengadu kepada putra yang selalu berpihak padanya. Kini wanita paruh baya menunjukkan kesedihannya di depan sang putra. Emely tersenyum miring. Dia sudah menebak apa yang akan terjadi selanjutanya. Wiliam menoleh kepada istrinya. "Apa kamu harus melakukan hal itu? Segera lakukan perintah mamah." Emely menatap wajah laki-laki yang tidak pernah membelanya. Wanita itu mengepalkan tangannya, dia jelas sedikit kesal dan merasa dirinya begitu menyedihkan. Dia melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Selalu seperti ini. " Gumam Emely melangkah ke dapur. Lima belas menit kemudian. Dia kembali ke ruang tamu dengan membawa baki dengan empat teh yang masih sangat panas. "Lama sekali." Sindir Isabella kepada menantunya. Kata- kata itu kembali terlontar dari mamah mertuanya setiap kali dia melakukan sesuatu. Rasa tidak puas mertuanya terhadap dirinya sudah ada
"William, Aku ingin bercerai. " Emely menatap suaminya cukup dalam. Keringat dingin membasahi dahinya. Cintanya selama lima tahun lamanya untuk pria di hadapannya itu tidak pernah terbalaskan. Suka duka dalam rumah tangganya sudah ia rasakan. Kini ia menyerah. Wiliam sedang memainkan ponselnya- berhenti sejenak kemudian menoleh kepada wanita yang sudah bersama dengan dirinya selama lima tahun lamanya. Dia tidak menganggap ucapan itu serius.William kembali menatap ponselnya dan mengabaikan ucapan istrinya. Sesekali senyum terlihat di bibirnya. Emily yang tidak mendapatkan respon dari suaminya tersenyum getir.Dia jelas tahu dengan siapa suaminya bertukar pesan. Tangannya gemetar memegang ujung gaun-nya. Perlahan-lahan dia melangkah keluar. Dia tidak ingin membuat masalah tapi dia sudah mengambil keputusan. Langkahnya begitu pelan. Pikirannya berkecamuk. Dadanya seperti tersayat. Dia semakin yakin dengan keputusannya. "Apa aku sama sekali tidak pernah ada di pi







